Quo Vadis Kritik Sastra Kita

Pelitanusantara.com

Pendahuluan
Kritik sastra memiliki relasi terhadap karya sastra, pengarang, dan masyarakat pembaca. Kritik sastra berperan di dalam menghubungkan masyarakat dengan karya, dan pengarang. Dalam memahami karya, kritikus menuntun pembaca secara sistematis, logis, dan objektif sehingga kritik itu sendiri sangat berharga dan berguna dalam memberikan pelajaran bagaimana memberikan tanggapan terhadap karya sastra. Dengan pendekatan kritik tertentu, kritikus mampu membawa masyarakat pembaca mendudukkan sebuah karya secara proporsional. Dengan itu, penghargaan dan kekaguman terhadap karya sastra pun tumbuh di kalangan masyarakat pembaca tersebut.

Kritik sastra mampu menyibak kekayaan dimensi sastra secara luas. Bagaimana sebuah karya diciptakan, bagaimana motif pengarang melalui karyanya sastra pun dapat dikuak dalam kedalaman kritik.Sebagai contoh, H.B Jassin telah menunjukkan bagaimana Chairil Anwar menjadi pusat kesastraan pada masa 1945, bagaimana krisis sastra tahun 50-an ditangani secara jernih, dan bagaimana karya Angkatan’66 didudukkannya dengan pendekatan yang tepat.

Kritik sastra juga memainkan peran penting dalam meningkatkan mutu karya sastra. Ulasan-ulsasan yang dipajankan, akan menjadi dasar pertimbangan bagi karya sastra selanjutnya. Validasi penafsiran kritikus dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam menciptakan karya yang lebih berbobot. Jika jasa Chairil bagi peta perpuisian Indonesia begitu kaya, itu juga tidak lepas dari peran kritikus dalam menelaah karya-karya Chairil. Pada intinya, kehadiran sebuah karya/genre baru, peran kritikus ada di dalam proses itu. Kegigihan kritikus dalam mengulas dan mendokumentasikan karya sastra, tentu sangat bermanfaat bagi tumbuh kembangnya karya sastra baru.

Kehidupan karya sastra Indonesia yang tumbuh subur, tidak dapat dipisahkan oleh kehadiran kritik sastra. Dalam kaitan ini, tidaklah berlebihan jika kita tentu membicarakan peran Jassin dalam dinamika itu. Perannya sebagai krikus tidak diragukan lagi dengan sebutan Paus sastra atau wali sastra Indonesia. Pada masa ini, kemunculan sastrawan baik penulis puisi maupun penulis novel semakin berarti dan menonjol berkat peran Jassin.
Pasca H.B. Jassin, gerak karya sastra kita terus mengalami perkembangan pesat. Novel Saman misalnya, memperolah tanggapan luar biasa dari masyarakat. Saman menghadirkan cara berkespresi yang sangat baru. Joko Pinurbo pernah dikatakan sastra Indonesia akan ada ditangannya. Novel scientifik Andre Hirata, mampu menyuguhkan karya sastra yang komunikatif. Kehadiran Kembali karya Pramudya mampu memeriahkan kesustraan kita. Kemajuan teknologi komunikasi yang memberi berkah bagi kebebasan setiap individu, perkumpulan penulis, menjamurnya penerbit semakin menambah banjir karya sastra tidak terbendung. Akan tetapi, hiruk pikuk tumbuhnya karya sastra di atas tidak sejalan dengan pertumbuhan kritik sastra itu sendiri. Kondisi ini, setidaknya pada masa H.B.Jassin dapat menjadi pembandingnya.

Di sisi lain, sebenarnya pendekatan kritik sastra telah menyediakan kerangka kerja kritik yang semakin kompleks. Adanya gerakan pendekatan feminisme, memberikan sumbangan yang sangat nyata bagi analisis yang mengarah kepada kritik. Gerakan formalisme Rusia dan resepsi sastra, membuka cakrawala yang luas bagi pembaca di dalam mengkaji karya sastra. Dengan kata lain, dapat disampaikan di sini bahwa kerangka kerja kritik sastra telah memiliki formula untuk menjalankan tugasnya. Karya-karya yang terus bermunculan di satu sisi dan keragaman kekayaan pendekatan sudah lebih dari cukup untuk memberikan ruang kerja kritik. Akan tetapi, pertanyaan yang terus mengemuka hingga saat ini adalah, mengapa kritik sastra tidak berjalan sebagaimana pertumbuhan karya sastra.

Perkembangan karya sastra, nampak sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi dan komunikasi yang membangunkan tumbuh suburnya dunia penerbitan. Akhir tahun 90-an adalah awal dari munculnya era jaringan internet yang memungkinkan segala hal dapat dicapai melalui jejaring ini. Kemajuan teknologi ini menyokong kebebasan berkarya, kebebasan membuat ruang publikasi karya yang seluas-luasnya. Akan tetapi, dengan kebebasan individu berkarya didukung oleh kemajuan teknologi, membuat otoritas seni sastra sebagaimana pada masa H.B Jassin memudar. Dunia sastra kehilangan wibawanya.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia sastra kita?
Arah orientasi sastra yang terus dipengaruhi oleh kuasa digital itu juga berdampak terhadap tanggapan masyarakat terhadap karya sastra. Pertanyaan lain yang sangat penting dan urgensial, bagaimana aspek pembangunan manusia melalui karya sastra dapat ditingkatkan, bagaimana situasi pembelajaran sastra itu yang sangat akan terkait secara sistemik dengan upaya menghidupkan kesusastraan mulai dari minat terhadap sastra, pembelajaran, kajian sastra, dan kritik sastra yang sangat dipengaruhi oleh situasi kesusastraan yang berada dalam jepitan era yang sangat kompetitif yang semakin menjerat manusia ke arah serba digital. Masih adakah peminatan atau perhatian serius terhadap literasi sastra khususnya kritik satra.

Memperhatikan kronologi kenyataan seperti yang penulis paparkan di atas, akhirnya ada beberapa kenyataan pula yang ingin penulis sampaikan bahwa yang sedang bangkit adalah kultur medsos yang mendegradasi intelektualitas di berbagai bidang. Kritik digantikan kebencian. Keseriusan ditukar dengan humor. Kedalaman berpikir dicemooh sebagai mengganggu kesehatan.Sastra juga terlibas perubahan besar ini. Ini adalah era ketika semua menjadi nabi sehingga praktis tidak ada nabi lagi. Semua menjadi badut sehingga tawa menjadi hambar. Semua menjadi politikus sehingga doa yang kita ucapkan didengar seperti propaganda.Di era pujian dihitung oleh mesin statistik viewers, kritik bukan lagi kritik, tetapi jilatan suasana hati kerumunan (Fransico Budi Hardiman).

Kondisi serius kritis kritik sastra menjadi permasalahan yang harus segera ditangani. Hal ini harus dikerjakan untuk menjaga pertumbuhan karya sastra, meningkatkan mutu, dan memberikan tanggapan terhadap pengarang. Jika kritik sastra menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, relasi timbal balik antara karya sastra, pengarang, dan masyarakat pembaca dapat bersiklus dengan baik pula. Oleh karena itu, untuk mewujudkan ini, diperlukan kerangka kerja kritik sastra yang sistemik dan menyeluruh sehingga arah kritik sastra kita menjadi jelas. Arah/visi kritik sastra pun perlu dipertegas dalam operasionalisasinya.

Upaya Menghidupkan Kritik Sastra
Langkah kerja untuk menghidupkan kritik sastra itu, dapat dimulai dengan membangun badan sastra nasional (pada masa lalu, kita pernah ditenangkan adanya Pusat Dokumentasi H.B.Jassin). Badan Sastra Nasional ini akan bertugas untuk mengembalikan otoritas kritik sastra. Langkah yang dapat dilakukan adalah memilih kritikus yang memiliki kapasistas dan validasi intelektual memadai sehingga dapat menegakkan wibawa kritik sastra itu. Sebagai contoh, kita memiliki Nirwan Dewanto . Tulisan kritisnya atas Chairil Anwar, Maret 2011 yang berada dalam buku “Aku Ini Binatang Jalang” cetakan ke-25 terbitan Gramedia misalnya mestinya dapat menjadi bagian dari dokumentasi Badan Sastra Nasional. Demikian pula tulisan al.Arief Budiman tentang Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan juga menjadi referensi yang cukup penting untuk membantu pembaca mengenal lebih jauh dan mendalam tentang kehidupan Chairil. Tinjauan filsafatinya memberikan pelajaran berharga dalam mengenal filsafat. Buku Sejumlah Masalah Sastra, karya Satyagraha Hoerip juga memberikan jasa yang signifikan bagi kritik sastra kita yang di dalamnya terdapat ulasan A.Teeuw, Umar Khayam, Dani N.Toda, Asrul Sani, dll. Agus R. Sarjono juga menjadi sosok yang telah mengupayakan sosialisasi kritik sastra di kalangan pelajar melalui tulisan yang akrab dan sesuai untuk pelajar SMP dan SMA. Contoh-contoh ini penulis maksudkan agar menjadi gambaran bagaimana Badan Sastra Nasional dapat memilih para kritikus itu dengan karya-karya yang penting diketengahkan.

Langkah berikutnya, Badan Sastra Nasional akan memilih karya-karya sastra yang dapat mewakili pada setiap periode tertentu. Penyeleksian karya sastra ini sekaligus menjadi semacam saringan terhadap karya sastra bermutu sehingga akan memberikan gambaran yang jelas terhadap tipe-tipe karya sastra pula. Pemilihan ini harus dipandang positif yang akan berakibat justru pada semakin bergairahnya penulis dari semua kalangan untuk berkarya lebih baik dan bukan sebaliknya, mati karya.

Kritikus bertugas untuk memberikan ulasan mendalam terhadap buku-buku karya sastra tersebut. Selanjutnya, hasil kajian kritik sastra oleh kritikus atau para kritikus dapat “didistribusikan” ke ruang akademik kampus-kampus melalui kegiatan-kegiatan seminar sastra. Distribusi ini tentu akan sangat bermanfaat dalam memberikan inputan bagi hasil kerja kritik maupun karya sastra itu sendiri sehingga juga akan memberikan umpan balik bagi pengembangan karya sastra. Penulis memiliki keyakinan, vibrasi kegiatan kritik yang diberikan di kampus akan memberikan manfaat positif bagi banyak pihak. Para mahasiswa dan dosen akan memperoleh pengalaman untuk meningkatkan profesionalitas dan performansi masing-masing.

Badan Sastra Nasional, selanjutnya dapat membangun jaringan kerja dengan Departemen Pendidikan Nasional, misalnya untuk dapat menyusun kebijakan tentang alternatif karya sastra apa saja yang akan digunakan di sekolah-sekolah utamanya dalam pembelajaran sastra. Pihak sekolah melalui guru-guru Pendidikan Bahasa Indonesia diharapkan menyambut langkah kerja sama tersebut dengan memanfaatkan buku-buku sastra atau hasil kajian kritik sastra tadi sebagai alternatif sarana pembelajaran di sekolah. Dengan itu, sekolah menjadi tempat publikasi formal hasil kritik sastra dan buku-buku karya sastra. Pihak sekolah dapat mengembangkan pembelajaran sastra secara kreatif sehingga akan berkontribusi terhadap dinamika kritik sastra.

Lingkaran kerja sama ini tentu akan diikuti oleh penerbit dalam mengemas buku-buku pelajaran khususnya buku pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia. Penerbit buku Bahasa Indonesia akan mempublikasikan buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia yang memuat hasil kritik sastra atau yang mengandung buku-buku sastra yang telah dikritik. Dengan siklus semacam ini, pihak penerbit pun akan semakin dihidupkan produktivitasnya melalui para penulis buku bahan ajar sekolah.
Kegiatan kritik sastra yang dirancang secara makro ini diharapkan akan memberikan vibrasi positif terhadap eksistensi kritik sastra itu. Hal ini sangat penting karena karya sastra akan sangat dipengaruhi oleh umpan balik kritik. Kritik sastra mampu menghidupkan karya sastra sehingga menjadi lebih digemari masyarakat luas yang dimulai dari lingkungan akademik. Kritik sastra sangat menentukan kondisi kehidupan sastra itu.

Kegiatan kritik sastra dengan membentuk Badan Nasional Sastra seakan sumir birokrasi, namun dengan niat ketulusan akademis, potensi yang bersifat birokratif dapat dihilangkan. Dengan itu, kehormatan kritik sastra akan dapat terwujud.

Atmosfir kritik sastra yang menyata di lingkungan kampus atau sekolah, dapat melatih peserta didik secara teknis dalam mengembangkan kemampuan menyusun kritik. Melalui pembiasaan mengulas karya sastra, peserta didik diajarkan bagaimana merespons permasalahan, mula-mula permasalahan dalam teks tertulis. Peserta didik juga dilatih mengembangkan cara memberikan respons terhadap teks kehidupan. Pada akhirnya, melalui karya sastra dan kritik sastra, peserta didik akan dapat membentuk diri menjadi insan-insan yang mampu memberikan kontribusi bagi penyelesaian permasalahan kehidupan yang dihadapi sehingga mereka kan menjadi insan-insan yang memiliki signifikansi terhadap masyarakat.

Esensi Kritik Sastra ke Depan Hubungan karya sastra dengan alam (masyarakat) sejak zaman Plato dan Aristoteles telah dikupas secara meyakinkan. Di dalam perkembangannya kemudian muncul sosiologi sastra. Sastra adalah potret, rekaman, penghayatan pengarang terhadap fenomena yang terjadi dalam suatu masyarakat. Sastra berhubungan dengan politik-sikap pribadi terhadap fenomena sosial, sastra terkait dengan agama, sastra terkait dengan pendidikan, nasib orang dan kelompok masyarakat, dan kehidupan secara luas lainnya. Oleh karena itu, kehidupan yang diaktualisasikan dalam teks tulis setelah mengalami proses pengolahan imajinasi, menjadi wahana atau alat bagi para kritikus untuk menggalinya dan menarik pesan-pesan penting yang dapat disampaikan melalui hasil kritik sastra.

Di tengah situasi masyarakat yang terus berkembang dalam berbagai segi, kritik sastra diharapkan dapat turut membantu mengarahkan perjalanan peradaban bangsa ini sehingga kritik sastra juga mendorong visi besar bangsa ini dalam kerangka pluralitas dan kesatuan. Melalui sastra keagamaan atau sastra yang religius, kritik sastra harus berani menyuarakan agar masyarakat semakin toleran, menghargai perbedaan, dan bekerja sama bagi kemerdekaan manusia seutuhnya. Kritik sastra dapat menyampaikan upaya melawan bentuk fanatisme, sektarianisme, dan primordialisme yang dapat mengancam disintegrasi bangsa. Dengan itu, kritik satra dapat merekatkan perbedaan/disintegrasi secara demokratis dan simpatik. Melalui sastra feminis, kritik sastra diharapkan dapat menggali peran perempuan agar dapat memainkan peran pada bidangnya sebagai sumberdaya manusia yang penting. Melalui kritik sastra pula jurang perbedaan kelas-kelas sosial dapat dikikis menjadi perjumpaan yang saling membantu dalam mengatasi problem kemiskinan dan diskriminasi kaum marginal. Dalam area inilah seharusnya kritik sastra terpanggil melakukan kajian reflektifnya.

Menutup tulisan ini, penulis hendak menarik simpul pembicaraan tentang arah kritik sastra kita. Di tengah peradaban modern yang ditandai dengan kuasa digitalisasi dan degradasi di segala bidang, kritik sastra secara teknis dapat dikerjakan dengan membentuk kerangka kerja yang menyeluruh dan sistemik. Kerangka kerja semacam ini akan dapat menghidupkan kritik sastra secara lebih berotoritas. Arah kritik sastra berikutnya adalah menjalankan visi besar perannya di dalam menyuarakan dan menyelesaikan problem peradaban bangsa termasuk di dalam mengikis potensi keterpecahan, degradasi moral, penyimpangan kekuasaan, diskriminasi kaya miskin, diskriminasi keyakinan, suku, agama, dan pandangan , untuk membangun kesatuan dalam keberagaman/pluralitas.

Penulis :  Abednego Tri Gumono, M.Pd. (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Pelita Harapan Tangerang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *