PAYUNG CINTA

Pelitanusantara.com

Tubuhnya tetap tipis, langkahnya masih ringan melenting-lenting. Tangannya juga masih menggenggam payung sendiri.

Itu dirinya. Di luar dirinya, semua juga tetap masih sama. Dia tetap jadi sasaran tembak para gelandangan politik dan manusia frustrasi. Mereka masih mengibarkan bendera “salawi”.

Semuanya tak akan berubah. Seperti juga kebencian mereka padanya yang tak akan berubah, demikian juga cintanya pada rakyat tak akan pernah berubah.

Payung yang sering digenggamnya sendiri itu adalah simbol cinta. Cinta yang mengayomi rakyatnya. Cinta yang melindungi bangsanya dari terik bara angkara murka para manusia durjana yang ingin menghancurkan negeri ini.

Namanya payung cinta. Selama dia masih menggenggam sendiri payung itu, bangsa ini boleh bernapas lega.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *