Ajining Diri Saka Lathi: Etika Bertutur di Tengah Zaman yang Gaduh
Jakarta – Di tengah ruang publik yang kian bising—baik di media sosial, forum politik, maupun percakapan sehari-hari—kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah kebebasan berbicara masih disertai kebijaksanaan bertutur? Dalam konteks inilah filsafat Jawa kembali relevan untuk dibaca ulang, khususnya pitutur luhur: ajining diri saka lathi.
Bagi orang Jawa, ucapan bukan sekadar alat komunikasi. Kata-kata adalah cermin batin dan ukuran martabat. Apa yang keluar dari lisan diyakini mewakili kualitas rasa, kedewasaan jiwa, dan tanggung jawab sosial seseorang. Karena itu, berbicara tidak pernah dianggap urusan sepele, melainkan tindakan etis.
Falsafah ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana mengajarkan bahwa kehormatan manusia tidak ditentukan oleh status, jabatan, atau kekayaan, melainkan oleh cara ia bertutur dan membawa diri. Ucapan yang kasar mencerminkan batin yang belum tertata; tutur yang tertimbang menunjukkan kedalaman rasa dan kematangan sikap.
Dalam tradisi Jawa, budaya lisan adalah fondasi peradaban. Nilai-nilai hidup diturunkan melalui pitutur orang tua, tembang, lakon wayang, hingga musyawarah desa. Kritik disampaikan dengan alus, perbedaan diolah dengan tepa selira, dan kebenaran disampaikan tanpa merendahkan. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menjaga harmoni dan kemanusiaan.
Namun hari ini, budaya lisan mengalami pergeseran serius. Media sosial memberi ruang bagi siapa pun untuk berbicara, tetapi sering tanpa kendali etika. Ujaran kebencian dianggap keberanian, makian dibungkus kejujuran, dan penghinaan dilegalkan atas nama kebebasan berekspresi. Dalam situasi seperti ini, falsafah Jawa terasa seperti teguran sunyi: kata-kata yang dilepas tanpa rasa akan kembali sebagai kerusakan sosial.
Filsafat Jawa tidak menolak kritik, apalagi kebenaran. Yang ditolak adalah kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan. Orang Jawa mengenal prinsip eling lan waspada—ingat dan berhati-hati—sebagai pengingat bahwa setiap kata memiliki konsekuensi. Berani berbicara tidak sama dengan bebas melukai.
Dalam ukuran etika Jawa, seseorang dinilai matang bukan dari seberapa lantang ia bersuara, tetapi dari seberapa mampu ia menjaga kata saat berbeda pandangan. Tegas tanpa menghina adalah kebijaksanaan. Kritis tanpa merendahkan adalah kedewasaan. Sebaliknya, keras tanpa etika hanya melahirkan kegaduhan baru.
Di tengah polarisasi sosial dan kemerosotan etika publik, ajining diri saka lathi menawarkan koreksi budaya yang relevan. Ia mengingatkan bahwa peradaban tidak runtuh karena kurangnya suara, melainkan karena hilangnya tanggung jawab dalam bertutur. Ketika kata-kata kehilangan rasa, yang tersisa hanyalah kebisingan tanpa makna.
Merawat budaya lisan berarti merawat kemanusiaan. Menjaga tutur kata berarti menjaga martabat bersama. Di tengah zaman yang gaduh, kebijaksanaan Jawa mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: jika ingin dihormati sebagai manusia, mulailah dari cara berbicara sebagai manusia.
Jakarta, 30 Januari 2026













