Jangan Tinggalkan Tempatmu—Di Sanalah Tuhan Bekerja!

File 000000009e887208bdf3fc1fb119a033
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com

Ada banyak orang yang pernah berkata,
“Aku mau melayani Tuhan seumur hidupku.”

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Namun waktu berjalan…
semangat mulai pudar,
tantangan datang,
dan perlahan mereka menghilang dari tempat mereka dulu berdiri.

Bukan karena tidak mampu—
tetapi karena tidak lagi bertahan.

Realita ini tidak jauh dari kehidupan kita hari ini.
Banyak yang memulai dengan api yang menyala, tetapi tidak sedikit yang padam di tengah jalan.

Tidak semua orang dipanggil untuk berdiri di panggung.
Tidak semua orang dilihat, dipuji, atau dianggap penting.

Tetapi satu hal yang sering dilupakan:
Tuhan tidak pernah salah menempatkan seseorang.

Banyak orang memulai pelayanan dengan semangat yang membara. Hati penuh sukacita, komitmen terasa kuat, dan impian terasa besar. Namun seiring waktu berjalan, realita mulai berbicara—lelah datang, kecewa muncul, dan rasa tidak dihargai mulai menggerogoti.

Di titik itu, banyak yang memilih pergi.
Meninggalkan tempatnya.
Meninggalkan panggilannya.

Padahal bisa jadi…
justru di tempat itulah Tuhan sedang membentuknya.

Seperti seorang petani yang menanam benih di tanah. Ia tidak langsung melihat hasilnya. Hari demi hari ia tetap menyiram, merawat, dan menunggu. Dari luar, tanah itu tampak biasa saja—bahkan seolah tidak terjadi apa-apa. Namun di dalam tanah, akar sedang bertumbuh, menguat, dan mempersiapkan diri untuk muncul ke permukaan.

Jika petani itu berhenti di tengah jalan karena merasa tidak ada hasil, maka ia tidak akan pernah melihat panen.
Begitu juga dengan kehidupan kita—apa yang Tuhan kerjakan seringkali tidak langsung terlihat, tetapi bukan berarti tidak sedang terjadi.

Alkitab berkata:
“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” (1 Korintus 4:2)

Kesetiaan tidak dibuktikan saat semuanya mudah.
Kesetiaan terlihat ketika tetap bertahan saat semuanya terasa berat.

Pepatah Jawa berkata:
“Sapa temen bakal tinemu.”
Yang setia dan bersungguh-sungguh, pada akhirnya akan melihat hasilnya.

Melayani Tuhan bukan tentang posisi, tapi tentang hati.
Bukan tentang siapa yang melihat, tapi tentang siapa yang kita layani.

Yesus sendiri berkata:
“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.” (Lukas 16:10)

Bayangkan sebuah fondasi bangunan. Ia tidak terlihat oleh siapa pun karena tertanam di dalam tanah. Tidak ada yang memuji fondasi, tidak ada yang memotretnya, bahkan sering dilupakan. Namun justru fondasi itulah yang menentukan apakah bangunan akan berdiri kokoh atau runtuh.

Demikian juga kesetiaan kita—mungkin tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.

Namun jujur saja…
Tetap setia itu tidak mudah.

Ada hari di mana kamu merasa sendirian.
Ada saat di mana kamu merasa tidak dianggap.
Bahkan mungkin kamu bertanya, “Untuk apa aku terus di sini?”

Di saat seperti itu, ingatlah:
“Hendaklah kita jangan jemu-jemu berbuat baik…” (Galatia 6:9)

Dan pepatah Jawa menguatkan:
“Alon-alon waton kelakon.”
Tidak masalah lambat, asal tetap berjalan dan tidak berhenti.

Karena yang berbahaya bukanlah lambat—
tetapi berhenti.

Komitmen berarti tetap melangkah, walaupun hati tidak selalu kuat.
Loyalitas berarti tetap tinggal, walaupun tidak selalu dihargai.
Konsistensi berarti tetap melakukan yang benar, walaupun tidak selalu mudah.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…” (Kolose 3:23)

Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan:
Tuhan melihat.

“Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa…” (Ibrani 6:10)

Pepatah Jawa berkata:
“Gusti ora sare.”
Tuhan tidak pernah tidur—Dia melihat setiap air mata, setiap usaha, setiap kesetiaan yang tersembunyi.

Seperti seorang pelari maraton, kemenangan bukan ditentukan oleh siapa yang berlari paling cepat di awal, tetapi siapa yang mampu bertahan sampai garis akhir. Banyak yang memulai dengan cepat, tetapi hanya sedikit yang menyelesaikan perlombaan.

Begitu juga dengan iman dan pelayanan—yang Tuhan cari bukan yang cepat di awal, tetapi yang setia sampai akhir.

Jadi jika hari ini kamu merasa lelah…
Jika kamu merasa ingin menyerah…
Jika kamu merasa tidak dihargai…

Jangan pergi.

Bertahanlah.
Tetaplah setia.
Tetaplah konsisten.

Karena bisa jadi…
tempat yang sedang ingin kamu tinggalkan adalah tempat di mana Tuhan akan mengangkat hidupmu.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

Jangan tinggalkan tempatmu.
Di sanalah Tuhan sedang bekerja.
Di sanalah Tuhan sedang membentukmu.
Dan di sanalah, pada waktunya, Tuhan akan memuliakan nama-Nya melalui hidupmu.


Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K