Pelitanusantara.com Pada abad ke-14, ketika Kekaisaran Mongol runtuh menjadi bara dan tulang belulang, dan para khan atau raja besar hanya tinggal nama dalam naskah-naskah tua. Akan tetapi, masih ada tujuh jenderal yang menolak tunduk pada dinasti penerus Mongolia. Ke-tujuh jenderal tersebut membentuk persekutuan militer yang kuat dan juga mematikan.
Mereka adalah:
- Khan Timur, jenderal yang tangguh dan berpengalaman dalam pertempuran di padang pasir.
- Batu Khan, jenderal yang kuat dan berani, dikenal karena keberaniannya dalam pertempuran.
- Syr Darya, jenderal yang cerdas dan strategis, memiliki kemampuan taktis yang luar biasa.
- Tibet Khan, jenderal yang berpengalaman dalam pertempuran di dataran tinggi Tibet.
- Delhi Khan, jenderal yang memiliki pengalaman pertempuran di India, dikenal karena keberaniannya dalam menghadapi pasukan Delhi.
- Laut Khan, jenderal yang berpengalaman dalam pertempuran laut, memiliki kemampuan navigasi dan taktis yang luar biasa.
- Mongol Khan , jenderal yang memiliki darah Mongol tulen, dikenal karena keberaniannya dan kemampuan tempurnya.
Catatan Penting
Kisah ini adalah fiksi sejarah yang diilhami oleh peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu. Nama-nama, lokasi, dan peristiwa dalam kisah ini tidak sepenuhnya berdasarkan fakta sejarah, tetapi diadaptasi dan diolah untuk tujuan fiksi. Oleh karena itu, kisah ini tidak dapat dianggap sebagai catatan sejarah yang akurat.
Kronik Sejarah
Catatan sejarah Dinasti Ming menyebutkan tentang hubungan diplomatik dan perdagangan antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara, termasuk Majapahit. Nagarakertagama, sebuah puisi Jawa kuno yang ditulis pada abad ke-14, menggambarkan kerajaan Majapahit dan hubungannya dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara.
Sumpah Palapa
Gajah Mada, seorang patih Majapahit, mengucapkan sumpah yang menyatakan kesediaannya untuk tidak makan buah palapa (rempah-rempah) sampai ia berhasil menyatukan Nusantara. Sumpah ini menjadi simbol kesungguhan dan tekad Majapahit untuk mencapai kejayaan.
Perang dan Diplomasi
Mereka datang saat bulan menyembunyikan wajahnya. Mereka tidak berteriak, mereka tidak menuntut. Hanya senyap, lalu kota yang disinggahi akan terbakar. Catatan pelaut Champa, 1357. Semua tentara tambahannya di mulai dari sisa perompak reruntuhan Kerajaan Sriwijaya yang tua, dari pelarian Bugis yang haus penguasaan wilayah, dari para perompak yang patah panji yang kalah berperang dengan Kerajaan Melayu.
Mereka terus merekrut, persekutuan baru semua serdadu bengis serta para pengkhianat, bersatu lagi dari pasukan buangan yang ingin membakar kembali dunia dalam persatuan Kaara Baatar.
Utusan Majapahit
Gajah Mada memerintahkan para utusan untuk membawa pesan Majapahit ke berbagai negeri. “Pilih dari kasta tertinggi,” katanya. “Mereka yang paling bijak dalam berbicara, serta yang paling berani dalam berucap… Lidahnya harus tajam dan pedangnya harus lebih tajam lagi.”
Dengan demikian, utusan Majapahit membawa pesan perdamaian dan kesepakatan untuk bersatu melawan ancaman Kaara Baatar. Apakah mereka akan berhasil? Hanya waktu yang akan menjawab. [÷]













