ALTAR ATAU ARENA KEKUASAAN? Ketika Mimbar Dipakai Merebut Tahta
Pelitanusantara.com Ada satu tragedi rohani yang sedang terjadi secara diam-diam, namun dampaknya mengguncang fondasi gereja: banyak altar berubah menjadi arena perebutan kekuasaan.
Gereja yang seharusnya menjadi tempat pemulihan jiwa, justru sering berubah menjadi panggung kompetisi kepemimpinan. Sinode yang seharusnya menjadi wadah pelayanan, berubah menjadi medan strategi politik rohani. Mimbar yang seharusnya menyuarakan kebenaran, terkadang dipakai membangun pengaruh dan mempertahankan posisi.
Ironisnya, semua itu sering dibungkus dengan bahasa rohani, doa bersama, dan ayat-ayat Alkitab. Tetapi di balik itu, tersembunyi ambisi, ego, dan kepentingan kelompok.
Ketika Jabatan Dianggap Warisan, Bukan Amanat
Alkitab mengajarkan bahwa kepemimpinan rohani adalah panggilan pelayanan, bukan warisan kekuasaan. Namun realitas hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Banyak konflik gereja lahir bukan karena perbedaan doktrin, melainkan karena perebutan kursi kepemimpinan.
Sebagian pemimpin lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan hadirat Tuhan. Mereka mempertahankan posisi dengan strategi manusia, bukan dengan kerendahan hati.
Yesus justru berkata:
“Barangsiapa ingin menjadi terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan.” (Matius 23:11)
Tetapi yang terjadi sekarang sering sebaliknya. Jabatan dilihat sebagai simbol kehormatan, bukan ladang pengorbanan. Banyak pemimpin ingin dihormati seperti raja, tetapi enggan menderita seperti gembala.
Krisis Kepemimpinan: Ketika Gembala Berubah Menjadi Penguasa
Nabi Yehezkiel pernah menegur para pemimpin Israel dengan keras:
“Celakalah gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri!” (Yehezkiel 34:2)
Teguran ini terasa sangat relevan hari ini. Banyak pemimpin lebih sibuk menjaga struktur organisasi daripada menjaga jiwa jemaat. Mereka lebih fokus mempertahankan pengaruh daripada membangun karakter rohani umat.
Konflik sinode, perpecahan organisasi gereja, bahkan perseteruan internal sering lahir dari ambisi yang tidak disalibkan. Ketika kepemimpinan tidak lagi berpusat pada Kristus, maka gereja perlahan berubah menjadi organisasi yang kehilangan roh pelayanan.
Bahaya Rohani yang Lebih Dalam
Konflik kepemimpinan bukan sekadar masalah organisasi. Itu adalah tanda penyakit rohani yang jauh lebih serius: hilangnya kerendahan hati.
Filipi 2:3 mengingatkan:
“Janganlah melakukan sesuatu karena kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.”
Namun konflik gereja sering menunjukkan bahwa ego manusia masih lebih kuat daripada panggilan pelayanan. Banyak orang ingin menjadi pemimpin gereja, tetapi sedikit yang siap menjadi hamba Kristus.
Yang lebih menyedihkan, jemaat sering menjadi korban. Mereka terpecah, kehilangan arah rohani, bahkan kehilangan kepercayaan terhadap gereja.
Ketika Tuhan Mengizinkan Guncangan Terjadi
Sepanjang sejarah Alkitab, Tuhan sering mengizinkan konflik muncul bukan untuk menghancurkan umat-Nya, tetapi untuk menyingkapkan motivasi hati manusia.
Konflik membuka siapa yang melayani Tuhan dan siapa yang melayani ambisi pribadi. Konflik memperlihatkan siapa yang siap berkorban dan siapa yang hanya mencari panggung.
Tuhan tidak pernah takut mengguncang organisasi gereja jika itu diperlukan untuk memurnikan pelayanan.
Ibrani 12:27 berkata bahwa Tuhan mengguncang segala sesuatu yang dapat diguncangkan, supaya yang tidak terguncangkan tetap berdiri.
Panggilan Pertobatan Bagi Pemimpin Gereja
Kepemimpinan rohani bukan soal siapa yang paling kuat, paling berpengaruh, atau paling lama melayani. Kepemimpinan rohani adalah tentang siapa yang paling rela mati bagi kehendak Tuhan.
Yesus menunjukkan model kepemimpinan yang bertolak belakang dengan pola dunia. Ia tidak merebut tahta, tetapi memikul salib. Ia tidak mempertahankan kehormatan, tetapi rela direndahkan.
Yohanes 13 menunjukkan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Itu bukan sekadar simbol kerendahan hati, tetapi deklarasi bahwa kepemimpinan rohani adalah pelayanan, bukan dominasi.
Gereja Tidak Butuh Penguasa Rohani, Gereja Butuh Gembala
Gereja tidak kekurangan struktur organisasi. Gereja tidak kekurangan program pelayanan. Tetapi gereja sangat kekurangan gembala yang benar-benar hidup bagi domba-domba Tuhan.
Yeremia 3:15 berkata:
“Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku.”
Gembala sejati tidak membangun kerajaan pribadi. Gembala sejati membangun Kerajaan Allah.
Gembala sejati tidak memecah umat untuk memperkuat kelompoknya. Gembala sejati rela kehilangan pengaruh asalkan jemaat tetap bersatu dalam Kristus.
Seruan Profetis Untuk Gereja Masa Kini
Jika gereja terus membiarkan ambisi menguasai kepemimpinan, maka gereja akan terlihat besar secara organisasi tetapi kosong secara rohani.
Jika gereja terus mempertahankan jabatan lebih daripada menjaga kekudusan, maka gereja akan kehilangan otoritas ilahi, walaupun tetap memiliki struktur manusia.
Tuhan tidak pernah berjanji melindungi organisasi yang kehilangan hati pelayanan. Tuhan hanya berjanji menyertai mereka yang berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan.
Penutup: Siapakah Yang Sebenarnya Sedang Dilayani?
Pertanyaan terbesar bukan siapa yang duduk di kursi kepemimpinan gereja. Pertanyaan terbesar adalah: apakah kursi itu masih dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan atau sudah dipakai untuk kemuliaan manusia?
Jika pemimpin gereja berani kembali merendahkan diri, gereja akan dipulihkan. Tetapi jika pemimpin gereja terus mempertahankan ambisi, maka gereja akan tetap berdiri secara fisik, tetapi kehilangan roh kehidupan.
Tuhan sedang memanggil gereja untuk kembali kepada hati pelayanan, bukan ambisi kekuasaan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K













