Parepare- Bangsa dan rakyat Indonesia yang merupakan bagian masyarakat dunia mengalami perubahan dan perkembangan dalam hampir semua aspek hidup dan kehidupan. Perubahan dan perkembangan tersebut, bukan semata-mata karena akibat dari pengaruh globalisasi yang universal, tetapi juga melalui pendidikan. Akan tetapi, tidak bisa dibantah, di sana-sini masih ada kemelut yang berkepanjangan dan tidak tercapainya perubahan radikal dalam bidang ekmonomi, hukum, sosial, politik, hak azasi manusia, hubungan antar umat beragama, dan lain-lain.

Dalam kondisi seperti itu, Bapak Agus Prianto, S. Th. sebagai guru Pendidikan Agama Kristen (PAK)
terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam penataan bangsa agar lebih baik dalam semua aspek hidup dan kehidupan.
Oleh sebab itu, sebagai Guru PAK Ia terpanggil untuk menyampaikan suara Tuhan Allah kepada bangsa Indonesia, melalui kesaksian hidup yang benar, menjadi garam dan terang. Keterpanggilan tersebut, merupakan suatu bentuk kepedulian terhadap pertumbuhan dan perkembangan sumber daya insani/manusia Indonesia. harus memiliki keberanian membuat terobosan dalam banyak hal sehingga mampu membuat warga Gereja berubah menjadi “Manusia Baru”. Manusia Baru yang mampu mengambil bagian serta ikut berperan aktif dalam memecahkan berbagai pergumulan, permasalahan pendidikan, sosial, budaya, hukum, politik dan keamanan bangsa Indonesia. Dan untuk mendapat warga Gereja yang demikian, kita wajib dan harus mempersiapkan-membina-membimbing murid-muridnya dengan berbagai program serta kegiatan belajar-mengajar.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:19-20). Kutipan ayat Amanat Agung inilah yang mendasari setiap hamba Tuhan maupun institusi gereja dalam melakukan pelayanan misi dan memenangkan banyak jiwa demi kemuliaan nama Tuhan. Tetapi yang lebih penting dari semua adalah Hukum yang bertahta dia atas segala hukum taurat dan kitab para nabi adalah Matius 22:37-40 “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Kolaborasi antara Amanat Agung dan bagaimana mewujudnyatakan Hukum Tertinggi untuk mengasihi sesama manusia menjadikan hambaNya Bapak Agus Prianto, S. Th. sebagai guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) melaksanakan perintah Amanat Agung dan mewujudnyatakan Hukum tertinggi tersebut. Sebagai Pembina PAK pada SMAN 4 Parepare menceritakan bahwa mulanya Tuhan berkarya pada akhir tahun 2023 melalui seorang siswa yang Bernama Shinta (sekarang Mahasiswa IAKN Toraja) yang mengusulkan untuk membuat program “Menjangkau yang tidak terjangkau”. Program itu akhirnya oleh pimpinan Tuhan di mulai pada tahun 2024 di Pondok Kasih Sumarorong, Kab. Mamasa. Propinsi Sulawesi Barat dan tahun 2025 dilaksanakan di Asrama PI Suppiran kab. Pinrang Sulawesi Selatan. Pondok Kasih Sumarorong menampung anak-anak yang kurang beruntung secara finansial dan maupun secara sosial membutuhkan pertolongan, hal ini dapat dibuktikan pondok kasih terdapat siswa-siswa berasal dari Sulawesi Tengah yang di didik dan dibesarkan mengenal bangku Pendidikan mulai dari SD sampai SMA. Demikian Pula Asrama PI Suppiran yang menampung anak-anak kurang mampu secara finasial maupun sosial di daerah terpencil Toraja,Mamasa dan Pinrang.
Program Persekutuan Pelajar Kristen SMAN 4 Parepare adalah program yang memberi semangat spiritual dan sentuhan berupa bantuan secara fisik Misalnya Bantuan pakaian layak pakai, bantuan bibit tanaman dan lain sebagainya. Dalam penjelasannya penutup hambaNya Bapak Agus Prianto menyakini sebesar atau sekecil apapun bantuan bukan itu menjadi dasar utama, yang utama adalah amanat Agung dan hukum kasih itu, bagaimana merasakan penderitaan pengelolah dan anak-anak penghuni pondok kasih ataupun asrama PI, sebelum menutupnya bapak guru memberi pesan keapada kita semua bahwa kegiatan ini memberi pendampingan kepada siswa-siswa bahwa jika kita mau diberkati maka kita harus memberi. Tidak harus menunggu kita menjadi kaya baru kita memberi, karena syarat untuk kita diberkati Tuhan kita harus memberi. “ Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” Amsal 11:25b.
Komitmen pada panggilan profesi yang dipilihnya. Mungkin saja guru PAK akan mendapat pandangan dari orang lain karena konsepnya tentang kesuksesan bahwa profesinya tidak menjanjikan atau menghasilkan materi yang banyak. Namun, jika seseorang -dengan alasan-alasan tertentu sudah memilih berprofesi sebagai guru PAK, maka ia harus memiliki komitmen tinggi terhadap pilihan yang sudah diambil dan dijalaninya.
Komitmen Guru PAK bukan saja urusan pekerjaan atau nafkah tetapi karena ia harus mengerjakan panggilan pelayanan yang datang dari Tuhan Allah kepadanya. Dengan demikan, upahnya bukan hanya dari bumi tetapi juga di surga.

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia, I Korintus 15:58.
(EL)













