Pelitanusantara.com – Ada satu pertanyaan sederhana, tapi cukup mengganggu:
apakah kita benar-benar mengasihi semua orang… atau hanya orang-orang tertentu saja?
Kita sering berkata melayani Tuhan.
Kita aktif. Kita hadir. Kita terlihat rohani.
Tetapi dalam praktiknya, kita masih memilih.
Kita lebih cepat menghargai orang yang:
- punya jabatan
- punya pengaruh
- punya harta
Sementara mereka yang sederhana…
sering tidak kita lihat.
Yesus tidak datang ke dunia untuk mencari orang yang sudah kuat.
Ia justru berkata:
“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa.” (Markus 2:17)
Ia mendekati:
- yang lapar
- yang sakit
- yang tersingkir
- yang dianggap tidak layak
Yesus bergerak ke bawah.
Namun kita?
Sering justru bergerak ke atas.
Mencari relasi yang “berguna”.
Mendekati yang “bernilai”.
Masalahnya bukan hanya pada tindakan.
Ini soal arah hati.
Tanpa sadar, kita mulai mengukur manusia dari:
- apa yang mereka punya
- apa yang mereka bisa beri
- seberapa besar manfaatnya bagi kita
Dan di titik itu, kasih mulai berubah jadi kepentingan.
Padahal firman Tuhan sudah mengingatkan:
“Janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (Yakobus 2:1)
Dalam dunia: yang penting adalah yang berpengaruh.
Dalam Kerajaan Allah: yang penting adalah yang membutuhkan.
Yesus berkata:
“Apa yang kamu lakukan untuk yang paling kecil, kamu melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)
Artinya, ukuran iman bukan siapa yang kita hormati—
tetapi siapa yang kita pedulikan.
Kadang kita lebih sopan kepada orang yang baru dikenal karena jabatannya,
daripada kepada orang yang setia di sekitar kita.
Kadang kita lebih menghargai yang punya nama besar,
daripada yang punya hati tulus.
Dan tanpa sadar, kita sedang hidup dengan standar dunia…
di dalam kehidupan rohani.
“Ana dhuwit, ana kanca.”
(Ada uang, ada teman.)
Kalimat ini sederhana, tapi sering jadi kenyataan.
Namun kasih Kristus tidak seperti itu.
Kasih Kristus hadir bukan karena manfaat,
tetapi karena belas kasihan.
Jika kita hanya menghargai orang karena status dan manfaatnya, mungkin yang kita kejar bukan Tuhan—tetapi kepentingan.
Mengikut Kristus bukan hanya soal ibadah,
tetapi soal arah hati.
Apakah kita berjalan ke arah yang sama dengan Tuhan?
Tuhan mendekati yang membutuhkan.
Jika kita hanya mendekati yang menguntungkan,
maka kita sedang berjalan di arah yang berbeda.
Kasih sejati tidak memilih siapa yang layak—kasih sejati menjangkau siapa yang membutuhkan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI













