Mengenal Daeng Soetigna: Maestro Angklung yang Mendunia

Fb img 1756880785956
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelita Nusantara Bayangkan seorang pria yang memiliki visi dan misi untuk mengubah dunia musik tradisional Indonesia. Ia adalah Daeng Soetigna, seorang guru dan pemusik asal Indonesia yang dikenal sebagai pencipta angklung diatonis yang berhasil mendobrak tradisi dan membuat alat musik tradisional Indonesia mampu memainkan musik-musik internasional.

Lahir di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, pada 13 Mei 1908, Daeng mewarisi bakat mendidik dari ayahnya dan bakat seni dari ibunya. Namun, yang membuat Daeng Soetigna begitu unik adalah asal nama “Daeng” yang disandangnya. Ayahnya memiliki seorang sahabat dari Makassar yang bergelar Daeng dan dikenal sangat pandai. Ketika ibunya sedang mengandung, ayahnya berjanji bahwa jika anak yang dilahirkan laki-laki, maka akan diberi nama Daeng, agar pandai seperti sahabatnya itu.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Angklung, alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu, telah menjadi bagian dari budaya Sunda selama berabad-abad. Namun, sebelum Daeng Soetigna menciptakan angklung diatonis, angklung hanya dapat memainkan nada-nada pentatonis dan terbatas pada musik tradisional. Daeng Soetigna melihat potensi besar dalam angklung dan bertekad untuk mengembangkan alat musik ini agar dapat memainkan berbagai jenis musik.

Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, Daeng Soetigna menempuh pendidikan di HIS Garut dan Kweekschool Bandung, sebelum menjadi guru di Schakelschool Cianjur dan HIS di Kuningan. Ia kemudian menjadi Kepala Sekolah SD dan diperbantukan pada Jawatan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, serta Penilik Sekolah dan diperbantukan pada kursus-kursus di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.

Pada tahun 1938, Daeng Soetigna menciptakan angklung diatonis yang dapat memainkan berbagai jenis musik, termasuk lagu-lagu Barat. Ia mengubah bentuk dan nada angklung agar lebih komunikatif dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Berkat kiprahnya, angklung menjadi lebih populer dan dikenal di dunia internasional.

Penghargaan yang diterima oleh Daeng Soetigna juga tidak sedikit. Ia menerima Piagam Penghargaan dari Gubernur Jawa Barat Brigjed Mashudi dan Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden RI Jend. Soeharto. Ia juga menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia dan Penghargaan Nasional Hak Kekayaan Intelektual 2013 sebagai Pencipta Angklung.

Warisan Daeng Soetigna tetap hidup bahkan setelah ia meninggal dunia pada 8 April 1984. Angklung kini tidak hanya dipertunjukkan dalam acara budaya lokal, tetapi juga dipelajari di sekolah-sekolah dan universitas di Indonesia, serta menjadi alat musik yang sering dipertunjukkan dalam berbagai festival internasional. Pada tahun 2010, UNESCO mengakui angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan alat musik tradisional ini.

Kita dapat mengenang jasa Daeng Soetigna dengan terus melestarikan dan mengembangkan angklung sebagai bagian dari budaya Indonesia. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa warisan Daeng Soetigna tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya. [™]