Ketika Tongkat Gembala Diperebutkan: Mencari Pemimpin yang Berhati Allah

File 00000000fbb871fa86adf07b5d6f8b0f
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Ketika Tongkat Gembala Diperebutkan: Mencari Pemimpin yang Berhati Allah

“Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.”
Yeremia 3:15

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Pelitanusantara.com – Di banyak mimbar gereja, doa tentang kasih, kesatuan, dan kerendahan hati terus dikumandangkan. Namun di balik liturgi yang tertata rapi, tidak jarang ruang rapat gereja justru dipenuhi ketegangan, bisik-bisik politik rohani, dan manuver kepentingan. Ironi ini semakin terasa ketika gereja menyerukan damai, tetapi sibuk berperang—bukan melawan dosa, melainkan memperebutkan kuasa.

Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi harmoni dan “rukun di permukaan”, konflik kepemimpinan gereja sering dibungkus dengan bahasa halus: perbedaan tafsir, dinamika organisasi, atau penataan ulang pelayanan. Namun umat di bangku jemaat merasakan dampaknya secara nyata: pelayanan tersendat, visi kabur, dan domba kehilangan arah. Ketika sinode atau organisasi gereja berubah menjadi arena perebutan legitimasi, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling layak memimpin, tetapi siapa yang paling kuat bertahan.

Firman Tuhan melalui nabi Yeremia menghadirkan kritik yang tajam sekaligus harapan yang jelas. Allah tidak menjanjikan gembala yang paling populer, paling vokal, atau paling piawai berpolitik rohani. Yang dijanjikan adalah gembala yang sesuai dengan hati-Nya—mereka yang menggembalakan dengan pengetahuan dan pengertian, bukan dengan ambisi dan kepentingan diri.

Di sinilah gereja perlu jujur bercermin. Banyak konflik kepemimpinan lahir bukan karena perbedaan teologi yang mendasar, melainkan karena kehilangan orientasi panggilan. Tongkat gembala yang seharusnya menjadi simbol pelayanan berubah menjadi simbol kekuasaan. Padahal, dalam tradisi Alkitab, gembala sejati bukanlah penguasa wilayah, melainkan penjaga jiwa.

Yesus sendiri telah memberi teladan yang kontras dengan praktik perebutan kuasa. Ia berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya” (Markus 10:45). Kepemimpinan Kristiani tidak pernah lahir dari intrik, tetapi dari pengorbanan. Tidak dibangun dengan koalisi kepentingan, tetapi dengan keteladanan hidup.

Ketika gereja terjebak dalam konflik internal yang berkepanjangan, umat sering diminta untuk “tetap berdoa dan sabar”. Doa memang penting, tetapi doa tanpa pertobatan struktural hanya akan melanggengkan luka. Yeremia 3:15 bukan sekadar ayat penghiburan, melainkan peringatan profetis: jika kepemimpinan tidak lagi sesuai dengan hati Allah, maka yang dirugikan bukan hanya organisasi, tetapi seluruh kawanan domba.

Karena itu, dukungan doa bagi para hamba Tuhan tidak boleh dilepaskan dari seruan untuk kembali pada panggilan sejati. Gereja perlu berani menata ulang kepemimpinan, menegakkan etika rohani, dan menempatkan kepentingan umat di atas ambisi kelompok. Dalam konteks Indonesia yang plural dan rentan konflik, gereja justru dipanggil menjadi teladan kepemimpinan yang dewasa, rendah hati, dan berintegritas.

Pada akhirnya, pertanyaan kunci yang harus dijawab bukanlah siapa yang memenangkan struktur, tetapi apakah jemaat sungguh digembalakan. Sebab gereja bukan milik sinode, bukan milik tokoh, dan bukan milik kelompok tertentu. Gereja adalah milik Kristus—dan hanya gembala yang berjalan sesuai hati-Nya yang layak memegang tongkat pelayanan.

Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K