Breaking News
KETUM GWI: DUGAAN PENYADAPAN PRESIDEN PRABOWO HARUS DIUNGKAP TUNTAS, HUKUM TAK BOLEH TAJAM KE BAWAH PenaTrisula.Com: Jakarta, 6 November 2026 — Ketua Umum Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI), Syamsul Bahri, S.H., menegaskan bahwa dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara harus diusut secara menyeluruh, transparan, dan tanpa pandang bulu. Ia mendesak Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto agar memastikan proses penegakan hukum berjalan profesional, independen, serta tidak berhenti pada pengungkapan pelaku di lapangan, tetapi juga menelusuri pihak-pihak yang diduga berada di balik praktik tersebut. Pernyataan itu disampaikan Syamsul Bahri, S H., saat ditemui di Kantor Sekretariat DPD GWI Provinsi Banten, Jalan Veteran Blok D12/14, RT 005/RW 008, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Kamis (5/11/2026). Menurut Syamsul, dugaan penyadapan tanpa dasar hukum terhadap kepala negara bukan persoalan biasa. Jika terbukti terjadi, tindakan tersebut berpotensi menjadi ancaman serius terhadap keamanan nasional, kerahasiaan komunikasi kenegaraan, serta kedaulatan informasi Indonesia. “Negara tidak boleh bersikap permisif terhadap segala bentuk tindakan ilegal yang berpotensi mengganggu keamanan dan kedaulatan nasional. Siapa pun yang terbukti terlibat harus dimintai pertanggungjawaban hukum. Tidak boleh ada perlakuan istimewa, apalagi perlindungan terhadap pihak tertentu,” tegas Syamsul. Tiga Agenda Penting yang Harus Diungkap Syamsul menilai terdapat sedikitnya tiga aspek mendasar yang harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum dalam menangani perkara tersebut. Pertama, mengungkap aktor dan motif di balik dugaan penyadapan. Penyelidikan harus mampu menelusuri siapa pihak yang diduga menjadi pengendali, apa kepentingannya, serta apakah terdapat keterlibatan jaringan atau pihak lain. Kedua, mengusut perkara hingga ke akar persoalan. Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku teknis semata. Apabila ditemukan indikasi keterlibatan pihak lain, seluruh rangkaian peristiwa harus diungkap berdasarkan bukti dan ketentuan hukum yang berlaku. Ketiga, menjamin keamanan dan keutuhan bukti digital. Seluruh bukti elektronik yang relevan harus diamankan, diverifikasi, dan diuji secara forensik agar tidak terjadi penghilangan, perubahan, ataupun manipulasi barang bukti yang dapat menghambat proses penyidikan. Lebih jauh, Syamsul menekankan bahwa independensi aparat penegak hukum merupakan prasyarat penting dalam menjaga kepercayaan publik. Namun, ketegasan penindakan harus tetap berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap asas praduga tak bersalah dan prinsip supremasi hukum. “Teknologi semestinya menjadi instrumen kemajuan bangsa, bukan alat untuk kepentingan kelompok tertentu, apalagi jika digunakan dengan cara melanggar hukum dan berpotensi merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya. Ia juga mengajak masyarakat dan insan pers untuk turut mengawal perkembangan perkara tersebut secara kritis dan bertanggung jawab. Publik diminta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, sekaligus menolak penyebaran berita bohong yang dapat memperkeruh situasi. Bagi GWI, persoalan ini bukan semata menyangkut siapa yang menjadi korban, melainkan menyangkut prinsip fundamental bahwa hukum harus berdiri di atas segala kepentingan. “Jangan sampai hukum hanya terlihat tegas kepada masyarakat kecil, tetapi kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuasaan atau pengaruh. Semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Tidak boleh ada seorang pun yang kebal hukum,” pungkas Syamsul Bahri. (Red) Kota Probolinggo Gelar Apel Siaga Bencana Hidrometeorologi, Kapolres Pastikan Dukungan Penuh Hari Kedua Belas Ops Patuh Maung 2026, Polda Banten Ajak Masyarakat Utamakan Keselamatan Berlalu Lintas Astamaops Kapolri dan Kakorlantas Polri Tinjau Kesiapan Pengamanan Nataru 2026 di Pelabuhan Merak Peringati HCPSN 2026, Kapolda Banten Ajak Masyarakat Lestarikan Keanekaragaman Hayati

Curug Benowo, Wisata Alam yang Sangat Menarik

Curug benowo 1021x580

Ungaran – Pelitanusantara.com | Curug Benowo  Gunung Ungaran adalah salah satu gunung yang cukup mempesona untuk di daki. Dengan ketinggian hampir 2000 mdpl. Membuat kawasan ini bisa dijadikan sebagai titik awal para pemula mengenal keindahan di atas ketinggian.

Tidak hanya di atasnya saja yang menarik. di lerengnya juga terdapat beberapa objek wisata yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Salah satunya adalah curug Benowo yang mempunyai keindahan berupa kawasan yang masih sangat alami da asri. Tracknya yang mengagumkan membuat siapa pun pasti tertantang untuk bisa sampai diatas.

Siapa pun pasti akan merindukan kesejukan dari tempat ini. Karena, sepanjang perjalanan kita akan ditemani dengan arus air yang super jernih.

Sebenarnya, kawasan ini ada dua curug. Satunya lagi bernama Curug Lawe, keduanya mempunyai jalan yang sama terjalnya. Hanya saja, pada sebuah persimpangan mereka akan berpisah. Tinggal anda mau memilih yang mana.

Dinamakan sebagai Curug Benowo lantaran, kawasan ini digunakan sebagai tempat singgah  Pangeran Benowo. Beliau adalah salah satu pangeran dari kerajaan Pajang.

Karena, saking seringnya ke sini beberapa warga pun menyebutnya dengan nama Petilasan dan nama curug tersebut di beri nama Benowo.

Menikmati keindahan dari curug ini anda akan dikenakan harga tiket masuk curug benowo sebesar 4 ribu rupiah ditambah uang parkir untuk mobil sebesar 10 ribu rupiah. Untuk Kendaraan bermotor sebesar 3 ribu rupiah.

Untuk jam operasional wisata curug benowo di buka mulai dari pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore. Tetepai, Saat menunjukkan pukul 3 sore adalah batas pengunjung yang datang ke objek wisata ini.

Jaraknya yang jauh mencapai 45 menit hingga 1 jam, menjadikan, pihak pengelola membatasi jam kunjungan. Karena, semakin malam kondisi curug ini akan membahayakan untuk pengunjung.

Terlebih lagi, sepanjang perjalanan tidak ada penerangan sama sekali. jalanan yang berbatasan langsung dengan jurang menjadikan tempat ini tidak aman dilintasi malam hari.

Alamat curug benowo terletak di Kalisidi RT.1, Rw.6. Ungaran Barat, Semarang, Jawa Tengah 50519. Perjalanan bisa anda mulai dari alun-alun kota ungaran.

Arahkan kendaraan menuju ke mapagan atau jalan gunung pati. Kemudian, belok ke kanan setelah menemukan makam darul mukminin siplaosan sumur gunung.

Rute menuju curug benowo selanjutnya, tinggal mengikuti petunjuk arah yang tersedia di berbagai tempat. Tetapi, anda harus sedikit berhati-hati.

Karena, jalan menuju curug benowo begitu terjal dan sedikit menanjak. Di samping kanan anda akan di sambut dengan pohon karet yang cukup luas.

Pastikan kendaraan anda dalam kondisi prima. Selain tanjakan, belokan yang cukup tajam juga akan anda temui disini. Jadi, bersiap-siaplah untuk mempertajam insting mengemudi anda.

Sayangnya, menuju ke tempat ini harus menggunakan kendaraan pribadi. Kurang tersedianya sarana transportasi membuat tempat ini jarang dilalui oleh bus

Perjalanan menuju ke Lokasi wisata curug benowo membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit hingga 2 jam untuk perjalanan berangkat.

Sedangkan, pulangnya membutuhkan waktu 40 menit hingga 1 jam lamanya. Perjalanan akan dimulai dengan jalan yang mulus, lurus tanpa ada halangan apa pun.

Setelah melewati bendungan, perlahan-lahan jalanan akan terus menanjak dengan tekstur tanah dan bebatuan. Bila anda datang di week day, disarankan untuk membawa air minum sendiri dari bawah. Karena, beberapa pedagang enggan untuk menggelar dagangannya lantaran, sepi.

Tetapi, saat datang week end dan hari libur sekolah. Pengunjung yang ingin pemanasan sebelum ke gunung ungaran tampak begitu padat. Menariknya lagi, di tempat ini ada sebuah pohon yang berisi gantungan sandal-sandal yang menjadi korban dari track yang harus dilalui.

Oleh karena itu, gunakan alas kaki yang cukup kuat. Dan sepatu yang juga tangguh. Agar tidak diabadikan di pohon ini. 500 meter menuju ke curug jalanan akan semakin terjal. Memasuki 400 meter sebelum tiba, akan ada persimpangan dimana belok kiri curug lawe dan kanan curug benowo.

Curug ini hampir ada di setiap musimnya. Hanya saja, saat musim kemarau, debit air yang keluar tampak lebih kecil daripada penghujan. Jangan lupa membawa kamera mumpuni agar setiap momen yang menyenangkan bisa anda abadikan ke dalam foto dan gambar.

Tidak semua jalur yang anda lalui melelahkan. Tetapi, ada pula satu tempat yang disebut dengan jembatan selfie. Warnanya merah menyala.

Dan langsung berbatasan dengan jurang. Di jembatan ini pula, hanya diperbolehkan maksimal 5 orang yang melintas.

Selain itu, jembatan ini juga disebut dengan jembatan romantis. Lantaran, banyak sepasang kekasih yang mengabadikan momen disini. Tidak hanya momen foto saja, melainkan bergandengan tangan karena, takut terjatuh.

Curug Benowo bisa digunakan sebagai salah satu pemanasan menuju ke Puncak Gunung Ungaran. Jalur dan tracknya memang menantang bahkan, momen sandal putus pun bisa dijadikan sebuah momen yang tidak akan pernah terlupakan. Jadi, kapan anda akan mengabadikan momen di seru di tempat ini.