Hidup dengan Hati Nurani yang MURNI

…”Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: “Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.”…Kis 23:1

Saat Teduh, Pelitanusantara.com | Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia. Setiap pengajaran harus diuji melalui buah-buah dari mereka yang mengajar. Paulus sama sekali tidak mau mengacaukan hati nurani yang murni, dan oleh sebab itu tidak mungkin ia mengacaukan iman, yang rahasianya tersimpan amat rapih dalam hati nurani yang murni. Pernyataan Paulus ini mempunyai tujuan yang sama dengan apa yang sudah dibuatnya di hadapan imam besar sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni. Dan inilah yang membuatnya bersukacita. Kita dapat perhatikan apa niat dan keinginan Paulus: Hidup dengan hati nurani yang murni. Apa maksudnya pertama, “Hati nurani yang tidak membuat pelanggaran, tidak melakukan yang tidak benar, menipu, atau menyesatkan dalam hal apa saja. Atau, kedua, hati nurani yang tidak dilanggar.

Seperti tekad Ayub, “Hatiku tidak mencela, maksudnya, aku tidak akan memberinya kesempatan untuk berbuat demikian. Inilah yang sangat ingin di lakukan, tetap berdamai dengan hati nuraniku, supaya ia tidak mempunyai alasan untuk mempertanyakan baik atau tidaknya keadaan rohaniku maupun berselisih denganku karena aku telah melakukan suatu perbuatan. Aku berhati-hati untuk tidak menyinggung hati nuraniku, sama seperti aku tidak akan menyinggung teman yang sehari-hari bergaul denganku. Bahkan, sama seperti aku tidak menyinggung hakim yang berwenang atas diriku, dan kepadanya aku bertanggung jawab. Sebab hati nurani adalah wakil Allah di dalam jiwaku…Apa yang diperhatikan dan diusahakannya, untuk mencapai tujuan ini: Ia berkata… “Aku melatih diriku. Aku senantiasa menjadikannya sebagai urusanku, dan mengatur diriku dengan maksud ini. Aku melatih diriku, dan hidup menurut aturan”, “Aku berpantang dari banyak hal yang cenderung kusukai, dan tekun menjalankan segala ibadah, dengan mengarahkan pandangan pada hal ini, yaitu supaya aku tetap berdamai dengan hati nuraniku.”

Apa yang menjadi kepedulian Paulus…yaitu : Hidup dengan hati nurani yang murni, selalu murni dari pelanggaran. Sebab meskipun Paulus sadar dirinya bahwa ia belum mencapai kesempurnaan, dan bahwa kejahatan yang tidak mau dilakukannya tetap dilakukannya, Dosa-dosa karena kelemahan membuat hati nurani tidak tenang, tetapi tidak seperti dosa-dosa karena keangkuhan. Dan, walaupun hati nurani dilanggar, ia selalu berusaha supaya pelanggaran itu tidak terus menetap, tetapi supaya dengan tindakan iman dan pertobatan, permasalahannya cepat diselesaikan. Namun, kita harus tetap melatih ini, dan, walaupun kita belum sanggup, kita harus terus berusaha mencapainya.

Kemudian untuk segala sesuatu: di hadapan Allah dan manusia. Kepedulian hati nurani kita meluas sampai ke seluruh kewajibannya, dan kita pasti takut melanggar hukum kasih baik terhadap Allah maupun sesamanya. Hati nurani, seperti hakim, yang selalu.menjaga tindakan kita, Kita harus sangat berhati-hati agar tidak berpikir, atau berbicara, atau melakukan kesalahan apa saja, entah melawan Allah atau manusia seperti yang dikatakan didalam 2Kor. 8:21…karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya dihadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia…lalu bagaimana dengan setiap kita?…Tuhan Yesus memberkati

Pdt.Ricardo RJ Palijama – Sekretaris BM Sinode EMC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *