Kisah di Balik Lagu “Jujur” Sidney Mohede

IMG 20241126 WA0033
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com

Manusia tidak selamanya hidup tegar. Suatu ketika manusia akan berada di titik terendah, dimana ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa dalam mengatasi persoalannya. Adanya hanya bisa pasrah kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Hal ini pernah dirasakan oleh Sidney Mohede seorang yang terkenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu-lagu rohani dengan tema penyembahan. Lagu yang dicipta dan direlease pada tahun 2019 yang berjudul “Jujur” adalah salah satu bukti bagaimana Sidney Mohede yang juga adalah seorang gembala sidang jemaat Praise Community Church (JPCC) di Jakarta pernah dalam situasi ketidakberdayaan itu.

Lirik lagu Jujur itu sendiri di awal lagu mengatakan: Jujur kadang ‘ku tak sanggup/ Menghadapi semua bebanku/ Menantikan jawaban/ Menolak untuk menyerah/ Kutahu Kau Tuhan yang sanggup/ Menolong dalam sesakku/ Namun meskipun Kau belum/ Ku ‘kan tetap menyembahMu…

Terhadap lagu yang bertemakan kepasrahan diri dan semangat untuk tetap bertahan memuji Tuhan ini menurut Sidney Mohede yang belum lama ini mengisi acara seminar rohani dalam rangka Dies Natalis UKSW Salatiga ini mengatakan bahwa sekitar tahun 2017 dokter mendiagnosa bagaimana asal muasal Sidney Mohede kehilangan pendengaran. “Ada bunyi ngiiinnggg di salah satu telinga yang tidak pernah berhenti saat saya ngobrol, saya makan, nyanyi,” demikian ayah dua anak putri ini bercerita tentang kondisi kesehatannya.

Belum selesai dengan masalah pendengaran, di tahun 2019 Sidney Mohede mengatakan bahwa ada benjolan di lehernya. Dokter mengatakan bahwa ada kelenjar tiroid yang harus diangkat dengan cara operasi. Setelah dokter tahu Sidney Mohede seorang penyanyi dokter berkata bahwa usai operasi mungkin suara Sideny Mohede akan terganggu.

“Wah ndak apa-apa dok kalau memang harus berakhir karier menyanyi saya,” demikian Sidney Mohede menanggapi pernyataan dokter tanpa ada ketakutan sama sekali.

Sidney Mohede bertemu dengan keluargnya. “Keluarga saya kumpulkan di ruang tamu, saya jelaskan, ini ada tumor, istri saya nangis, satu pertanyaan dari anak saya yang memukul membuat saya bertanya saya harus bagaimana?” begitu terang Sidney Mohede. Anaknya bertanya,” Kok Tuhan begitu Dad? Sudah mengambil pendengaran, sekarang ada tiroid, kok Tuhan kayak gitu?”

Di awal Sidney Mohede tidak bisa berkata-kata, tetapi kemudian ia menjawab,”Tuhan melakukan ini bukan tanpa tujuan, Tuhan akan memberi kekuatan dapat melewati masa-masa ini. Tuhan mau ini menjadi sarana kita untuk memuliakan nama-Nya.”

Momen itu membuat Sidney Mohede masuk studio, sehingga lahirlah lagu “Jujur”. “Lagu itu merupakan doa saya, saya akan terus memuji, saya akan terus bernyanyi bahkan di dalam api pun,” demikian Sidney Mohede.

Memang ada lirik lagu “Jujur” nya yang berbunyi: Ku’kan bernyanyi/ Sampai jiwaku percaya/ Sampai hatiku mendengar/ Lagu pengharapan/ Oh kutau Kau sanggup/ Aku tak pernah sendiri/ Selalu baik Kau dihidupku/ Bahkan di dalam api pun/ Ku ‘kan menyembahMu/ Oh-ho/ Bahkan di dalam apiku/
Ku ‘kan menyembahMu

“Orang berkata kasihan-kasihan ya, tetapi ini bukan saatnya saya mengasihani diri sendiri, saya yakin pasti ada makna pada itu,” lanjut Sidney Mohede. Tidak berhenti pada hasil diagnosa dokter sebelumnya, Sidney Mohede melakukan cek kesehatan di luar negeri, hasilnya, tumor tiroid didiagnosa tidak termasuk tumor ganas.

“Puji Tuhan, tumornya tidak ganas. Mungkin hal ini diijinkan Tuhan supaya lagu ‘Jujur’ bisa tercipta. Lagu ‘Jujur’ di tahun 2020 saat pandemi korona, menjadi berkat banyak orang,” demikian Sidney Mohede.

Selanjutnya lirik lagu “Jujur” yang menyatakan penyerahan dan keteguhan iman tersebut adalah sebagai berikut: Ku ‘kan berserah/ Kutau aku tak sendiri/ Kuyakin Kau mengasihiku/ Bahkan di dalam apipun/ Ku ‘kan menyembahMu/ Jujur kadang aku lalai/ Bersandar pada kekuatanMu/ Di dalam kelemahanku/ Sempurnalah kuasaMu/ Imanku memegang janjiMu/ Kutau Kau slalu bersamaku/ Dalam setiap perkaraku/ Kaulah damai tenangku

Oleh: Suyito Basuki