Pelitanusantara.com Sebenarnya kisah ini tidak memiliki latar/seting Tangerang Selatan, kalau toh ada hanya disebut nama Tjipoetat dan Serpong sebagai perlintasan Nyai Dasima ketika hendak menuju Tjurug Tangerang dan Batavia. Tapi demi untuk memenuhi permintaan, maka kisah ini dituliskan kembali sekadar berbagi pemahaman akan nilai-nilai sejarah dan kesusastraan tanah air. Semoga kawan-kawan berkenan membacanya
Kisah Nyai Dasima hingga kini masih jadi kontroversi di tengah masyarakat dan pegiat sastra tanah air, sebab belum jelas apakah kisah itu benar-benar nyata terjadi di Jakarta tempo doeloe ataukah hanya sekadar foklour semata yang ditulis oleh beberapa generasi mulai dari G. Francis sampai ke Pramoedya Ananta Toer.
Terlepas benar tidaknya kejadian tersebut Nyai Dasima telah melekat dalam cerita rakyat dan hati masyarakat Betawi sejak turun-temurun.
Cerita ini diambil dari sebuah buku karangan G. Francis (Gijsbert Francis a.ir) yang terbit pada tahun 1896, ditulis berdasarkan kehidupan seorang istri simpanan yang bernama Dasima, gadis dusun Kuripan, Bogor.
Ia menjadi nyai (perempuan yang dijadikan gundik tanpa dinikahi) atau istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William, salah satu orang kepercayaan Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda.
Oleh sebab itu, akhirnya Nyai Dasima pindah ke Batavia. Lokasi cerita terjadi di sekitaran Tangerang dan Batavia pada tahun 1813-1820-an.
Karena kecantikan dan kekayaannya, Nyai Dasima menjadi terkenal. Samiun seorang tukang sado yang bersemangat ingin memperistrinya, meminta dukun bernama Mak Buyung agar Nyai Dasima menerima cintanya.
Akhirnya Nyai Dasima dinikahi walaupun Samiun sudah beristri. Namun setelah berhasil dijadikan istri mudanya, Nyai Dasima hanya disia-siakan Samiun, dan kejadian tragis yang mengerikan, akhirnya pun terjadi.!
Cantiknya Nyai Dasima
Perempuan yang bahenol itu cantik sekali pada zamannya. Karena kecantikannya, tuan Edward terpikat dan berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Ia adalah Dasima, wanita yang berasal dari dusun Kahuripan, letaknya di sebelah kanan desa Cise’eng, setelah menempuh perjalanan 10 kilometer dari Kawasan Parung, (dulu masuk wilayah) Bogor, (kini) Jawa Barat menuju Curug Tangerang.
Dasima adalah seorang wanita cantik yang enggan hidup melarat. Karenanya Dasima dengan senang hati menjadikan dirinya sebagai wanita piaraan tuan Edward. Hasil hubungan mereka membuahkan seorang anak wanita bernama Nancy.
Semula Dasima dan tuan Edward tinggal menetap di Curug Tangerang, kemudian pindah ke Pejambon Batavia.
Meskipun telah beranak, Dasima tetap cantik seperti masa perawannya. ltulah yang mendorong tuan Edward laki-Iaki asal Inggris tak segan-segan memberikan sebuah rumah serta para pembantu yang siap melayani keperluan Dasima.
Cinta Ditolak, Dukun Bertindak
Seorang lelaki tukang sado lokal bernama Samiun yang beruntung, karena punya paman seorang tentara dengan jabatan Komandan Onder Distrik Gambir, sehingga punya peluang untuk berkesempatan masuk ke rumah Nyai Dasima atas urusan pamannya.
Samiun sekalipun telah beristerikan Hayati, tetapi melihat Nyai Dasima, goncanglah ketahanan jiwanya. Hayati isterinya yang dahulu dipuja dan diburu kini baginya hampir bagaikan kendaraan tua rongsokan bilamana dibandingkan dengan Nyai Dasima ibarat kereta kencana para raja.
Samiun tergila-gila dan merubuhkan pilar imannya, menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan seorang Nyai Dasima yang dimatanya bagaikan Cleopatra seperti dalam Mitologi Yunani ataupun bagaikan Sinta dalam cerita pewayangan.
Samiun dengan segala daya upaya mengumpulkan uang, lalu mencari Haji Salihun di Pecenongan untuk minta guna-guna agar bisa memetik kuntum Pejambon, Nyai Dasima yang cantik rupawan.
Samiun dengan akal liciknya berhasil menyuap mak Buyung untuk menjadi perantara sekaligus ujung tombak panah asmaranya agar bisa menancap direlung hati Nyai Dasima. Berbekal sehelai rambut Nyai Dasima yang diperoleh lewat tangan kotor, Mak Buyung mulai mengendalikan permainan mistik.
Nyai Dasima berubah, kini Samiun dimatanya adalah pria tergagah di Batavia, yang tak sebanding bilamana dijejer dengan Edward yang tak lebih dari lelaki tua karatan yang tak ada harga di pasar Senen.
Melalui permainan mistik, Nyai Dasima menyongsong Samiun yang menanti ditepi kali dengan getek bambu. Mereka pergi ke rumah Mak Soleha ibunya Samiun. Nyai Dasima menetap di rumah itu, di bilangan Kwitang yang dulunya berawal dari kata Kwee Tang Kiam, seorang pendekar China di Batavia yang terkenal dimasanya.
Ingin Kaya, Samiun Nikahi Dasima Sebagai Istri Kedua
Sebelum menggelar rencana, Samiun telah bersepakat dengan Hayati sang isteri. Dengan janji harta untuk Hayati, disetujui Samiun menikahi Nyai Dasima dengan harapan dapat meraup harta. Persetujuan isterinya membuat Samiun percaya diri dalam mendapatkan Nyai Dasima.
Perempuan cantik kembangnya Pejambon, kini berada dalam rumahnya, menurutnya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Samiun memanggil penghulu agama dan pernikahan dilangsungkan. Ketika pernikahan berlangsung di tangan Nyai Dasima ada nilai harta sebesar 6000 Gulden, suatu jumlah yang sungguh banyak dibanding gaji seorang wedana di Batavia tak lebih dari 50 Gulden.
Samiun menyayangi Nyai Dasima, demikian juga dengan Mak Soleha ibu kandungnya serta Hayati istri pertamanya. Namun berangsur hari semakin surut rasa sayang tersebut karena harta yang dibawa Nyai Dasima semakin berkurang dan akhirnya ludes. Kini, Nyai Dasima justru menjadi beban mereka. Sebenarnya masih ada hartanya, tetapi di Pejambon dan itu tak mungkin diambil.
Melihat perilaku Hayati, Mak Soleha dan Samiun yang berubah total, Nyai Dasima sadar bahwa dirinya menjadi objek Samiun, Hayati dan Mak Soleha.
Nyai Dasima tak tahan lagi dan minta cerai. Samiun setuju menceraikan dengan syarat harta Nyai Dasima yang ada di Pejambon pemberian tuan Edward harus diserahkan pada Samiun.
Hayati sangat berperan dalam menentukan langkah Samiun. Hayati terus mendesak agar Samiun bisa memperoleh harta Nyai Dasima. Dengan berbagai upaya Samiun mencoba melunakkan hati Nyai Dasima agar bersedia mengalihkan hartanya, tetapi hal itu sulit dilakukan Nyai Dasima.
Tidak mungkin ia kembali ke Pejambon menemui tuan Edward, jangan-jangan kemurkaan dan penjara yang didapatnya karena telah mempermalukan tuan Edward dimata orang Belanda dan Eropa umumnya.
Jatuh Miskin, Samiun Ceraikan Dasima Istri Keduanya
Samiun akhirnya menceraikan Nyai Dasima tetapi tak mendapatkan hartanya. Tapi Nyai Dasima tetap berada di rumah Samiun karena tak punya saudara di Batavia, ia tak punya uang lagi untuk pulang ke kampungnya, iapun tak punya keberanian menemui tuan Edward untuk memohon pengampunan atas kecurangan yang dilakukannya.
Hayati menjadi semakin kesal melihat Nyai Dasima yang telah berubah menjadi beban bagi keluarganya. Hayati mendesak Samiun untuk menyingkirkan Nyai Dasima.
Samiun yang terus didesak oleh Hayati untuk mengusir Nyai Dasima karena sudah tidak bermanfaat lagi baginya, serta ketidaktepatan janjinya juga, maka Samiun linglung dan mengambil keputusan penuh, yaitu menghabisi nyawa Nyai Dasima.
Untuk melakukan hal itu Samiun tak sanggup sendiri, perlu menggunakan tangan orang lain. Maka, Samiun menyewa bang Puase, seorang jagoan dari Kwitang dengan upah 100 Pasmat.
Samiun merundingkan teknis pelaksanaan penghabisan nyawa Nyai Dasima. Akhirnya mereka menyepakati cara terbaik yang harus dilakukan, Samiun menyerahkan panjar sebesar 5 pasmat kepada bang Puase kemudian kembali ke rumahnya.
Sikap Samiun mengembangkan senyum yang manis sekali kepada Nyai Dasima membuat Mak Soleha menjadi kaget, mengapa Samiun bukannya mengusir Nyai Dasima malah berbaikan?
Hayati yang mendengarkan cerita dari Mak Soleha tentang sikap bang Samiun menjadi sangat kesal. Ingin saja ia pergi ke rumah itu untuk menghabisi nyawa Nyai Dasima.
Jebakan Samiun: Ketika Ketidaksetiaan Dibalut Cinta
Sikap Samiun yang simpatik dan terkesan melindunginya justru membuat semangat Nyai Dasima tumbuh dan hadir kembali perasaan untuk menyayangi Samiun.
Samiun mengajak Nyai Dasima ke kampung Ketapang untuk mendengarkan pertunjukan “tukang cerite” atau“seni tutur” tentang Amir Hamzah. Pertunjukkan “tukang cerite” berada di Gang Ketapang (depan Sawah Besar, Jalan Gajah Mada).
Dasima yang telah melimpahkan harapannya kepada Samiun langsung setuju dengan ajakan tersebut. Nyai Dasima berharap mungkin malam ini adalah malam terindah dalam hidupnya dengan Samiun, dapat berjalan dibawah sinar rembulan sambil bercengkerama menumpahkan perasaannya selama ini terkandas di dasar lautan kebencian Hayati dan Mak Soleha.
Nyai Dasima segera bersolek secantik mungkin dengan memakai pakaian paling indah yang masih dimilikinya. Mak Soleha ibunda Samiun malah menjadi jijik dan hampir saja meludahi muka Nyai Dasima, untung ada Samiun sehingga masih ada rasa segan pada sang anak.
Mak Soleha menjadi aneh dengan perilaku Samiun, jangan-jangan ilmu pelet Samiun menjadi bumerang buat Samiun sendiri. Hayati yang mendengarkan laporan Mak Soleha kelihatannya acuh tak acuh.
Hayati sendiri sudah hilang kesabaran atas janji Samiun yang akan memberikan harta yang banyak buatnya. Sekarang Hayati masa bodoh, tak ada gunanya berharap lagi dan rasanya tak ada urusannya lagi dengan Nyai Dasima dan Samiun.
“Ti… lu kok masa bodoh ?” tanya Mak Soleha keheranan.
“Abis, mau diapain lagi? gua kagak percaya ame Samiun”.
“Kalau Samiun jadi pegi ame Dasima trus kagak balik lagi, pegimane ?”.
“Biarin aje, gue juga bisa cari lelaki laen!”
“Astaghfirullah !”
“Percuma nyak ngucap kalu niatnya kagak baek ame ntu orang.”
Mak Soleha menjadi kaget dengan pernyataan Hayati seakan menuding dirinya ikut dalam permainan kotor mendapatkan harta milik Nyai Dasima. Mak Soleha menjadi benci dengan Hayati dan bertekad minta pada Samiun justru untuk menceraikan Hayati, biarlah dengan Nyai Dasima saja.
Mak Soleha berubah pikiran dan menyesali sikapnya yang sempat membenci Nyai Dasima belakangan ini. Mak Soleha segera kembali ke rumahnya tetapi mendapati Samiun dan Nyai Dasima telah pergi.
Samiun dan Nyai Dasima akhirnya pergi ke Ketapang. Mereka bergandengan tangan bagaikan dua sejoli yang baru mengenal cinta pertama. Sambil berjalan, Samiun kelihatan gugup. Ingin saja ia mengurungkan niat untuk tidak jadi pergi, tetapi menjadi bimbang manakala mengingat Hayati yang terus mendesaknya, dan Mak Soleha yang selalu menatap dengan nanar dan lecehan.
Karena takut akan kepergok oleh opas Belanda atau orang-orang kepercayaan tuan Edward, maka mereka pun menggunakan jalan lain, jalan setapak yang akan melewati sebuah kali dengan jembatan titian bambu. Di ujung tepian kali tempat menyeberang, Samiun melepaskan Nyai Dasima sendiri di belakang, bukannya justru menuntun tangan Nyai Dasima agar tidak terpeleset manakala sedang menyeberang jembatan.
Saat berada ditengah jembatan, Nyai Dasima tertinggal di belakang dan memanggil Samiun tetapi Samiun meneruskan langkah untuk sampai ke tepian seberang kali. Dalam kesempatan itu, sebuah bayangan muncul.
Bayangan seorang lelaki kekar dengan sigap memburu ke arah Nyai Dasima sambil mengirimkan pukulan maut ke tengkuk Nyai Dasima tapi pukulan itu meleset karena Nyai Dasima sempat melangkah sebelum tangan lelaki kekar itu mendarat.
Namun beberapa saat kemudian pukulan itu datang kembali dan mengenai bagian belakangnya. Nyai Dasima menjerit sambil meminta pertolongan kepada Samiun. Tapi permohonanya tak digubris oleh Samiun.
Nyai Dasima tetap berusaha lari untuk minta perlindungan pada Samiun yang masih berdiri di seberang tepian kali. Namun memang sudah naas bagi Nyai Dasima, sebuah pukulan keras yang keluar dari tangan seorang jagoan terkenal Bang Puase, mendarat tepat pada posisi yang sensitif di bagian tengkorak kepala.
Seketika, Nyai Dasima rubuh bagai daun kering diterjang badai gurun. Darah mengucur dari hidung dan mulut, Nyai Dasima pun rubuh tak bernyawa.
Samiun berdiri terpaku, kemudian memburu Nyai Dasima yang telah berubah menjadi seonggok bangkai manusia. Samiun mengangkat mayat Nyai Dasima dengan kedua belah tangannya.
Setelah beberapa saat, Bang Puase dan Samiun berembuk sebentar untuk membuang mayat Nyai Dasima di kali Ciliwung, kemudian mereka melemparkanlah mayat Nyai Dasima ke kali Ciliwung.
Namun ternyata ada beberapa saksi mata yang melihatnya yakni, Si Kuntum yang berjalan bersama Bang Puase. Si Kuntum pun diancam akan dibunuh bila membuka rahasia kematian Nyai Dasima. Sementara di seberang kali, dibalik rerimbunan pohon, ada penduduk lokal Musanip dan Ganip yang sedang memancing, mereka juga menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, dan keduanya ketakutan, bersembunyi agar tidak diketahui oleh Bang Puase.
Isteri Musanip yang rumahnya berdekatan dengan peristiwa itu terjadi, sempat mendengar jeritan Nyai Dasima, dan mengintip melalui celah dinding bambu rumahnya, juga ikut ketakutan jika diketahui oleh Bang Puase.
Bangkai Nyai Dasima hanyut terbawa arus kali Ciliwung. Bangkai tersebut kemudian menyangkut di tangga tempat mandinya tuan Edward, orang yang pemah memeliharanya sebagai isteri piaraan.
Tuan Edward sangat terpukul dan menangis setelah melihat bangkai tubuh yang telah rusak mengenaskan dan sudah mengambang tak bernyawa, ternyata adalah Nyai Dasima, istri simpanannya. Tuan Edward segera melaporkan ke polisi tentang kematian Nyai Dasima.
Di depan polisi tuan Edward mengakui bahwa Nyai Dasima adalah isterinya. Karena pengaduan tersebut, polisi distrik Weltevreden menganggap hal ini sebagai persoalan serius yang bisa mengancam jiwa setiap orang Eropa khususnya Belanda.
Polisi menerapkan cara mengadakan sayembara berhadiah 200 pasmat bagi siapa saja yang bisa memberikan keterangan akurat tentang siapa yang menbunuh Nyai Dasima.
Tergiur oleh jumlah uang, Kuntum, Musanip dan Ganip tak kuatir kemungkinan kemarahan Bang Puase di kemudian hari. Mereka melaporkan kepada polisi tentang kejadian yang dilihat.
Atas dasar laporan dan kesaksian tersebut, maka polisi menangkap Bang Puase beserta barang bukti golok yang belum sempat dia bersihkan dari darah Nyai Dasima. Maka pelaku pembunuhan yaitu Bang Puase ditangkap, kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Setelah usai persidangan, ia pun dijatuhkan hukuman gantung.
Sedangkan Samiun melarikan diri dan tak kembali lagi ke Kwitang karena takut ditangkap, sebab dialah sebenarnya dalang dibalik konspirasi besar yang menghilangkan nyawa Nyai cantik asal Kauripan Bogor tersebut. (*)
Footnote:
Nyai Dasima dapat digolongkan sebagai karya sastra Indonesia yang terbit sebelum masa Balai Pustaka. Selain cerita Nyai Dasima pada masa itu, juga terbit cerita-cerita lain yang bertemakan persoalan “pernyaian” dengan segala konspirasi antara harta dan cinta. Misalnya cerita yang berkembang di tengah masyarakat Pamulang mengenai sosok Nyai Jentiyah yang terkenal kaya raya namun pada akhirnya terbunuh oleh saudara sendiri akibat konspirasi bersama suaminya Kapitan Sadun. Belum lagi Nyai Alimah yang ditulis oleh Oei Soei Tiong dan Nyai Ratna yang ditulis R.M. Tirto Adi Soerjo.
Cerita-cerita tentang “nyai” biasanya berbentuk cerita kriminal tentang berbagai kejahatan yang terjadi pada masa itu sebagai tren dalam sebuah karya sastra. Hal tersebut terjadi karena kisah-kisah tersebut ditulis oleh wartawan dan berasal dari liputannya di pengadilan-pengadilan yang sedang menyidangkan berbagai kejahatan.
Kasus-kasus kejahatan yang diangkat ada yang sangat populer, seperti kisah Nyai Dasima, sehingga dapat dikatakan bahwa kisah-kisah tersebut merupakan salah satu bentuk kisah-kisah rumor dan gosip yang beredar di masyarakat luas yang kemudian karena ketenarannya itu maka dibukukan sebagai karya sastra yang ditulis pertama kali oleh G. Francis. (*)
Oleh: Agam Pamungkas Lubah
Disadur dari beberapa sumber:













