Situs Menggung

Karanganyar, Pelitanusantara.com | salah satu daya tarik mengunjungi situ purbakala adalah mengetahui sejarah peradaban masa lalu yang mengejutkan. Dengan mengetahui sejarah masa lalu, kita bisa mengetahui sudah sejauh mana peradaban saat ini sedang berjalan.

Salah satu destinasi cagar budaya itu adalah Situs Menggung. Tempat ini berada di atas bukit di kaki Gunung Lawu, tepatnya di Desa Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa tengah.

Dari puncak bukit ini pengunjung bisa menikmati udara gunung yang masih bersih dan sejuk. Sekaligus memandang hamparan bunga dan tanaman bias di milik warga yang ditanam di halaman dan kebunnya. Desa Nglurah merupakan salah satu sentra tanaman hias terbesar di Jawa.

Tempat ini berada di atas ketinggian 1800an meter di atas permukaan laut.

Untuk mencapai Situs Menggung yang berada di atas bukit ini, pengunjung harus melewati jalanan yang curam, tapi mulus dari arah Karanganyar. Berdasarkan penuturan Priyanto, juru pelihara  dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Situs menggung merupakan peninggalan Prabu Airlangga.

Menurutnya, Prabu Airlangga melarikan diri karena terdesak oleh musuh yang menyerangnya. Ia bersama asisten pribadinya, Narotama menyingkir dan sampailah ke tempat ini. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1000-an Masehi.

Di Situs Menggung terdapat tiga tingkatan, semacam punden berundak. Di teras pertama adalah pintu gerbang yang ditandai dengan dua arca yang disebut disebut dwarapala.

Teras kedua adalah halaman situs yang berupa hamparan tanah, terdapat dua patung juga di tempat ini. Keunikan situ ini terdapat sebuah pohon rakasasa dengan lingkar pohon sekitar 10 meter. Pohon raksasa ini diselimuti kain kotak-kotak khas bali.

Sebenarnya pohon ini terdiri dari dua pohon yang menyatu, yakni pohon preh dan pohon kantil. Di bawah pohon juga terdapat patung perempuan yang kepalanya telah terpenggal. Menurut Prijanto, ini adalah patung Nyi Rasa Putih, perempuan lokal yang dinikahi Narotama.

Tiga meter dari patung Nyi Rasa Putih terdapat dua patung yang berukuran lebih besar. Dua patung ini tampak masih utuh. Menurut kabar yang beredar, jika pengunjung fokus memperhatikan dua patung tersebut, patung itu akan berubah menjadi hidup.

Memang situ purbakala ini belum sepopuler situs purbakala candi Cetho atau candi sukuh yang berada di lereng Lawu. Hanya orang-orang tertentu yang datang ke sini untuk berdoa atau bersembahyang.

Kebanyakan orang yang datang ke sini adalah pengunjung dari Bali atau dari wilayah lain yang beragama Hindu.

Oleh masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam situs Menggung dipakai sebagai ajang untuk upacara bersih desa yang disebut Dukutan.  Acara ini diadakan setahun sekali. ada perayaan dan upacara adat khas Situs Menggung yang tidak ditemukan di tempat lain. (Pelitanusantara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *