JOHN LIE, SINPO, IVANA LIE

Pelitanusantara.com | INI kisah tentang kiprah anak bangsa, kebetulan beretnik Tionghoa, yang sangat mencintai Indonesia. Yang pertama, Laksamana Muda John Lie, John Lie atau Jahja Daniel Oharma, dimasa pendudukan Belanda bekerja di kapal Belanda.

Karena cinta tanah air kelahirannya, Indonesia, dia meninggalkan pekerjaannya dan bergabung dengan pejuang-pejuang revolusi di bidang maritim. Selama masa Perjuangan melawan Belanda, John Lie antara lain menjadi penyelundup senjata untuk kepentingan revolusi dan membersihkan ranjau-ranjau. Berkat senjata, Pemerintah Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Lalu, ada koran Sin Po yang dikelola para awak beretnik Tionghoa, yang kiprahnya sangat bermakna bagi Republik ini. Melalui pemberitaan, Sin Po mengganti istilah Nederlandsch Indie, ‘Hindie Nederlandsch’, atau ‘Hindia Olandai,’ yang saat itu melekat pada negeri ini, dengan sebutan ‘Indonesia’.

Sejarawan Asvi Warman Adam dalam bukunya menguak Misteri Sejarah (2010) melukiskan, selain memelopori penggunaan istilah ‘Indonesia’, Sin Po yang berperan dalam penghapusan penggunaan kata inlander, saat itu, kata inlander dianggap sebagai penghinaan terhadap rakyat Indonesia.

Benny G. Setiono dalam bukunya Tionghoa dalam pusaran politik (2001), melukiskan saat itu seluruh peberbit pers di Indonesia pun kemudian sepakat mengganti kata china dengan Tionghoa sebagai balas budi. Sikap tokoh pergerakan, seperti Soekarno, M. Hatta, Soetan Syahrir, dan Tjipto Mangunkusumo pun sepakat mengganti kata china dengan Tionghoa dalam percakapan dan tulisan sehari-hari.

Redaktur Sin Po bernama Ang Yan Goa mengatakan koran Sin Po sejak awal memiliki misi untuk mengembangkan Nasionalisme Tiongkok. Pada 1936, Ang Yan Goa diajak Konjen Tiongkok di Batavia untuk memberikan medali kehormatan kepada Sri Sukuhunan Pakubuwono Surakarta dan Sri Sultan Hamengkubuwono di Yogjakarta yang dianggap berjasa melindungi toko milik warga Tionghoa dari perusuh saat tentara Jepang tiba di Jawa.

Pasca kemerdekaan, ada atlet bulutangkis Lie Ing Hoa yang kemudian dikenal dengan nama Lie. Sejak terpilih masuk timnas pada 1996, gelar demi gelar tunggal putri bertaraf internasional pun dikoleksinya. Gelar yang mengharumkan nama bangsa itu ia raih mulai turnamen perorangan hingga beregu seperti SEA Games (1979, 1983) atau Asian games (1983).

Wartawan ibukota pernah berbicara panjang lebar dengan Ivana beberapa tahun lalu. Matanya berbinar-binar saat mengingat lagi prestasi-prestasi yang tinggi itu, “yang paling menyenangkan itu kalau kita menang di laga multi-event seperti SEA Games atau Asian games. Kita menang, naik podium, ada Indonesia Raya berkumandang, dan bendera merah putih dikabarkan. Itu sangat berkesan dan paling menyenangkan, ” katanya..

Namun kendati peran etnik Tionghoa nyaris sepanjang sejarah Perjuangan bangsa, diskriminasi terhadap mereka terjadi berkali-kali. Ivana lie bahkan pernah 5 tahun ‘tak diakui’ sebagai warga negara Indonesia,gara gara orang tuannya tidak lahir di Indonesia.

Para warga etnik Tionghoa harus mempunyai Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SBKRI). Dalam kolom (KTP warga etnik Tionghoa pun ada tanda yang membedakan mereka dengan warga negara Indonesia lainnya. Mereka yang dilarang merayakan imlek sejak era ORDE BARU.

Beruntung Presiden Abdulrahman Wahid alias Gus Dur mencabut aturan yang tertuang dalam inpres nomor 14 tahun 1967 tentang agama kepercayaan, dan adat istiadat Tiongkok tersebut, Gus Dur mengatakan etnik Tionghoa juga bagian dari bangsa Indonesia yang harus diberikan hak dan kesempatan yang sama.

Toh, hingga kini, setelah aturan diskriminasi terhadap etnik Tionghoa dihapus, tak sepenuhnya diskriminasi terhenti. Penyebutan istilah ‘pribumi’ untuk warga non-Tionghoa dan non pribumi untuk warga etnik Tionghoa masih banyak terjadi.

Termasuk oleh pejabat di negeri ini. Stigma seperti itu jelas berlawanan dengan spirit pun cabutan Inpres 14/1957 dan bertentangan dengan semangat zaman.

Laksamana muda John Lie pernah mengatakan, ‘orang yang pantas disebut pribumi adalah mereka yang pancasilais, sapta Margais, dengan mencintai Tanah Air dengan jiwa raga, tampa melihat asal muasalnya. Sebaliknya, meskipun dia lahir disini, besar disini, lahir dari orang-orang disini, tapi tak pancasilais dan sering mempermalukan bangsa, itu tidak pantas disebut ‘pribumi’.

Kita mesti adil dan tidak diskriminatif, bahkan sejak dalam pikiran. Karena itu, segala bentuk diskriminasi harus segera enyah dari Bumi Pertiwi.

“Selamat Imlek”, Xin Nian Kuai Le….!!

P. Sirait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *