Hidup Selaras dengan Pikiran dan Kehendak Kristus
Sapaan Gembala – Pdt. Andy Markus
Sabtu, 07 Februari 2026
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus… dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa.”
(Filipi 2:5,11 TB)
Kehidupan doa Yesus bukan sekadar menyampaikan permohonan kepada Allah Bapa. Dalam setiap doa-Nya, Yesus membangun hubungan yang intim dengan Bapa agar pikiran, perasaan, dan kehendak Bapa menjadi bagian dari hidup-Nya. Proses ini bukanlah perjalanan yang mudah, sebab keselarasan dengan kehendak Allah menuntut kerelaan untuk melepaskan kehendak pribadi.
Sebagai manusia, Yesus mengalami pergumulan yang nyata. Ia harus merelakan keinginan-Nya sendiri dan sepenuhnya mengutamakan kehendak Bapa. Bahkan, Ia rela menanggung penderitaan dan kematian di kayu salib akibat dosa yang tidak pernah Ia lakukan. Melalui kehidupan doa-Nya, Yesus menunjukkan bahwa ketaatan kepada kehendak Allah adalah jalan menuju kemuliaan Allah.
Salah satu tujuan dari terjadinya Restorasi Pondok Daud adalah mengubah cara manusia berhubungan dengan Allah. Hubungan manusia dengan Tuhan tidak boleh berhenti pada seremonial atau rutinitas keagamaan semata. Banyak orang menjalankan aktivitas agama, tetapi belum memahami pikiran, perasaan, dan kehendak Allah. Tanpa disadari, manusia bisa saja lebih menuhankan agamanya daripada menempatkan Allah sebagai Tuhan dalam hidupnya.
Karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara DOA dan BERDOA. Banyak orang berdoa dengan mengucapkan kalimat doa, tetapi belum tentu benar-benar bercakap-cakap dengan Allah secara pribadi, dari hati ke hati. Kehidupan doa yang sejati membawa seseorang untuk semakin mengenal isi hati Tuhan.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan ibadah. Ada perbedaan antara IBADAH dan BERIBADAH. Ibadah yang sejati lahir dari relasi yang hidup dengan Allah, bukan sekadar rutinitas keagamaan. Orang yang sungguh-sungguh menghidupi kehidupan doa akan semakin mengerti alasan Allah menciptakan dan menempatkannya di dunia ini.
Kiranya melalui teladan Kristus, kita belajar memiliki kehidupan doa yang sejati, sehingga pikiran, perasaan, dan kehendak kita semakin selaras dengan kehendak Allah, dan melalui hidup kita nama Tuhan dimuliakan.
Soli Deo Gloria.













