Pelitanusantara.com Di tengah hiruk pikuk Kerajaan Majapahit, seorang tabib istana bernama Ra Tanca memainkan peran penting dalam sejarah kerajaan tersebut. Dengan keahlian obat-obatan yang luar biasa, Ra Tanca menjadi kepercayaan Raja Jayanegara. Namun, di balik kesetiaan itu, tersimpan dendam yang membara.
Pemberontakan besar terjadi ketika Ra Kuti, salah satu anggota pasukan Dharmaputra, memimpin kudeta yang nyaris merenggut nyawa Jayanegara. Jayanegara terpaksa melarikan diri ke Bedander, dikawal oleh 15 Bhayangkara di bawah komando Gajah Mada. Namun, Gajah Mada diam-diam kembali ke ibu kota, menyusun strategi, dan akhirnya berhasil merebut kembali tahta untuk Jayanegara dengan menumpas pemberontak, seperti yang tercatat dalam Nagarakertagama.
Ra Tanca, yang memiliki keahlian sebagai tabib istana, berhasil selamat dari penumpasan terhadap Dharmaputra yang berkhianat. Namun, dendam lama terhadap Jayanegara masih membara. Ia terus memendam rasa sakit hati dan menunggu kesempatan untuk membalas dendam. Menurut Slamet Muljana dalam buku “Menuju Puncak Kemegahan, Sejarah Kerajaan Majapahit”, Ra Tanca memiliki kesempatan untuk membalas dendam ketika Jayanegara sakit bisul.
Dalam pembedahan ketiga, Ra Tanca tidak hanya mengiris bisul sang raja tetapi juga menikamkan belati ke tubuhnya. Jayanegara tewas seketika, dan kerajaan Majapahit dilanda kegelisahan. Pembunuhan ini terjadi pada tahun Saka 1250 atau 1328 Masehi, seperti yang tercatat dalam catatan sejarah.
Gajah Mada, yang berada di tempat kejadian, langsung bertindak dan menikam Ra Tanca hingga tewas di lokasi yang sama. Dengan demikian, Ra Tanca menjadi satu-satunya anggota Dharmaputra yang selamat dari penumpasan terhadap Dharmaputra yang berkhianat, namun menemui ajal di tangan Gajah Mada.
Pembunuhan Jayanegara oleh Ra Tanca memperkuat posisi Gajah Mada dan membuka jalan bagi Tribuwanatunggadewi untuk menjadi pemimpin Majapahit. Kelak, dari garis ini lahir Hayam Wuruk, raja yang membawa Majapahit ke puncak kejayaannya.[÷]













