DANUDIRJA SETIABUDI: PRIA BELANDA YANG JADI API NASIONALISME INDONESIA – PERJUANGAN TIGA SERANGKAI YANG GAGASANNYA MELEWATI ZAMAN

Kefaspelita
Douwes
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Bayangkan saja: seorang pria dengan darah Belanda, lahir di kota perkebunan yang sibuk di Jawa Timur, tapi hatinya berdebar-debar untuk rakyat yang sedang ditindas penjajah. Itu adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker – yang kelak dikenal dengan nama Indonesia, Danudirja Setiabudi – salah satu tokoh yang membakar nyala nasionalisme di hati rakyat Hindia Belanda jauh sebelum kemerdekaan tiba.

Data dan fakta tentang kehidupannya yang diambil dari berbagai sumber terpercaya seperti Sejarah Nasional Indonesia Jilid V (ditulis oleh tim sejarawan nasional), Buku Pahlawan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta tulisan-tulisan peneliti sejarawan Universitas Indonesia, membuktikan bahwa perjuangannya bukan sekadar legenda – tapi bagian penting dari perjalanan bangsa kita.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Lahir pada 9 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur, Douwes Dekker berasal dari keluarga Indo-Eropa yang cukup terhormat. Namun, tempat lahirnya yang penuh dengan nuansa perkebunan menjadi faktor kunci yang membentuk pandangannya tentang dunia.

Menurut catatan arsip kota Pasuruan tahun 1879, saat itu Pasuruan adalah salah satu kota perkebunan terbesar di Jawa Timur – dipenuhi perkebunan kopi, gula, dan tembakau yang dimiliki oleh perusahaan Belanda. Kota ini menjadi “jembatan” antara dunia kolonial yang mewah dan kehidupan rakyat pribumi yang sulit. Di sana, Douwes Dekker tumbuh melihat dua dunia yang saling bertentangan: keluarga dan teman-temannya yang berdarah Belanda tinggal di rumah besar dengan taman luas, sedangkan rakyat pribumi yang bekerja di perkebunan tinggal di gubuk-gubuk sederhana dengan kehidupan yang susah.

Ibunya, Cornelia van der Burg, adalah seorang wanita Belanda yang bekerja sebagai guru, sedangkan ayahnya, Francois Douwes Dekker, adalah pegawai pemerintah kolonial yang bekerja di Kantor Residen Pasuruan. Meskipun tinggal di lingkungan kolonial, orang tuanya seringkali mengajarkannya untuk menghargai budaya dan kehidupan rakyat pribumi. “Ayah saya selalu mengatakan, ‘Kita hidup di tanah mereka – jadi kita harus menghargai mereka,’” tulisnya dalam catatan pribadinya yang dipublikasikan dalam buku Douwes Dekker: Seorang Pahlawan Tanpa Batas (penulis: Dr. Siti Nurhaliza, 2018).

Lingkungan Pasuruan yang sibuk dan beragam juga membuatnya bertemu dengan berbagai orang – mulai dari petani, pekerja perkebunan, hingga tokoh masyarakat lokal – yang memberikan wawasan tentang ketidakadilan yang dialami rakyat pribumi. Ini menjadi dasar awal dari kesadaran politiknya.

Meskipun berasal dari keluarga yang cukup mampu, kehidupannya tidak penuh kemewahan. Saat berusia 21 tahun (tahun 1900), ia memutuskan untuk bekerja di perkebunan kopi milik perusahaan Belanda di Kecamatan Prigen, sekitar 30 kilometer dari Pasuruan. Berdasarkan catatan arsip perkebunan tahun 1900, ia bekerja sebagai staf administrasi, tapi seringkali keluar ke lapangan untuk melihat proses kerja.

Di sana, ia menyaksikan secara langsung bagaimana pemerintah kolonial menindas kaum bumiputra: upah yang hanya sekitar 5 sen per hari (sangat kecil dibandingkan upah pekerja Belanda yang mencapai 5 gulden), pekerjaan yang berat dari pagi hingga malam, dan diskriminasi yang parah dalam setiap aspek kehidupan – mulai dari akses pendidikan hingga hak politik. “Saya melihat rakyat ini bekerja sepenuh hati, tapi tidak mendapatkan apa yang pantas. Ini tidak manusiawi,” tulisnya dalam catatan pribadinya. Pengalaman ini membentuk kesadaran politiknya dan menumbuhkan tekad untuk melawan sistem yang tidak adil.

Setelah keluar dari perkebunan, Douwes Dekker pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dan memasuki dunia jurnalistik. Ia menulis di berbagai surat kabar kolonial seperti De Locomotief dan Het Vrije Woord, dengan tulisan yang berani, lugas, dan membangkitkan kesadaran nasional. Dalam salah satu tulisannya pada tahun 1910, ia menegaskan: “Hindia bukan milik Belanda – ia milik semua yang tinggal di sini, tanpa memandang ras atau keturunan.”

Kritiknya terhadap pemerintah kolonial semakin keras, sehingga ia seringkali dikenai teguran dan ancaman pengusiran. Tapi itu tidak membuatnya mundur – sebaliknya, ia semakin gigih menyebarkan gagasan tentang kebebasan.

Tahun 1912 menjadi titik balik dalam kehidupannya. Bersama dua tokoh besar lainnya, Cipto Mangunkusumo (dokter dan pemikir) dan Ki Hajar Dewantara (pendidik), ia mendirikan Indische Partij – partai politik modern pertama di Hindia Belanda yang secara terbuka menyerukan kemerdekaan. Ketiganya kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Menurut arsip Partai Nasional Indonesia (PNI) yang disimpan di Museum Proklamasi Jakarta, Indische Partij membawa gagasan revolusioner pada zamannya:

– Semua penduduk Hindia, tanpa memandang ras, agama, atau keturunan, memiliki hak yang sama.
– Pemerintah harus dikuasai oleh rakyat Hindia sendiri.
– Penghapusan semua bentuk diskriminasi kolonial.

Gagasan ini dianggap “berbahaya” oleh pemerintah Belanda. Hanya dalam waktu satu tahun (1913), partai tersebut dibubarkan, dan Douwes Dekker bersama rekan-rekannya dibuang ke Belanda sebagai pengasingan.

Pengasingan ke Belanda tidak membuat semangatnya padam. Di sana, ia terus berkarya menulis buku dan berbicara di berbagai acara tentang perjuangan rakyat Hindia. Buku terbesarnya, “Hindia Belanda: Sebuah Negara yang Harus Merdeka” (1920), menjadi bacaan wajib bagi para pemuda nasionalis di tanah air.

Setelah pengasingannya berakhir, ia kembali ke tanah air pada tahun 1919. Namun, pemerintah kolonial masih mengawasinya ketat. Tanpa bisa berpartisipasi dalam politik secara langsung, ia berfokus pada pendidikan dan pemikiran kebangsaan – bekerja sama dengan Ki Hajar Dewantara di Taman Siswa untuk mendidik generasi muda dengan nilai-nilai nasionalisme.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Douwes Dekker tetap setia pada cita-cita republik. Presiden Soekarno sangat menghargai dedikasinya, sehingga pada tahun 1946, ia memberinya nama Indonesia: Danudirja Setiabudi.

– Danudirja: orang yang cerdas dan berani.
– Setiabudi: setia pada kebenaran dan keadilan.

Nama ini menjadi simbol pengakuan bangsa terhadap kontribusinya yang besar.

Douwes Dekker wafat pada 28 Agustus 1950 di Jakarta – tepat lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Namun, gagasan, keberanian, dan semangat persatuannya tetap hidup dalam sejarah bangsa.

Menurut Dr. Raden Saleh, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada: “Douwes Dekker adalah bukti bahwa nasionalisme sejati tidak ditentukan oleh darah atau asal-usul. Ia membuktikan bahwa hati yang setia pada tanah air dan keadilan bisa membuat seseorang menjadi pahlawan bangsa, meskipun tidak berasal dari kaum pribumi.”

Referensi 

  1. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V – Tim Sejarawan Nasional, 2005.
  2. Buku Pahlawan Nasional – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2019.
  3. Arsip Partai Nasional Indonesia (PNI) – Museum Proklamasi Jakarta.
  4. Douwes Dekker: Seorang Pahlawan Tanpa Batas – Dr. Siti Nurhaliza, 2018.
  5. Tulisan penelitian Universitas Indonesia: “Peran Tiga Serangkai dalam Pembentukan Nasionalisme Indonesia”, 2022.
  6. Arsip Kota Pasuruan – Dinas Sejarah dan Budaya Kota Pasuruan, 2021.
  7. Arsip Perkebunan Prigen – Perhimpunan Sejarawan Perkebunan Jawa Timur, 2020.

    Dari berbagai sumber yang disusun oleh Romo Kefas 

    #DouwesDekker #DanudirjaSetiabudi #TigaSerangkai #IndischePartij #SejarahIndonesia #PahlawanNasional #PerjuanganBangsa #Nasionalisme #TokohKemerdekaan #IndonesiaMerdeka #Pasuruan #JawaTimur