Ketika Ketakutan Membuat Manusia Meninggalkan Tuhan dan Mengandalkan Dunia
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K
Alias Romo Kefas
Pelitanusantara.com Salah satu realita terbesar dalam kehidupan manusia adalah ketakutan. Ketika keadaan masih aman, banyak orang merasa dirinya memiliki iman yang kuat. Namun saat tekanan hidup datang, ancaman menghampiri, dan keadaan tidak lagi terkendali, di situlah kualitas iman seseorang benar-benar diuji.
Inilah yang terjadi dalam kehidupan Raja Ahas.
Dalam Kitab 2 Tawarikh — pasal 28, Ahas menghadapi ancaman besar dari bangsa-bangsa musuh yang hendak menyerang Yehuda. Secara manusiawi, situasi itu memang menakutkan. Kerajaan Yehuda berada dalam tekanan politik dan militer yang sangat berat. Namun persoalan terbesar Ahas sebenarnya bukan ancaman musuh, melainkan kondisi rohaninya sendiri yang sudah jauh dari Tuhan.
Secara teologis, kitab Tawarikh menunjukkan bahwa keberhasilan atau kehancuran Israel selalu berkaitan langsung dengan relasi mereka terhadap Allah. Ketika bangsa itu taat, Tuhan memberikan perlindungan. Tetapi ketika mereka berpaling kepada berhala dan mengandalkan kekuatan sendiri, kehancuran mulai terjadi.
Ahas menjadi gambaran nyata dari manusia yang kehilangan iman di tengah tekanan hidup.
Allah sebenarnya tidak meninggalkan Ahas. Tuhan bahkan mengutus Nabi Yesaya untuk memberikan penguatan dan jaminan perlindungan. Dalam Kitab Yesaya — pasal 7, Tuhan mengundang Ahas untuk percaya kepada-Nya. Tetapi Ahas menolak.
Ia lebih percaya kepada strategi politik daripada janji Tuhan. Ia lebih yakin pada kekuatan Asyur daripada kuasa Allah.
Inilah inti dosa Ahas: ketidakpercayaan kepada Tuhan.
Ketika hati manusia tidak lagi percaya kepada Tuhan, maka ia akan mencari sandaran lain untuk menggantikan Tuhan. Dan biasanya, pengganti itu adalah kekuatan dunia: uang, kekuasaan, koneksi, jabatan, manusia, bahkan berhala modern yang dianggap mampu memberi rasa aman.
Ahas akhirnya meminta bantuan kepada raja Asyur. Secara logika politik, langkah itu terlihat cerdas. Namun secara rohani, itu adalah bentuk penolakan terhadap kedaulatan Tuhan.
Ironisnya, orang yang diharapkannya menjadi penyelamat justru berubah menjadi sumber penderitaan baru.
Dalam Kitab 2 Tawarikh — 28:20 tertulis:
“Maka datanglah Tilgat-Pilneser, raja Asyur, mendapatkan dia, tetapi mendatangkan kesusahan kepadanya dan tidak menolongnya.”
Ayat ini memperlihatkan ironi yang sangat tragis. Ahas berpikir dunia akan menyelamatkannya, tetapi dunia justru menekannya. Ia berharap mendapat perlindungan, tetapi justru kehilangan kemerdekaan dan kekayaannya.
Inilah bahaya ketika manusia lebih mengandalkan dunia daripada Tuhan.
Secara teologis, Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup bergantung kepada Allah. Ketika manusia mencoba hidup terlepas dari Tuhan, ia sedang berjalan menuju kehancuran rohani.
Ahas tidak hanya gagal secara politik, tetapi juga jatuh dalam penyembahan berhala. Ia mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban bakaran kepada ilah asing. Ini menunjukkan bahwa hati yang meninggalkan Tuhan perlahan akan kehilangan moralitas dan kepekaan rohani.
Dosa selalu bekerja seperti racun. Awalnya terlihat kecil, tetapi akhirnya menghancurkan seluruh kehidupan.
Hari ini banyak orang mengalami “roh Ahas” dalam hidupnya. Ketika masalah datang, mereka lebih cepat mencari pertolongan dunia daripada mencari wajah Tuhan. Lebih percaya ramalan daripada Firman Tuhan. Lebih mengandalkan uang daripada doa. Lebih bergantung kepada manusia daripada kepada Tuhan.
Padahal manusia terbatas dan dunia tidak pernah mampu memberi keselamatan sejati.
Dalam Kitab Yeremia — 17:5 tertulis:
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!”
Ayat ini bukan melarang manusia saling menolong, tetapi menegaskan bahwa manusia tidak boleh menjadikan dunia sebagai sumber pengharapan utama menggantikan Tuhan.
Karena dunia bisa berubah. Manusia bisa mengecewakan. Kekuasaan bisa runtuh. Harta bisa habis. Tetapi Tuhan tetap setia.
Sebaliknya, dalam Kitab Yeremia — 17:7 dikatakan:
“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!”
Inilah prinsip iman yang sejati.
Iman bukan berarti hidup tanpa masalah. Iman adalah keberanian untuk tetap percaya kepada Tuhan sekalipun keadaan belum berubah. Sebab orang yang hidup dalam iman tidak berjalan berdasarkan apa yang dilihat matanya, tetapi berdasarkan siapa Tuhan yang dipercayainya.
Hidup manusia seperti kapal di tengah badai. Ketika ombak besar datang, banyak orang panik dan kehilangan arah. Tetapi kapal yang memiliki jangkar kuat tidak akan hanyut terbawa arus.
Demikian juga hidup orang percaya. Jangkar kehidupan bukanlah dunia, melainkan Tuhan sendiri.
Ahas menjadi nahas karena ia meninggalkan sumber keselamatan yang sejati. Ia memilih rasa aman semu daripada iman kepada Allah.
Karena itu, jangan ulangi kesalahan Ahas. Ketika hidup berada dalam tekanan, jangan menjauh dari Tuhan. Justru di saat itulah manusia harus semakin melekat kepada-Nya.
Sebab pertolongan manusia terbatas, tetapi pertolongan Tuhan tidak pernah gagal bagi mereka yang berharap kepada-Nya.
Salam Sejahtera Sahabat…
Tuhan Yesus memberkati.













