141 Tahun Raden Dewi Sartika: Dari Anak Cicalengka yang Suka Mengajar Hingga Pendiri Sekolah Perempuan Pertama di Jawa Barat

Kefaspelita
IMG 20251204 WA0077
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Bandung – Hari ini, 4 Desember 2025, kita berdiri di depan jejak sejarah yang tak ternilai: merayakan hari ulang tahun Raden Dewi Sartika yang ke-141 jika ia masih hidup. Lahir di Cicalengka (sekarang Kabupaten Bandung) pada 4 Desember 1884 – di tengah zaman kolonial Hindia Belanda di mana perempuan pribumi hanya dikenali sebagai sosok di balik tirai rumah – ia tidak hanya menjadi seorang Pahlawan Nasional (dianugerahkan pada 1 Desember 1966) tetapi juga seorang revolusioner yang mengubah nasib jutaan perempuan Indonesia melalui pendidikan. Narasinya bukan cuma tentang keberanian, tapi tentang tekad yang tak tergoyahkan untuk membangun masa depan yang lebih adil.

ANAK CICALENGKA YANG MENENTUKAN NASIB SENDIRI DI TENGAH ZAMAN KOLONIAL

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Dewi Sartika lahir dari keluarga bangsawan Sunda yang terhormat: ayahnya R. Rangga Somanegara (bupati Cicalengka) dan ibunya R. A. Rajapermas. Meskipun berasal dari kalangan elit, ia menyadari betapa sempit ruang gerak perempuan pada masa itu – mereka dilarang sekolah, dilarang berbicara di depan umum, dan hanya dituntut menjadi istri dan ibu yang patuh.

Tetapi Sartika tidak mau terjebak oleh aturan itu. Sejak usia 7 tahun, ia sudah menunjukkan hasrat mengajar yang luar biasa: setelah pulang sekolah, ia selalu mengumpulkan teman-teman dan anak-anak pembantu di lingkungan kepatihan untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Bukan main-main, bukan hiburan – tapi upaya nyata untuk memberika wawasan pada mereka yang tak punya akses pendidikan.

Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1896 (ia berusia 12 tahun), ia tinggal bersama pamannya R. Adipati Aria Wiranatakusumah II (bupati Bandung). Di bawah asuhan pamannya, ia mendapatkan pendidikan yang lengkap: mempelajari budaya Sunda (kesusilaan, kepedulian sosial) dan pengetahuan barat (bahasa Belanda, ilmu umum). Pada tahun 1899, ia pindah ke Bandung – dan di situlah mimpi besarnya mulai terwujud.

Hingga usia 10 tahun, nama Sartika sudah terkenal di Cicalengka karena banyak anak-anak pembantu yang mampu membaca tulis berkat dia. Ia membuktikan bahwa usia dan jenis kelamin tidak pernah menjadi alasan untuk tidak berbuat baik.

16 JANUARI 1904: MOMEN BERSEJARAH – SEKOLAH PEREMPUAN PERTAMA DI JAWA BARAT LAHIR

Pada usia 19 tahun, pada 16 Januari 1904, Sartika mengambil langkah yang tak ada yang berani lakukan sebelumnya: mendirikan Sekolah Kautamaan Istri di rumah orang tuanya di Jalan Cigadung, Bandung. Ini adalah sekolah pertama di Jawa Barat yang khusus untuk perempuan pribumi – sebuah ledakan di tengah kegelapan yang menutupi hak pendidikan perempuan.

Sekolah ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat: tidak hanya mengajarkan pendidikan dasar (membaca, menulis, berhitung, bahasa Belanda) tapi juga keterampilan praktis seperti menjahit, memasak, mengelola keuangan keluarga, dan merawat anak. Tujuannya jelas: membekali perempuan dengan alat untuk hidup mandiri dan berkontribusi pada masyarakat, bukan hanya menjadi pengekor laki-laki.

Pada awalnya, sekolah ini hanya memiliki 10 murid dan Sartika sendiri yang menjadi guru, dengan biaya yang sangat terjangkau bahkan untuk keluarga miskin. Tapi karena metode pengajarannya yang ramah dan relevan, jumlah murid melonjak: setahun kemudian sudah mencapai 50 orang, dan lima tahun kemudian sudah lebih dari 200 orang. Masyarakat Bandung merespons dengan antusias – mereka melihat bahwa Sartika bukan hanya berbicara, tapi bertindak.

SEKOLAH YANG BERBUNGA DI SELURUH JAWA BARAT – JADI MODEL DI SELURUH INDONESIA

Keberhasilan Sekolah Kautamaan Istri tidak berhenti di Bandung. Dengan dukungan masyarakat lokal dan juga pemerintah Hindia Belanda (yang mulai menyadari bahwa pendidikan perempuan bisa menstabilkan tatanan kolonial), sekolah ini berkembang pesat. Pada tahun 1906, ia pindah ke bangunan baru di Jalan Gajah Mada, Bandung – yang lebih luas dan nyaman untuk belajar.

Pada tahun 1910, Sekolah Kautamaan Istri telah memiliki lebih dari 500 murid dan membuka cabang di kota-kota besar di Jawa Barat seperti Cirebon, Tasikmalaya, dan Garut. Bahkan, model sekolah ini mulai diadopsi di Jawa Tengah dan Jawa Timur – membuktikan bahwa ide Sartika memiliki kekuatan yang melampaui batas wilayah.

Untuk mengakui jasanya yang luar biasa, pada tahun 1939 (ulang tahun ke-35 Sekolah Kaoetamaan Isteri), Pemerintah Kerajaan Belanda memberikan kepadanya gelar Orde van Oranje-Nassau Kelas V – penghargaan bergengsi yang jarang diberikan kepada warga pribumi, apalagi perempuan. Ini adalah bukti bahwa kerja kerasnya telah dikenali dan dihargai bahkan oleh pihak yang menguasai.

WARISAN ABADI – HIDUP SELAMA ABAD

Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947 di Bandung, kurang dari dua tahun setelah Indonesia merdeka. Tapi nyawanya mungkin sudah pergi, tapi warisannya tetap hidup dan berkembang. Sekolah Kautamaan Istri yang ia dirikan telah bertransformasi menjadi SMK Negeri 1 Bandung – salah satu sekolah menengah kejuruan terbaik di Jawa Barat yang masih memegang teguh nilai-nilai emansipasi dan pendidikan yang dibangun oleh Sartika.

Nama beliau juga diberikan pada banyak fasilitas publik: Jalan Raden Dewi Sartika di Bandung, Museum Raden Dewi Sartika di Cicalengka (yang menyimpan benda-benda warisan dan cerita kehidupannya), dan bahkan hari ulang tahunnya (4 Desember) dijadikan Hari Pendidikan Wanita di Jawa Barat.

Raden Dewi Sartika adalah sosok yang membuktikan bahwa perubahan besar dimulai dari satu orang yang berani mengambil langkah pertama. Ia tidak menunggu orang lain untuk mengubah dunia – ia mengubah dunia dengan tangannya sendiri. Hingga hari ini, ia tetap menjadi inspirasi bagi setiap orang yang ingin berbuat baik, tanpa memandang hambatan yang ada di depannya.

Jurnalis: Vicken Highlanders
Editor: Romo Kefas