Pelitanusantara.com Ada manusia yang tidak hanya hidup, tetapi menciptakan jejak abadi dalam hati jutaan orang. Dia adalah sosok yang memilih “turun dari puncak kehormatan dunia” untuk “menaiki tangga ketaatan yang tak terukur nilainya”. Dia adalah Pdt. Dr. Petrus Oktavianus, seorang hamba Tuhan yang dijuluki “Pendeta Bangsa” karena pelayanannya yang melampaui batas gereja, menyentuh setiap aspek kehidupan bangsa dan kemanusiaan. Hidupnya adalah bukti bahwa kemiskinan tidak bisa membatasi mimpi, dan panggilan Tuhan bisa mengubah segala sesuatu.
Pdt. Dr. Petrus Oktavianus lahir pada 29 Desember 1928 di La Es, sebuah desa terpencil di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Tempat lahir yang terpencil dan penuh tantangan menjadi pijakan awal bagi kehidupannya yang penuh pengorbanan dan iman.
Beliau lahir di tengah keluarga miskin, sebagai anak ketujuh dari pasangan Bapak Jermias Oktavianus dan Ibu Paulina Pandie. Ayahnya hanyalah seorang petani miskin yang berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sayangnya, pada usia hanya 1 tahun 3 bulan, beliau harus kehilangan ayahnya – kehilangan yang sangat mendalam, terutama karena tidak ada satu pun foto yang mengabadikan wajah ayahnya. Ibu beliau kemudian memberitahunya bahwa wajahnya mirip dengan ayahnya, sehingga beliau hanya bisa “berjumpa” dengan ayahnya melalui cermin.
Sejak kecil, beliau harus membantu keluarga dengan mengembalakan domba milik tetangga. Kehidupan yang sulit tidak membuatnya patah semangat; sebaliknya, itu membuatnya semakin gigih dan tahan banting. Nasibnya berubah ketika beliau mendapatkan bantuan dari Tante Elizabeth Oktavianus, yang menikahi Guru Joseph Mooy (ayah Prof. Dr. Adrianus Mooy, mantan Gubernur Bank Indonesia). Melalui perhatian keluarga Mooy, beliau yang sudah berusia 9 tahun bisa memasuki kelas 1 Sekolah Dasar – awal dari perjalanan akademik yang luar biasa. Kehidupan disiplin keluarga Mooy sangat mempengaruhi motivasi beliau dalam belajar, sehingga beliau bisa melanjutkan sekolah tanpa biaya sambil bekerja menjual kayu bakar, air minum, dan kue.
Kesungguhan beliau dalam belajar membuatnya sering loncat kelas. Setelah lulus sekolah, beliau berkarier di dunia pendidikan dan akhirnya menjabat sebagai direktur Sekolah Guru Atas (SGA) Kristen, Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen, serta mendirikan Akademi Pendidikan Guru Nasional di Malang pada tahun 1957. Sebagai pendiri dan rektor pertama akademi tersebut, beliau memiliki posisi terhormat dan masa depan akademik yang cerah. Namun, di tengah semua itu, beliau mendengar panggilan Tuhan yang tak bisa diabaikan.
“Aku merasa hatiku tidak tenang,” katanya dalam buku sejarah hidupnya. “Panggilan Tuhan untuk meninggalkan semua itu dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk pelayanan injil semakin jelas.” Bersama istri, beliau bergumul: haruskah meninggalkan fasilitas dan kehormatan dunia untuk hidup tanpa jabatan dan gaji? Keputusan itu menjadi titik balik kehidupannya.
Pada usia 31 tahun, beliau dan keluarga memulai hidup baru yang hanya bergantung pada kebaikan Tuhan. Dari langkah iman itu, lahirlah Institut Injil Indonesia (I-3) di Batu, Malang. Bukan sekadar sekolah teologi, I-3 menjadi rumah pembentukan rohani bagi ribuan pelayan Tuhan dari seluruh Indonesia. Di kesunyian pegunungan Batu, beliau mendidik dengan ketegasan dan kasih, menanamkan bahwa “ilmu tanpa kasih akan kering, dan kasih tanpa pengertian akan rapuh”.
Beliau sering berkata: “Aku tidak ingin mendidik pelayan yang hanya pintar membaca Kitab Suci, tetapi pelayan yang memiliki hati yang penuh kasih dan keinginan untuk melayani orang lain.” Selama bertahun-tahun, I-3 telah melahirkan ribuan pendeta, pengkhotbah, dan pengembang masyarakat yang bekerja di seluruh Indonesia dan luar negeri.
Selain membangun I-3, beliau juga berperan penting dalam membentuk wadah persekutuan bagi gereja-gereja dan lembaga-lembaga injili di Indonesia. Pada awal tahun 1969, beliau bersama tokoh-tokoh injili lainnya mulai melakukan pergumulan untuk mewujudkan gerakan bersama yang berfokus pada “persekutuan” dalam pekabaran injil. Setelah dua tahun berjuang, pada tanggal 15 Juni 1971 di Ramayana Hotel City, Tanah Abang Jakarta, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 100 hamba Tuhan, di mana beliau ditetapkan sebagai ketua pengurus sementara dari wadah yang akan dibentuk.
Pada tanggal 17 Juli 1971, di Kota Batu, Malang, lahirlah Persekutuan Injili Indonesia (PII), yang kemudian berganti nama menjadi Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII). Sebagai salah satu inisiator dan ketua pengurus sementara pertama, beliau memainkan peran kunci dalam menyusun konsep dan arah organisasi ini, yang memiliki motto “dipanggil untuk bersekutu dan memberitakan injil” berdasarkan Matius 28:19 dan Galatia 5:1. PGLII kemudian menjadi salah satu lembaga gerejawi aras nasional di Indonesia, yang berperan dalam mempererat hubungan antar gereja injili dan memperkuat pelayanan misi di tanah air.
Sebagai teolog dan pengkhotbah, Pdt. Oktavianus tidak hanya berbicara tentang keselamatan pribadi, tetapi juga tentang transformasi bangsa. Visinya tentang Indonesia dituangkan dalam buku “Menuju Indonesia Jaya dan Indonesia Adidaya” yang diterbitkan pada tahun 2005. Dalam buku itu, beliau menulis dengan suara kenabian:
“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang kuat, tetapi bangsa yang takut akan Tuhan. Indonesia tidak akan jaya karena kekayaan alamnya, tetapi karena moralitas dan iman yang hidup dalam hati rakyatnya. Pembangunan ekonomi tanpa pembaruan moral akan melahirkan keserakahan dan kemerosotan budaya”.
Beliau percaya bahwa gereja memiliki peran penting dalam membangun bangsa. “Gereja tidak boleh hanya berada di dalam dinding gereja,” katanya. “Kita harus turut berperan dalam menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, dan politik bangsa.” Oleh karena itu, beliau menyeru gereja untuk melayani orang yang membutuhkan, tanpa memandang agama atau latar belakang. Selama 29 tahun, beliau menyebarkan injil ke seluruh Indonesia dan 80 negara lainnya melalui Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia Batu.
Kontribusinya tidak hanya terbatas pada pelayanan injil, tetapi juga pada pendidikan dan kemanusiaan. Beliau menulis 105 buku, di antaranya 21 dalam bahasa Inggris dan 1 dalam bahasa Jerman. Buku-bukunya tidak hanya berisi ajaran agama, tetapi juga pemikiran tentang kehidupan, bangsa, dan kemanusiaan. Beberapa buku terkenal beliau antara lain:
– “Hidupku Hanya Oleh Anugrah Tuhan” (otobiografi).
– “Menuju Indonesia Jaya 2005-2030 dan Indonesia Adidaya 2030-2055” (Jilid 1 dan 2).
– “Hati yang Sehat”.
– “Pelayanan yang Berkelanjutan”.
– “Soteriologi: Doktrin Keselamatan” (diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1993).
Selain menulis buku, beliau juga mendirikan 19 organisasi kemanusiaan, rumah sakit, dan panti asuhan. Semuanya bertujuan untuk membantu orang yang membutuhkan, seperti anak yatim piatu, orang tua yang terlantar, dan orang yang menderita penyakit. Salah satu organisasi terkenal beliau adalah Rumah Sakit Kristen Batu yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara terjangkau.
Kisah hidupnya bahkan dijadikan film oleh Billy Graham Association dan ditayangkan perdana pada 29 Juli 2000, agar lebih banyak orang bisa terinspirasi oleh kehidupannya yang penuh pengorbanan dan iman.
Pdt. Petrus Oktavianus berpulang ke surga pada 30 Maret 2014. Sesuai permintaannya, beliau dikuburkan berpakaian jas khotbahnya dan tanpa sepatu, hanya dengan ikat Rote untuk mengingat permulaan hidupnya yang sederhana. Meskipun beliau telah tiada, cahayanya masih menyinari banyak orang. Obor yang dibakar oleh api injil tidak pernah padam.
Seorang muridnya yang sekarang menjadi pendeta terkenal berkata: “Pdt. Oktavianus adalah sosok yang mengubah hidupku. Beliau mengajarkanku untuk hidup dengan iman, kasih, dan pengorbanan. Hidupnya adalah contoh bagi kita semua tentang bagaimana kita harus hidup dan melayani orang lain.”
Dari berbagai sumber dan disusun oleh Romo Kefas,Ketua Bidang Humas PGLII Kota Bogor
Sumber dan Referensi
1. Patty, A. M. (2025). Obor Itu Tak Pernah Padam: Pdt. DR. Petrus Octavianus DD. Ph.D. Majalah Gaharu. https://www.majalahgaharu.com/2025/10/21/obor-itu-tak-pernah-padam-pdt-dr-petrus-octavianus-dd-ph-d/.
2. Octavianus, P. (2005). Menuju Indonesia Jaya 2005-2030 dan Indonesia Adidaya 2030-2055. YPP II. https://ios.perpusnas.go.id/Record/IOS5547.slims-12817.
3. Wikipedia. (n.d.). Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Persekutuan_Gereja-gereja_dan_Lembaga-lembaga_Injili_Indonesia.
4. PGLII Jatim. (n.d.). Sejarah PGLII. https://pgliijatim.wordpress.com/sejarah-pglii/.
5. Suara Gereja Indonesia. (n.d.). PGLII (PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA). https://suaragerejaindonesia.blogspot.com/2015/01/pglii-persekutuan-gereja-gereja-dan.html.
6. Toko Buku Abenk Happy. (n.d.). Hidupku Hanya Oleh Anugrah Tuhan: Otobiografi Pdt. Dr. Petrus Oktavianus. Tokopedia. https://www.tokopedia.com/tokobukuabenk/hidupku-hanya-oleh-anugrah-tuhan-otobiografi-pdt-dr-petrus-oktavianus.
7. Perpustakaan STT GKE. (n.d.). Soteriologi: Doktrin Keselamatan. https://opac.stt-gke.ac.id/index.php?p=show_detail&id=5161&keywords=.
8. YouTube. (n.d.). Pendeta Bangsa: Petrus Octavianus. https://m.youtube.com/watch?v=khIeplnPsmA.













