Pelitanusantara.com Kesultanan Mataram mengalami beberapa pemberontakan besar yang mengguncang stabilitas kerajaan. Salah satu yang paling berdarah adalah pemberontakan Trunajaya (1674-1680) dan pengkhianatan Amangkurat II yang bekerja sama dengan VOC (Belanda) untuk merebut takhta dari ayahnya sendiri, Amangkurat I. Peristiwa ini bukan hanya menyebabkan kehancuran besar di Mataram, tetapi juga membuka jalan bagi campur tangan Belanda dalam politik kerajaan.
Latar Belakang: Kesultanan Mataram yang Mulai Melemah
- Mataram di Bawah Kepemimpinan Amangkurat I
Amangkurat I (berkuasa 1646-1677) adalah raja yang otoriter dan sering menindas lawan politiknya.
Ia dikenal karena membantai lebih dari 6.000 ulama dan santri yang ia curigai bersekongkol melawannya.
Hal ini membuat banyak orang di dalam kerajaan membenci kepemimpinannya.
- Trunajaya dan Perlawanan dari Madura
Raden Trunajaya, seorang bangsawan dari Madura, memimpin pemberontakan besar terhadap Mataram pada tahun 1674.
Ia mendapat dukungan dari rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan Amangkurat I.
Trunajaya juga dibantu oleh pasukan Makassar yang kuat, sehingga pemberontakannya menjadi ancaman serius.
Pecahnya Pemberontakan Trunajaya (1674-1680)
- Serangan Mendadak ke Keraton Mataram
Pada tahun 1677, pasukan Trunajaya berhasil menyerang ibu kota Mataram dan merebut keraton.
Amangkurat I melarikan diri ke Tegalwangi bersama putranya, Pangeran Adipati Anom (kelak menjadi Amangkurat II).
Dalam pelariannya, Amangkurat I meninggal karena sakit.
- Amangkurat II Meminta Bantuan VOC
Setelah kematian ayahnya, Pangeran Adipati Anom menggantikan takhta sebagai Amangkurat II.
Ia sadar bahwa ia tidak bisa merebut kembali keraton dari Trunajaya tanpa bantuan luar.
Ia kemudian meminta bantuan VOC (Belanda), dengan janji bahwa ia akan memberikan hak istimewa kepada VOC di Mataram.
- Belanda Menyerang Trunajaya
VOC melihat ini sebagai kesempatan untuk memperkuat pengaruhnya di Jawa.
Pada 1678, pasukan VOC dan pasukan Mataram yang loyal kepada Amangkurat II menyerang balik Trunajaya.
Trunajaya berhasil dikalahkan dan ditangkap pada 1679.
- Eksekusi Tragis Trunajaya
Trunajaya yang sudah tertangkap sebenarnya diampuni oleh VOC.
Namun, ketika ia dibawa ke Amangkurat II, sang raja menusuknya dengan keris hingga tewas pada tahun 1680.
Dampak Pemberontakan terhadap Mataram
- Mataram Melemah dan Tergantung pada Belanda
Karena bantuan VOC, Amangkurat II tidak bisa memerintah secara bebas.
VOC mulai menguasai banyak wilayah Mataram sebagai imbalan atas bantuan mereka.
- Kerusakan Besar di Mataram
Perang ini menghancurkan ekonomi dan struktur pemerintahan Mataram.
Banyak daerah memberontak karena tidak puas dengan Amangkurat II.
- Awal dari Campur Tangan VOC di Jawa
Sejak pemberontakan ini, VOC semakin kuat dan mulai mengendalikan kerajaan-kerajaan di Jawa.
Hal ini pada akhirnya membantu Belanda menguasai Nusantara di kemudian hari.
Maka dapat kita mengambil kesimpulan bahwa Pemberontakan Trunajaya adalah salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram. Pemberontakan ini menunjukkan bagaimana ketidakpuasan rakyat terhadap penguasa yang otoriter bisa berujung pada kehancuran kerajaan.
Namun, yang lebih tragis adalah pengkhianatan Amangkurat II yang lebih memilih bekerja sama dengan VOC demi mempertahankan kekuasaannya.
Akibatnya, Mataram yang pernah berjaya justru menjadi kerajaan yang lemah dan semakin bergantung pada Belanda, membuka jalan bagi kolonialisme di tanah Jawa.
#DariBerbagaiSumber













