Membangkitkan Ingatan, Menghidupkan Sejarah: Mengenal Tan Khoen Swie, Penerbit yang Berani Menggugat

Kefaspelita
Download
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Di balik gemuruh sejarah, ada nama-nama yang terlupakan, tetapi warisan mereka tetap hidup. Salah satu nama yang patut diingat adalah Tan Khoen Swie, seorang Tionghoa yang berani menggugat kekuasaan kolonial dan mempromosikan kebudayaan Jawa melalui bisnis penerbitannya. Dengan keberanian dan visinya, Tan Khoen Swie membuka jalan bagi generasi-generasi berikutnya untuk mengeksplorasi dan mengapresiasi kekayaan budaya Jawa, seperti yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, “Kamu boleh pintar setinggi langit, tapi kalau kamu tidak menulis maka kamu akan hilang dari ingatan masyarakat dan sejarah.”

Kediri, sebuah kota yang terletak di Jawa Timur, memiliki sejarah yang kaya dan mendalam dalam dunia sastra dan penerbitan. Tan Khoen Swie, seorang Tionghoa yang lahir di Wonogiri pada tahun 1884, merupakan salah satu tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan kebudayaan Jawa melalui bisnis penerbitannya. Menurut Osa Kurniawan Ilham, Tan Khoen Swie memiliki latar belakang yang unik, ia lahir di Wonogiri, tetapi kemudian mengembara ke kota-kota lain dan akhirnya menetap di Kediri.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Seperti pepatah Tiongkok yang mengatakan, “” (yī bǐ xiě zhēn), yang berarti “Satu goresan pena dapat mengungkapkan kebenaran”. Pepatah ini sangat tepat untuk menggambarkan peran Tan Khoen Swie sebagai penerbit yang berani menggugat dan mempromosikan kebudayaan Jawa melalui tulisan-tulisannya.

Dan seperti peribahasa Jawa yang mengatakan, “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”, yang berarti “Menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan”. Peribahasa ini sangat tepat untuk menggambarkan keberanian dan strategi Tan Khoen Swie dalam mempromosikan kebudayaan Jawa dan melawan kolonialisme tanpa menggunakan kekerasan.

Di kota inilah Tan Khoen Swie mengembangkan bisnis penerbitannya, Boekhandel Tan Khoen Swie, yang menjadi salah satu penerbit terkemuka di Jawa pada masa itu. Boekhandel Tan Khoen Swie didirikan pada tahun 1915, tiga tahun sebelum Penerbit Balai Pustaka didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Images (1)
Salah Satu Karya Tan Khoen Swie

Melalui Boekhandel Tan Khoen Swie, Tan Khoen Swie mempublikasikan buku-buku berbahasa Jawa dan Melayu yang beragam topiknya. Beberapa buku legendaris yang diterbitkan oleh penerbit ini antara lain Serat Wedhatama, Serat Kalatidha, Serat Gatholoco, dan Serat Nitimani. Buku-buku ini tidak hanya menjadi konsumsi kalangan kraton, tetapi juga dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Tan Khoen Swie juga menunjukkan nasionalisme keindonesiaannya dengan menerbitkan buku-buku yang berorientasi anti-kolonial. Ia memimpin perkumpulan Kioe Kok Thwan, organisasi Tionghoa Kediri yang melawan kolonial Belanda pada tahun 1935. Dengan demikian, Tan Khoen Swie tidak hanya berperan dalam mengembangkan kebudayaan Jawa, tetapi juga dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tan Khoen Swie (1884-1953) wafat pada tahun 1953, meninggalkan warisan yang tak terlupakan dalam bentuk buku-buku yang diterbitkannya. Buku-buku tersebut masih dibaca dan dipelajari oleh banyak orang hingga saat ini. Tan Khoen Swie juga dikenang sebagai penerbit yang berjasa dalam mengembangkan kebudayaan Jawa dan mempromosikan nasionalisme keindonesiaan.

Dengan demikian, Tan Khoen Swie merupakan tokoh yang sangat penting dalam sejarah kebudayaan Jawa dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia telah meninggalkan warisan yang tak terlupakan dalam bentuk buku-buku yang diterbitkannya dan semangat nasionalisme yang ditunjukkannya.

Namun, perlu diingat bahwa Tan Khoen Swie bukanlah satu-satunya orang Tionghoa yang berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pengembangan kebudayaan Jawa. Banyak orang Tionghoa lainnya yang juga berperan penting dalam sejarah Indonesia, seperti Liem Koen Hian, seorang wartawan dan politikus yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, ada juga nama-nama seperti Yap Tjwan Bing, Ong Eng Die, dan Tan Eng Goan yang juga berkontribusi dalam berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Sumber:

  • Osa Kurniawan Ilham, artikel tentang Tan Khoen Swie.
  • Pramoedya Ananta Toer, karya-karya tulisnya tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia.