Imlek Bukan Sekadar Merah dan Meriah: Tentang Cerita, Keluarga, dan Ingatan yang Mulai Pudar

File 00000000ce007206866372fbaa51d714
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Imlek Bukan Sekadar Merah dan Meriah: Tentang Cerita, Keluarga, dan Ingatan yang Mulai Pudar

Jakarta – Setiap Imlek, warna merah kembali memenuhi ruang publik. Lampion digantung, barongsai menari, promo belanja berseliweran, dan ucapan “Gong Xi Fa Cai” ramai di media sosial. Imlek terasa hidup—setidaknya di permukaan.

Namun, ada satu hal yang pelan-pelan mulai jarang terdengar: cerita.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Dulu, Imlek bukan hanya soal perayaan. Ia adalah momen ketika keluarga duduk bersama, anak-anak mendengarkan kisah yang sama setiap tahun, dan orang tua menuturkan alasan mengapa tradisi itu dijalankan. Cerita-cerita sederhana, tapi penuh makna.

Sebelum Imlek jadi kalender libur nasional dan dekorasi mal, ia hidup di ruang keluarga. Kakek dan nenek bercerita tentang masa lalu—tentang hidup susah, tentang merantau, tentang bertahan. Anak-anak mungkin belum paham sepenuhnya, tapi cerita itu menempel pelan-pelan.

Di situlah Imlek bekerja: bukan menggurui, tapi menanamkan nilai tanpa terasa.

Membersihkan rumah sebelum Imlek bukan sekadar tradisi. Orang tua dulu bilang, debu itu bukan cuma kotoran, tapi lambang beban lama. Marah, kecewa, iri—semuanya perlu disingkirkan sebelum tahun baru datang.

Hari ini, rumah tetap dibersihkan. Tapi maknanya sering tertinggal.

Sembahyang leluhur bukan soal masa lalu yang disembah, melainkan asal-usul yang diingat. Dalam banyak keluarga Tionghoa Indonesia, leluhur adalah simbol perjalanan panjang: hidup sederhana, kerja keras, dan bertahan di negeri yang tidak selalu ramah.

Menghormati leluhur sesungguhnya adalah cara halus untuk berkata:
“Hidupku tidak dimulai dari nol.”

Makan besar Imlek dulu adalah panggung cerita keluarga. Sekarang, meja makan sering penuh, tapi sunyi. Semua sibuk dengan layar. Tradisi masih ada, tapi percakapannya hilang.

Padahal tanpa cerita, tradisi mudah berubah jadi rutinitas kosong.

Angpao dulu selalu disertai nasihat. Sekarang sering hanya nominal. Padahal merah pada angpao bukan simbol kaya, tapi simbol hidup dan doa baik.

Uang bisa habis. Nilai hidup seharusnya tinggal.

Tidak salah Imlek dirayakan meriah. Tapi ketika semuanya terlalu bising, ruang refleksi justru menghilang. Padahal Imlek sejatinya adalah momen untuk berhenti sejenak—melihat ke belakang, lalu melangkah lebih sadar ke depan.

Masalah terbesar Imlek hari ini bukan tradisinya hilang, tapi ceritanya tidak lagi dituturkan. Anak muda masih merayakan, tapi sering tak tahu alasannya. Orang tua masih menjalankan, tapi lelah menjelaskan.

Padahal tradisi Tionghoa bertahan bukan karena ritualnya, melainkan karena ceritanya.

Imlek tidak akan hilang. Tapi maknanya bisa menipis jika terus dijalankan tanpa dipahami. Tradisi boleh berubah bentuk, tapi nilai seharusnya tetap hidup.

Karena pada akhirnya, Imlek bukan soal tahun baru. Ia tentang mengingat dari mana kita berasal, agar kita tidak salah arah ke mana melangkah.

Selama masih ada keluarga yang duduk bersama,
selama masih ada cerita yang dituturkan,
dan selama masih ada keinginan untuk memahami makna,
Imlek akan tetap hidup.

Bukan hanya sebagai perayaan,
tapi sebagai pengingat bahwa di balik warna merah dan kemeriahan,
ada sejarah, nilai, dan cerita yang membentuk siapa kita hari ini.