STOP OVERTHINKING: Berjuang Tidak Secara Duniawi

Kefaspelita
File 000000006df472068a5a30eff284073e
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

STOP OVERTHINKING: Berjuang Tidak Secara Duniawi

Sapaan Gembala – Pdt. Andy Markus
Senin, 02 Maret 2026

“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi.”
(2 Korintus 10:3 TB)

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Istilah overthinking bukanlah istilah baru. Secara etimologi, kata ini sudah muncul sejak tahun 1650-an, berasal dari gabungan kata over (berlebihan) dan think (berpikir). Artinya, berpikir secara berlebihan hingga melampaui batas yang sehat.

Dalam perkembangannya, kecemasan (anxiety) sering dikaitkan dengan overthinking. Søren Kierkegaard, dalam bukunya The Concept of Anxiety (1848), menyatakan bahwa kecemasan pada dasarnya adalah energi positif dalam diri manusia. Kecemasan yang sehat dapat melahirkan kewaspadaan, membuat seseorang lebih berhati-hati, lebih etis, dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

Namun, kecemasan perlu dikontrol. Jika tidak, ia berubah dari energi positif menjadi beban yang melumpuhkan. Masalahnya, tidak semua orang mampu mengelola anxiety dengan benar.

Fenomena Anxiety di Masa Kini

Dunia hari ini sangat menekankan nilai materialistis. Standar keberhasilan sering diukur dari pencapaian, kepemilikan, dan pengakuan sosial. Pola pikir ini berpotensi menciptakan individu yang terjebak dalam kecemasan berlebihan.

Fokus yang salah melahirkan kejenuhan, dan kejenuhan melahirkan kecemasan. Manusia akhirnya dipenjara oleh pikirannya sendiri.

Generasi yang paling banyak mengalami gangguan anxiety saat ini adalah generasi kelahiran 1997–2012 (Gen Z). Tekanan media sosial, tuntutan prestasi, persaingan global, dan perbandingan hidup yang tidak sehat membuat banyak anak muda terjebak dalam overthinking.

Berjuang Tidak Secara Duniawi

Firman Tuhan mengingatkan bahwa meskipun kita hidup di dunia, kita tidak berjuang secara duniawi. Artinya, cara berpikir dan cara menghadapi tekanan hidup tidak boleh mengikuti pola dunia.

Overthinking sering lahir dari keinginan untuk mengontrol segala sesuatu dengan kekuatan diri sendiri. Padahal orang percaya dipanggil untuk berjuang dengan cara yang berbeda:

  • Mengandalkan Tuhan
  • Memperbarui pikiran sesuai firman-Nya
  • Menyerahkan kekhawatiran kepada-Nya

Kecemasan yang tidak diserahkan kepada Tuhan akan menjadi beban. Tetapi kecemasan yang dibawa dalam doa akan menjadi proses pendewasaan iman.

STOP OVERTHINKING bukan berarti berhenti berpikir, tetapi berhenti berpikir tanpa Tuhan.

Kiranya setiap orang percaya belajar mengelola pikiran dengan iman, agar tidak dipenjara oleh kecemasan, melainkan dikuatkan oleh pengharapan di dalam Kristus.

Soli Deo Gloria.