MAYOR OKING: LENGAN YANG DIPOTONG TANPA BIUS – LEGENDA PERTEMPURAN GUNUNG CIGALONTANG 

Kefaspelita
Mayor oking Besar
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Bayangkan: pagi hari di lereng Gunung Cigalontang, kabut tebal menyelimuti hutan yang sunyi. Tiba-tiba, desing peluru Bren memecah keheningan. Pasukan Belanda menyergap pasukan Indonesia yang lelah setelah long march puluhan kilometer. Di garis depan, seorang komandan dengan wajah tegas memimpin serangan – dan dalam sekejap, lengan kanannya terjepit oleh peluru musuh. Itulah awal kisah Mayor Oking Djayaatmadja, sosok yang mengubah penderitaan menjadi legenda.

Sebelum membahas masa perjuangannya, penting untuk mengetahui akar keluarga Mayor Oking yang melahirkan jiwa kepemimpinannya sejak kecil. Raden Oking Jaya Atmaja (ejaan lama: Oking Djaja Atmadja) lahir di Cileungsi tahun 1918 dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Raden Enjoeh Djaya Atmadja, berasal dari Kampung Loji, Cibarusah, sedangkan ibunya, R. Nenden, adalah gadis asal Cileungsi. Darah bangsawan ayahnya mungkin menjadi dasar bagi kesadaran sosial dan tanggung jawabnya terhadap lingkungan sekitar.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Sejak kecil, jiwa kepemimpinannya sudah terlihat – ia sering menjadi pemimpin ketika bermain dengan teman sebaya dan selalu tampil mendominasi dalam setiap aktivitas. Memasuki usia remaja, Oking bekerja sebagai juru tagih cukai selama masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda sampai Jepang masuk pada tahun 1942. Pengalaman ini mungkin mengajarkannya tentang bagaimana sistem kolonial bekerja dan memperkuat hasratnya untuk merdeka.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, Belanda tidak mau menerima kedaulatan Indonesia dan melancarkan serangkaian agresi militer. Agresi Militer Belanda ke-2 (Agresi Kedua), yang dimulai pada 19 Desember 1948, adalah serangan terberat – pasukan Belanda menaklukkan Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota utama lainnya, menjebak pemerintah RI di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain itu, negeri juga menghadapi pemberontakan internal seperti Pemerintah Darurat Revolusioner Indonesia (PRRI) dan Pemerintah Pantjasila Revolusioner (PPR) yang merusak persatuan pasukan perjuangan. Di Jawa Barat, Komando Daerah Militer III/Siliwangi menjadi tulang punggung perlawanan, tetapi mereka harus bergerak secara rahasia dan menghindari penyerangan Belanda yang memiliki kekuatan militer lebih superior. Informasi latar belakang ini dikonfirmasi oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Disjarah Kodam III/Siliwangi.

Mayor Oking sendiri mulai berjuang sejak awal masa kemerdekaan. Ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan akhirnya menjabat komandan Batalyon 1/Tarumanegara – satu dari pasukan terbaik di Jawa Barat. Biografinya ini tercatat dalam portal Perpustakaan Nasional RI dan catatan sejarah lokal Pemerintah Kabupaten Bogor.

Di tengah krisis Agresi Kedua, Mayor Oking memimpin pasukannya melakukan long march dari Jawa Tengah kembali ke Jawa Barat. Tujuan perjalanan ini adalah untuk menyatukan pasukan perjuangan di Jawa Barat dan memperkuat perlawanan terhadap Belanda. Jalanan penuh rintangan: makanan habis, persenjataan terbatas, dan selalu diburu oleh pasukan Belanda yang bersenjata lengkap (termasuk senapan mesin Bren dan mortir).

Puncaknya tiba di kawasan Cigalontang, Tasikmalaya. Pada hari itu, pasukan Oking terjebak dalam penyergapan yang sengit. Pertempuran berlangsung dalam jarak sangat dekat – hingga akhirnya, bayonet menjadi senjata utama ketika peluru mulai habis. Menurut catatan Disjarah Kodam III/Siliwangi, lebih dari 50 prajurit Indonesia gugur, tetapi semangat mereka tidak patah – semua karena sosok komandan yang tak mau mundur. Informasi tentang perjalanan long march dan peran pasukan Siliwangi juga dikonfirmasi oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam catatan perjuangan kemerdekaan Jawa Barat.

Di tengah hujan peluru, Mayor Oking berada di posisi paling depan untuk memotivasi pasukan. Tiba-tiba, sebuah peluru menembus lengan kanannya, menghancurkan tulang dan jaringan otot. Darah mengucur deras, membasahi seragam hijaunya yang sudah lusuh. Para prajurit panik melihat sang komandan tumbang.

Tetapi yang terjadi selanjutnya adalah keajaiban mental. Tanpa ragu, Oking bangkit dengan tangan kiri yang masih menggenggam senjata. “Terus serang! Jangan hiraukan saya!” teriaknya, suaranya menembus desing peluru. Semangat ini membakar nyali para prajurit Siliwangi – mereka menyerang dengan kekerasan yang tak tertahankan dan akhirnya mematahkan kepungan Belanda. Kisah keberanian ini juga dicatat dalam portal Perpustakaan Nasional RI dalam biografi tokoh perjuangan.

Setelah pertempuran, luka Mayor Oking semakin parah. Infeksi yang menjalar menyebabkan gangren – jika tidak ditangani segera, nyawanya akan terancam. Tapi di tengah hutan, tidak ada rumah sakit, tidak ada peralatan medis, bahkan tidak ada obat bius yang cukup.

Menurut Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), pembedahan amputasi lengan kanannya dilakukan dengan alat seadanya: pisau dapur yang disterilkan dengan api unggun dan kain yang diperoleh dari seragam. Tanpa bius, Mayor Oking menahan rasa sakit yang tak terbayangkan – semua demi bisa terus berjuang bagi Republik Indonesia. Ia hanya berkata: “Jika lengan ini harus hilang agar saya bisa tetap melindungi negara, maka saya rela.” Informasi tambahan tentang kondisi medis pasca-pertempuran juga dapat ditemukan dalam catatan sejarah lokal Pemerintah Kabupaten Bogor.

Meski hanya memiliki satu lengan, Mayor Oking tidak berhenti mengabdi. Ia tetap aktif di militer hingga akhir hayatnya (ia wafat pada 7 Oktober 1963 pada usia 44-45 tahun) dan menjadi contoh bagi generasi muda tentang keteguhan hati dan cinta tanah air. Kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan protokol di Bogor dan Bekasi – tempat ia pernah tinggal dan bekerja.

Selain itu, Mayor Oking juga meninggalkan warisan melalui keluarga. Menurut catatan, ia memiliki enam anak: Nur Yami Oking, Kartini Oking, Eri Iriana Oking, Iip Ja Yip Ki Oking, Eka Jaya Atmaja Oking, dan Yeny Hermani Oking. Beberapa dari anaknya bahkan telah berbagi kenangan dan cerita tentang ayahnya untuk melestarikan legenda perjuangannya.

Informasi biografinya juga dapat diakses melalui portal Perpustakaan Nasional RI (dalam koleksi wajib serah penerbit) dan catatan sejarah lokal Pemerintah Kabupaten Bogor, yang mengakui kontribusinya sebagai salah satu pahlawan perjuangan Jawa Barat. Selain itu, Wikipedia bahasa Indonesia juga menyediakan ringkasan lengkap tentang kehidupan dan karier militer Mayor Oking.

Daftar Sumber Referensi:

1. Wikipedia bahasa Indonesia: Oking Jaya Atmaja (akses online: id.m.wikipedia.org/wiki/Oking_Jaya_Atmaja).
2. Disjarah Kodam III/Siliwangi: Sejarah Perjuangan Siliwangi.
3. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI): Catatan Perjuangan Kemerdekaan Jawa Barat dan Dokumen Agresi Militer Belanda ke-2.
4. Perpustakaan Nasional RI: Portal Informasi Biografi Tokoh Perjuangan (akses online: deposit.perpusnas.go.id).
5. Pemerintah Kabupaten Bogor: Catatan Sejarah Lokal tentang Tokoh Perjuangan dan Kondisi Masa Kemerdekaan di Bogor.
6. Sebekasi.com: Jejak Mayor Oking di Cibarusah (akses online: https://www.sebekasi.com/sejarah/pr-4353205023/jejak-mayor-oking-di-cibarusah).