Jakarta – Menjelang Munas PERADI, dinamika organisasi advokat terbesar di Indonesia semakin terasa intens. Dukungan bermunculan, komunikasi lintas wilayah menguat, dan wacana kepemimpinan menjadi perbincangan utama. Namun di tengah arus itu, Fredrik J. Pinakunary menyampaikan pernyataan yang mengubah sudut pandang.
“Ini bukan sekadar soal siapa yang maju. Ini soal standar kepemimpinan seperti apa yang ingin kita tetapkan untuk PERADI.”
Nama yang ia sebut dengan penuh keyakinan adalah Ahmad Fikri Assegaf.
Rekam Jejak yang Dibangun dengan Disiplin, Bukan Sensasi
Ahmad Fikri Assegaf dikenal luas sebagai pendiri Assegaf Hamzah & Partners, firma hukum yang berkembang menjadi salah satu yang terbesar dan profesional di Indonesia. Ia juga menjadi penggagas Hukumonline, platform digital hukum yang sejak awal menghadirkan akses regulasi yang lebih terbuka dan sistematis bagi para advokat.
Namun menurut Fredrik, yang membuatnya layak diperhitungkan bukan hanya reputasi tersebut.
“Prestasi bisa dicapai banyak orang. Tapi membangun sistem yang bertahan lama, itu butuh karakter dan disiplin,” ujarnya kepada media.
Ia menilai Fikri bukan tipe figur instan. Semua yang dibangun lahir dari proses panjang, manajemen yang tertata, dan integritas yang konsisten.
Tenang dalam Sikap, Tegas dalam Prinsip
Fredrik mengaku dalam interaksi langsung, ia melihat karakter yang stabil dan tidak reaktif.
“Beliau tidak mencari panggung. Ia lebih banyak mendengar, menimbang, lalu berbicara dengan terukur,” katanya.
Di tengah organisasi yang sering kali diwarnai dinamika emosional, ketenangan seperti ini dinilai menjadi kekuatan tersendiri.
“Pemimpin bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling jernih arah pikirannya,” tambah Fredrik.
PERADI Butuh Arsitek Organisasi
Menurut Fredrik, PERADI saat ini membutuhkan lebih dari sekadar simbol kepemimpinan. Organisasi sebesar ini memerlukan figur yang mampu:
- Menata manajemen organisasi secara profesional
- Menghadirkan tata kelola yang transparan
- Menyatukan perbedaan tanpa kehilangan arah
- Menjaga martabat profesi advokat secara konsisten
“PERADI tidak boleh dikelola dengan pendekatan emosional. Ia harus dibangun dengan visi dan sistem,” tegasnya.
Pengalaman Fikri membangun institusi besar menjadi indikator kapasitas manajerial yang konkret, bukan sekadar janji.
Viral karena Gagasan, Bukan Gimik
Pernyataan Fredrik menjadi perhatian luas karena tidak menyerang pihak mana pun. Ia justru mengajak anggota PERADI untuk menaikkan standar diskusi.
“Kita tidak sedang memilih untuk lima menit euforia. Kita sedang menentukan arah, kualitas, dan martabat organisasi,” ujarnya.
Narasi ini terasa berkelas karena berbicara tentang gagasan dan tanggung jawab, bukan sensasi.
Di mata Fredrik, Ahmad Fikri Assegaf bukan hanya calon Ketua Umum PERADI.
Ia adalah representasi kepemimpinan yang dibangun dari kerja nyata, integritas yang teruji, dan visi yang melampaui kepentingan pribadi—kepemimpinan yang bekerja dalam diam, tetapi berdampak dalam jangka panjang.













