KEMURAHAN HATI ALLAH JANGAN DIKHIANATI DENGAN DOSA

IMG 20250629 WA0015

Pelitanusantara.com Kemurahan hati Allah telah dinyatakan kepada umat Israel. Umat Israel padahal digambarkan sebagai: orang yang tidak mencari petunjuk dan menanyakan Allah (1), suku yang memberontak, menempuh jalan tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri (2), menyakiti hati Tuhan, mempersembahkan korban di taman dewa, membakar korban di atas batu bata (3), duduk di kuburan, bermalam di gua-gua, memakan daging babi (Ul. 14:8) dan kuah najis (4), dan hidup menjauh dari Tuhan (5).

Kemurahan hati Allah itu sudah dinyatakan dalam kehidupan umat Israel, saat mereka keluar dari Mesir, berada di padang gurun selama 40 tahun dan saat mereka memasuki tanah Kanaan dan mendirikan kerajaan Israel dengan rajanya Saul, Daud, Salomo dan keturunan-keturunan mereka. Berbagai mukjizat Allah tunjukkan dalam kehidupan mereka, meski mereka seringkali melakukan hal-hal yang disebutkan di atas.

Allah melihat perbuatan-perbuatan itu sebagai dosa. Sehingga Allah disebutkan akan melakukan pembalasan (6), baik atas perbuatan mereka sendiri maupun perbuatan nenek moyang mereka. (7)

Yesaya 1:28 disebutkan: “Tetapi orang-orang yang memberontak dan orang-orang berdosa akan dihancurkan bersama, dan orang-orang yang meninggalkan TUHAN akan habis lenyap.”

Meski demikian, pembalasan tidak akan dilakukan kepada seluruh bangsa Israel. Allah mengingat hamba-hamba-Nya yang setia kepada-Nya. (8) Bahkan Allah akan membangkitkan keturunan Yakub, orang-orang pilihan akan mewarisi dan hamba-hamba-Nya akan tinggal di situ. (9)

Dosa membawa konsekuensi yang luar biasa. Sebagaimana terhadap orang Israel, Tuhan juga akan membalas kepada orang-orang yang berdosa kepada-Nya. Selain itu dosa menjadikan penghalang bagi berkat-berkat yang akan Allah berikan.

Orang modern melihat dosa bervariasi dan dipengaruhi berbagai faktor seperti sekularisasi, relativisme moral, dan perubahan sosial. Beberapa orang mungkin melihat dosa sebagai pelanggaran terhadap aturan agama atau norma moral, sementara yang lain mungkin menganggapnya sebagai tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain, atau bahkan menolaknya sama sekali.

Pasangan keluarga yang melakukan selingkuh misalnya, meski secara agama adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum perintah Allah, karena tertulis dalam firman Tuhan:

Keluaran 20:14: “Jangan berzinah.”

Keluaran 20:17: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.”

Tetapi dalam dunia yang semakin sekuler, relativisme moral dan perubahan sosial, muncul pemahaman selingkuh sebagai hal yang diwajarkan. Adanya singkatan selingkuh adalah “selingan indah keluarga utuh”, serta plesetan-plesetan yang menyatakan “selingkuh itu, membuat hidup lebih berwarna”, “selingkuh itu, memang bikin penasaran” dan lain-lain mengindikasikan hal itu.

Ingatlah bahwa dosa berakibat serius, membuat Allah tidak mendengar doa permohonan kita. Yesaya 59:2 menyebutkan: “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

Sebagai anak-anak Allah dan murid Tuhan, kita tetap memiliki pemahaman dasar bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Dosa juga memisahkan kita dengan Allah dengan segala berkat yang telah disediakan-Nya.

Oleh karena itu jangan coba-coba berbuat dosa, dan jika sedang berbuat dosa, jangan mencari-cari pembenaran, tetapi marilah datang kepada Tuhan, mohon pengampunan-Nya.

Yesaya 1:18 disebutkan janji Allah: “Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”

1 Yohanes 1:9 menyebutkan jaminan pengampunan: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Oleh: Pdt. Drs. Suyito Basuki, M.Th.