Tangsel – Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih merasakan duka mendalam, pasal nya dalam beberapa pekan lalu hingga saat ini, baik di wilayah Jabodetabek maupun di sejumlah daerah di Indonesia, tabung gas 3kg LPG (liquefied petroleum gas) hilang di pasaran. Hilang nya Gas melon yang akrab di sebut masyarakat dan mudah di temui baik di toko kelontong maupun warung sampai saat ini sulit di temukan lagi. Dari pantauan redaksi, masyarakat mengeluh sulit nya mendapatkan gas bersubsidi tersebut, keluhan masyarakat pun di tuangkan baik di media sosial (medsos) maupun di sejumlah portal media lainnya.

Seperti di ketahui, Kebijakan Pemerintah terkait distribusi LPG gas 3kg yang di batasi, menuai kritik dan menjadi perhatian publik sampai saat ini, Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul menilai, Kebijakan Pemerintah yang saat ini sudah berjalan di lapangan tetap tidak matang, baik tentang di wajibkan setiap pembeli membawa KTP maupun KK ke setiap pangkalan gas namun stok gas tersebut tidak maksimal, “akhir nya warga kecewa, ini berarti ada perencanaan yang tidak matang, seharus nya sejauh mana dalam kota kabupaten stok nya di hitung terkait jumlah warga kurang mampu (miskin) berapa” ujar Adib kepada pelitanusantara.com, via whatsapp, Jumat (23/1/2024).

Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul menuturkan,” Warga itu sebenarnya gampang di atur tetapi pemerintah mengatur diri sendiri melalui kebijakan itu kadang tidak jelas maka nya yang di temukan begitu.
Sudah di atur pakai foto copy kk/ktp setiap pangkalan di bikin ribet oleh pemerintah sendiri tetapi mereka (pemerintah) sendiri tidak siap ya itu tadi gas dan stok nya tidak maksimal” kata nya, mensikapi langka nya Gas bersubsidi yang masih kerap terjadi di pasar.
Sampai saat ini, dari pantauan tim liputan tidak hanya Warga Tangerang Selatan (Tangsel) bersusah payah untuk mencari Gas melon, warga Jakarta Selatan seperti Yandi yang di temui di salah satu pangkalan gas di Ceger Jurangmangu mengatakan,” di Bintaro sudah sepekan lalu, semua nya bilang kosong, mba, kata warga Pesanggrahan. Hal yang sama Orie warga Pondok Pinang, “biar jauh yang penting dapat mba” kata pedagang kuliner tersebut.
(Jm-pelitanusantara)
