Inti Ajaran Buddha dan Pandangan

Kefaspelita
File 00000000e6e071fab74b456767a8e337
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Inti Ajaran Buddha dan Pandangan Nichiren

Oleh Amin Wijaya

Ajaran Buddha berangkat dari kenyataan mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu adanya penderitaan (dukkha). Dalam khotbah pertamanya, Gautama Buddha menjelaskan pokok ajaran yang dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Utama Berunsur Delapan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Empat Penderitaan Universal

  1. Kelahiran
  2. Penuaan
  3. Penyakit
  4. Kematian

Keempat hal tersebut merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan setiap makhluk.

Empat Kebenaran Mulia

  1. Kebenaran tentang penderitaan.
  2. Kebenaran tentang sebab penderitaan.
  3. Kebenaran tentang lenyapnya penderitaan.
  4. Kebenaran tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Jalan Utama Berunsur Delapan

  1. Pandangan benar
  2. Pikiran benar
  3. Ucapan benar
  4. Perbuatan benar
  5. Penghidupan benar
  6. Usaha benar
  7. Perhatian benar
  8. Konsentrasi benar

Melalui pengembangan moralitas, kebijaksanaan, dan meditasi, seseorang berlatih untuk mengikis akar penderitaan, yaitu keinginan dan keterikatan. Keadaan terbebas dari penderitaan ini disebut nirwana, yakni kondisi batin yang damai dan bebas dari belenggu kelahiran serta kematian berulang.

Pandangan Nichiren dan Sutra Bunga Teratai

Pada abad ke-13 di Jepang, Nichiren menekankan bahwa inti ajaran Buddha terangkum dalam Sutra Bunga Teratai (Saddharmapundarika Sutra). Dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Myoho Renge Kyo.

Menurut Nichiren, hukum universal kehidupan tercermin dalam ajaran tersebut, dan setiap manusia memiliki sifat kebuddhaan secara inheren. Melalui pelafalan Nam Myoho Renge Kyo, sifat kebuddhaan dapat dibangkitkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nichiren juga mewujudkan ajaran ini dalam bentuk Gohonzon, sebuah mandala yang melambangkan kesatuan antara hukum kehidupan dan manusia.

Makna Praktik Buddhisme

Baik dalam ajaran awal Buddha maupun dalam penekanan Nichiren, kebuddhaan bukanlah sesuatu yang jauh atau terpisah dari kehidupan. Kebuddhaan merupakan potensi batin yang ada dalam setiap makhluk.

Tujuan praktik Buddhisme adalah membangkitkan potensi tersebut sehingga manusia dapat menjalani kehidupan yang bermakna, penuh welas asih, dan membawa manfaat bagi diri sendiri serta orang lain.

Kesimpulan

Inti ajaran Buddha mengajarkan bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan, namun tersedia jalan untuk mengatasinya. Dengan memahami Empat Kebenaran Mulia dan menempuh Jalan Utama Berunsur Delapan, manusia dapat membebaskan diri dari keterikatan batin.

Dalam perspektif Nichiren, kebuddhaan dapat diwujudkan di sini dan sekarang melalui praktik yang sungguh-sungguh.

Dengan membangkitkan sifat kebuddhaan, manusia dapat mencapai kehidupan yang damai, bernilai, dan membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun sesama.

Nam Myoho Renge Kyo.
Salam Buddhis.