Pelita Nusantara Gereja, dalam pemahaman rohani, adalah tubuh Kristus, tempat di mana umat bersatu dalam kasih dan pelayanan. Gereja bukan hanya sebuah bangunan fisik, tetapi juga komunitas yang hidup dan bernafas dalam kasih Tuhan. Di dalam gereja, umat diharapkan dapat menemukan kekuatan spiritual, dukungan komunitas, dan bimbingan menuju kehidupan yang lebih baik sesuai dengan ajaran Kristus. Namun, realitas gereja seringkali berbeda. Di balik dinding-dinding yang dicat dengan warna-warna indah dan di bawah naungan salib yang suci, tersembunyi permainan politik dan kepentingan pribadi yang menggerogoti esensi sejati dari iman.
Gereja, sebagai institusi yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat, seringkali menjadi ajang perebutan kekuasaan dan pengaruh. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti perebutan posisi kepemimpinan, kontrol atas sumber daya, dan pengaruh dalam pengambilan keputusan. Selain itu, gereja juga memiliki aset yang besar, seperti tanah, bangunan, dan keuangan, yang dapat menjadi sumber kekuasaan dan pengaruh. Kecenderungan ini dapat menyebabkan gereja kehilangan fokus pada misi dan pelayanan yang sebenarnya, serta merusak citra gereja di mata masyarakat. Seperti peribahasa Tionghoa “水清无鱼” (shuǐ qīng wú yú), yang berarti “air yang terlalu jernih tidak ada ikan,” kesempurnaan yang berlebihan dalam gereja dapat menyebabkan kehilangan esensi dan tujuan sebenarnya.
Contoh konkret dari kecenderungan ini dapat dilihat dalam kasus-kasus di mana gereja lebih fokus pada membangun bangunan megah daripada membantu masyarakat sekitar. Selain itu, contoh lain seperti perebutan jabatan kepemimpinan di mana individu atau kelompok tertentu berusaha untuk mendominasi proses pemilihan kepemimpinan gereja, kontrol atas sumber daya gereja di mana individu atau kelompok tertentu berusaha untuk mengontrol sumber daya gereja, serta penggunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi di mana pemimpin gereja menggunakan kekuasaan mereka untuk memperoleh keuntungan pribadi. Hal ini dapat menyebabkan gereja kehilangan fokus pada misi dan pelayanan yang sebenarnya, serta merusak citra gereja di mata masyarakat.
Pertarungan kekuasaan dalam gereja dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti:
- Gereja kehilangan fokus pada misi dan pelayanan yang sebenarnya, serta merusak citra gereja di mata masyarakat.
- Perpecahan di dalam komunitas gereja, kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan komunitas, dan penggunaan kekuasaan untuk kepentingan sendiri.
- Umat kehilangan kepercayaan terhadap gereja dan merasa bahwa gereja tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk mencari Tuhan dan melayani sesama.
Mari kita introspeksi diri dan bertobat dari ambisi dan kekuasaan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai gereja. Sebagai umat yang setia, kita perlu merefleksikan peran kita dalam gereja. Apakah kita lebih fokus pada kepentingan pribadi atau benar-benar melayani Tuhan dan sesama? Apakah kita membiarkan ambisi dan kekuasaan menguasai hati kita, ataukah kita memilih untuk hidup dalam kasih dan kerendahan hati? Seperti yang tertulis dalam Matius 20:25-28, “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, ‘Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.’” Kita dipanggil untuk hidup dalam kasih, kerendahan hati, dan pelayanan, serta bertindak secara alami dan harmonis seperti prinsip “Wu Wei” dalam filsafat Tiongkok. Dengan demikian, gereja dapat menjadi tempat yang penuh kasih dan damai, di mana umat dapat mencari Tuhan dan melayani sesama dengan tulus. Seperti yang tertulis dalam 1 Petrus 4:8-9, “Tetetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan rumah dengan tidak mengeluh.” Mari kita ingat peribahasa Jawa “aja gumunan, aja getunan, aja kagetan” (jangan heran, jangan menyesal, jangan kaget) dan tidak terkejut dengan realitas ini, tetapi untuk introspeksi dan memperbaiki diri.
Untuk mengatasi masalah perebutan kekuasaan dan pengaruh dalam gereja, kita perlu memastikan bahwa struktur dan proses gereja mendukung misi dan pelayanan yang mulia. Berikut beberapa solusi yang dapat dilakukan:
- Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan gereja, sehingga umat dapat memahami bagaimana keputusan dibuat dan sumber daya dikelola.
- Membangun komunikasi yang efektif dan terbuka antara pemimpin dan umat, sehingga umat dapat merasa didengar dan dihargai.
- Meningkatkan kesadaran dan komitmen umat untuk hidup dalam kasih dan pelayanan, serta mempromosikan nilai-nilai gereja yang sebenarnya.
- Mengembangkan program pelatihan dan pendidikan untuk pemimpin dan umat, sehingga mereka dapat memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam gereja.
- Membangun sistem pengawasan dan evaluasi yang efektif, sehingga gereja dapat memantau dan mengevaluasi kinerja pemimpin dan program-programnya.
Untuk mengimplementasikan solusi-solusi tersebut, gereja perlu melakukan beberapa langkah, seperti:
- Mengembangkan kebijakan dan prosedur yang jelas dan transparan untuk pengelolaan gereja.
- Mengadakan pelatihan dan pendidikan untuk pemimpin dan umat tentang peran dan tanggung jawab mereka dalam gereja.
- Membangun sistem komunikasi yang efektif dan terbuka antara pemimpin dan umat.
- Mengembangkan program-program yang mendukung misi dan pelayanan gereja, serta mempromosikan nilai-nilai gereja yang sebenarnya.
Dengan mengimplementasikan solusi-solusi tersebut, gereja dapat memperoleh beberapa manfaat, seperti:
- Meningkatkan kepercayaan umat terhadap gereja dan pemimpinnya.
- Meningkatkan kesadaran dan komitmen umat untuk hidup dalam kasih dan pelayanan.
- Meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan gereja.
- Membangun gereja yang lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan dan perubahan.
Dengan mengimplementasikan solusi-solusi tersebut, gereja dapat mengatasi masalah perebutan kekuasaan dan pengaruh, serta membangun gereja yang lebih kuat dan tangguh. Oleh karena itu, kita perlu bekerja sama untuk membangun gereja yang lebih baik, di mana kasih dan pelayanan menjadi fokus utama.
Penulis Kefas Hervin Devananda [Romo Kefas]













