Pelitanusantara.com Ra Kuti merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Majapahit. Ia adalah anggota Dharmaputra, lembaga tinggi kerajaan yang dibentuk oleh Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Dharmaputra berjumlah tujuh orang, yaitu Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Mereka memiliki kedudukan khusus di Majapahit sebagai pengawal setia raja dan memiliki hak istimewa.
Ra Kuti sendiri berkuasa di daerah Pajarakan yang sekarang menjadi Kabupaten Probolinggo. Ia disebut berasal dari kasta sudra, kasta terendah dalam tradisi Hinduisme. Meskipun demikian, Ra Kuti memiliki peran penting dalam pemerintahan Majapahit sebagai anggota Dharmaputra.
Pemberontakan Ra Kuti terjadi pada tahun 1241 Saka atau 1319 Masehi. Ra Kuti dan beberapa Dharmaputra lainnya mengadakan kudeta terhadap Raja Jayanagara, raja kedua Majapahit. Mereka menganggap Raja Jayanagara lemah dan mudah dipengaruhi. Selain itu, asal-usul Jayanagara yang bukan anak Raden Wijaya dari istri permaisuri juga menjadi alasan ketidaksukaan para Dharmaputra.
“Ra Kuti dan beberapa Dharmaputra lainnya memberontak terhadap Raja Jayanagara karena merasa tidak puas dengan kepemimpinannya,” kata Prasetya Ramadhan dalam buku “Sandyakala di Timur Jawa 1042-1527 M Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit”.
Raja Jayanagara sendiri adalah putra Raden Wijaya dengan Dara Petak, putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera. Ia memiliki darah campuran dan bukan turunan murni dari Kertanagara, raja terakhir Kerajaan Singasari yang merupakan pendahulu Majapahit.
Pemberontakan Ra Kuti dimulai dengan serangan terhadap istana Majapahit. Ra Kuti dan pasukannya membunuh beberapa pejabat kerajaan dan berhasil menguasai istana untuk sementara waktu. Namun, Raja Jayanagara berhasil melarikan diri dengan bantuan Gajah Mada, mahapatih Majapahit yang saat itu masih berpangkat bhayangkara (prajurit).
Gajah Mada kemudian memimpin pasukan kerajaan untuk menumpas pemberontakan Ra Kuti. Pertempuran sengit terjadi di daerah Tumapel (sekarang Malang) antara pasukan Gajah Mada dan pasukan Ra Kuti. Akhirnya, Gajah Mada berhasil mengalahkan dan menangkap Ra Kuti beserta pengikutnya.
“Gajah Mada memulai kariernya sebagai bhayangkara yang berhasil menyelamatkan raja dari pemberontakan Ra Kuti,” kata Prasetya Ramadhan.
Ketika Ra Kuti berhasil menguasai Majapahit untuk sementara waktu, ia menobatkan dirinya sebagai raja Majapahit. Namun, hal ini tidak diterima oleh rakyat Majapahit karena Ra Kuti bukanlah berasal dari golongan bangsawan.
“Kisah Ra Kuti menunjukkan bahwa pemberontakan tidak selalu berhasil dan bahwa legitimasi kekuasaan sangat penting dalam sejarah Majapahit,” kata Prasetya Ramadhan.
Pemberontakan Ra Kuti memberikan dampak besar bagi sejarah Majapahit. Pertama, pemberontakan ini menunjukkan adanya ketidakstabilan politik di dalam kerajaan. Raja Jayanagara tidak mendapatkan dukungan penuh dari para pejabatnya. Bahkan, beberapa pejabat tinggi seperti Dharmaputra berani memberontak terhadap raja.
Kedua, pemberontakan ini menunjukkan peran penting Gajah Mada sebagai tokoh militer dan politik di Majapahit. Gajah Mada membantu Raja Jayanagara dan kemudian menjadi Mahapatih pada masa Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi, putri Jayanagara yang menggantikan ayahnya sebagai raja. [÷]













