Jejak Agama Hindu di Nusantara ” Mpu Manik Angkeran “

Tokoh Hindu Nusantara, Pelitanusantara.com | Sebagai pendahuluan ceritera, tersebutlah di kawasan Jawa, ada pendeta maha sakti bernama Danghyang Bajrasatwa. Ada putranya laki-laki seorang bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu Lampita, beliau memang pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa.

Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.

Sebagaimana disebutkan dalam sumber kutipan Babad Bali tersebut :

  • Banyak Wide atau Arya Wiraraja merupakan putra pertama dari Manik Angkeran. Dan Beliau juga disebutkan berjuang bersama Raden Wijaya untuk mendirikan Kerajaan Majapahit.
  • Nama Ranggalawe diberikan kepada Ida Bagus Pinatih pada saat di hutan Tarik ketika Raden Wijaya di tempat itu membuat pasraman yang diberikan nama Majapahit atau Wilwatikta karena banyaknya buah maja yang pahit ditemukan di sana sehingga pekerjaan untuk merabas hutan itu dipimpin oleh Ida Bagus Pinatih, putra Ida Sang Bang Banyak Wide atau Arya Wiraraja
  • Danghyang Soma Kepakisan, putra Mpu Tantular yang merupakan seorang pendeta guru utama di Kediri, yang bernama Ida Sri Kresna Kepakisan. Ida Mpu Soma Kepakisan itu tiada lain saudara dari Ida Mpu Danghyang Panawasikan, Ida Mpu Danghyang Siddhimantra (Mpu Bekung) dan Ida Mpu Asmaranatha.

Ida Danghyang Tanuhun berputra Iima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.

          Beliau yang sulung bernama Mpu Gnijaya. Beliau membuat pasraman di Gunung Lempuyang Madya, Bali Timur, datang di Bali pada tahun Isaka 97I atau tahun   Masehi I049. Beliaulah yang menurunkan Sang Sapta Resi – tujuh pendeta yang kemudian menurunkan keluarga besar Pasek di Bali. Adik beliau bernama Mpu Semeru, membangun pasraman di Besakih, turun ke Bali tahun Isaka 92I , tahun Masehi 999. Beliau mengangkat putra yakni Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah yang kemudian menurunkan keluarga Pasek Kayuselem. Yang nomor tiga bernama Mpu Ghana, membangun pasraman di Dasar Gelgel, Klungkung datang di Bali pada tahun Isaka 922 atau tahun Masehi I000. Yang nomor empat, bernama Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha, datang di Bali tahun Isaka 923 atau tahun Masehi I00I , mem­bangun pasraman di Silayukti, Teluk Padang atau Padangbai, Karangasem. Nomor Iima bernama Ida Mpu Bharadah atau Mpu Pradah, menjadi pendeta kerajaan Prabu Airlangga di Kediri, Daha, Jawa Timur, berdiam di Lemah Tulis, Pajarakan, sekitar tahun Masehi I000.

Beliau Mpu Kuturan demikian tersohornya di kawasan Bali, dikenal sebagai pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di  Samuan Tiga , Gianyar. Beliau pula yang merancang keberadaan desa pakraman   serta Kahyangan Tiga -tiga pura desa di Bali, yang sampai kini diwa­risi masyarakat. Demikian banyaknya pura sebagai sthana Bhatara dibangun di Bali semasa beliau menjabat pendeta negara, termasuk Sad Kahyangan serta Kahyan­gan Jagat dan Dhang Kahyangan di kawasan Bali ini. Nama beliau tercantum di dalam berbagai prasasti dan Iontar yang memuat tentang pura, upacara dan upakara atau sesajen serta Asta Kosala-kosali yang memuat tata cara membangun bangunan di Bali. Tercantum di dalam Iempengan prasasti seperti ini :

“Ida sane ngawentenang pawarah-warah silakramaning bwana rwa nista madhya utama, Iwirnya ngawangun kahyangan, mahayu palinggih Bhatara-bhatari ring Bali, , Iwirnya Puseh Desa Walyagung, Ulun~swi, Dalem, sopana hana tata krama maring Bali, ayun sapara Bhatara Iumingga maring Sad Kahyangan, neher sira umiket sila krama” yang artinya : Beliau Mpu Kuturan yang mengadakan aturan tentang tata cara di dunia ini yang berhubungan dengan mikro dan makrokosmos dalam tingkatan nista madya utama (sederhana, menengah dan utama), seperti membangun pura kahyangan, menyelenggarakan upacara sthana Bhatara-bhatari di Bali. Seperti Pura Puseh Desa, Baleagung, Ulunswi, Dalem, dan karena ada tata cara di Bali seperti itu, berkenanlah para Bhatara bersthana di Sad Kahyangan, karena beliau yang menga­dakan tata aturan tersebut.

Adiknya bernama Danghyang Mpu Bharadah mempunyai putra Iaki-Iaki dari keutamaan yoga beliau bernama Mpu Bahula. Bahula berarti utama. Kepandaian dan kesaktian beliau di dunia sama dengan ayahandanya Mpu Bharadah. Beliau mem­peristri putri dari Rangdeng Jirah -janda di Jirah atau Girah yang bernama Ni Dyah Ratna Manggali. Kisah ini terkenal dalam ceritera Calonarang. Beliau Empu Bahula berputra Iaki bernama MpuTantular, yang sangat pandai di dalam berbagai ilmu filsa­fat. Tidak ada menyamai dalam soal kependetaan, sama keutamaannya dengan Mpu Bahula, ayahandanya. Mpu Tantular – Iah yang dikenal sebagai penyusun Kakawin Sutasoma di mana di dalamnya tercantum “Bhineka Tunggal Ika” yang menjadi sem­boyan negara Indonesia. Beliau juga bergelar Danghyang Angsokanata. Keberadaan beliau di Bali diperkirakan sejaman dengan pemerintahan raja Bali, Sri Haji Wungsu pada tahun Masehi I 049.

Ida Mpu Tantular atau Danghyang Angsokanata, berputra empat orang, semuanya Iaki-Iaki. Yang sulung bernama Mpu Danghyang Panawasikan. Yang nomor dua bergelar Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra. Yang nomor tiga ber­nama Mpu Danghyang Smaranatha. Yang terkecil bernama Mpu Danghyang Soma Kapakisan.

Ida Danghyang Panawasikan, bagaikan Sanghyang Jagatpathi wibawa beliau, jda Danghyang Siddhimantra bagaikan Dewa Brahma wibawa serta kesaktian beliau. Ida Danghyang Asmaranatha bagaikan Dewa Manobawa yang menjelma, terkenal kebijaksanaan dan kesaktian beliau, serta Danghyang Soma Kapakisan, yang menjadi guru dari Mahapatih Gajahmada di Majapahit, bagaikan Dewa Wisnu menjelma, pen­deta yang pandai dan bijaksana.

Ida Danghyang Panawasikan memiliki putri seorang, demikian cantiknya, diperistri oleh Danghyang Nirartha. Ida Danghyang Smaranatha, memiliki dua orang putra, yang sulung bernama Danghyang Angsoka, berdiam di Jawa melaksanakan paham Budha. Adik beliau ber­nama Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, Peranda Sakti Bawu Rawuh dan dikenal juga dengan sebutan Tuan Semeru. Beliau melaksanakan paham Siwa, serta menurunkan keluarga besar Brahmana Siwa di Bali yakni, Ida Kamenuh, Ida Manuaba, Ida Keniten, Ida Mas serta Ida Patapan. Danghyang Angsoka sendiri berpu­tra Danghyang Astapaka, yang membangun pasraman di Taman Sari, yang kemudian menurunkan Brahmana Budha di Pulau Bali.

Ida Danghyang Soma Kapakisan yang berdiam di kawasan kerajaan Maja­pahit, berputra Ida Kresna Wang Bang Kapakisan, ketika Sri Maharaja Kala Gemet memegang kekuasaan di Majapahit. Ida Kresna Wang Bang Kapakisan mempunyai putra empat orang, semuanya diberi kekuasaan oleh Raja Majapahit, yakni beliau yang sulung menjadi raja di Blangbangan, adiknya di Pasuruan, yang wanita di Sum­bawa, dan yang paling bungsu di kawasan Bali. Yang menjadi raja di Bali bernama Dalem Ketut Kresna Kapakisan menurunkan para raja yang bergelar Dalem keturunan Kresna Kepakisan di Bali.

Diceriterakan kembali putra Ida Danghyang Angsokanatha atau Danghyang Mpu Tantular yang nomor dua yakni Ida Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra. Beliau bernama Mpu Bekung karena beliau tidak bisa mempunyai putera. Kemudian beliau bergelar Danghyang Siddhimantra disebabkan memang beliau pendeta atau bujangga yang sakti serta bijaksana. Beliau menjadi sesuunan sakti bujangga Iuwih (junjungan sakti, pendeta yang bijaksana) di kawasan Bali ini tatkala itu. Perihal gelar Ida Mpu Bekung menjadi Danghyang Siddhimantra, akan diceriterakan di bawah.

Diceriterakan, Ida Mpu Bekung berkeinginan untuk memiliki putra yang akan menjadi penerusnya kelak. Karena itu beliau melaksanakan upacara homa, memuja Sanghyang Brahmakunda Wijaya.

Karena kesaktian beliau, dan karena permohonannya itu, beliau dianugrahi manik besar yang keIuar dari api homa tersebut. Kemudian nampak keluar bayi dari tengah-tengah api pahoman itu. Anak itu kemudian diberi nama Ida Bang Manik Angkeran. Artinya : Bang dari merah warna api itu. Manik dari manik mutu manikam yang menjadi anugrah, dan Angkeran dari keangkeran pemujaan sang pendeta yang demikian makbulnya. Demikian asal mulanya Ida Mpu Bekung memiliki putera.

Setelah beliau memiliki putera, sangat sukacita beliau Mpu Bekung, diper­hatikan dan dimanja betul putera beliau. Setiap yang diinginkan puteranya dipenuhi. Setelah Ida Bang Manik Angkeran menginjak remaja, mungkin diakibatkan oleh kehen­dak Yang Maha Kuasa, agar supaya Ida Mpu Bekung menemui ganjalan pikiran atau kesusahan, ternyata kemudian putra beliau sehari-hari pekerjaannya hanya berjudi mangiyeng, tidak pernah tinggal diam di rumah, selalu berada di tempat perjudian semata. Di mana saja ada perjudian, di sana Ida Bang Manik Angkeran bermalam.

Diceriterakan perjalanan beliau berjudi tidak pernah menang. Selalu kalah saja. Hingga habis milik ayahnya dipergunakan untuk berjudi. Yang mernbuat Mpu Bekung duka cita, tiada Iain karena puteranya tidak pernah pulang ke Griya. ltu menyebabkan resah gelisah perasaan beliau, seraya pergi mencari putra beliau Ida Bang Manik Ang­keran ke desa-desa. Setiap ada orang yang dijumpai di tengah jalan, ditanyai oleh beliau, apakah ada menemui putra beliau yang bernama Ida Bang Manik Angkeran. Namun semuanya mengatakan tidak pernah mengetahui dan menemuinya.

Diceriterakan, konon, sudah Iama beliau mengembara mencari putra beliau itu, tidak juga diìumpai,  akhirnya tiba di kawasan Tohlangkir pengembaraan beliau. Setibanya di Tohlangkir~ Gunung Agung, di sana beliau baru merasa Iesu Ielah, kemudîan duduk seraya bersamadhi menyatukan pikiran beliau, memuja Dewa seraya membunyikan genta beliau yang bernama Ki Brahmara .

Karena keutamaan puja mantra beliau diiringi dengan suara genta beliau Ki Brahmara yang demikian menakjubkan, menjadilah geger keluar Ida Sanghyang Basukih, seraya berkata : ”Ah Mpu Bekung yang datang, apa keinginan Mpu, memuja saya ? Segera katakan, agar saya menjadi tahu !”.

Berkatalah Ida Mpu Bekung : ”Singgih paduka Sanghyang, hamba memiliki anak seorang tidak pernah sama sekali pulang, sejak Iama hamba mencarinya, namun betum juga ketemu. Maksud hamba agar dengan senang hati pukulun Sanghyang memberitahu keadaaan sebenarnya, apakah dia masih hidup, atau apakah dia sudah mati. Kalau misalnya dia masih hidup agar supaya pukulun Sanghyang sudi memberitahu, di mana dia berada”.

Dengan sukacita Ida Bhatara Basukih berkata : ”Ah Mpu, hendaknya Mpu jangan bersedih hati, sebenarnya putra Mpu masih hidup berada di desa-desa, ber­malam di sana. Sekarang saya yang akan mangarad – menarik jiwa putra Mpu, agar segera pulang kembali. Namun, Mpu saya mintai sarinya sus.u Iembu, sebagai imba­Ian saya mangarad putra sang Mpu”. Demikian wacana Ida Bhatara Nagaraja, seraya mempersilahkan Ida Mpu Bekung agar pulang ke rumahnya .

Singkat ceritera, pulanglah Ida Mpu memohon diri dari Tohlangkir. Tidak diceriterakan perjalanan beliau, maka sampailah beliau kembali di rumahnya di Griya Daha, dan dilihatnya sang putera telah berada di rumah. ltu sebabnya sangat sukacita beliau Mpu Bekung, seraya berkata : “Duh, puteraku Sang Bang, dengarkan apa yang ayah katakan sekarang. Jangan Iagi ananda mengulangi perbuatan yang sudah­ sudah. Ayah tidak sama sekali melarang ananda untuk bermain judi, namun agar ananda ingat juga dengan rumah Ananda. Payah Ayah mencari ananda keluar masuk desa-desa”.

Kemudian berkatalah putranya : “Singgih palungguh Mpu, ayahandaku, jan­ganlah sekali-kali palungguh Mpu marah serta duka, ananda sudah menginjak dewasa, sejak dahulu, ananda tidak pernah sama sekali berani ingkar, karena ananda ingat sekali dengan keberadaan diri sebagai seorang putra brahmana”. Demikian kata putranya Sang Bang Manik Angkeran.

Setelah usai Ida Mpu Bekung memberikan nasehat kepada putranya, ingat beliau kepada permintaan Ida Bhatara Naga Basukih yang menginginkan susu Iembu. Pada hari yang baik, Iengkap dengan gentanya, beliau melakukan perjalanan menuju Tohlangkir. Sesampainya di Tohlangkir, kemudian beliau mempersiapkan diri dan melakukan yoga samadhi memuja Ida Sanghyang Nagaraja seraya membunyikan genta beliau. Karena kemakbulan weda mantra beliau memuja Ida Sanghyang Naga­raja, segera Ida Bhatara keluar seraya bersabda : “Ah, Mpu Bekung yang datang. Apa keinginan sang Mpu datang Iagi?”.

Kemudian berkatalah Ida Mpu Bekung : ” Singgih pukulan Sanghyang, hamba menghadap pada paduka Bhatara, bermaksud menghaturkan sarinya susu, sesuai dengan keinginan Sanghyang. Anak hamba sudah ketemu, ada di rumah”. Tatkala didengarnya kata-kata Mpu Bekung seperti itu, sangat sukacita perasaan Ida Bhatara Basukih seraya berganti rupa menjadi Nagaraja Agung, kemudian meminum sarinya susu, sampai beliau kenyang.

Setelah beliau kenyang meminum susu Iembu itu, seraya berbalik, beliau men­geluarkan emas, saat itu diminta Ida Mpu Bekung agar mengambil emas itu.

Singkat ceritera, setelah beliaumengambil emas itu yang kemudian dibungkus sebesar kelapa besarnya, Ialu beliau memohon diri kepada Ida Sanghyang Basukih. Tidak diceriterakan perjalanan Ida Mpu Bekung, akhirnya tiba jugalah beliau di Griya Daha seraya membawa emas. Diketahui emas itu oleh putranya. Ida Bang Manik Angkeran yang gencar bertanya, meminta kepada ayahandanya agar diberitahu di mana memperoleh emas itu .

Ida Mpu Bekung sangat merahasiakan prihal kepergian beliau mendapatkan emas itu. Putra beliau tetap saja gencar mencari tahu. lalu Ida Mpu berkata kepada putranya. “Aduh ananda, jangan hendaknya ananda gencar bertanya seperti itu akan prihal ayah mendapat emas ini. Kalau ada keinginan ananda untuk mengambil, aya­handa berikan”. Walaupun demikian kasih sayang beliau kepada putranya, tetap saja Sang Bang memohon kepada ayahandanya untuk diberitahu di mana memperoleh emas itu. Karena tidak sampai hati dan rasa kasih sayang yang amat sangat, Ialu Ida Mpu memberitahukan prihal beliau mendapatkan harta itu.

Karena sekarang sudah memiliki emas, maka pergilah Ida Bang Manik Ang­keran bermain judi. Mungkin memang sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, sehari-harinya beliau selalu kalah berjudi. Akhirnya tidak sampai satu bulan habislah sudah emas yang diberikan ayahandanya dijual, dipakai modal di tempat perjudian.

Karena keadaaannya demikian, Ialu beliau berpikir keras, dan kemudian ingat beliau pada perjalanan ayahandanya mendapatkan emas itu, yang merupakan anugerah dari Bhatara di Tohlangkir. Segera beliau pulang, tapi secara diam-diam agar tidak diketahui ayahandanya, beliau bertolak menuju Tohlangkir seraya membawa susu Iembu, serta genta milik ayahandanya, Ki Brahmara.

Tidak diceriterakan perjalanannya, sampailah beliau di Tohlangkir, di depan gua. lalu beliau duduk mengheningkan cipta, memuja Dewa, seraya membunyikan genta.

Rupanya pemujaan beliau yang khusuk, serta diiringi dengan bunyi genta yang utama itu, membuat geger, keluar Bhatara Naga Basukih dari gua itu seraya berkata : ”Ah siapa anda ini datang, segera katakan !”.

Segera Ida Bang Manik Angkeran menyembah : ”Singgih paduka Sanghyang, hamba bernama Sang Bang Manik Angkeran. Hamba mengikuti jalan ayahanda hamba, menghaturkan sarinya susu Iembu ke hadapan paduka Sanghyang”. Demikian hatur beliau. Karena demikian, sangat sukacitalah perasaan Ida Bhatara Basukih. lalu diminumlah susu itu, setelah berganti rupa menjadi ular naga besar berwibawa, seraya meminum susu itu. Seusai meminum susu itu, bersabdalah beliau kepada Ida Bang Manik Angkeran : ”Ih, Sang Bang, sekarang apa yang kamu inginkan, apapun yang ananda minta akan kuberikan .”

Berkatalah Ida Bang Manik Angkeran : ”Singgih paduka Bhatara, hamba ber­maksud untuk memohon modal, nista sekali hamba berjudi, selalu kalah setiap hari “.

Saat itu Ida Bhatara Basukih mengambil emas, bagaikan sebutir kelapa besarnya, diberikan kepada Ida Bang Manik Angkeran, seraya bersabda : “Ambillah emas ini, segera ananda pulang, poma, poma”. lalu diambil emas itu, disertai sembah bhakti sekaligus memohon pamit ke hadapan Ida Bhatara Nagaraja.

Singkat ceritera, tibalah Ida Bang Manik Angkeran kembali di rumah di Griya Daha, menyimpan genta saja, Ialu beliau pergi Iagi untuk bermain judi. Atas kehendak Hyang Widhi, tidak sampai satu bulan, habis juga modalnya, itu sebabnya kembali beliau mengelana, berhutang di perjudian tidak dapat, meminjam tidak diberi. Karena itu, Ialu beliau mengambillagi genta milik ayahandanya, seraya mencari sarinya susu Iembu, dan menyungklit pedang yang bernama Ki Gepang, Ialu segera menuju Toh­Iangkir.

Setibanya beliau di Tohlangkir, Ialu beliau duduk seperti yang dilakukan sebe­Iumnya, mengheningkan cipta, memuja Dewa, serta membunyikan gentanya. Karena genta itu betul-betul genta utama, gegerlah Ida Sanghyang Basukih ke Iuar dari guanya seraya bersabda : ”Ah Sang Bang Manik Angkeran kiranya yang datang. Datang Iagi ananda membawa susu. Apa Iagi permintaanmu, katakan, semaumu akan kuberikan”.

Karena kewibawaan Ida Bhatara Basukih demikian mempesona dan menggetarkan perasaan, menjadi tak enak perasaan Ida Sang Bang, Ialu mengatakan tidak memohon apa-apa. Karena demikian kata Ida Sang Barlg, Ialu Ida Bhatara berganti rupa kembali menjadi ular naga yang besar, seraya meminum susu Iembu tersebut. Setelah menyantap susu Iembu itu, Ida Bhatara kembali ke gua .Karena beliau ber­badan panjang, ketika bagian kepala beliau sudah tiba di tempat peraduan, maka bagian ekor beliau masih berada di Iuar gua. Dilihat oleh Ida Bang Manik Angkeran ekor Ida Bhatara menyala karena di tempat itu terdapat intan besar dengan ber­bagai ratna mutu manikam beralaskan emas dan mirah yang menyala gemerlap. Ketika itulah muncul rasa angkara Ioba Ida Bang Manik Angkeran, disusupi oleh nafsu tamak untuk memiliki permata itu. lalu beliau menghunus pedang yang dibawanya, Ki Gepang, segera memenggal ekor Ida Sanghyang Nagaraja, sehingga terputus per­mata intan yang ada di bagian ekor yang segera diambil dan dilarikan oleh Ida Bang Manik Angkeran.

Karena demikian tingkah Sang Bang Manik Angkeran, tak terkira murkanya Ida Bhatara Nagaraja, sebab merasa ekor beliau terluka, Ialu beliau kembali berbalik ke Iuar gua. Dilihat oleh beliau busana beliau dilarikan oleh Ida Bang Manik Angkeran. Segera beliau menyemburkan api, yang mengikuti arah perjalanan Ida Bang Manik Angkeran yang kemudian terbakar habis menjadi abu. Tempat itu belakangan bernama Cemara Geseng dan menjadi Iokasi Pura Manik Mas Besakih. Sementara itu, di belakang hari,  pedang milik Ida Bang Manik Angkeran ditempatkan sebagai pusaka junjungan di Pura Dalem Lagaan, Bebalang, Bangli.

Diceriterakan Ida Mpu Bekung gundah perasaan beliau, karena putranya Iama tidak  pulang ke rumah. Desa-desa ditelusuri mencari putranya, namun tidak juga ditemukan. Segera beliau mengheningkan cipta. Karena kesaktian beliau, terlihat oleh beliau putranya sudah menjadi abu. Segera beliau pergi menuju Bali, Besakih yang ditujunya, berkehendak mengikuti perjalanan puteranya. Tidak diceriterakan di jalan, tibalah beliau di Besakih. Di sana beliau melihat onggokan abu, sementara sebuah genta berada di sebelah abu itu. Segera diketahui dengan jelas, bahwa genta itu adalah milik beliau yang bernama Ki Brahmara. Jelas sudah abu itu merupakan jasad putranya. Di sana beliau kemudian menumpahkan rasa duka-citanya, seraya berpikir-pikir, jelas meninggalnya Ida Bang Manik Angkeran disebabkan perbuatannya yang tak terpuji, disembur api oleh Ida Sanghyang Nagaraja. Kemudian diambilnya genta Ki Brahmara yang sakti itu.

Karena sudah jelas diketahui, maka beliau kemudian melanjutkan perjalanan berkehendak untuk menghadap Ida Sanghyang Basukih. Setibanya di depan gua, seperti sebelumnya, beliau kemudian duduk melakukan pemujaan utama memohon ke hadapan Ida Sanghyang Basukih.

Lama sudah beliau melakukan pemujaan. Lama beliau menunggu, tidak juga keluar Ida Sanghyang Basukih, disebabkan demikian besar amarahnya, ingat diper­daya oleh suara genta.

Itu sebabnya beliau Mpu Bekung melanjutkan Iagi pujastutinya dengan men­gujarkan Asta Puja, Basukih Stawa dan Utpeti, Stiti Mantra diiringi dengan suara genta beliau. Karenanya, barulah Ida Bhatara keluar dan dilihatnya Ida Mpu ada di sana yang kemudian merangkul, seraya menghaturkan sembah panganjali agar Ida Bhatara memberikan anugrah dan berkata : “Om paduka Bhatara, ampunilah anak hamba. Tahu betul hamba akan perbuatan anakku yang demikian tak berbudi dan tak terpuji. Bilamana berkenan, sudilah Bhatara menceriterakan perbuatan anak. hamba itu”. Lama Ida Bhatara berdiam diri. Mukanya cemberut, menunjukkan kekesalan per­asaannya yang tak terhingga. Namun, karena Ida Sang Mpu sudah memohon maaf dengan tulus dan suci, maka Ida Bhatara berkata perlahan. Menceriterakan segala perbuatan yang dilakukan Ida Sang Bang Manik Angkeran yang mengatakan diutus oleh Sang Mpu untuk menghaturkan susu Iembu, sampai akhirnya dihanguskan men­jadi abu oleh beliau.

Manakala Ida Mpu mendengar ceritera Ida Bhatara, meleleh air mata Ida Sang Mpu Bekung, dan sesudah Ida Bhatara selesai bersabda, beliau kemudian kembali menghaturkan sembah seraya berkata : “Singgih pukulun paduka Bhatara, demikian besar memang dosa anakku itu, namun            rupanya dia sudah menjalani kematian, habis sudah dosanya.lnggih, hamba sekarang memohon anugerah pukulun Bhatara, sudilah kiranya paduka Bhatara menghidupkan kembali Manik Angkeran, karena dialah anak hamba satu-satunya, sebagai pewaris-keturunan yang akan melanjutkan keberadaan hamba kelak. Bilamana dia nanti hidup kembali, hamba akan menyerah­kan dirinya kepada paduka Bhatara, agar menghamba di sini sampai kelak kemudian hari”.

Mendengar hatur Ida Sang Mpu Bekung sedemikian itu, merasa sedikit malu Ida Bhatara seraya bersabda : ”Ah, Sang Mpu, bila demikian permintaanmu, aku dengan suka rela menghidupkan anakmu, namun agar sudi kiranya Sang Mpu menyambung kembali ekorku”.

Lalu menyembah Mpu Bekung : ”Singgih paduka Sanghyang, bila demikian keinginan paduka, hamba bersedia untuk menyambung kembali ekor paduka Bhatara. Namun, sebelumnya, maafkanlah, hamba berani berhatur sembah, bilamana paduka Bhatara berkenan, permata intan yang sebelumnya berada di ekor paduka, sebaiknya ditempatkan saja di bagian mahkota paduka Bhatara, karena akan nampak sangat mahautama, dan pula mereka yang jahat tidak akan tergoda untuk ingin memilikinya. Dan juga bilamana masih di bagian ekor, di samping terlihat nista, juga membuat paduka Bhatara tidak bisa terbang karena keberatan di bagian ekor”.

Demikian sukacita perasaan Ida Sanghyang Nagaraja tatkala mendengar hatur Ida Mpu Bekung. Setelah usai bertemu wirasa, Ialu Sang Mpu melaksanakan yoga samadhi menghaturkan puja mantra, menyatukan bathin beliau memuja Ida Bagawan Wiswakarma sebagai Dewanya sangging dan undagi (pekerja khusus bangunan tra­disional) di Sorga.

Seusai sempurna pujastuti serta permohonan beliau, segera beliau membuat gelung mahkota, dengan hiasan candi kurung, garuda mungkur, dengan anting­anting, bergundala dan memakai sekar taji. Demikian indahnya memang kalau dilihat.

Singkat ceritera, selesai sudah gelung agung itu, kemudian dipakai oleh Ida Bhatara. Memang, demikian menakjubkan. Nampak semakin mempesona prabawa Ida Bhatara, dan juga beliau sekarang bisa terbang. Demikian sukacita hati Ida Bhatara Nagaraja. Karena itu, segera pula Ida Bhatara menghidupkan jasad Sang Bang Manik Angkeran, didahului dengan pujastuti weda mantra. Perlahan, Ida Sang Bang Manik Angkeran bangun, seperti baru habis tidur Iayaknya, hidup seperti semula, dan ketika sadar, beliau cepat Iari. Tempat itu kemudian bernama Pura Bangun Sakti. Segera Ida Sang Bang diikuti oleh ayahandanya, kemudian dipegang dan diajak untuk meng­hadap Ida Bhatara Hyang Basukih. Sesuai perjanjian, maka Ida Sang Bang Manik Angkeran dihaturkan kepada Ida Bhatara untuk mengabdi di Basukih sampai kelak di kemudian hari.

Demikian sukacitanya beliau berdua, karena semuanya sudah berhasil, dise­babkan kesaktian beliau masing-masing. Ida Sang Nagaraja sudah menghidupkan kembali Ida Sang Bang Manik Angkeran. Juga Ida Mpu Bekung demikian saktinya bisa menyambung kembali ekor Ida Bhatara Nagaraja. Ida Mpu Bekung kemudian menghaturkan sembah terimakasih kepada Ida Sanghyang Basukih. Ida Sanghyang Basukih kemudian bersabda : “Duh, Mpu Bekung, memang demikian saktinya anda ini. Pantas anda bergelar Siddhimantra, demikian sakti dan makbulnya japa-mantra anda. Sejak sekarang, tidak Iagi Mpu Bekung nama anda, namun Danghyang Sid­dhimantra nama anda sang pandita. Silahkan, pulanglah sahabat karibku, semoga Dirgahayu, panjang usia anda !” Ialu Ida Sanghyang Nagaraja terbang menuju Sor­galoka. Sejak saat itu Ida Mpu Bekung bergelar Danghyang Siddhimantra.

Sebelum Ida Danghyang Siddhimantra kembali ke Griya Daha, tidak Iupa beliau memberikan petuah kepada putranya Ida Sang Bang Manik Angkeran : ,, Uduh mas juwita permata hati ayah, engkau anakku Manik Angkeran. Ananda akan ayah tinggal sekarang ini. Sebab ayahanda akan kembali ke Jawa. I Dewa akan ayah­anda haturkan kepada Ida Sanghyang Basukih, sesuai dengan janji ayah kepada Ida Bhatara. Mungkin ananda belum jelas tahu prihal keberadaan ananda sendiri yang sebelumnya dihanguskan oleh Ida Bhatara sampai habis menjadi abu, disebabkan karena marah beliau tak terhingga, prilaku ananda sungguh tak terpuji, memenggal ekor Ida Bhatara. Lalu ayahandamu ini memohon kepada Ida Bhatara, agar beliau dengan senang hati menghidupkan kembali ananda, dengan janji, kalau ananda bisa hidup kembali, ananda akan ayah haturkan kepada Ida Bhatara untuk men­gabdi di sini di Besakih. Selain itu, kalau ananda kembali ke Jawa, jelas prilaku ananda akan kembali seperti yang sudah-sudah, sebab Iingkungan ananda di sana sudah sedemikian rupa. Diamlah dan tinggal ananda di sini, ayahanda akan kembali ke Jawa. Jangan ananda salah terima dan salah paham, sebab sebenarnya, prihal perasaan ayahanda dan kasih sayang ayahanda kepada ananda, tidak pernah kurang sejak dahulu sampai kapanpun. Ada petuah ayahanda ini yang sangat penting, agar diteruskan dharma bhakti ananda ke hadapan Ida Bhatara di sini di Tohlangkir, Besakih. Jangan sampai menurun, sebab kalau demikian, menjadi ingkar ayahanda dengan janji ayahanda, sangat nista disebut orang. Kemudian ada Iagi nasehat ayahanda, sebab ananda sudah pernah pralina atau wafat menjadi abu, kemudian disucikan menjadi hidup kembali, hidup untuk kedua kalinya, ber -dwijati namanya, sekarang ananda berwewenang menjadi pendeta, agar ananda senan­tiasa menyelenggarakan, mengatur dan memimpin penyelenggaraan segenap upa­kara dan upacara di sini di Besakih. Juga agar ananda mengatur semua masyarakat umat di seluruh Bali, agar semakin meningkat bhakti dan sradha-imannya, kepada Ida Bhatara serta kepada sthana Ida Bhatara semuanya”.

Ida Sang Bang Manik Angkeran mengiakan semua yang disampaikan oleh ayahandanya. Di samping petuah tersebut, Ida Sang Bang juga diberikan pengeta­huan suci yang memberikan wewenang Ida Sang Bang untuk mengucapkan weda mantra, menyelesaikan upacara, di samping diberikan pengetahuan kerohanian dan kebathinan yang tinggi.

Seusai Ida Sang Bang Manik Angkeran mendapat pengetahuan suci dan ker­ohanian, beliau ditinggal oleh ayahandanya yang kemudian melakukan perjalanan pulang kembali ke Jawa.

Tidak diceriterakan perjalanan beliau, tibalah beliau di tanah sempit – tempat perbatasan antara Jawa dan Bali. Di sana beliau termenung-menung, teringat beliau akan kelakuan putranya yang tak senonoh. Itu sebabnya timbul kekhawatiran dalam perasaan beliau, seandainya Ida Sang Bang Manik Angkeran kembali Iagi ke Jawa, sehingga beliau berkeinginan mengupayakan bagaimana caranya agar putranya tidak bisa Iagi kembali, sebab janji beliau sudah demikian pasti. Itu sebabnya kawasan itu akan dirubah agar menjadi Iaut. Di sana kemudian beliau menggelar yoga sama­dhinya. Menyatukan bathinnya, memuja Bhatara di pegunungan agar berkenan dan tidak beliau menjadi kualat. Sudah bersatu pikiran beliau dan juga sudah mendapat­kan ijin anugrah, Ialu tanah sempit itu digores dengan tongkat beliau. Bergetar dengan dahsyat kawasan Bali dan Jawa, Iindu dan gempa terjadi, kilap dan halilintar bertubi-tubi ! Terpisah dan putuslah kawasan Bali dengan Jawa ! Laut memisahkan ked­uanya ! Lalu Iaut itu dinamakan dengan Segara Rupek. Tidak terhingga sukacita Ida Danghyang Siddhimantra, karena yakin putranya tidak akan bisa kembali Iagi ke Jawa. Kemudian beliau kembali pulang ke Griya Daha di Jawa.

diceriterakan keberadaan Ida Bang Manik Angkeran di Besakih. Beliau membuat pasraman di sebelah Utara Gua, sekitar 300 depa jaraknya dari Gua itu. Pekerjaan beliau sehari-hari melaksanakan tapa brata yoga samadhi, serta menjaga kebersihan dan kesucian kawasan Pura Besakih. Tak sekalipun beliau Ialai. Prilaku beliau berbeda benar jika dibandingkan dengan sebelum beliau wafat dibakar oleh Ida Bhatara Nagaraja. Beliau melaksanakan Kadharman, mengikuti ajaran dan prilaku seorang pendeta pura yang suci. Setiap hari beliau menggelar Surya Sewana, memuja Sanghyang Parama Wisesa.

Suatu ketika tatkala hari suklapaksa-pananggal – menjelang purnama, beliau bermaksud untuk membersihkan diri dengan mandi di Toya Sah, Besakih. Setelah membersihkan diri, berkeinginan beliau berjalan-jalan meninjau kawasan Besakih. lalu terlihat oleh beliau seorang Iaki-Iaki tua sedang bekerja di Iadang, member­sihkan padi gaga, membersihkan rumput dan menyiangi. Orang tua itu bernama Ki Dukuh Belatung yang demikian saktinya, namun tindak-tanduknya bagaikan anak kecil, senang dipuji serta senang pamer. Baru dilihat seseorang datang ke tempat beliau dan menyaksikan beliau bekerja, keluarlah keisengannya untuk pamer, sengaja berhenti bekerja kemudian menaruh alat siangnya dan melompat, duduk di atas alat itu seraya mengambil sirih dan melumatkan sirih itu di atas alat siang tadi.

Pikir Ki Dukuh ingin supaya yang baru datang menjadi kagum. Namun Sang Bang Manik Angkeran malahan menjadi sangat jengkel melihat aksi pamer Ki Dukuh, karena jelas maksudnya untuk mencoba diri beliau. lalu, dihampirinya Ki Dukuh seraya berkata : ”Ih Bapak, kalau begini cara Bapak bekerja, sepertinya bermain-main, sebanyak apa yang bisa Bapak hasilkan?”.

Lalu berkata Ki Dukuh sedikit gugup : ”Siapa pula anda yang bertanya ? Kok rasanya Bapak tidak  tahu ?”.

Berkata Ida Bang Manik Angkeran : ”Ah saya ini Sang Bang Manik   Angkeran, putra beliau Mpu Bekung dari tanah Jawa. Namun saya ini sekarang menghamba kepada Ida Bhatara di Besakih, menjadi tukang sapu”.

Berkata Iagi Ki Dukuh : ”Tidak mengerti saya, kalau demikian halnya. Sebab janggal keberadaan sang brahmana seperti itu. Baru sekarang saya mendengar orang bekung (tidak punya anak) memiliki putera. Dan Iagì ada brahmana menjadi tukang sapu, kalau tidak anda ini brahmana hina”.

Sedikit marah Sang Bang berkata : ”Ih Bapak, jangan berbicara sembarangan! Ayah saya memang bekung, namun karena kesaktian beliau, berhasil beliau mengadakan putera. Saya ini memang benar putra seorang Mpu, bukan brahmana hina. Serta saya berhak diperintah oleh Ida Bhatara, walaupun pekerjaan yang diperintah­kan itu menyapu, itu juga pekerjaan utama, kalau sudah Ida Bhatara yang memerin­tahkan. Sekarang saya balik bertanya. Kakek ini siapa, serta dari golongan apa ?”

Berkata Iagi Sang Bang, masih perasaannya jengkel : “Ih Bapak Dukuh, saya bertanya  Iagi. Itu ada sampah bertimbun. Akan Bapak bagaimanakan ? Tidak akan Bapak bersihkan ?”

“Wah, ini benar-benar brahmana aneh”. Ki Dukuh menjawab agak marah, “Apa Iagi dipakai membakar, kalau bukan api. Lalu kalau Ida Bagus apa yang dipakai mem­bakar ?”.

“Wah, “demikian Sang Bang menjawab seperti mencibir, “kalau Bapak Dukuh masih membakar sampah dengan memakai prakpak – daun kelapa kering- jelas tidak benar Bapak Dukuh tahu dengan falsafah pengetahuan Tri Agni, yang berada di dalam diri sebenarnya. Kalau saya, melalui air kencing saya saja sampah ini akan terbakar tidak bersisa”.

Tatkala didengarnya kata Ida Sang Bang demikian itu, menjadi terhenyak Ki Dukuh, berdiam diri, seraya Iama termenung, kemudian menghaturkan sembah : “Singgih, Ratu Sang Bang, kalau benar seperti perkataan I Ratu, bisa membakar sampah ini dengan air kencing I Ratu, hamba akan menghaturkan diri, serta semua milik hamba beserta rakyat, serta pula anak hamba akan hamba serahkan semuanya kepada Cokor I Ratu “.

Usai Sang Bang mendengar hatur Ki Dukuh, menjadi pulih kembali perasaan beliau. lalu beliau berkata perlahan : “Nah, kalau benar seperti perkataan Bapak, saya akan memperlihatkan bukti. Namun agar semuanya sanggup datang dan hadir, serta disaksikan oleh Ida Sanghyang Triyodasa Saksi”.

 “Jangan sekali-kali I Ratu ragu. Memang dari Iubuk hati hamba yang ihklas, tidak akan ingkar dengan janji”. Demikian hatur Ki Dukuh.

“Nah, kalau begitu, ke sana Bapak pulang, beritahu sanak keluarga serta rakyat Bapak agar datang manakala saya memberikan bukti di hadapan Bapak” Demikian perjanjian Ida Sang Bang Manik Angkeran.

Setelah selesai janji itu, Ki Dukuh Ialu memberitahukan kepada anak, isteri serta keluarganya, perihal janjinya kepada Ida Bang Manik Angkeran, serta imbalan yang dimasukkan ke dalam janji itu sebagai taruhan. Yang mendengar semuanya sama-sama paham di dalam hatinya menjadi taruhan.

Tersebutlah pada hari yang telah disepakati, pagi-pagi hari Ida Sang Bang sudah membersihkan diri dengan mandi di Tirtha Mas, serta kemudian melakukan yoga samadhi memuja Sanghyang Agni agar memberikan anugrah. Setelah melaku­kan yoga dan samadhi, Ialu beliau berjalan menuju tempat tinggal Ki Dukuh.

Setelah dekat dengan tempat Ki Dukuh, nampaknya semuanya Iengkap hadir, Ki Dukuh dengan isterinya, keduanya memakai pakaian putih-putih, ditemani dengan anak dan kerabatnya, hanya tinggal menunggu kedatangan Ida Sang Bang. Setelah tepat benar matahari di atas kepala, Ialu beliau menuju tempat sampah yang ber­timbun, di sana beliau mengheningkan cipta-mamusti, menyatukan pikirannya, men­egakkan keteguhan bathin Iaksana Gunung Mahameru. Tidak berapa Iama, matang sudah yoga beliau, seraya mengeluarkan air kencing di sampah itu. Dan sekejap air kencing itu menjadi api yang menyala-nyala, berkobar. Terbakar semua sampah kebun di tempat itu, hampir-hampir terbakar seluruh hutan di sana.

Keadaan itu dilihat oleh Ki Dukuh serta semua iringannya, sangat kagum mereka pada kesaktian Ida Sang Bang. Ki Dukuh merasa kalah, namun sekaligus merasa untung, karena merasa mendapatkan jalan baik untuk pulang ke Sorgaloka. Tatkala api itu bekobar, saat itu pula Ida Sang Bang Manik Angkeran membelokkan ujung api itu ke arah timur Iaut. lalu beliau berkata kepada Ki Dukuh : ”Bapak Dukuh, saya memberi bekal Bapa dengan ganten. Turuti asap itu ke arah timur Iaut”.

Saat itu Ki Dukuh menemukan jalan baik seraya melihat ada Meru berting­kat II (sebelas). Ki Dukuh menuju api itu serta mengheningkan cipta dengan sikap angeranasika-mengheningkan cipta dengan melihat hidung, Ialu beliau melompat ke tengah-tengah api yang sedang memuncak kobarannya itu. Ki Dukuh naik moksa seiring dengan asap yang mengepul tinggi itu serta kemudian tidak nampak Iagi. Keadaan itu diikuti oleh isteri Ki Dukuh yang memakai kerudung dan berkain putih, kemudian mamusti, selanjutnya melompat juga ke api, sebagai tanda setia bhakti kepada suami serta berkeinginan juga menemui jalan terbaik menuju Sorga. Beliau berdua pulang ke Nirwana, melalui jalan ke Sorgaloka yang utama, serta juga ber­dasarkan sasupatan -penyucian oleh Ida Bang Manik Angkeran, yang telah men­jadi pendeta yang bijak. Sejak saat itu Ki Dukuh Sakti dikenal dengan gelaran Dukuh Lepas atau Dukuh Sorga. Lama kelamaan tempat Ida Sang Bang Manik Angkeran bersengketa dengan Ki Dukuh Sakti itu dinamai Gumawang.

Sekarang diceriterakan yang masih hidup. Sesudah Ki Dukuh Sakti meninggal, semua milik Ki Dukuh serta rakyat se kawasan Desa Bukcabe, diserahkan kepada Ida Sang Bang, termasuk putri beliau yang merupakan seorang dara yang bijak, cantik tiada bandingnya, bernama Ni Luh Warsiki. Kedua beliau itu sama-sama saling men­cintai, disebabkan yang satunya merupakan seorang jejaka yang tampan bersanding dengan seorang dara yang jelita. Kemudian diselenggarakan Upacara Perkawinan. Setelah upacara selesai, Ialu keduanya kembali ke Pasraman di Besakih. Sesampai di Tegehing Munduk-tempat ketinggian, Ni Luh Warsiki menoleh ke tempat bekas sampah dibakar, terhenyak beliau, Ialu menangis, teringat akan ayah ibunya yang sudah berpulang. Beliau tidak mau melanjutkan perjalanan sebelum pulih perasaan beliau. Rakyat beliau kemudian membuatkan tempat beristirahat di sana. Lama kelamaan tempat itu dikenal dengan nama Munduk Jengis.

Diceriterakan kemudian rakyat semuanya sangat gembira pada perasaan mereka, disebabkan sekarang mereka memiliki pujaan yang tampan serta sakti, pintar, bijaksana serta dibya caksu-memiliki kesaktian bisa melihat kejadian tanpa melihat Iangsung.

Setelah Iama beliau berdua bersuami isteri saling mencita, saling mengasihi, maka Iahirlah seorang putra Iaki-Iaki, rupanya tampan serta memiliki prabawa yang agung dinamai Ida Wang Bang Banyak Wide.

 Tidak terasa berapa tahun Iamanya beliau bersuami-isteri, tatkala hari Pur­nama bulan kesepuluh, Ida Sang Pendeta keluar dari pasraman, membawa tempat air serta seperangkat alat untuk mandi. Memang sudah menjadi kebiasaan beliau, setiap hari baik atau pada hari Purnama- Tilem, selalu beliau bepergian ke Tirtha Pingit untuk mandi. Beliau berjalan naik perlahan sebab merasa senang beliau meli­hat segala bunga yang tumbuh di tepi jurang, serta pula di berbagai tempat di daerah Besakih. Banyak jenis bunganya serta beraneka rupa warnanya. Demikian senang perasaan Ida Sang Pendeta melihat keadaan seperti itu, sampai beliau menggumam bagaikan berbincang dengan bunga itu semua.

Setelah beliau memasuki hutan, terdengar oleh beliau suara burung semakin ramai saling bersahutan, Iaksana menyambut kedatangan Sang Pendeta. Beraneka macam memang suara burung itu. Semua itu menambah gembira hati sang pendeta. Tahu-tahu beliau sudah berada dekat dengan tempat Tirtha Pingit yang akan dituju.

Tiba-tiba beliau berhenti. Karena terlihat oleh beliau seorang wanita sudah ada Iebih dahulu di tempat air suci itu, kemungkinan juga akan mandi. Beliau Sang Pendeta Ialu memperhatikan wanita itu. Demikian cantiknya serta berwibawa wanita itu. Kemu­dian beliau merasa-rasa. Sepertinya beliau sudah pernah bertemu dengan wanita itu, namun tidak ingat Iagi beliau, di mana, siapa gerangan wanita itu. Ingat Iagi, kemudian Iupa kembali. Tatkala itu, wanita itu juga diam menunduk, sepertinya acuh.

  Setelah agak Iama mengingat-ingat, juga tidak bisa beliau mengingat, maka didekatinya wanita itu, seraya menyampaikan pertanyaan : ”Inggih, tuan puteri yang bijak, siapakah gerangan tuan puteri ini, kok sendiri di tengah hutan begini. Dari mana tuan puteri, apakah tuan puteri benar manusia, apa -wong samar- orang maya, atau­ kah Dewa ?”

Menjawab wanita itu : ”lnggih Sang Pendeta, yang sangat bijaksana, hamba ini bukanlah manusia maya, dan juga bukan manusia”.

”Kalau demikian, sebenarnya tuan puteri bidadari ?”.

”Ya, benar sekali seperti yang Sang Pendeta katakan, hamba memang bidadari dari sorga”.

”Aduh, sudah hamba sangka, tentu tuan puteri adalah Bidadari, karena kagum benar hamba melihat kecantikan paras tuan puteri”.

”Inggih, memang demikian Sang Pendeta. Kalau wanita, kecantikannya yang menyebabkan orang itu kagum. Kalau Iaki-Iaki jelas kebijaksanaan dan keperwiraan­nya yang membuat orang kagum serta bertekuk Iutut di kakinya”. Demikian kata Sang Bidadari.

Ketika mendengar perkataan Sang Bidadari sedemikian itu, seperti terkena sindiran Sang Pendeta. Seraya menyembunyikan rasa gugupnya, Ialu beliau berkata: ”Apa yang mungkin tuan puteri cari, datang ke sini di tengah hutan seorang diri ?”

Menjawab Sang Bidadari : ”Tidak ada yang hamba cari. Kedatangan hamba ke sini, hanya bersenang-senang”.

”Apa yang menyebabkan tuan puteri datang ke sini untuk bersenang-senang. Masakkah di Sorga kurang tempat yang indah untuk bersenang –  senang ?”

Ya, memang demikian Sang Pendeta. Di Sorga, memang tidak kurang tempat yang indah. Tetapi sebenarnya sekali, yang membuat hati ini senang, tidak tempat yang indah saja, namun senang atau sedih, suka atau duka, hanya ter­gantung pada hati perasaan kita masing-masing. Kalau seperti hamba, sekarang ini, hanya tempat ini yang paling indah, yang bisa memberikan kesenangan pada perasaan hamba. Sebenarnya Sang Pendeta, bagaikan ditarik hati hamba, jadi berke­inginan hamba untuk datang ke mari, mungkin ada sesuatu hal yang sangat indah di sini”.

Lagi seperti dikenai sindiran, sampai Sang Pendeta menjadi makin gugup, Ialu kemudian beliau berkata Iagi : “Memang betul tuan puteri datang dari Sorga, sangat pintar dan bijak tuan puteri berkata, semakin menjadi kagum hamba kepada tuan puteri”.

“Janganlah berkata demikian Ratu Sang Pendeta. Terlalu banyak I Ratu memuji diri hamba. Sebenarnya sekali, hamba masih terlalu muda”. Demikian Sang Bidadari segera menjawab.

Setelah Iama berbincang-bincang serta keduanya merasa di hati masing­ sudah akrab serta bersemi Iagi rasa cinta, Ialu beliau Sang Pendeta memaksakan dirinya untuk berkata : “Duh Dewa Sang Bidadari, perkenankanlah hamba memohon maaf, kalau-kalau perkataan hamba tidak berkenan di hati, karena tidak bisa sama sekali hamba akan menghentikan perasaan hamba yang mungkin bisa dikatakan kurang baik, namun bisa juga disebut baik sekali”.

Lalu menjawab Sang Bidadari : “Silahkan Sang Pendeta, apa yang akan tuan sampaikan. Hamba bersedia untuk mendengarnya. Jangan Iagi Sang Pendeta merasa ragu dan khawatir”.

Berkata Sang Pendeta : “Duh, Dewa, terlebih dahulu hamba menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas anugerah Tuan Puteri. Pendek kata hamba ingin mengatakan, jangan sekali Tuan Puteri marah, mudah-mudahan Tuan Puteri berkenan. Ya, begini, diri hamba akan hamba serahkan ke hadapan Tuan Puteri. Namun karena hamba belum bisa ikut ke Sorgaloka mengikuti Tuan Puteri, kalau berkenan, Tuan Puteri akan hamba ajak di sini di dunia, di kawasan Besakih ini, meng­hamba dan mengabdi kepada Ida Bhatara di sini”.

Menjawab Sang Bidadari : “Ya kanda, sebelum hamba menjawab keinginan kanda tersebut, berikan saya menceriterakan terlebih dahulu perihal kita berdua tat­kala berada di Kendran. Sebenarnya, dahulu, sebelum kanda diutus untuk turun ke dunia ini, atas permohonan Ida Danghyang Siddhimantra, dinda sudah memiliki hubungan-bertunangan dengan kanda. Namun setelah kanda turun ke Marcapada ini, dinda masih sendirian berada di Sorgaloka. Lama dinda menunggu kedatangan kanda, tidak juga kanda datang. Itu sebabnya dinda sekarang turun ke dunia mengikuti jejak kakanda, agar bisa segera bertemu dengan kakanda, menyatukan tali asih yang sudah bersemi di Sorgaloka. Karena itu, kalau memang benar ada maksud kakanda akan bersatu dengan dinda, dinda tidak Iagi berpanjang kata, dinda bersedia mendampingi kanda, walaupun di sini di dunia, semasih kakanda berada di sini”.

Setelah mendegar perkataan Sang Bidadari demikian itu, merasa gugup dan terhenyak perasaan Ida Sang Pendeta. Namun di Iain pihak merasa gembira perasaan beliau, seraya berkata : ”Duh, permata hati kanda, I Dewa, dindaku, barang­kali memang betul sekali apa yang dinda katakan baru saja, kanda juga merasa-rasa dengan perihal itu. Namun terasa sangat samar hal itu. Sekali Iagi kanda ingin menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya, karena demikian besar kesetiaan dinda kepada kanda, sampai-sampai dinda mau turun ke dunia ini, meninggalkan semua keindahan yang ada di Sorgaloka. Ya, kalau demikian, kanda sanggup, agar kanda bisa bersama dengan dinda sampai kelak di kemudian hari, ke mana pergi dinda, kanda akan ikut. Namun demikian ada yang kanda ragukan dalam hati kanda, perihal keadaan dinda akan menetap di dunia ini bersama kanda, apakah tidak akan mem­buat ribut di Sorgaloka, ke sana kemari para Dewa mencari dinda. Itu yang sangat kanda khawatirkan di hati, agar tidak karena kanda yang menyebabkan dinda mene­mui kesulitan, apalagi dinda sudah demikian berkenan memberikan anugerah kepada kanda”.

Menjawab Sang Bidadari dengan senyum manis : “Ya kanda, memang sepan­tasnya kanda memikirkan keadaan dinda. Namun jangan kanda merasa khawatir. Sebab dinda sudah memohon pamit kepada Ida Bhatara serta keIuarga dinda semuanya di Sorga, serta dinda sudah mendapatkan ijin dari Ida Bhatara. Memang benar dinda sedikit bersikeras memohon diri kepada Ida Bhatara, karena janji Ida Bhatara dahulu, konon kanda hanya sebentar saja diutus turun ke sini ke dunia. Namun, sesudah kanda selesai diruwat Ida Sang Nagaraja, seyogyanya kanda sudah kembali pulang ke Sorga. Memang kanda sudah dapat pulang sekejap, namun karena keras permohonan Ida Sang Nagaraja, yang sudah berjanji kepada Ida Danghyang Siddhimantra, ayah kakanda, Iagi pula memang kebetulan ada Iain pekerjaan yang harus kanda selesaikan di sini, jadi hambalah yang dikalahkan. Kanda dikembalikan Iagi ke dunia. Karena dinda tidak mau ditinggalkan oleh kanda sedemikian Iama, jadi dinda menghadap Ida Bhatara, memohon agar dinda diperkenankan turun ke dunia ini, mengikuti perjalanan kanda. Mungkin permohonan dinda dianggap pantas, itu sebabnya dinda diberi ijin untuk mohon pamit serta diberikan wara nugraha untuk bisa turun seperti ini ke dunia, tidak Iagi menjalani hal yang sudah Iazim, yakni menjelma sejak bayi seperti kelahiran kanda dahulu. Sebab bila demikian prihalnya, jelas tidak bisa dinda bertemu dengan palungguh kanda, seperti sekarang”.

Memang demikian kagumnya beliau Sang Pendeta pada kadibyacaksuan ­wawasan Sang Bidadari, kemudian beliau bertanya kembali : ”Jadi, kalau demikian halnya, semua perbuatan Kanda di dunia ini sudah dinda ketahui ?”

”Ya, semua dinda ketahui”.

Baru demikian Sang Bidadari berkata, menjadi merah muka Ida Pendeta akibat malunya. Hal itu diketahui oleh Sang Bidadari. Lalu, seraya tersenyum, Sang Bidadari melanjutkan : ”Namun semua itu merupakan titah atau kehendak dari Ida Bhatara di Sorgaloka. Kanda hanya melaksanakan. Kalau kanda tidak dijadikan anak yang durhaka, tidak bisa kanda akan nyupat– meruwat Ida Sang Nagaraja, sebab tidak Ialu kanda memenggal ekor beliau yang menjadi tempat berkumpulnya angkara. Namun, beliau Sang Nagaraja tidak berhutang supata kepada kanda, karena beliau sudah pula nyupat-menyucikan diri kanda, beliau melebur badan jasmani-stula sarira kanda yang banyak berisikan dosa, kemudian diganti oleh beliau dengan badan jasmani baru seperti sekarang ”.

Sang Bidadari berhenti sebentar, kemudian melanjutkan Iagi : ”Dinda Ianjut­ kan sedikit Iagi. Begini, perihal beliau Ki Dukuh Blatung. Memang beliau sangat sakti, matang sekali dalam hal yoga samadhi. Namun ada kekurangan beliau sedikit. Yaitu, beliau sedikit tìnggi hati dan senang pujian. ltu sebabnya beliau bersedia dìruwat pada api yang keluar dari air kencing kanda. Namun sebenarnya, hal itu merupakan kehendak Ida Bhatara, sebab kalau Ki Dukuh tidak tinggi hati, dan senang pujian, tidak berhasil kanda akan memperlihatkan kesaktian membakar sampah di hutan dengan memakai air kencing, yang menjadi jalan Ki Dukuh untuk moksa. Sebab kalau kanda yang Iangsung bertindak Iebih dahulu, jadi kanda akan dianggap mendahului dan ber­Iaku kurang senonoh. Kesaktian yang kemudian memunculkan hal yang tidak baik, jelas akan hilang keutamaannya”. Demikian kata-kata Sang Bìdadari.

Menjadi semakin kagum Sang Pendeta. Merah warna paras muka beliau sudah sirna. Beliau kemudian berkata dengan manis : ”Ah, muda-mudanya mereka yang ada di Sorgaloka, Iebih bijaksana jika dibandingkan dengan yang ada di dunia. Ya, kalau demikian halnya, menjadi tenang dan hening hati kanda tanpa ganjalan Iagi sekarang. Sekarang, kanda temani dinda menuju Pasraman. Namun jangan sekali disa­makan keadaan di sini dengan di Sorga”.

Cepat berkata Sang Bidadari : ”Janganlah itu Iagi disinggung. Bisa bertemu dengan kanda seperti ini saja, dinda sudah sangat dan Iebih bahagia dibandingkan dengan di Sorgaloka”.

Singkat ceritera, pada akhirnya bersuami-isterilah Ida Sang Pendeta dengan Sang Bidadari, kemudian mengadakan putera Iaki seorang, tampan, berprabawa cerdas, mengagumkan sekali walaupun masih bayi, dinamai Ida Wang Bang Tulusdewa.

Semakin Iama, kawasan Bukcabe, Besakih, Tegenan serta Batusesa, semakin subur makmur, tiada kurang makan dan minum. Itu sebabnya semakin bhakti rakyat di sana kepada Sang Pendeta. Diceriterakan di kawasan Besakih, ada pendamping Ida Sang Pendeta, sebagai pemuka warga Pasek di sana yang bernama Ki Pasek Wayabiya. Beliau sangat bhakti kepada Sang Pendeta, Danghyang Bang Manik Angkeran, karena anugerah beliau memberikan pelajaran tatwa, pengetahuan serta kaparamarthan-kebathinan kepada Ki Pasek. Itu sebabnya Ki Pasek menghaturkan puterinya yang bernama Ni Luh Murdani, seorang wanita yang cantik jelita, sebagai tanda pengikat bhakti beliau kepada Ki Pasek sekeluarga sampai kelak di kemudian hari. Beliau Sang Pendeta tidak menolak keinginan Ki Pasek Wayabiya.

Dengan demikian sudah tiga orang Sang Pendeta memiliki isteri, semuanya menjadi wikuni -pendeta wanita yang sangat fasih dengan weda mantra serta pula melaksanakan tapa brata yoga samadhi. Dari isterinya -Ni Luh Murdani, Iahir seorang putera Iaki-Iaki, yang juga berprabawa agung, tampan, dinamai Ida Wang Bang Wayabiya atau Ida Wang Bang Kajakauh.

Bagaikan Brahma, Wisnu, Iswara rupa putra beliau bertiga : Ida Bang Banyak Wide, Ida Bang Tulusdewa miwah Ida Bang Wayabiya.

Singkat ceritera, semua puteranya itu meningkat dewasa. Karena memang putera orang yang bijak, maka ketiga putranya itu sangat setia dan akrab bersaudara, serta sangat berbakti kepada ayah bundanya. Semuanya pandai, karena segala yang dikatakan oleh ayah-bundanya berisikan Kadharman serta Kawicaksanaan. Isi dari Sanghyang Kamahayanikan, Sanghyang Sarasamuscaya dan Manawa Dharmasas­tra, sudah ditekuni dan dilaksanakan. Serta tidak ingkar kepada isi dari Tri Ratna dan Asta Marga Utama. Serta oleh Sang Pandita, putranya diberikan nasehat mengenai Putra Sasana dan Tri Guna serta Tri Rna. Pendeknya segala ilmu filsafat yang baik­-baik ditekuni oleh Sang Tiga.

Selain dengan memberikan nasehat kepandaian, kebijaksanaan kepada para putera itu, Sang Pendeta juga sering melakukan perjalanan ke desa-desa memberikan nasehat dan petuah keagamaan serta ilmu kebathinan kepada masyakarat banyak. Itu sebabnya, kelak di kemudian hari beliau dibuatkan sthana-palinggih di pura-pura, sebagai bukti sujud bhakti masyarakat kepada beliau.

pada suatu hari. Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran berjalan menuju ke arah barat laut, ke arah tempat kediaman Ki Dukuh Murthi. Tidak diceriterakan di jalan, sampailah beliau di hutan Jehem, kemu­dian, menuju Padukuhan, dan berjumpa dengan Ki Dukuh Murthi. Keduanya kemu­dian berbincang-bincang mengenai mertua Sang Pendeta yakni Ki Dukuh Belatung yang sudah moksa. Ki Dukuh Murthi memang bersaudara dengan Ki Dukuh Belatung. Pada saat itu Ki Dukuh Murthi memiliki seorang anak wanita yang sangat cantik ber­nama Ni Luh Canting. Putrinya itu dipersembahkan oleh Ki Dukuh kepada Sang Pen­deta, sebagai haturan utama yang tulus iklhas, bukti besar bhaktinya Sang Dukuh kepada Sang Pendeta, sebagai pengikat hingga kelak di kemudian hari. Beliau Sang Pendeta sangat mencintai dan mengasihi Ni Luh Canting, serta bertemu cinta didasari rasa kasih sayang yang suci. Namun karena ada pekerjaan yang sangat mendesak, serta didatangi oleh warga desa-desa Iain untuk memberikan pelajaran pengetahuan keagamaan, tergesa-gesa beliau meninggalkan Ni Luh Canting untuk melanjutkan perjalanan memberikan petuah kepada warga desa-desa Iainnya.

Ni Luh Canting kemudian hamil, dan Iama-kelamaan melahirkan seorang putra yang tampan, diberi nama Sira Agra Manik. Belakangan Sira Agra Manik kembali ke Besakih, sehubungan dengan pesan ayahandanya untuk mengatur Lawangan Agung.

Dengan demikian Ida Danghyang Bang Manik Angkeran memiliki putra empat orang, yakni Ida Bang Banyak Wide, Ida Bang Tulusdewa, Ida Bang Wayabiya dan Sira Agra Manik, yang keturunannya kemudian bernama Catur Warga.

IDA DANGHYANG BANG MANIK ANGKERAN BERPULANG KE SUNYALOKA

Patut diketahui prihal kesaktian Sang Bidadari sehari-hari, menanak nasi dengan sebulir padi. Sehelai bulu ayam, jika dimasak, menjadi ikan ayam. Keadaan demikian itu jelas tidak boleh dilihat oleh orang Iain. Hal itu sudah dipermaklumkan kepada Sang Pendeta, agar beliau jangan mencoba kesaktian Sang Bidadari, agar kesaktian Sang Bidadari tidak hilang. Itu sebabnya keberadaan sehari-hari Sang Pen­deta dengan isteri dan puteranya di Besakih, tiada kurang suatu apapun.

Setelah berapa tahun Iamanya, Ida Danghyang Bang Manik Angkeran melak­sanakan swadharma berkeluarga dengan istri beliau bertiga beserta puteranya tiga orang di Besakih, maka tibalah waktunya perjanjian Sang Bidadari harus kembali ke Sorgaloka. Keluar pikiran Ida Sang Pandhya mencoba kesaktian sang istri. Beliau mengintip istrinya Sang Bidadari sedang memasak, manakala istrinya menaruh sebulir padi. Setelah Iama nian memasak, dibukanya kekeb-penutup alat masak- itu oleh Sang Bidadari. Dilihat padinya sebulir itu masih seperti sediakala. Saat itu, berpikir Sang Bidadari, kemungkinan memang sampai saat itu Sang Bidadari ber­suamikan Sang Pendeta. Kemudian beliau menghadap dan menghaturkan sembah: “Inggih kakandaku, Sang Pandita, rupanya sampai di sini dinda mengabdikan diri -bersuamikan kanda. Sudah usai rupanya perjanjian kita. Dinda sekarang, akan memohon diri ke hadapan palungguh kanda, untuk pulang kembali ke Sorgaloka”.

Sang Pandita kemudian berkata halus : ”Nah, kalau begitu silahkan adinda pulang Iebih dahulu, kanda akan mengikuti perjalanan dinda”. Sang Bidadari Ialu kembali ke Indraloka.

Sejak saat itu Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran selalu melaksanakan Yoga Panglepasan untuk pulang ke alam baka. Dan Iagi, beliau menyadari akan segera kembali pulang ke Sunyaloka, Ialu beliau memanggil putranya bertiga, memberitahukan bahwa puteranya bertiga memiliki kakek di Jawa, yang ber­nama Ida Danghyang Siddhimantra. Bersama isterinya yang dua orang ítu, beliau memberikan petuah yang sangat bermakna : “I Dewa, Bang Banyak Wide, I Dewa, Bang Tulusdewa, I Dewa, Bang Wayabiya, anakku bertiga yang sangat ayahanda cintai dan kasihí, ayahanda sekarang bersama ibu-ibumu berdua, akan meninggal­kan ananda Ayahanda akan pulang ke Sorgaloka. Satukan diri ananda dalam bersaudara. Ala ayu tunggal ! Duka maupun suka hendaknya tetap satu ! Kemudian juga agar selalu ingat kepada Bhatara Kawitan, serta senantiasa bhakti menyembah Ida Bhatara semua di sini dí Besakih serta Ida Bhatara Basukih. Tídak boleh ananda Ialai serta ingkar dengan petuah ayahandamu ini”. Demikian nasehat Ida Sang Pen­deta, dicamkan betul oleh para putranya bertiga.

Pada hari yang baik, beliau kemudian berpulang ke Nirwana, moksa dengan Adhi Moksah-moksa yang utama, diiringkan oleh isterinya berdua, karena keduanya memang setia dan bhakti kepada belìau.

Diceriterakan, beliau-beliau itu sudah menyatu dengan Tuhan. Tinggallah para puteranya bertiga, ditinggal oleh ayah serta bundanya. Namun demikian masyarakat se wilayah desa Bukcabe, masih tulus bhaktinya, karena ingat kepada petuah Ki Dukuh Sakti Blatung dahulu. Pada saat itu, putera Ida Bang Manik Angkeran yang nomor empat dari Ni Luh Canting yakni Sira Agra Manik, belum ada dan belum ber­diam di Besakih.

Tidak terhitung berapa tahun ketiga putera itu ditinggal oleh ayah ibunya semua, Ialu ada keinginan Ida Sang Bang Banyak Wide akan berbincang dengan kedua adiknya. Setelah semuanya duduk, maka berkatalah Ida Bang Banyak Wìde : ” Inggih, adikku berdua, yang kanda kasihi dan cintai. Teringat kanda dengan petuah Ida I Aji, kata beliau Kakek kita yang bernama, mohon maaf, Ida Danghyang Siddhi­mantra, bertempat tinggal di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Daha. Kalau sekiranya dinda berdua menyetujui, marilah kita pergi ke sana, bersembah sujud menghadap kepada Ida I Kakiyang- kakek kita, agar kita mengetahui keberadaan beliau, agar jangan seperti ungkapan yang mengatakan , tahu akan nama namun tidak tahu akan rupa. Lagi pula kalau Kanda pikir, mungkin sekali Ida I Kakiyang -kakek kita tidak tahu sama sekali akan keberadaan kanda dìnda, karena tidak ada yang menceriterakan perihal keberadaan ayahanda kita serta kita bertiga”.

Baru didengar perkataan kakaknya demìkian, maka menjawablah Ida Sang Bang Tulusdewa dengan sangat sopan : ”Inggih palungguh kanda, mengenai prihal itu, perkenankanlah dinda menyampaikan pendapat, namun mohon dimaklumi, bila­mana ada yang tidak berkenan di hati kanda. Perihal keinginan kanda , disebabkan niat bhakti ke hadapan Ida I Kakiyang, memang wajar sekali. Dinda sangat berbesar hati. Namun bilamana kanda akan pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida I Kakiyang kakek kita, apalagi berkeinginan untuk bertempat tinggal di sana, mohon maaf dan mohon perkenan kakanda, bahwa dinda tidak bisa mengikuti kehendak kanda itu. Biarkanlah hamba di sini di Bali, agar ada yang melanjutkan yadnya dari ayahanda Ida Sang Pendeta, sebagai tukang sapu di sini di Besakih, sepertì menjadi petuah dari ayahanda”.

Kemudian Ida Bang Wayabiya menghaturkan sembah : ”Inggih palungguh kanda Sang Bang Banyak Wide yang sangat dinda hormati, dinda juga, bukan karena kurang bhakti dinda kepada Ida I Kakiyang, walaupun belum dinda ketahui. Yang nomor dua, tidak kurang bhakti serta kasih dinda bersaudara dengan kakanda. Namun kalau berpindah tempat meninggalkan Bali ini, berat rasanya bagi dinda, karenanya, mohon maaf pula, dinda juga tidak ikut mendampingi kanda, seperti pula apa yang dikatakan kanda Tulusdewa baru. Dinda tidak sekali akan menghalangi niat Iuhur kakanda untuk pergi ke Jawa, menghadap kepada Ida I Kakiyang. Itu juga sangat pantas. Kalau kakanda berkehendak akan pergi, silahkan kakanda pergi sendiri, agar ada yang memberitakan keberadaan di Bali ke hadapan Ida I Kakiyang. Biarkan dinda berdua di sini di Bali ”.

  Baru mendengar hatur adik-adiknya berdua, Iama Ida Sang Banyak Wide ber­diam, berpikir-pikir. Karena memang tidak pernah berpisah dan mereka saling mengasihi satu sama Iainnya. Kemudian beliau berkata : ”Inggih, kalau demikian pendapat dinda berdua, patut juga, di Bali agar ada, ke Jawa, menurut kanda, juga agar ada yang memberitahukan perihal keadaan kita di Bali ini, seperti yang dikatakan dinda Wayabiya baru. Itu sebabnya perkenankan kanda akan sendirian pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida I Kakiyang. Namun ada petuah kanda kepada dinda berdua. Walaupun kanda tidak Iagi berada di sini bersama dinda berdua, di mana saja mungkin kanda -dinda berdiam, kalaupun kanda -dinda menemui kebaikan atau keburukan, agar supaya tidak kita Iupa bersaudara sampai nanti kapada keturunan kita di kelak kemudian hari. Ingat betul nasehat suci dari Ayahanda kita : Ala Ayu Tunggal Ayu tunggal, ayu kabeh. Ala tunggal, ala kabeh ! Duka dan suka tunggal ! Kalau satu orang mendapatkan kegembiraan, agar semuanya bisa ikut menikmatinya. Demikian juga kalau salah satu rnengalami kedukaan agar semuanya merasakannya. Mudah-mudahan kita semuanya bisa bertemu kembali. Kalau tidak kanda yang bisa bertemu dengan dinda, semoga anak cucu kita bisa bertemu serta mengingatkan persaudaran kita di kelak kemudian hari”.

  ”Inggih, silahkan palungguh kanda pergi, dinda menuruti semua apa yang kanda katakan. Semoga kanda selamat, serta bisa bertemu dengan Ida I Kakiyang”. Demikian hatur adiknya berdua.

Pada hari yang baik, Ida Bang Banyak Wide mohon diri kepada saudaranya berdua, seraya berangkat.

            Diceriterakan perjalanan Ida Bang Banyak Wide, demikian banyaknya desa, perumahan serta hutan dilewatinya, Iembah dan jurang yang dituruninya, jarang sekali berjumpa dengan manusia. Banyak sekali kesulitan yang ditemuinya di jalan tak usah diceriterakan, namun Ida Bang Banyak Wide, walau masih jejaka muda-belia, demikian teguhnya kepada tekadnya, tidak pernah takut dan khawatir menghadapi kesulitan dan hambatan di jalan.

Pada siang hari beliau berjalan, di mana beliau merasa Iesu, di sana berhenti untuk beristirahat. Kalau hari sudah menjelang malam, beliau bermalam di mana saja beliau mendapatkan tempat. Kalau kemalaman di desa, berupaya beliau menum­pang di tempat orang, namun seringkali beliau berada di tengah hutan, dan ter­paksa tidur di pohon-pohon kayu. Setiap kali beliau berjumpa dengan orang, tidak Iupa beliau menanyakan di mana negeri Daha itu.

Singkat ceritera, sampailah beliau di perbatasan negeri Daha. Terkesan beliau akan keadaan negeri itu yang demikian ramai dan indah. Berbeda sekali kalau dibandingkan dengan desa Besakih, yang sedikit bangunannya. Bangunan di sana semua besar-megah serta memakai tembok yang tinggi dari batubata. Orang di sana semuanya memakai pakaian yang bagus-bagus. Jalannya juga Iebar, setiap beberapa meter ada Iampu yang berderet di sisi jalan.

Setelah tenggelam sang mentari, kala itu nampak oleh beliau ada sebuah bangunan seperti Jero, bertembok bata dengan memakai pintu gerbang kori agung. Di bagian Iuar dari bangunan yang serupa jero itu, ada balai-balai kecil : bale patok, Iayaknya seperti tempat orang berteduh dan beristirahat. Di sana Ialu beliau berteduh dan beristirahat. Demikian gembiranya beliau, sebab mendapatkan tempat beristirahat yang nyaman.

Tidak Iama, karena demikian Iesunya, sekejap beliau sudah terlelap. Tempat itu ternyata sebuah Griya -tempat seorang pendeta yang bernama Ida Mpu Sedah. Di sana, di bagian Iuar dari Griya Ida Pandita terdapat sebuah batu ceper yang ber­ukuran besar, sebagai tempat Pendeta Mpu Sedah duduk-duduk tatkala beliau beran­jangsana. Konon, dahulunya, di tempat batu itu, tak seorangpun berani bermain atau Iewat di sana, apalagi untuk mendudukinya. Walau hanya seekor capungpun, kalau hinggap di tempat itu,. Iangsung akan hangus terbakar.

Singkat ceritera, ketika hari itu Ida Pandita keluar untuk berjalan-jalan di Iuar, tiba-tiba beliau berhenti sejenak ketika melihat ada seorang jejaka duduk di batu ceper itu. lalu didekatinya seraya berkata : “Uduh kaki, ndi sang kayeng tuan, agia tung­gal-tunggal, eman-eman warnanta masmasku. Mwang siapa puspatanira ? Warah duga-duga kawongane sira, dadine sira Kaki pasti maweruha. Nah, anakku, dari mana gerangan sebenarnya ananda ini datang sendirian ke mari. Kagum kakek menyaksi­kan prabawamu .Siapa namamu, serta apa keluarga dan kelahiran ananda ? Coba  jelaskan agar kakek  mengetahuinya !”

Kemudian Ida Sang Bang Banyak Wide berkata, seraya menghaturkan sembah bakti : ”Singgih pukulun Sang Pendeta, hamba adalah cucu dari Sang Pendeta Siddhimantra, ayahanda hamba adalah Sang Pendeta Angkeran. Nama hamba Sang Banyak Wide, maksud tujuan hamba adalah ingin bertemu dengan kakek-Kakiyang hamba di Griya Daha, Ida Sang Pendeta Siddhimantra itu”.

Baru didengar hatur Ida Sang Banyak Wide demikian, menjadi sangat terharu perasaan Ida Pandita, seraya berkata : ”Aum cucuku tercinta, kalau demikian maksud tujuan cucunda, ketahuilah bahwa kakek cucunda ini memiliki hubungan saudara dengan kakekmu itu yang kini sudah tiada. Karena itu sekarang yang paling baik, dengarkan kakekmu ini, jangan dilanjutkan keinginan cucunda pulang ke Griya kakekmu. Di sini saja cucunda berdiam, mendampingi kakekmu ini yang sudah tua renta. Cucuku menjadi pewaris keturunanku, sebab kakekmu ini tidak memiliki ketu­runan atau anak. Dulu putera kakek ada Iaki-Iaki seorang, bernama Sira Bang Guwi. Sudah dibunuh oleh sang raja, dosanya karena membangkang kepada raja. Sebab itu sekarang putung -tidak berketurunan kakekmu ini, semoga berkenan cucunda menjadi sentana-keturunan pewarisku, yang akan memelihara tempat kediaman ini kelak di kemudian hari. Sekarang cucunda yang memerintah di kawasan ini. Di samping itu ada petuah Kakek, sebab cucunda memakai pegangan Ke-Budhaan, sementara kakekmu ini melaksanakan Ke-Siwaan, karena itu sekarang cucunda jan­ganlah Iagi menggelar Kebudhaan, gelaran Siwa yang cucunda jadikan pegangan ”. Demikian wacana Ida Mpu Sedah kepada Ida Bang Banyak Wide yang memahami dan menyetujui kehendak Ida Pandita, sehingga akhirnya Ida Bang Banyak Wide diresmikan sebagai putera angkat -kadharma putera.

Sangatlah sukacita perasaan Sang Pendeta, sangat dimanja putranya Ida Bang Banyak Wide. Singkat ceritera, sekarang telah berdiam Ida Sang Bang Banyak Wide di Griya Daha mendampingi kakeknya Ida Mpu Sedah.

TATWA WANG BANG PINATIH

IDA BANG BANYAK WIDE MENYUNTING I GUSTI AYU PINATIH

Diceriterakan sekarang, betapa bahagianya  hati Ida Mpu Sedah, Ida Wang Bang Banyak Wide – putra angkatnya disayang banar. Singkat ceritera, sekarang Ida Bang Banyak Wide sudah berdiam di Geria Daha,  di Geriya  kakek beliau Ida Mpu Sedah.

Dikisahkan kemudian Ki Arya Buleteng, yang  menjadi patih di Kerajaan Daha, mempunyai seorang putri bernama I Gusti Ayu Pinatih.  I Gusti Ayu Pinatih, tatkala itu  sudah remaja putri, parasnya  cantik nian, bagaikan  Dewi Saraswati nampaknya, serta juga  bijaksana  dan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, cocok memang sebagai putri seorang  bangsawan, serta sangat dimanja oleh ayah bundanya  dan semua keluarganya. Puri Ki Patih Arya Buleteng itu tidaklah demikian  jauh  dari tempat tinggal Geria Ida Mpu Sedah, dan lagi pula sering Ida Mpu Sedah      beranjangsana ke Puri sang Patih. Demikian juga putra sang Mpu, Ida Bang Banyak Wide, sering berkunjung ke Puri. Dan semakin lama semakin  sering sang teruna remaja  berkunjung ke Puri, untuk menghadap kepada sang patih,   namun yang paling utama adalah  untuk bertemu dengan  I Gusti Ayu Pinatih. Lama-kelamaan  semakin  bersemi cinta kasih di antara sang  teruna dan sang dara, tidak bisa dipisahkan lagi. Lalu  diambillah  I Gusti Ayu Pinatih oleh Ida Sang Bang.  Itu sebabnya   marah besar Ki Arya Buleteng, disebabkan putri beliau diambil oleh Ida Sang Bang Banyak Wide.  Kemudian  datanglah Ki Arya menghhadap  sang Mpu, menyampaikan prihalnya  beliau memiliki anak hanya sorang. Disebabkan karena putra sang Mpu juga hanya  seorang yakni Ida Sang Bang Banyak Wide,  maka  menjadi sangat prihatin  perasaan keduanya, dan berkehendak  akan memisahkan kedua teruna-daha itu. Tiba-tiba  Ida Sang Bang Banyak Wide menghaturkan sembah di hadapan  Ida Mpu seraya mengatakan bahwa  sama sekali  beliau tidak mau dipisahkan dengan I Gusti Ayu Pinatih. Kalau saja dipisahkan, tak urung mereka akan  membunuh diri berdua. Itu sebabnya  beliau tak bisa  berkata-kata. Kemudian  berkata Ki Arya Buleteng, menjelaskan  keinginan beliau : “ Aum sang mahapandita,  jikalau begitu kehendak  ananda sang Mpu, kalau menurut saya, kalau saja ananda  sang Mpu mau menjadi  putraku, sampai di kelak kemudian hari, , saya berikan putri saya kepada ananda Sang Bang “, demikian  atur Ki Arya Buleteng. Belum selesai  perbincangan beliau berdua, segera  menghaturkan sembah  Sang Bang Banyak Wide :” Duh,  beribu  maaaf, ayahanda Ki Arya Buileteng serta ayahanda sang Pendeta,  jikalau demikian keinginan mertua nanda,  ananda  menuruti kehendak  mertua hamba , dan jika nanti hamba  memiliki  keturunan, agar menjadi Arya “.

ANUGERAH IDA MPU SEDAH

Semakin tak bisa berkata-kata lagi Danghyang Mpu Sedah  mendengar  atur  putranya, namun sang Pandita menyadari bahwa semuanya itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa, lalu berkatalah beliau : “ Ah anakku, juwita hatriku Sang Banyak Wide,  nah karena sekarang  ananda  berkehendak  menjadi  pratisentana – putera dari Ki Arya Buileteng, maka dengarkanlah  ini,  tanda cinta kasihku kepadamu  anakku :”

Sloka : “  Wredhanam  kretanugraham,  jagadhitam purohitam, wacanam wara  widyanam, brahmanawangsatitah, Siwatwam, pujatityasam, trikayam parisudham,  kayiko, waciko suklam, manaciko sidha purnam. Puranam tatwam tuhwanam,  silakramam, sirarya pinatyam maho, witing kunam  purwa Daham.”

Berkatalah kemudian Ida Sang Pandita : : “ Aum, Sang bang,  inilah  merupakan titah Yang Maha Kuasa, berupa aturan  sidhikarana  yang kakek  berikan kepadamu, perjalanan  sejarah dari  status  brahmana yang dahulu, sekarang menjadi Arya Pinatih, ini ada  tanda  kasihku padamu berupa  keris sebuah,  bernama Ki Brahmana. Siwapakarana – peralatan  pemujaan pendeta , pustaka weda, itu semua agar dipuja, sebagai pusaka  yang berkedudukan bagaikan kawitan-leluhurmu, sebagai perlambang  jati dirimu  sebagai Arya Bang Pinatih, yang berasal  dari brahmana  dahulu. Ada nasehatku juga,  kalau ada  keturunan Arya Wang bang,  tahu tentang  Filfasat  Kedharman, kokoh melakukan tapa-yoga brata, memiliki ilmu pengetahuan yang berguna,  pandai akan  ilmu kerohanian, serta  selalu mengupayakan  ketrentaman,  menganut  prilaku Brahmana Wangsa,  dapat didiksa, menjadi pendeta maharesi. Ingatlah hal ini .

Serta ada pula anugerahku, kepada mu,  jika ada yang tahu  tentang siapa yang membawa  pusaka ini di kemudian hari, menyucikan diri sanak saudaramu kelak,  dan  bila sesudah meninggal, bilamana  sanak saudara yang telah  menyucikan diri meninggal, jika melakukan upacara atiwa-tiwa – palebon, berhak memakai  sarana upacara seperti seorang brahmana lepas, berhak mempergunakan  padmasana,  serba putih, serta   segala sarana upacara sebagai sang brahmana, pendeta.

Bilamana yang meninggal adalah  walaka, bilamana  memperoleh kebahagiaan utama memegang kekuasaaan serta memiliki  banyak rakyat, berhak mempergunakan  bade bertumpang 9, petulangannya lembu,  semua sarana yang dipakai ksatriya, terkecuali naga bandha,  berhak dipakainya.

Serta bila  walaka biasa meninggal, jika  mengadakan upacara  atiwa-tiwa –pitra yadnya,  berhak mempergunakan bade tumpang 7, serta sarananya, demikian yang berlaku pada Arya Pinatih. Habis.

Serta  prihal keadaan kacuntakan bagi Ki Arya Pinatih,  yang – karenanya- ingatlah sampai di kemudian hari,  jika  meninggal  bayi  belum  kepus pungsed,  cuntakanya 7 hari, jika meninggal bayi sesudah kepus pungsed, cuntakanya 11 hari, namun belum  tanggal gigi. Jika  ada yang meninggal  sudah dewasa,  remaja atau sudah tua,  cuntakanya  satu bulan 7 hari. Jangan lupa pada  nasehatku ini .

Serta  ada lagi nasehatku, di kemudian hari, dalam hal bersanak-saudara, jika ada  orang luar desa datang,  berkehendak untuk  ikut  menyungsung – menyembah Sanghyang Kawitan Ki Brahmana serta Siwopakarana nya, mengaku Sira Arya Pinatih, walaupun orangnya nista madhya utama, janganlah  ananda kadropon, perhatikan dahulu, jikalau tidak mau anapak sahupajanjian Sanghyang Kawitan, bukan  sanak saudaramu itu. Jika dia  mau anapak Sanghyang Kawitan walaupun nista, madya utama, sungguh dia  bersanak saudara dengannu, dan berhak ikut menyungsung bersama, bhatara Kawitan, walaupun jauh tempat tinggalnya. Serta  sanak saudaramu si Arya Pinatih tidak boleh  anayub dewagama lawan patunggalan dadya, jika  melanggar nasehatku ini,  hala tunggal, hala kabeh – satu  menemui  celaka, semuanya celaka. Serta kemudian tidak bisa disupat Sanghyang  Rajadewa Kawitannya, oleh  Pendeta  Resi Siwa Budha, serta jika  melanggar seperti nasehatku ini . OM ANG  medhalong , ANG OM mepatang, ANG UNG MANG ti sudha  OM NRANG OM .  Semuanya  paras paros, wetu tunggal, demikian pahalanya, jangan tidak  periksa. Kukuhkan dirimu dalam mengamong kawitanmu, serta  kukuh seperti nasehatku pada ananda, habis.”

IDA BANG BANYAK WIDE BERPUTRA IDA BAGUS PINATIH / SIRA RANGGALAWE

Setelah  mencari hari baik,  maka diselenggarakanlah upara Perkawinan Agung di Puri Ki Arya Buleteng. Para  raja-adipati, menteri-menteri  serta sanak saudara se wilayah Daha semua diundang, dan yang terutama diundang adalah Ida Pendeta Siwa-Budha yang akan memimpin upacara Pawiwahan – Pernikahan  Agung itu. Tidak  bisa diperpanjang lagi  prihal upacara Perkawinan itu, semua  rakyat menjadi  riang dan gembira.

Ida Sang Bang Banyak Wide sudah bertempat tinggal di Puri Patih Arya Buleteng, serta  memakai nama  Sang Arya Bang Banyak Wide. Kemudian  I Gusti Ayu Pinatih melahirkan seorang putra laki-laki, dinamai Ida Bang Pinatih, mempergunakan nama  sang ibu.  Pada hari tertentu, diceriterakan anak Ida Bang Banyak Wide diculik oleh seorang raksasa. Namun tiada  berapa lama, ditemui I Raksasa beserta putranya  di sebuah goa.  Saat itu Ida Bang Banyak Wide menghunus kerisnya  Ki Brahmana.. Baru  keris itu  dihunus gemetar seluruh tubuh I Raksasa, kemudian memohon hidup. Katanya :”  Inggih,  sekarang ini agar  tuangku  suka  memberi hidup kepada hamba.  Dari sekarang  saya menaruh janji  agar sampai kelak di kemudian hari turun temurun,  sepanjang  hidup keturunan Tuanku,  semoga tidak akan  pernah dibencanai  oleh kaum Durga”. Demikian  ucap I Raksasa yang bernama Buta Wilis itu,  kemudian menghilang.

Singkat ceritera,  Ida Bagus Pinatih sudah  semakin  besar, dewasa dan sudah  mengambil isteri serta memiliki  putra yang bernama sama dengan  nama ayahandanya. Ida Bagus Pinatih juga bernama Pangeran Anglurah Pinatih atau Sira Kuda  Anjampiani.

Demikian  dulu keadaaannya di kawasan Daha .,

IDA BANG BANYAK WIDE MEMBANTU RADEN WIJAYA MEMBANGUN MAJAPAHIT

 Diceriterakan sekarang daerah Daha diserang oleh  Raja Singasari serta kemudian dikuasai oleh Singasari. Ida Bang Banyak Wide  tatkala itu  menjabat sebagai Demang  atau Patih pada saat pemerintahan Prabu Kertanagara tahun 1272 Masehi.  Lama kemudian  para  menteri  yang sudah tua di Singosari  semuanya diturunkan  pangkatnya masing-masing diganti dengan  pejabat   yasng muda-muda. Saat itu patih tua Rangganata diberhentikan. Ki Arya Banyak Wide  diturunkan  jabatannya ke Sumenep menjadi Adhipati Madura bergelar Arya Wiraraja .  Hal seperti itu  jelas menjadi bibit tidak baik di kemudian hari.

Lalu diceriterakan  Prabu Singasari menyerang Tanah Melayu, semua bala tentaranya dikirim ke Tanah Melayu. Tatkala  sang Prabu  bersenang-senang di Puri, Ida Arya Bang Banyak Wide  kemudian  memberikan  surat sindiran  kepada  Raja  Daha  yang bernama Prabu Jayakatwang   tentang leluhur beliau yang bernama Dandang Gendis dirusak oleh sang Prabu Singosari. Patut  sang Prabhu Daha  membalas dendam kepada  Sang Prabu Kerthanegara.  Pemberitahuan Adipati  Banyak Wide diluluskan oleh Sang Prabu Daha. Kemudian  Singosari diserang  oleh Daha, tidak  urung kemudian  kalah Singasari .

Pada saat itu ada putra Singasari yang bernama Raden Wijaya  secara sembunyi-sembunyi datang ke Madura, bermaksud bermitra dengan Adipati Madura. Sesampainya di Madura, diadakan  daya upaya, agar  Raden Wijaya mau menyerahkan diri kepada Prabu Kediri. Sang Bang Banyak Wide atau Arya Wiraraja akan  memohonkan jabatan untuk Raden Wijaya agar menjadi  orang penting di Keraton.  Kemudian  Raden Wijaya agar memohon kepada Raja  agar diberikan  hutan Tarik  dengan alasan untuk dipakai tempat   raja bersenang-senang. Ida Bang Banyak Wide sanggup  akan memberikan bala sahaya serta Raden Wijaya agar  memberi-tahukan kepada rakyat di Tumapel  ikut  membuat tempat tinggal di alas Tarik.

Singkat ceritera,  hutan Tarik itu sudah diberikan, kemudian Raden Wijaya di  tempat itu membuat pasraman., kemudian diberi nama tempat itu Majapahit  atau Wilwatikta disebabkan karena banyaknya buah maja  yang pahit ditemukan di sana. Disebabkan  pekerjaan merabas hutan itu dipimpin  oleh  Ida Bagus Pinatih, putra Ida Sang Bang Banyak Wide atau Arya Wiraraja, maka kepada Ida Bagus Pinatih diberikan gelar sebagai   Sira Ranggalawe.

Sekarang ada  daya upaya  dari Raden Wijaya  akan menyterang wilayah Kediri. Namun demikian Ida Arya Wiraraja atau Arya Bang Banyak Wide memberitahu, agar menunggu kedatangan prajutir Tartar yang juga akan menyerang  Kediri. Arya Wiraraja sudah mengadakan perjanjian dengan Pasukan Tartar akan secara  bersama-sama  menyerang Kediri. Di tahun Masehi 1292,  kerajaan Kediri kemudian diserang  oleh prajurit  Tartar dan prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Arya Wiraraja serta putranya Sira Ranggalawe.  Ramai nian perang itu. Tanpa disangka akhirnya kalah Kediri serta Prabu Jayakatwang berhasil ditawan. Sejak saat itu  Raden Wijaya kemudian menjadi raja dengan gelar  Srimaharaja Kertharajasa Jayawardhana.

SIRA RANGGALAWE MEMBERONTAK

Dikisahkan sekarang Sira Ranggalawe menjabat sebagai Menteri Amanca Negara, memerintah kawasan Tuban.. Arya Wiraraja tidak diperkenankan uintuk  berdiam di Madura, diperintahkan untuk bertempat tinggal di Majapahit, sebagai Tabeng Wijang Ida  Prabu  Kertharajasa. Sejak saat itu  Bhupati Arya Wiraraja bergasnti gelar, dimaklumkan di seluruh penjuru negeri sebagai Rakriyan Mantri Arya Adikara.

Diceriterakan Ida sang Prabhu di Majapahit menyelenggarakan pertemuan besar  membahas prihal rencana penunjukan  Patih Amengkubhumi. Kemudian,   saat itu Ida  Sang Prabu  menunjuk Sira Patih Nambi menjadi Patih Amengkubhumi. Keputusan itu kemudian didengar oleh Sira Ranggalawe, kemudian beliau  menghadap ke Kraton Majapahit, berhatur sembah kepada  Ida Sang Natha Kertharajasa, berkenaan dengan keputusan Ida Sang Prabhu, yang sudah diumumkan  di seluruh negeri  yakni  Ki Patih Nambi diangkat menjadi Patih Amengkubhumi, hanyalah satu upaya yang tidak berguna, jelas  negeri ini akan menjadi tidak baik, sebab Ki Patih Nambi sudah  nyata-nyata  pengecut di medan laga. Yang sebenarnya patut dipertimbangkan  soal  kesetiannnya di medan perang  hanyalah Ki Lembu Sora atau  diri beliau sendiri Sira Ranggalawe, yang patut  diangkat menjabat sebagai Patih Amengkubhumi. Itu sebabnya menjadi  kacau pertemuan itu .

Diceriterakan sekarang, karena tidak dipenuhinya  keinginan Sira Ranggalawe,  maka  bermohon diri Sira Ranggalawe pulang menuju Puri Madura,  memberitahukan kepada ayahandanya  prihal rencananya  akan menyerang  Majapahit, akan menantang Ki Patih Nambi. Disebabkan karena tidak bisa lagi dihalangi keinginan anaknya Sira Ranggalawe, maka  Arya Wiraraja tiada bisa berkata lagi. Kemudian  menjadi riuhlah  perang yang terjadi, bala tentara Sira Ranggalawe dihadapi  pasukan  dari Majapahit.  Sira Ranggalawe direbut. Akhirnya terjkadilah perang tanding antara  Sira Ranggalawe melawan  Kebo Anabrang , yang akhirnya  keduanya  meninggal di  medan laga di Sungai Tambak Beras.

Kemudian adalah utusan  yang menghadap ke Purinya sang ayah Sang Arya Bang Wiraraja. Singkat ceritera, sang utusan  sudah berjalan untuk menghadap Ki Arya Adikara di Puri Tuban, serta  semuanya sudah dipermaklumkan tentang  sabda  Raja Majapahhit, serta  segala  hal yang berkenaan dengan  wafatnya Adipati Ranggalawe, di mana jenazahnya  sudah berada di Puri Majapahit.

Arya Adikara, setelah mendengar  atur sang utusan  dari Puri Majapahit,  segera memberitahukan rakyat beliau,  sanak saudara sampai kepada cucunya untuk semuanya bersama-sama  menghadap ke Puri Majapahit untuk  menyelesaikan tata upacara Palebon putra beliau. Setelah selesai  upacara palebon  itu,  Adipati Arya  Adikara memohon diri dariu Puri Majapahit  diiringi oleh  isteri, menantu serta  cucunya, kembali ke Puri Tuban .

IDA BANG BANYAK WIDE MEMEGANG KEKUASAAN DI  LUMAJANG

Tidak berapa lama, Ida Sang Prabhu  kemudian memberikan anugerah berupa sebagian  kawasan timur sam[pai ke pesisir  selatan kepada Sang Arya Bang Wiraraja, disebabkan ingat dengan perjanjiannya dahulu. Sejak saat itu Sira Arya Bang Wiraraja menjabat  sebagai penguasa  di kawasan yang bernama Lumajang, diiringi oleh cucunya  yang bernama Ida Bagus Piantih atau Anglurah Pinatih atau juga disebut  Sira Arya Bang Kuda Anjampyani  pada tahun  1295 Masehi.

Lama kemduain, ketika  Ida Arya Bang Adhikara berumur tua, tidak  berselang lama  beliau menjabat sebagai penguasa di Puri Ksatriyan Lumajang,  kemudian beliau  wafat  menuju Sorgaloka. Kemudian cucu  beliau Sira Bang Kuda Anjampyani dijadikan pejabat di  Majapahit menggantikan kedudukan  kakek beliau  bergelar Kyayi Agung Pinatih Mantra. Inggih, hentikan  dahulu keberadaaan Ida Bang Banyak Wide di  kawasan Jawa.

PARA RAJA DI JAWA

Dikisahkan juga  para raja yang berkuasa di Kerajaan Majapahit.  Sri Maharaja Kertharajasa Jawardhana yang menjadi raja pada tahun Masehi    1294-1309, diganti oleh putranya Maharaja  Jayanegara atau Kala Gemet  dari tahun  Masehi 1309 sampai dengan  1328. Kemudian  Bre Kahuripan /Tribuwana Tunggadewi  menjabat raja  pada kurun waktu  tahun Masehi 1328-1350. Beliau kemudian digantikan  oleh Sri Hayam Wuruk pada tahun  Masehi 1350-1389. Pada tahun  Isaka  1258 atau tahun  Masehi 1336,  Kriyan Gajah Mada  diangkat menjadi Patih Amengkubhumi atau  Mahapatih. Kepandaian dan keperwiraan  sang mahapatih  demikian terkenal  sampai kelak di kemudian hari . Ada Sumpah Amukti Pala yang dikumandanglkan oleh Kriyan Mahapatih Gajah Mada pada tahun Masehi  1336 itu.  Adapun isi Sumpah tersebut : “Jika telah berhasil menundukkan Nusantara, saya baru akan beristirahat. Jika Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk, saya baru beristirahat.”, demikian ucapan sumpah beliau ke hadapan sang ratu Rani Tribuwanatunggadewi.  Kemudian ternyata pada tahun Isaka   1265 Bali diserang.

Demikian keberadaan  Ida sang Mahapatih Gajah Mada.

DALEM BEDAULU KALAH, IDA DALEM KRESNA KAPAKISAN MENJADI RAJA DI BALI

 Sekarang kembali diceriterakan perihal di Pulau Bali. Dikisahkan di Bali adalah raja  bernama Sri Gajah Waktera yang dikatakan  sebagai seorang pemberani serta  sangat sakti. Disebabkan karena merasa diri sakti, maka  keluarlah  sifat angkara murkanya, tidak  sekali-kali merasa takut kepada  siapapun,  walau kepada para dewa sekalipun. Sri Gajah Waktera mempunyai  sejumlah  pendamping yang semuanya memiliki kesaktian, kebal serta juga  bijaksana yakni :  Mahapatih Ki Pasung Gerigis, bertempat tinggal di Tengkulak, Patih Kebo Iwa bertempat di Blahbatuh, keturunan Kyai Karang Buncing, Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kala Gemet, Menteri Girikmana – Ularan berdiam di Denbukit, Ki Tunjung Tutur di Tianyar,  Ki Tunjung Biru berdiam di Tenganan, Ki Buan  di Batur, Ki Tambiak berdiam di Jimbaran, Ki Kopang  di Seraya, Ki Kalung Singkal bertempat tinggal di Taro.

Prihal keangkara-murkaan Sri Gajah Waktera itu, diketahui oleh raja Majapahit Singkat ceritera, setelah  Ki Patuh Kebo Iwa dikalahkan dengan tipu daya , maka diseranglah Bali oleh Kriyan  Mahapatih Gajah Mada didampingi para perwira perang seperti Arya Damar sebagai pimpinan diiringi  oleh Arya Kanuruhan, Arya Wang Bang yakni Kyai Anglurah Pinatih Mantra, Arya Kepakisan,  Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Pangalasan serta Arya Kutawaringin.

Kemudian diceriterakan pada perang yang terjadi  tahun 1343 Masehi itu, di Tengkulak Peliatan, Raja Tapolung beserta para patihnya yang bernama  Kebo Warunya dan I Gudug Basur gugur di medan perang. Namun Ki Pasung Gerigis patih utama Dalem Bedaulu dapat  ditawan.

Tiada lama kemudian  Ki Pasung Gerigis menyatakan dirinya menyerahkan diri dan berbhakti kepada Raja Majapahit, karena itu diperintahkan untuk mengalahkan Raja Sumbawa  yang bernama Dedela Natha. Akhirnya  keduanya  wafat  di dalam perang tanding.

Sesudah Raja Bedaulu mangkat, maka  Pulau Bali sunyi tidak memiliki penguasa, karena itu timbul huru hara.

Sebelum itu Ki Patih Gajah Mada sudah memohon putra  Ida Mpu Danghyang Soma Kepakisan – sebagai pendeta guru utama di Kediri, yang bernama Ida  Sri Kresna Kepakisan, untuk diasuh di Majapahit. Ida Mpu Soma Kepakisan itu  tiada lain  saudara dari  Ida Mpu Danghyang Panawasikan, Ida Mpu Danghyang Siddhimantra dan Ida Mpu Asmaranatha.  Kemudian Ida  Kresna Kepakisan mepunyai putra 4 orang, laki tiga, wanita seorang. Pada saat  di Bali serta daerah lain tidak memiliki  penguasa, serta  dalam upaya  menyelenggarakan kesejahteraan di masing-masing wilayah,  maka sesuai dengan perintah Raja Majapahit, Mahapatih Gajahmada meminta putra  Ida Sri Kresna Kapakisan yang sudah dewasa untuk dijadikan penguasa  atau Dalem. Pada saat itu putra beliau yang sulung  bernama  Ida Wayan Kepakisan diangkat djadikan penguasa di Blambangan,  Ida Made  Kepakisan menjadi penguasa di Pasuruan, Ida Nyoman Istri Kepakisan/Dalem Sukanya di  Sumbawa serta yang  bungsu Ida Ktut Kresna Kepakisan, dijadikan penguasa di Bali. Oleh  Mahapatih Gajah Mada, Ida Dalem Ketut Kresna Kapakisan dianugerahi  pusaka Kris Ki Ganja Dungkul, serta berkedudukan sebagai  Adipati.

Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan – dari Pulau Jawa, turun di Lebih, kemudian ke arah timur laut  berkeududkan di  Samprangan. Di sanalah beliau membangun Puri pada tahun Masehi 1350. Sesudah beliau Ida Dalem bertempat tinggal di puri di Samprangan, mahapatih beliau I Gusti Nyuhaya  bertempat tinggal di Nyuhaya, sementara para  menterinya  seperti  Arya Kutawaringin di Klungkung, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba,  Arya Dalancang di Kapal, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Kanuruhan di Tangkas,  Kriyan Punta di Mambal, Arya Jrudeh di Tamukti, Arya Temenggung di Patemon, Arya Demung Wangbang Kediri yakni Kyai Anglurah Pinatih Mantra di Kertalangu, Arya Sura Wang Bang Lasem di Sukahet,  Arya Mataram tidak tetap tempat tinggalnya, Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar. Selain dari  para Arya tersebut,  ada yang kemudian datang yakni  Tiga Wesya bersaudara : Si Tan Kober, diberikan tempat tinggal di Pacung, Si Tan Kawur diberi tempat tinggal di Abiansemal serta  Si  Tan Mundur berdiam di Cacahan.

Diceriterakan Kyai Angelurah Pinatih Mantra, diberikan tempat tinggal di Kerthalangu, Badung, menguasai kawasan  Pinatih serta diberikan memegang bala sejumnlah  35.000 orang,  yakni mereka yang merupakan rakyat dari Senapati  Arya Buleteng. Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan sudah  berusia  senja kemudian di  Samprangan beliau wafat berpulang ke  Cintyatmaka  pada saat  mangrwa wastu sirnna pramana ning wang atau tahun Isaka 1302 , tahun  Masehi 1380. Beliau diganti oleh putranya   Dalem Ketut Ngulesir yang bergelar  Dalem Smara Kepakisan.

Diceriterakan Kyai Anglurah Pinatih Mantra, memiliki putra laki seorang, bernama  Kyai Anglurah Pinatih Kertha atau I Gusti Anglurah Pinatih Kejot, Pinatih Tinjik atau I Gusti Pinatih Perot. Beliaulah yang dikenal menyerang  serta mengalahkan kawasan Bangli Singharsa sewaktu pemerintahan Ngakan Pog yang menjadi manca di sana, sesuai dengan perintah Ida Dalem Ketut Ngulesir atau  Ida Dalem Smara Kepakisan yang menjadi penguasa  tahun  Masehi 1380 sampai dengan  1460. Kyayi Anglurah Pinatih Mantra sudah tua, kemudian berpulang ke sorgaloka. Kyai Anglurah Pinatih Kertha Kejot  berputra laki  dari isteri pingarep bernama Ki Gusti Anglurah Pinatih Resi, dari isteri putri I Jurutkemong bernama Ki Gusti Anglurah Made Bija serta putra laki-laki dari sor bernama I Gusti Gde Tembuku.

Diceriterakan kemudian,  Kyai Anglurah Made Bija sudah mempunyai putra, namun kakaknya I Gusti Anglurah Pinatih Rsi belum  beristeri.  Para putra I Gusti Anglurah Made Bija  bernama  I Gusti Putu Pahang, I Gusti  Mpulaga utawi Pulagaan, I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Nyoman Jumpahi, I Gusti  Nyoman Bija Pinatih dan I Gusti Ketut Blongkoran.  I Gusti Bija Pulagaan, sesuai perintah  Ida Dalem Ktut Smara Kapakisan  kemudian menjadi Manca di kawasan   Singharsa Bangli sejak tahun  Masehi 1453. Hentikan dahulu .

ANGLURAH PINATIH RESI MENYUNTING IDA AYU PUNIYAWATI

 Dikisahkan sekarang Ida Bang Panataran, putra Ida Wang Bang Tulus Dewa, bertempat tinggal di  Bukcabe Besakih bersama adik sepupunya yang bernama Ida  Bang Kajakauh atau  Ida  Bang Wayabiya.

Diceriterakan Ida Bang Panataran, mempunyai  seorang putri  bernama Ida Ayu Punyawati, cantik tanpa tanding seperti  bidadari layaknya, bahkan seperti Sanghyang Cita Rasmin yang menjelma. Banyak para penguasa dan pejabat yang melamar, namun tidak diberi.

Karena sudah  terkenal di seluruh pelosok negeri tentang kerupawanan beliau Ida Ayu Punyawati, maka hal ini didengar juga  oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi di Puri  Kerthalangu, Badung. Kemudian Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi mengirim utusan untuk melamar Ida Ayu Punyawati.

Yang ditugaskan untuk melamar Ida Ayu Punyawati, adalah adik disertai para kemenakan beliau  yang bernama  I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Putu Pahang, I Gusti Jumpahi. Itulah  keponakan yang diutus, bagaikan Baladewa Kresna dan Arjuna, demikian kalau diperumpamakan, diiringi oleh  bala rakyat yang jumlahnya cukup banyak mengiringkan.

Tidak diceriterakan di tengah jalan, akhirnya sampailah di Geria Ida Bang Sidemen Penataran kemudian melakukan pembicaraan. Prihal lamaran itu diajukan seperti ini :” Inggih Ratu Sang Bang, kami datang kemari hanyalah utusan  dari Ki Arya Bang Pinatih, yang beristana di Kerthalangu kawasan Badung, yang merupakan paman kami, yang  bermaksud untuk melamar  puteri palungguh I Ratu akan dijadikan permaisuri”.

Kaget  Ida Bang Panataran, seperti gugup tak bisa berkata-kata, kemudian menjawab :  “ Saya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Ki Arya Pinatih, karena tidak boleh  sang Arya melamar sang Brahmana”. Demikian ucap Ida Bang Sidemen Panataran.  Menjawab  sang utusan I Gusti Gde Tembuku  serta I Gusti Putu Pahang : “Ah bagimana rupanya ratu  Bang Sidemen, mungkin tiada ingat dengan nasehat leluhur  dahulu ? Hamba berani melamar putri tuanku Bang Sidemen ke sini, karena  kawitan hamba dahulu  sesungguhnya adalah wangsa Brahmana. Sekarang mohon didengar  atur hamba agar merasa pasti. Pada saat dahulu ada  nasehat dari leluhur hamba, yang bernama Ida Bang Banyakwide, bersaudara dengan Ida Bang Tulus Dewa serta  Ida Bang Kajakauh. Ida Bang Banyak Wide pergi dari Besakih guna mencari kakeknda Ida Sang Pandya Siddhimantra di Jawa, namun tidak dijumpainya, kemudian  berjumpa dengan Ida Mpu Sedah, dan kemudian belakangan dijadikan menantu oleh Ki  Arya Buleteng. Karena Ki Arya Buleteng tidak memiliki keturunan langsung atau sentana, maka   Ida Bang Banyak Wide  dijadikan sentana Ki Arya, sehingga  Ida Bang Banyak Wide menjadi Arya. Ida Bang Banyak Wide itu merupakan leluhur kami yang menurunkan Ki Arya Pinatih Rsi. Demikian halnya  dahulu. Nah, sekarang ini bagaimana  Sang Bang Sidemen, apakah tidak ada ceritera dari Leluhur seperti itu ? “. Demikian hatur  I Gusti Gde Tambuku. Segera ingat Ida Sang Bang Sidemen, pada  nasehat dari sang leluhur kepada beliau,  pada saat dulu.

Karena mendengar hal itu, maka diberikanlah putri  Ida Bang Panataran Sidemen kepada  Ki Arya Bang Pinatih, dan  dengan segera  mau bersama menjadi Arya  Ksatrian.

Demikian prihalnya Ida Bang Panataran menjadi  Arya : Arya Bang Sidemen diwariskan  sampai sekarang turun temurun  bersaudara dengan Arya Bang Pinatih.

Ida Bang Wayabiya, saat itu juga datang menghadap kakaknya  berkehendak untuk melamar putri Ida Bang Panataran Sidemen yakni Ida Ayu Puniyawati.  Karena sudah didahului oleh  Ida I Gusti Anglurah Pinatih Rsi, lamaran itu tidak bisa dipenuhi. Itu sebabnya kemudian Ida Bang Wayabiya kemudian pergi tanpa pamit   dari Besakih, tanpa tujuan. Perjalanan Ida Bang Wayabiya  akan diceriterakan nanti.

Kembali sekarang dikisahkan prihal  Ki Arya Bang Panataran, sudah selesai perbincangannya dengan Ki Arya Bang Pinatih, sebab semuanya memang benar,  menjaga nama leluhurnya. Karena sudah  selesai perbincangan itu, kemudian  Ki Arya Bang Pinatih bertiga memohon diri , pulang menuju Kerajaan Kerthalangu.

Sesudah  selesai pembicaraan mengenai hari baik berkenaan dengan rencana pernikahan itu,  kemudian diselenggarakanlah upacara Pawiwahan itu seraya mengundang  semua  penguasa serta  rakyat dan warga.

Tentram  wilayah Pinatih pada saat pemerintahannya I Gusti Ngurah Pinatih Rsi  serta adiknya Ida I Gusti Ngurah Made Bija Pinatih. Hentikan  dahulu.

Diceriterakan kemudian sesudah  beristerikan Ida Ayu Puniyawati, kemudian lahir putra beliau, yang  sulung bernama   Kyai Anglurah Agung Gde Pinatih , adiknya  Kyai Anglurah Made Sakti, serta yang  wanita bernama  I Gusti Ayu Nilawati.

Lama juga Kyai Anglurah Bang Pinatih Rsi bersama adiknya  Kyai Anglurah Pinatih Bija memegang kekuasaan di wilayah Jagat Kerthalangu, Badung, tentram wilayah itu, serta  sang raja dipuja dengan taat  oleh  rakyat dan warga semuanya. Wilayah itu menjadi makmur, hama menjauh, mereka yang ingin berbuat jahat tidak berani.  Inggih,  demikian keadaannya di kawasan Kerthalangu.

KYAYI KENCENG MEMINTA PUTRA DALEM DI PURI GELGEL

Diceriterakan Ki Arya Kenceng  di Badung berkehendak akan memohon seorang putra Dalem Sagening di Puri Gelgel, akan dijadikan penguasa di kawasan  Badung. Konon setelah  sampai di  jaba tengah atau halaman dalam  Puri Gelgel di  Sumanggen, terlihat oleh Ki Arya Kenceng api bagaikan  lentera di Sumanggen, kemudian diperhatikan oleh Ki Arya Kenceng, sudah pasti halnya dia itu adalah putra Dalem Segening. Kemudian  Ki Arya Kenceng mengambil kapur seraya digoreskan menyilang atau dibubuhi tampak dara  anak kecil itu. Keesokan  harinya diingat kembali , karena  dia itu memang  betul putra Dalem yang bernama I Dewa Manggis Kuning. Kemudian Ki Arya Kenceng datang menghadap berhatur sembah kepada Ida Dalem seraya mengatakan  untuk memohon  putra beliau seorang, akan dijadikan penguasa  di negara  Badung.

Ida Dalem merasa senang dan memberikan putranya yang dimohon itu, yang bernama I Dewa Manggis Kuning, dan kemudian diiringkan pulang ke Puri Badung. Sesudah diberi tempat di Badung, sangat disayang  oleh Ki Arya Kenceng, disebabkan karena  kebagusan rupanya,  ganteng seperti Arjuna,  dan bagaikan Sanghyang Asmara  yang menjelma  di Puri Pamecutan .

KI ARYA KENCENG MEMOHON   PUTRI ANGLURAH PINATIH RSI

Diceriterakan Ki Arya Kenceng memiliki seorang putera laki-laki bernama   I Gusti Ngurah Pamecutan, dipertunangkan dengan putri Ida Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi yang menjadi penguasa di istana Puri Kerthalangu. Putrinya bernama  I Gusti Ayu Nilawati. Paras  rupanya sangat  cantik tanpa tanding  bagaikan Dewi Ratih yang menjelama ke dunia. Diceriterakan kemudian sang putri sudah  masuk ke Puri Pemecutan, namun belum diupacarai  menurut tata upacara perkawinan dengan I Gusti Ngurah Pemecutan. Pada saat malam tiba, dilihatlah oleh sang putri I Dewa Manggis, yang menyebabkan jatuh hatinya I Gusti Ayu Nilawati serta pada akhirnya dapat beradu asmara. Karena demikian halnya, bukan alang kepalang marahnya Ki Arya Kenceng, berkehendak akan  merebut I Dewa Manggis. Hal itu kemudian diketahui oleh  Kyai Anglurah Pinatih Resi. Bila saja  I Dewa Manggis terkena bencana, tidak mustahil putrinya juga akan meninggal. Saat itu kemudian Kyai Anglurah Agung Pinatih Resi memakai busana wanita, menyerupai selir, lalu masuk ke rumah yang didiami oleh I Dewa Manggis,  kemudian I Dewa Manggis digulung dengan tikar, kemudian dibawa ke luar puri.

Karena berupa  seorang wanita, maka tak seorangpun  hirau , sehingga I Dewa Manggis bisa dibawa ke Purinya Ida Kyayi Anglurah Agung Pinatih Rsi, bersama putri beliau. Baru sehari disembungikan di Puri Kerthalangu, diketahui oleh Kyai Kenceng, dikatakan bahwa Ki Arya Agung Pinatih Rsi menyembunyikan putrinya bersama I  Dewa Manggis, kemudian mendatangi Puri Kerthalangu. Segera tahu Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi, itu sebabnya segera I Dewa Manggis Kuning dan putrinya  dilarikan ke purinya I Gusti Putu Pahang.

Sampai di sana  masih juga diketahui oleh Ki Arya Kenceng, maka dikepung dengan bala pasukan yang jumlahnya cukup banyak. Kembali I Dewa Manggis Kuning digulung dengan tikar, ditaruh di depan rumah, ditindih dengan selimut. Kemudian datang pasukan Pemecutan mencari  ke sana ke mari  sampai ke dalam rumah, namun tidak juga ditemukan I Dewa Manggis . Karena itu kembalilah  pasukan itu ke Puri Pamecutan .

I DEWA MANGGIS MENGAMBIL ISTRI : I GUSTI AYU NILAWATI DAN  I GUSTI AYU PAHANG

Setelah malam,  I Gusti Putu Pahang bertimbang rasa dengan  I Dewa Manggis Kuning : “: Aum I Dewa Manggis anakku I Dewa, merasa  sulit Bapak menyembunyikan I Dewa di sini. Sekarang lebih baik I Dewa berpindah tempat dari sini , sebab Bapak  malu dengan Ki Arya Kenceng. Dan lagi Bapak sangat mengasihi ananda I Dewa,  agar I Dewa  bisa  meneruskan hidup – panjang umur. Ini ada  anak Bapak seorang, agar mendampingi ananda dipakai isteri. Putri Bapak ini bernama  I Gusti Ayu Pahang”. Demikian hatur I Gusti Putu Pahang disaksikan oleh ayahandanya  Ki Arya Bija Pinatih. Kemudian dijawab oleh I Dewa Manggis dengan  rasa penuh prihatin :” Aum ayahanda Ki Arya Pinatih, sangat besar rasa kasihan Ayahanda kepada saya, tidak akan bisa saya membayar prihal kasih saying Ayahanda kepada diri saya”.

Menjawab Ki Arya Bija Pinatih :” Duh mas juwintaku I Dewa, janganlah  Ananda berkata demikian. Ini   cucu Bapak  I Gusti Ayu Pahang akan mendampingi  I Dewa bersasma kemenakan  Bapak I Gusti Ayu Nilawati, di mana saja  I Dewa bertempat tinggal kelak. Kalau ada  kasih Ida Hyang Parama Kawi, ada keturunan  dari anak-anak Bapak,  maka mudah-mudahanlah ada anugerah  Ida Sanghyang Widhi Wasa, kelak mungkin  ananda memiliki banyak rakyat, saat itu I Dewa Manggis agar  ingat pernah memperoleh kasih saying dari Bapakmu ini. Jikalau nanti Bapakmu ini tidak lagi hidup di dunia, juga I Dewa Manggis sudah tidak ada, di kelak kemudian hari agar keturunan I Dewa Manggis  senantiasa ingat dengan  perjalanan Bapak mengupayakan keselamatanmu seperti sekarang ini, serta dapat memberikan  nasehat kepada para putra, terus sampai ke cucu, wareng, kelab  agar tidak  putus bertali asih” Demikian  perbincangan mereka semua seraya sepakat untuk tidak akan lupa ber sanak saudara I Dewa Manggis Kuning dengan  kasih sayang dari Ki Arya Pinatih.

Kemudian samalah  kehendak I Dewa Manggis Kuning seperti  perjanjiannya dengan  Ki  Arya Pinatih, dan usailah perbincangan itu, kemudian I Dewa Manggis Kuning menyunting dua isteri, seorang  puteri  Anglurah Agung Pinatih Rsi yang bernama I Gusti Ayu Nilawati serta putri I Gusti Putu Pahang, atau cucu Anglurah Pinatih Bija yang bernama I Gusti Ayu Pahang.

Yang mendampingi I Dewa Manggis pergi  dari Badung, adalah adik dan para putra Anglurah Pinatih Rsi serta putra I Gusti Ngurah Bija Pinatih, seperti I Gusti Ngurah Gde Tembuku, I Gusti Ngurah Jumpahi, I Gusti Putu Pahang, I Gusti Nyoman Bona, I Gusti Nengah Pinatih. Karena perjalanan itu jauh memotong jurang, serta tidak menentu arah tujuannnya, maka  tentu saja mereka menjadi lapar dan kekurangan air di perjalanan, merasa lesu  kedua  putri itu  serta  menangis  sedih, karena merasa  masygul  dengan nasib I Dewa Manggis Kuning.

Tidak diceriterakan di perjalanan, akhirnya sampailah di hutan Bengkel. Kelak di kemudian hari menjadi  wilayah Gianyar, di sana kemudian beristirahat  serta  bekerja membuat tempat tinggal  yang  kemudian kelak menjadi Puri. Karena  sudah pasti bertempat tinggal di sana, maka keluarga Ki  Arya Pinatih memohon diri kepada  I Dewa Manggis Kuning untuk kembali pulang ke Kerthalangu. Di sana kemudian  I Dewa Manggis menyampaikan isi hatinya : “Uduh Ayahanda, kakak serta adik,  tidak bisa dihitung lagi welas asih Bapak ke pada diri saya, tidak bisa  saya membalasnya. Kelak kemudian hari kalau ada anugerah dari Ida Sanghyang Widhi Wasa terus kepada  anak cucu buyut, agar tidak lupa  pada hutang budi saya  seperti  sekarang. Sekarang silahkan Bapak kembali pulang ke  Badung “

Sebelum kembali pulang ke Badung, semua anggota keluarga Ki Arya Bang Pinatih memberi petuah kepada kedua putrinya agar tetap setia bhakti  mendampingi I Dewa Manggis Kuning, ikut  sampai kelak kemudian  hari,   baik buruk agar bersama-sama. Mudah-mudahan  I Dewa Manggis Kuning  menemui kebahagiaan ! Serta memiliki keturunan  dan  masih ingat dengan  prihalnya seperti sekarang. Setelah memberikan petuah,  kedua putrinya merasa senang  mendengarkan  apa yang dikatakan paman maupun kakak-adik mereka. Kemudian berlima sanak saudara  Ki Arya Bang Pinatih itu memohon diri kepada I Dewa Manggis, lalu kembali pulang ke Kerthalangu. Selesaikan  dulu kisah perjalanan I Dewa Manggis Kuning.

WILAYAH KERTHALANGU  TENTRAM DAN KERTARAHARJA

Diceriterakan kembali  Kyai  Anglurah  Pinatih Rsi  sudah  berusia lanjut, kemudian berpulang ke Sorgaloka. Demikian juga  Ida Kyai Anglurah  Made Bija, juga sudah  meninggalkan dunia fana ini.  Kyai Anglurah Pinatih Rsi  kemudian digantikan oleh putranya  memegang kekuasaan, yang bernama  sama dengan ayahandanya yakni I Gusti Anglurah Agung Gde Pinatih Rsi disertai oleh  adiknya I Gusti Anglurah Made Sakti Pinatih, didampingi oleh paman beliau dan para putra Kyai Anglurah  Made Bija seperti  I Gusti Gde Tembuku, I Gusti  Putu Pahang, I Gusti Nyoman Jumpahi, I Gusti Nyoman Bija Pinatih, I Gusti Nyoman Bona, I Gusti Benculuk  serta I Gusti Ketut Blongkoran.

Banyak memang keturunan Ki Arya  Pinatih  ketika beristana di  Kerthalangu, tidak bisa  dihitung jumlahnya. Semasa pemerintahan beliau berdua  tidak ada  orang lain yang berani bertingkah, semuanya  bersembah sujud, serta tentram  wilayah itu  semasa kekuasaan I Gusti Ngurah Gde Pinatih beserta I Gusti Ngurah Made. Tidak ada  manusia yang berani, subur makmur kawasan itu jadinya  serta  sejuk keadannya karena  sang penguasa sangat welas asih suka memberi  serta tiada pernah lupa  menghaturkan sembah bhaktinya kepada Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya wilayah beliau menjadi tentram dan kertaraharja.

Lama beliau berkuasa di kawasan  Pinatih Badung, menjadi tertib kerajaan Kerthalangu yang bernama Kawasan Pinatih,  sebab Pinatih lah yang  memegang kekuasaan di sana.

Patut diketahui Ida I Gusti Anglurah Gde Pinatih  mempunyai putra  banyak yakni   I Gusti Ngurah Gde Pinatih – sama namanya dengan sang ayah, I Gusti Ngurah Tembawu, I Gusti Ngurah Kapandeyan, wanita I Gusti Ayu  Tembawu, I Gusti Bedulu, I Gusti Ngenjung, I Gusti Batan, I Gusti Abyannangka, I Gusti Mranggi, I Gusti Celuk, I Gusti Arak Api,   I Gusti Ngurah Anom Bang, I Gusti Ayu Pinatih, I Gusti  Blangsingha.

Adik beliau I Gusti Anglurah Made  Sakti  mempunyai putra I Gusti Putu Pinatih, I Gusti Ngurah Made Pinatih, I Gusti Ngurah Anom, I Gusti Ngurah Mantra, I Gusti Ngurah Puja.  Saudara sepupunya  I Gusti Putu Pahang mempunyai putra I Gusti Putu Pahang – sama dengan nama sang ayah, I Gusti Made Pahang, I Gusti Ayu Pahang – yang diambil oleh I Dewa Manggis Kuning,  serta I Gusti Nyoman Pahang.  Demikian keadaaanya  dahulu .

dukuh  SAKTI PAHANG mapamit moksa

Dikisahkan  sesudah lama Kyai Anglurah Agung Gde Pinatih memegang kekuasaan di wilayah  Pinatih, datanglah masa tidak mengenakkan.. Ada anggota masyarakat beliau yang  dipakai sebagai mertua  bernama I Dukuh Pahang atau  I Dukuh Sakti. I Dukuh Sakti memang seorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, ahli dalam ilmu sastra yang mahautama, paham tentang Catur Kamoksan atau  jalan Moksa yang empat, serta Falsafah menuju Kematian atau Tatwa Pati. Suatu saat I Dukuh menghadap kepada I Gusti Anglurah Pinatih : “Aum Ki Arya Agung Pinatih, hamba sekarang memohon diri kepada tuanku, akan pulang ke Sorgaloka, akan moksah “.

Karena  demikian kata  I Dukuh, menjadi marah Kyai Anglurah Agung Pinatih, serta berkata : “Uduh Kaki Dukuh, seberapa besar karya yang Ki Dukuh sudah buat sehingga bisa mengatakan  akan moksa ? Saya saja yang begini, menjadi penguasa, banyak memiliki rakyat, kokoh membangun kebaikan, tidak bisa melakukan moksa. Sekarang kalau benar seperti yang dikatakan Dukuh yakni akan pulang ke  dunia sana dengan moksa, saya akan berhenti menjadi penguasa di negara Badung”. Baru saja demikian kata  Kyai Anglurah Agung Pinatih, segera Ki Dukuh berkata : “Aum Kyai Anglurah Agung Pinatih, sebagai Ratuning Jagat Kerthalangu, janganlah I ratu berkata demikian kepada hamba ! Memang benar hamba bisa moksa, ini   simsim hamba bawa  agar tuanku tidak  kabajrawisa ! ”.

“Ah aku masa kurang apa. Sekarang kapan sira Dukuh akan melakukan  moksah?”. Menjawab  sira Dukuh : “Inggih, pada hari besok hamba  akan pulang moksa, pada saat sang Surya  tepat di atas kepala ”. Demikian  atur sira Dukuh.

Karena sudah pasti janji I Dukuh akan moksa, kemudian  Kyai Anglurah Agung Pinatih memberitahukan kepada para bala dan  menterinya semua agar mengawasi di rumah Ki Dukuh , serta agar membawa tongkat, kalau-kalau sira Dukuh tidak bisa moksa,  diperintahkan oleh  Kyai Anglurah Agung Pinatih, memukul sira Dukuh dengan tongkat itu. Demikian perintah Ida Kyai Anglurah Agung Pinatih kepada rakyatnya semua.

Pada pagi keesokan harinya, semuanya bersiap, bala pasukan serta para menteri  menuju  tempat kediaman sira Dukuh. Sesampainya di sana dilihat sira Dukuh sedang menggelar yoga semadhi, menghadapi pedupaan. Sesudah masak betul yoganya, kemudian Ki Dukuh  menyampaikan sapa kutukan bagi Kyai Anglurah Agung Pinatih : “Inggih Kyai Anglurah Agung Pinatih, ratuning wilayah  Kerthalangu, Jhah Tasmat – semoga Kyai Anglurah Pinatih  dirusak oleh  semut ! “.

Sesudah menyampaikan sapa kutukan itu, Ki Dukuh masuk ke pedupaan  besar itu, lepas, hilang tidak kelihatan lagi Ki Dukuh. Memang benar Ki Dukuh moksa tidak kembali lagi. Inggih,  hentikan dahulu sampai di sini.

Sesudah itu, merasa kagum takjub rakyat Kyai Anglurah  Agung Pinatih, memang benar Ki Dukuh moksa, kemudian disampaikannnya kepada Kyai Anglurah  Agung Pinatih prihalnya sira Dukuh. Saat itu Kyai Anglurah  Agung Pinatih berdiam diri, berpikir dalam hatinya,  terlanjur  mengeluarkan kata-kata tidak baik.

KYAI PINATIH BERPINDAH TEMPAT DARI KERTHALANGU

Sesudah  satu bulan tujuh hari lamanya, datanglah ciri Kyai Anglurah  Agung Pinatih Rsi didatangi semut tak terhitung banyaknya merebut, ada  dari bawah, dari atas jatuh berkelompok-kelompok. Itu sebabnya  merasa  gundah hati Kyai Anglurah  Agung Pinatih besereta para isteri, putra, cucu semuanya. Karena demikian keadaannya, kemudian diadakan pertemuan dengan sanak saudara semuanya, berencana  akan berpindah  dari Purian, menuju Pura Dalem Paninjoan. Sesampainya di sana, kemudian diberitahukan  semua rakyatnya untuk membuat   Taman dikitari dengan telaga, telaga itu dikelilingi dengan api, di tengahnya telaga barulah dibangun  tempat peraduan. Namun masih saja  dicari, direbut oleh semut, berbukit-bukit  tingginya   kemudian jatuh  di tengahnya Taman itu.

Karena  itu halnya,  kembali Kyai Anglurah  Agung Pinatih menyelenggarakan pertemuan, bertukar pkiran dengan  saudaranya semua  serta didampingi oleh rakyatnya. Semuanya merasa masgul, kemudian  meninggalkan      Pura Dalem Paninjoan, berpindah lalu berdiam di sebelah timur sungai, diiringi rakyatnya semua. Tentu saja Kyai Anglurah  Agung Pinatih berpikir tentang kedigjayan sira Dukuh. Kemudian  beliau  merencanakan akan  berpindah dari tempat itu, serta diberitahukan kepada balanya, siapa yang sanggup menjaga Pura Dalem itu,  boleh tidak ikut mengiringkan  Kyai  Anglurah Pinatih.  Kemudian segera  matur  anggota masyarakat beliau yang bernama   Ki Bali Hamed, ia akan  menuruti kehendak beliau untuk menjaga  Pura Dalem itu.

Pada saat itu I Gusti Tembawu menyatakan tidak bisa  mengikuti  keinginan ayahandanya , demikian juga I Gusti Ngurah Kepandeyan, yang  pernah berpaman dengan I Dukuh, dan karena memang tidak  baik dalam hubungan bersanak saudara,  karena sudah terlanjur bertempat tinggal di sana  serta memperoleh  kebaikan di wilayah Intaran. Usai sudah perbincangan yang diadakan, kemudian diputuskanlah hubungan  pasidikaraan dengan I Gusti Tembawu dan I Gusti Kepandeyan.

Disebabkan karena masih juga diburu oleh semut, kembali beliau beralih tempat  bersama menuju  Geria milik  Ida Peranda Gde Bandesa dan di tempat tinggal  Ida Peranda Gde Wayan Abian, seperti para putranya semua, yang ada di Kerthalangu, ke Padanggalak, di sana Kyai Anglurah  Agung Pinatih bertempat tinggal diiringi rakyatnya semua.

Penuh sesak di sana di pinggir Sungai Biaung. Di sana Kyai Anglurah  Agung Pinatih menghaturkan rakyat  60 KK kepada Ida Peranda berdua. Ida Peranda berdua merasa senang hati mendapatkan  warga itu, semua  yang handal didapatkan oleh beliau Ida Peranda, yang bernama  Ki Bandesa Kayu Putih, Macan Gading, I Pasek Kayu Selem, semua bertempat tinggal di Tangtu. Di sana kemudian ada perjanjian Kyai Anglurah  Agung Pinatih di hadapan Ida Peranda berdua, menyatakan sudah putus hubungan kekeluargaan dengan I Gusti Tembawu, sebab sudah  berumah di  I Mangku Dalem Tembawu.

Karena demikian yang didengar oleh I Mangku Dalem Tembawu lalu dibalaslah  pernyataan Kyai Anglurah  Agung Pinatih. Katanya : “Mudah-mudahanlah yang mambawa pusaka keris yang bernama I Brahmana serta tumbak yang bernama I Baru Gudug, pada saat menyelenggarakan upacara ala ataukah ayu, jika tidak  ada  I wong Tembawu, mudah-mudahan tidak berhasil upacara itu ”.

Dibalas oleh Kyai Anglurah  Agung Pinatih : “Mudah-mudahan I wong Tembawu itu  kaya dengan pekerjaan”. Demikian pernyataan  Kyai Anglurah  Agung Pinatih. Kemudian I Gusti Tembawu dipakai menantu oleh I Mangku Dalem Tembawu.

Setelah itu Kyai Anglurah  Agung Pinatih disertai oleh adiknya serta sanak saudaranya semua memohon kepada  Ida Peranda berdua, akan membangun Panyiwian di ujung Desa Biaung, dinamai Pura Dalem Bangun Sakti, disungsung oleh rakyatnya yang ada  di Biaung. Ida Peranda berdua dengan senang hati memberikan restu untuk hal itu. Di sana kemudian  Ida Peranda berdia  membuat Pura Dalem Kadewatan, Puser Tasik Batur dan Kentel Gumi, untuk wilayah Padanggalak. Hentikan dahulu .

Diceriterakan kembali setelah beberapa lama Kyai Anglurah Agung Pinatih bertempat tinggal di Padanggalak, kembali direbut semut. Karena itu kembali  beliau berpindah tempat menuju  Alas Intaran – Mimba semuanya. Tidak berapa lama di sana, ada lagi cobaan dari Yang Maha Kuasa, ada ikan  Aju datang dari tengahnya laut,  semuanya  terhempas ke pantai tidak terbilang banyaknya. Itu sebabnya kemudian orang di Intaran segera membuat tembok  dengan pohon  pepaya, diperintahkan oleh  Kyai Anglurah Agung Pinatih.  Memang merupakan cobaan dari  Hyang Widhi, tembok itu ditubruk oleh ikan itu dihempas-hempas hingga rusak, itu sebabnya  banyak bangkai ikan di tepi  pantai sampai ke  tengah  hutan itu. Kemudian datanglah  semut  merebut bangkai  ikan itu. Semakin  banyak  semut itu datang, serta  ikan itu  berulat, baunya  sangat  busuk. Itu sebabnya  menjadi gundah  orang di sana, dan  kelak kemudian hari tempat itu dinamai Ajumenang.

Karena semuanya  merasa gundah , merasa tidak tahan dengan bau ikan yang sangat busuk itu, banyak anggota masyarakat yang ada di Intaran berpindah  ke sana ke mari mencari  perladangan. Ada yang mencari tempat di Kepisah, ada di Pedungan, di Tegal, di Glogor Carik, di Seminyak, memohon diri kepada  Kyai Anglurah Agung Pinatih.

Karena demikian keadaannya, semakin  masygul hati Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi, serta menyesali diri, karena  sudah terlanjur manyampaikan pernyataan tidak baik, tidak boleh berkata sumbar, sangat berbahaya  dikatakan, dan  hal itu sudah menjadi bukti,  buahnya dipetik sekarang.

Singkat ceritera, Kyai Anglurah Agung Pinatih, kemudian memohon diri kepada Ida Peranda berdua, akan beralih tempat ke wilayah Blahbatuh semuanya dengan rakyatnya. Bagaikan  bibit pepohonan yang besar yang ditimpa panas membara serta  angin ribut rasanya, karena itu  berpencar  para putranya, juga  saudaranya  I Gusti Ngurah Anom Bang yang dipakai menantu oleh Ki Karang Buncing di Blahbatuh. Sejak saat itu putus pula hubungan pasidikara. I Gusti Blangsinga , pergi tanpa tujuan  seraya membawa pusaka.

Entah berapa lama berdiam di Blahbatuh, kembali ada semut yang datang, kembali beralih tempat dari sana menuju desa Kapal. Di Kapal, karena  tempat di sana sempit untuk orang banyak, sehingga bisa berjejal di sana, maka Kyai Anglurah  Pinatih  mengutus I Gusti Tembuku, I Gusti Putu Pahang serta I Gusti Jumpahi, untuk mencari tempat, yang kemudian pergi menuju ke arah timur, ditemuilah  hutan perladangan yang cukup luas bernama  Uruk Mangandang juga bernama  Pucang Bolong.  Prihal tempat itu dipermaklumkan kepada  I Gusti Ngurah, kemudian tempat itu dijadikan puri. Setelah bertempat tinggal di sana kemudian membuat  sthana Kawitan Merajan Geria Sakti serta Puri sampai kepada rakyatnya  dibuatkan tempat tinggal. Sehingga beliau berdua dikelilingi oleh rakyat serta sanak saudaranya. Sesudah baik keadaan wilayah itu, sejak itu Uruk Mangandang disebut dengan  desa Tulikup.

Diceriterakan kembali I Gusti Ngurah Anom Bang yang dipakai menantu oleh Ki Karang Buncing, diputuskan hubungan pasidikaraannya oleh keluarganya , namun masih kokoh kuat natad – membawa kalingan – keluhuran beliau, sebagai warga Pinatih,  walaupun sudah dipatah – putuskan pasikaraannya. Setelah berputera, kemudian I Gusti Ngurah Bang beralih tempat ke  desa Batubulan, putranya masih di  Blahbatuh. I Gusti Bang  mengambil isteri putri dari I Dewa Batusasih, mendapatkan putra, bernama I Gusti Putu Bun bertempat tinggal di  Batubulan, I Gusti Made Bun  pindah ke desa Lodtunduh, ayahnya masih di  Batubulan, didampingi oleh putra yang lain bernama I Gusti Putu Bija Karang,  adiknya yang bernama I Gusti Bija Kareng  mengungsi ke wilayah Peliatan, Krobokan , juga adiknya yang  dua lagi IGusti Bawa serta I Gusti  Bija bertempat tinggal di Dawuh Yeh serta Dangin We. Kemudian I Gusti Bawa pergi tanpa arah tujuan  ke arah barat Er Uma membangun  sanggar-kabuyutan  yang bernama Pura Lung Atad.Ada juga sanak saudara beliau yang  berpindah tempat menuju kawasan  Gelgel, ada yang ke Karangasem berdiam di Bebandem. Hentikan dahulu.

Ada  ceriteranya putra Ki Arya Bang Pinatih yang bernama I Gusti Ketut Bija Natih kemudian menurunkan Ketut Bija Natih, masih di wilayah Kerthalangu, menjadi pamangku di Dalem Kerthalangu,  lalu ada yang berpindah ke arah selatan, ada di Bukit, ada di Jimbaran, di  Ungasan serta Umadwi.  Demikian ceritreranya dahulu.

Erntah berapa lama  Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi memerintah di Puri Tulikup bersama adiknya, ternyata kemudian pecah  persaudaraannya dengan adiknya Kyai Anglurah Made Sakti.  Halnya seperti di bawah ini.

COKORDA NYALIAN MEMPERLUAS WILAYAHNYA

 Diceriterakan Cokorda Panji di Nyalian berkeinginan untuk  memperluas  wilayahnya. Kemudian  dia datang ke Uruk Mangandang mempermaklumkan sebagai utusan Dalem yang berkehendask agar Kyai Anglurah Pinatih  menghadap kepada Dalem di Gelgel  semuanya, diiringi oleh rakyat, para putrra dan cucu, karena ada hal penting  yang hendak dititahkan oleh Ida Dalem.

Pada saat itu diadakan pertemuan dengan semua sanak saudara, yang terkemuka seperti  antara sang kakak dan sang adik. Kesimpulan pertemuan itu, sang kakak  akan melaksanakan perintah Dalem, namun sang adik tidak akan mengikuti permintaan Dalem. Saat itu  berkata  sang kakak Kyai Ngurah Gde Pinatih kepada adiknya Kyai Ngurah Made Sakti : “ Bila  adinda tidak akan mengikuti kanda, kakanda akan menghadap kepada Dalem, walaupun  adinda memohon diri kepada kakanda, dan walaupun nanti adinda akan bertempat tinggal jauh, agar jangan sekali-kali lupa bersaudara  di kelak kemudian hari”. Kemudian berkata adiknya : “Uduh, kakandaku, dinda  menuruti  kata-kata kanda”.  Setelah usai pertemuan itu, kemudian dibagi dua milik  beliau berdua seperti pusaka  sampai dengan rakyat. Beliau sang kakak Kyai Anglurah Agung Pinatih  membawa kris Ki Brahmana serta tumbak yang bernama I Barugudug. Adiknya Kyai Ngurah Made Sakti  membawa segala perlengkapan pemujaan, seperti pasiwakaranaan serta  pustaka.

Sesudah itu, karena Kyai Anglurah Agung Pinatih masih sangat hormat dan bhakti kepada Ida Dalem, maka sekalian bersama-sama pergi menuju Puri Suwecapura diiringi oleh sanak saudara serta rakyatnya. Kyai Anglurah Made Sakti, kemudian menuju arah barat, diikuti juga anak-saudara, cucu semuanya serta rakyat, dan tidak diceriterakan di perjalanan, akhirnya sampai di Jenggalabija. Pada saat itu paman beliau I Gusti Gde Tembuku kemudian pindah  dari Tulikup menuju Buruan, terus ke Peliatan, dan berdiam di Tebesaya. Hentikan dahulu prihal I Gusti Ngurah Made Sakti yang bertempat tinggal di Jenggala Bija dan I Gusti Gde Tembuku yang ke Tebesaya.

Juga diceriterakan prihal para putra Arya Bang Pinatih yang lain seperti putra I Gusti Made Pahang di Tulikup,  yang sulung bernama I Gusti Putu Pahang pindah dari desa Tulikup menuju desa yang kemudian bernama Jagapati, I Gusti Made Pahang  masih bertempat tinggal di Tulikup, I Gusti Nyoman Pahang kembali ke wilayah Pahang, I Gusti Ngurah Ketut Pahang pindah ke desa Selat.   I Gusti Kaja Kauh pindah menuju wilayah Bebalang, Bangli disambut di sana oleh  sanak saudara dari  Arya Bang Wayabiya.

Di Tulikup, para putra Ki Arya Bang Pinatih menguasai tempat dan kemudian membangun sthana Pamerajan masing-masing, seperti para putra I Gusti Bona, I Gusti Benculuk, I Gusti Sampalan, I Gusti Pandak, I Gusti Nangun, I Gusti Berasan, I Gusti Meranggi, I Gusti Sayan, I Gusti Bedulu, I Gusti Gunung, I Gusti Kandel  dan  I Gusti  Kutri.

Kemudian ada juga yang bertampat tinggal di  Kembengan, yakni I Gusti Tegal, I Gusti Sukawati, I Gusti Arak Api, I Gusti Julingan putra I Gusti Kandel, I Gusti Kembengan, I Gusti Manggis, I Gusti Pelagaan. Juga masing-masing membangun  Pamerajan.

Ada lagi yang mengungsi ke wilayah Siut, bernama I Gusti Nyoman Natih, putranya berdiam di  Banjar Bias, ada di Karang Dadi serta di Gerombongan.  Demikian dahulu.

Kembali diceriterakan kedatangan Ida Kyai  Anglurah Pinatih di hadapan Dalem kemudian mempermaklumkan prihal kedatangan Cokorda Panji dari Nyalian. Ida Dalem berkata bahwa tidak sekali-kali memerintahkan Kyai Anglurah Agung Pinatih agar datang menghadap, sehingga disimpulkan bahwa hal itui  merupakan tipu muslihat Cokorda Panji, agar Kyai Anglurah Agung Pinatih meninggalkan wilayah  Uruk Mangandang.  Lama beliau berdiam, berpikir, dan mungkin sudah ada dalam pikiran beliau,  dan  agar tidak menjadi bibit yang tidak baik, agar tetap  bhakti masing-masing sejak dahului kala. Sejak berkuasanya  leluhur Dalem  dahulu – sejak pemerintahan Ida Dalem Kresna Kepakisan, Kriyan Pinatih memang disayang di Puri menjabat sebagai Demung. Kemudian Ida Dalem berkeinginan memenuhi keinginan kedua belah pihak : Cokorda Panji ingin memperluas  wilayahnya agar memperoleh rahayu; Kyai Pinatih juga agar tetap bhaktinya seperti yang dilakukan para leluhurnya yakni para Kriyan Pinatih yang sudah wafat, juga agar mendapatkan keselamatan.  Kyai Anglurah Pinatih kemudian diminta untuk sementara tinggal di Puri Agung, tidak diperkenankan kembali ke Tulikup, diminta  untuk mendampingi beliau Ida Dalem.

Diceriterakan tidak lama Cokorda Nyalian memegang  wilayah Tulikup kemudian diserang oleh raja  Gianyar. Demikian dahulu.

DIBERI TEMPAT DI BUKIT MEKAR MENJADI DESA SULANG

Singkat ceritera, Ida Dalem mengadakan utusan untuk mencari tempat  tinggal bagi Kyai Pinatih, di perbatasan  wilayah Klungkung  dan Karangasem bernama  Bukit Mekar. Walaupun tempat itu sempit, atas perintah  Dalem, Ida I Gusti Anglurah Agung Pinatih Rsi  kemudian bertempat tinggal di sana  diiringi oleh putra sanak saudara. Rakyat semuanya  mengiringi. Tempat itu kemudian diberi nama desa Sulang

Sedatang di Bukit Mekar, beliau pertama kali mengukur temnjpat untuk  Pamerajan,  tempat Puri, mengukur tempat untuk Kahyangan Tiga serta  tempat kuburan dan rumah tempat tinggal rakyatnya semua.

Setelah  sesak di Bukit Mekar, diberikan lagi tempat di perbatasan Klungkung dan Karangasem yang bernama Tegal Ening, dekat dengan desa Lebu-Cegeng di tepi Sungai Unda yang sudah dikuasai  I Gusti Dauh di Talibeng. Di sana  rakyat Kriyan Pinatih ada sebagian membangun rumah serta panyungsungan Puseh – Bale Agung, wilayah itu kemudian dinamai Banjar Mincidan. Penuh sasak di  banjar Mincidan, kemudian diberi tempat lagi di  tepi Sungai Unda yang bernama  Tegal Genuk, yang kemudian diberi nama Banjar Gerombongan. Dari Banjar  Gerombongan, karena  sesak  diberikan tempat di perbatasan Semara Pura tepi selatan, tempat warga Pande yanbg diajak dari Madura, tempat itu bernama Banjar Galiran. Dari  Banjar Galiran, karena sesak, diberikan lagi tempat di  Kusamba, dekat dengan Banjar Sangging, kemudian ada yang berada di pesisir pantai Kusamba yang bernama Karang Dadi.

Kemudian ada  diveriteraklan para putra Ki Arya Bang Pinatih yang kemudian mengikuti penuanya. Berekeingin untuk menghadap ke Puri Dalem lalu berdsiam di  Banjarangkan, serta membuat panyawangan kawitan diberi nama Pura Lung Atad. Kemudian ada yang beralih mencari tempat di tepi Sungai Bubuh  bernama tempat itu Basang Alu, membangun Pamerajan diberi nama  menurut nama masing-masing. Pura di  Lung Atad  dituntun ke Basang Alu, berganti nama menjadi Pura Sari Bang.

Diceriterakan lagi I Gusti Jimbaran pindah dari Tulikup menuju desa Getakan, berdiam di sana disayang oleh Cokorda Bakas. Inggih  Demikian,, hentikan dahulu keadaan para putra yang  terpencar tempat tinggalnya.

KYAI ANGLURAH MADE SAKTI  DI JENGGALA BIJA

Diceriterakan sekarang Kyai Anglurah Made Sakti, tidak mengikuti kakaknya , berpindah tempat dari desa Tulikup menuju Jenggalabija diiringi oleh rakyat lengkap dengan bawaannya. Jenggala Bija itu dekat dengan tempat kediaman I Dewa Karang yang dipakai menantu di wilayah  Mambal.

Kyai  Anglurah Made Sakti  sudah memiliki Puri di Jenggalabija, sampai kepada rakyatnya sudah  memiliki perumahan sesuai dengan keadaan pedesaan yang sudah ada.

Kyai Ngurah Made Sakti  benar-benar bijak memegang kekuasaan, beliau  ahli dalam sastra, serta senang melaksanakan dewaseraya berbhakti kepada Ida Hyang Widhi dan Bhatara semua. Pada saat itu ada anugerah dari Ida Sanghyang Widhi pada hari Selasa Kliwon – Anggara Kasih, bulan Bali yang kesembilan –  Kesanga di tengah malam, Kyai Ngurah Made melakukan upacara persembahyangan di hutan ladang Bun, di sebelah  timur Desa Pangumpian. Sesudah sampai di tepi hutan itu, dilihat ada asap tegak berdiri putih seakan-akan sampai di angkasa. Tempat itu kemudian dicari oleh Kyai Ngurah Made. Sesampai di tempat itu, layaknya sebagai bun – pohon merambat dilihat oleh beliau asap yang berdiri tegak itu,  seperti aneh   rasanya dan juga  menakutkan. Ketika hilang asap itu, kembali perasaan beliau Ida Kyai Anglurah Made Sakti seperti sediakala , kemudian menaiki timbunan bun itu. Sesudah sampai di puncak, kira-kira ada  80 depa, kemudian ada  sabda terdengar dari  angkasa :  “Nah, dengarkanlah sabdaku ini ! Segera bersihkan  hutan bun ini, kemudian pakai desa ataupun perumahan. Sejak sekarang Kyai Ngelurah Pinatih Made menjadi Kyai  Ngelurah Pinatih Bun, sampai kepada keturunanmu  kelak di kemudian hari menjadi warga  Bun”.

Setelah selesai mendengar sabda  dari angkasa itu,  kemudian Ida Kyai Ngurah Made turun. Setelah sampai di tanah kemudian beliau berkeinginan untuk memberi tanda tempat itu dengan  kapur – diberikan tanda silang – tapak dara, sebagai tanda, kemudian beliau pulang ke Puri.

Pada pagi harinya sampailah kemudian di Puri beliau di  tegal Bija, kemudian memberitahukan kepada Perbekel  serta  rakyat semuanya. Setelah semua rakyat berdatangan menghadap, kemudian I Gusti Ngurah Made  berkata : “Nah Paman semuanya, saya sekarang memerintahkan paman semuanya untuk merabas hutan bun itu, saya  akan membangun desa serta perumahan”.

Rakyat semuanya menyambut dengan perasaan senang hati, menuruti keinginan I Gusti Ngurah Made, semuanya lengkap membawa alat akan merabas Alas Bun itu.

Setelah semua bersih hutan itu dirabas, ketika  matahari sudah berada di atas kepala, rakyat semua beristirahat  dan mengambil makanan untuk rakyat Bija itu di Pasar Pangumpian, kemudian  tiba di Bancingah Pangumpian seraya  membuang sampah. Di sana dibuang sampah iitu oleh  rakyat Bija. Setiap hari demikian tingkah rakyat Bija di Pasar Pangumpian. Kemudian ada orang melaporkan permasalahan itu kepada I Gusti Ngurah Pangumpian, prihal tingkah rakyat pendatang  itu  merabas  hutan . Karena itu merasa marah besar I Gusti Ngurah Pangumpian karena tidak ada pemberitahuan kepada I Gusti Ngurah Pangumpian, sebab itu dilarang rakyat pendatang  itu merabas hutan Bun itu, karena tidak patut perbuatan rakyat Bija itu, apalagi membuang sampah sembarangan di Bancingah Pangumpian, kemudian dihentikan dengan senjata.

Sesudah itu kemudian I Gusti Ngurah Pangumpian mengumpat mereka  sampai kepada Gusti mereka. Karena itu segera  didengar oleh rakyat Bija, sehingga kacau di Pasar Pangumpian apalagi diimbuhi dengan tantangan terhadap Gustinya.

Itu sebabnya  menjadi marah I Gusti Ngurah Made kemudian memerintahkan putranya  untuk melaksanakan  perbuatan sebagai seorang Ksatria.

Saat itu I Gusti Putu Bija sebagai putranya mengikuti ayahnya bersama rakyat semuanya,  membawa senjata, bersorak sorai semua. Dipimpin oleh sang ayah, kemudian masuk  ke Puri Pangumpian. Sangat ramailah perang di sana, saling tusuk, saling  penggal, itu sebabnya banyak yang mati, sungguh  riuh sekali perang antara  Bija  lawan Pangumpian. Banyak yang  mati dan banyak juga yang luka. Saat itulah kemudian bertemu berperang tanding I Gusti Ngurah Made lawan I Gusti Ngurah Pangumpian,   kemudian kalah I Gusti Ngurah Pangumpian dan kemudian meninggal. Sejak itu orang-orang di Pangumpian kalah kemudian ada yang  pergi berpencar mencari tempat, ada yang mengungsi ke pegunungan. Ada yang ke arah selatan ke Desa Kusiman, ada di Suwung, di Wimba serta di Blumbungan, Kapal. Demikian kesaktian Kyai Anglurah Made, itulah sebabnya kemudian beliau diberi gelar  I Gusti Anglurah Sakti Bija. Hentikan dahulu ceritera di  Bun Pangumpian.

Diceriterakan sekarang yang memegang kekuasaan di wilayah Mengwi yang bernama I Gusti Made Agung Alangkajeng serta bergelar Cokorda Agung Made Bana, beserta adiknya  I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng serta I Dewa Karang di  Mambal, menanyakan prihal peperangan itu. Kyai Anglurah Bun kemudian mengatakan prihal mendapatkan anugerah dari Hyang Maha Kuasa.

Berkata  Cokorda : “ Nah kalau begitu, Dinda Ngurah Bun yang memang benar. Serta Ngurah  beserta rakyat  patut beralih tempat dari wilayah Jenggala Bija berrkumpul di Desa Bun. Agar sesuai dengan nama wilayah”.

Diceriterakan sekarang yang menjadi pendeta, bernama  Ida Peranda Wayan Abian mempunyai putra bernama Ida Wayan Abian. Adiknya bernama Ida Ktut Abian, dipakai ipar serta menantu oleh Kyai  Ngurah Bun. Itu sebabnya  beliau berdiam di  wilayah  Bun, serta juga berganti nama menjadi warga Bun. Beliau kemudian dijadikan Cudamani oleh Ki Arya Bun serta juga warga Ki Arya Bija, demikian kesimpulan pertemuan di Geria Sanur. Kemudian juga I Gusti Ngurah Made Bija dapat berdiam di Desa Beranjingan, mendapatkan rakyat 300 orang didampingi oleh menantunya yang bernama  Ida Ktut Ngurah.

Diceriterakan I Gusti Putu Bija di Beranjingan diiringi oleh para putranya semua membuat senjata 40. Senjata itu kemudian diberi nama Dolo dan Beranjingan, semua senjata itu bertatahkan mas, kemudian dipergunakan sebagai alat upacara di pura-pura serta dipakai peringatan  di kelak kemudian hari .

Ada juga  terlahir dari warga Beranjingan, bernama I Gusti Ngurah Gde Bija, adiknya bernama I Gusti Ngurah Made Bija Beranjingan, I Gusti Ngurah Anom Lengar, serta terakhir  bernama I Gusti Ketut Bija Tangkeng Itu semua lahir dari  Puri Beranjingan, di samping ada yang wanita.

Dikisahkan I Gusti Putu Bija yang bertempat tinggal di Beranjingan, disusupi oleh loba – tamak, moha hatinya, itu sebabnya  berani kepada ayahandanya Kyai  Ngurah Made Bija Bun, sehingga tidak ingat lagi bersaudara maupun berayah. Itu sebabnya  bertentangan  Beranjingan dengan warga Bun. Muncul kesal hati Ida Kyai Ngurah Bun untuk berebicara dengan putranya yang ada Puri Beranjingan, karena  anaknya itu merasa diri pintar, tidak lagi peduli dengan kelebihan orang lain .

Karena itu, menjadi marah Kyai Ngurah Made Bun, kemudian melakukan perbincangan dengan putranya yang lain  seperti I Gusti Ngurah Made Bija Bun, I Gusti Anom Bija, I Gusti Ngurah Teja, I Gusti Ngurah Alit Padang, agar merebut saudaranya yang ada di  Beranjingan.

Itu sebabnya  menjadi galak rakyat Bun, kemudian  didatangi Desa Beranjingan itu oleh  pasukan Bun  serta  dikejar, diburu, karenanya menjadi kacau di wilayah Beranjingan, semua keluar membawa  alat senjata, semuanya  berani menunjukkan keperwiraannya. Di sanalah kemudian  terjadi perang yang  dahsyat, saling tusuk, saling  bunuh,  dan banyak  mati rakyat Beranjingan oleh rakyat Bun. Menyaksikan demikian halnya, sangat marah I Gusti Ngurah Putu Bija Beranjingan, akan bersedia  mati dalam pertempuran  bersama para putra serta  isteri semuanya bermaksud  untuk menghilangkan  jiwanya, dan  semuanya  mengenakan busana serba putih,  sedia akan mati di medan laga.

Karena sudah demikian tekad I Gusti Ngurah Beranjingan, menjadi gentar juga rakyat  Bun, serta para putra semuanya, kemudian  segera ayahandanya mempergunakan  Aji  Pregolan, berdiri di depan pintu Puri. Karena kesaktian Kyai  Ngurah Made Bun, menjadilah I Gusti Ngurah Beranjingan gentar melihat prabawa ayahnya, takut, tidak berani lagi menenatang , sampai dengan  rakyat Beranjingan semua, lalu  semuanya lari tunggang langgang besar kecil mengungsi serentak menyembunyikan diri  menuju desa Srijati di Sibang, kemudian berdiam di Desa Darmasaba, serta menghamba kepada  I Gusti Agung Kamasan beserta seluruh rakyatnya, penuh sesak di sana di Darmasaba. Dengan demikian I Gusti Ngurah Putu Bija Beranjingan batal meninggal di medan perang, tempat itu kemudian  dinamai Jagapati .

Sesudah lama berdiam di sana, kemudian semua  para putra I Gusti Ngurah Putu Bija Beranjingan berpencar. Putra I Gusti Ngurah Putu Bija Beranjingan masing-masing adalah I Gusti Ngurah Beranjingan membangun  Puri di Banjar Bantas, adiknya I Gusti Ngurah Made Bija Beranjingan  mengungsi ke  Desa Tingas disertai rakyat  60 KK.  I Gusti Ngurah  Ketut Bija Tangkeng serta I Gusti Ngurah Anom Lengar , mencari tempat di  Moncos diiringi rakjyat 60 KK,  I Gusti Ketut Rankeng mencari tempat di Desa Kekeran. Belakangan I Gusti Anom Lengar mengambil isteri dari Dalung, itu sebabnya  bolak-balik  tempat tinggalnya, kemudian ada  putra 3 orang, yang sulung bernama  I Gusti Putu  Bija, adiknya I Gusti Bija Lekong , yang paling kecil  I Gusti Bija Leking. I Gusti. Anom Lengar berdiam kemudian di Dalung, akhirnya kemudian di Taman Padangkasa, bersama anaknya  I Gusti  Leking.

Dikisahkan I Gusti  Bija Lekong mengungsi ke wilayah  Kuta. Sesudah lama di Kuta banyak sekali puteranya, ada yang mengungsi ke Jembrana I Gusti Putu  menuju  wilayah Kaba-kaba kemudian ke Lodsawah.

Kembali diceriterakan Kyai Ngurah Made Bija Bun  sudah  lega hatinya memperoleh kewibawan di Desa Bun, tidak ada yang   yang membantah  perintah beliau, karena sudah juga  bermitra dengan  Cokorda yang menguasai wilayah Mengwi Ida Cokorda Made Agung Bana. Lama kemudian meninggal penguasa  Mengwi Ida Cokorda Made Agung Bana,  digantikan oleh adiknya  I  Gusti Nyoman Alangkajeng yang bergelar Cokorda Munggu. Cokorda Munggu mempunyai putra I Gusti Agung Mayun serta I Gusti Agung Made Munggu. I Gusti Agung Mayun kemudian menggantikan ayahnya  beregelar  Cokorda Mayun.  Demikian dahulu keadaan di  Mengwi.

PURI BUN DISERANG OLEH MENGWI

 Diceriterakan sekarang, tidak begitu lama keadaaan ini aman, kemudian tiba masa Kalisengara – kekacauan, dan ternyata marah besar Ida Cokorda Mayun di Mengwi  berkehendak menyerang  I Dewa Karang yang ada di Puri Mambal.

Karena demikian didengar oleh  I Dewa Karang, beliau  berbincang dengan ipar  beliau  di Puri Bun. Setelah selesai bertukar pikiran, maka kembali pulang  dengan  tidak merasa sak wasangka lagi. Singkat ceritera, pasukan  Mengwi  sudah datang  menyebabkan  penuh sesak mengitari. Puri di Mambal sudah  dipenuhi oleh para putra Mengwi, dipimpin oleh Cokorda Mayun. Setelah dikelilingi puri Mambal itu,  sangat duka  hati I Dewa Karang, kemudian keluar ke depan Puri itu. Yang sebenarnya  diandalkan  oleh Puri Mengwi hanyalah pasukan dari Bun. Dan yang ternyata  mengitari Puri I Dewa Karang  juga hanya pasukan Bun .  Karena itu I Dewa Karang dapat disembunyikan  oleh  Pasukan Bun  di tengah-tengah mereka. Menjadi takjub  pasukan Mengwi, heran dengan  kesaktian I Dewa Karang, yang  hilang  tidak ada di Puri, karena sudah diungsikan – diamankan oleh pasukan Bun. Itu sebabnya  pulanglah pasukan Mengwi  tanpa hasil. I Dewa Karang kemudian mencari  saudaranya yang berdiam di Banjar Tegal wilayah  Tegalalang yang bernama  I Dewa Bata.

Sesudah lama, tahulah Ida Cokorda Mayun akan tipu muslihat  I Gusti Ngurah Made Bun, yang menyebabkan hilangnya I Dewa Karang karena dipakai menantu oleh Anglurah  Bun.  Penguasa  Mengwi kemudian menyuarakan kentongan agung , serta kemudian berangkat Cokorda Mayun  beserta balanya semua,  akan merusak dan merebut  Kyai Anglurah Bun. Bila saja berani dalam medan perang, akan dihabiskan sampai  anak cucu Anglurah Bun.

Singkat ceritera, pasukan Mengwi semuanya sudah  berangkat menuju Puri Bun. Sesampainya di  Bancingan Puri Bun, kaget  Kyai Ngerurah kemudian memukul  kentongan bertalu-talu, serentak rakyatnya semua  laki  maupun  perempuan membawa  senjata. Di sana  kemudian  berkecamuklah perang itu, saling amuk, setapakpun tidak mundur, bersorak saling ejek saling tantang , saling tusuk, saling penggal, saling banting,  sama-sama  tidak mengenal mana kawan mana lawan, sehingga kemudian peperangan itu sampai ke Puri Bun.  Tak dinyana kemudian Cokorda Mayun, sebagai pucuk pimpinan pasukan Mengwi wafat,  dapat ditusuk oleh Kyai Nglurah Bun. Serta  kalahlah pasukan Mengwi. Jenazah Cokorda Mayun, diceriterakan masih di Bun. Kemudian banyak rakyat Mengwi yang masih hidup, kembali ke Mengwi, ada yang langsung menghadap I Gusti Agung Made Munggu, adik Ida Cokorda Mayun yang wafat di Bun. Itu sebabnya murka  I Gusti Agung Made Munggu, seraya memerintahkan  semua anggota keluarganya  untuk  menyerang Anglurah Bun.  Kemudian beranghat bala pasukan Mengwi dari Munggu dan Mengwi seraya membawa senjata. Di Lambing para putra Mengwi mengadakan pembicaraan. Kesimpulan pembicaraan itu, pasukan akan dibagi dua. Dari  barat, sebagai  pimpinan  pasukan I Gusti Agung Made Kamasan  dari  Sibang serta  I Gusti Agung Jlantik dari Penarungan, serta  dari  utara, bala pasukan di sana mengiringi I Gusti Agung Made Munggu.

DARI TAENSIAT KE NAGARI

Singkat ceritera  Kyai Ngerurah Bun Pinatih sudah mendengar rencana balas dendam  dari Puri Mengwi, jelas akan  mendatangkan  bala pasukan dalam jumlah yang besar. Kalau dihadapi jelas akan  kalah. Kemudian beliau berpikir untuk tidak melawan, serta  bersiap untuk  meninggalkan puri, mengungsi ke wilayah Badung, bersama dengan  anak cucu, besar kecil, serta rakyat semuanya, dengan mengusung Bhatara Kawitan semuanya seperti  Siwapakaranaan  serta pusaka I Keborojaya beserta  I Baru Upas.

Setibanya di  Badung kemudian menuju  Taensiat, rakyat beliau  ditempatkan di Banjar Bun serta  Banjar Ambengan. Ada yang beralih menuju Angabaya, Jagapati , Angantaka, Sibang, Paguyangan. Ada yang mengungsi ke  wilayah Pagutan, Negara, Pagesangan, Tamesi . Ada ke Tagtag Negara, Pangrebongan  bersama  I Gusti Tangeb, I Gusti Meranggi. I Gusti Meranggi  pindah ke  wilayah Sarimertha. Demikian ceriteranya dahulu.

Diceriterakan sekarang di  Puri Bun, karena semua penduduk di sana mengungsi ke  wilayah Badung,  maka keadaan di sana menjadi sunyi , tak ada seorangpun yang kelihatan lewat. Setibanya pasukan Mengwi di tempat itu, maka dilakukan penyerobotan, dijarah semua  milik Puri Bun serta milik rakyat di sana. Sisa penjarahan adalah purinya, wantilan, merajan, poura dan juga ada perumahan rakyat , semuanya dibakar habis  diratakan sama sekali. Jenazah   Cokorda Agung Mayun yang meninggal dan tertinggal di  Puri Bun kemudian diambil dibawa pulang ke Mengwi.

Kembali diceriterakan I Gusti Ngurah Bun di Taensiat, para putra beliau sekarang  ada yang pindah ke desa-desa lainnya, seraya memohon diri kepada ayahnya, seperti  I  Gusti Bun Sayoga ke Sigaran Mambal, I Gusti Ngurah Alit Padang, mengungsi ke Karangasem, bertempat tinggal di Desa Padangkertha. I Gusti Ngurah Teja, mengungsi ke Denbukit. Ada putranya 3 orang, yang sulung  I Gusti Teja – namanya sama dengan nama ayahnya , di Dawan Banjar, I Gusti Demung menuju Timbul, Sukawati. Ayahnya I Gusti Ngurah Made Bun kemudian  berpuri do Taensiat. Demikian dahulu.

Diceriterakan I Dewa  Karang berpuri di Banjar Tegal, beliau senang  melakukan persembahyangan , di sana di  Dalem Pamuwusan namanya. Kemudian ada  anugerah   Ida Sanghyang Widhi, beliau mendapatkan  anugerah  senjata  dua buah. Itu sebabnya sangat suka cita I Dewa Karang, sangat  percaya diri  di hatinya .

Karena itu  beliau bermaksud untuk mencari  I Gusti Ngurah Made Bun di Puri Taensiat, agar turut serta berpuri di  Banjar Tegal. Singkat ceritera, sangat senang hati I Gusti Ngurah Made Bun, demikian juga  I Dewa Karang kemudian berjalan diiringi  rakyatnya  semua  dengan membawa perlengkapan menuju Alas Kawos, namun putranya yang bernama I Gusti Ngurah Putu Wija  diangkat atau kadharma putra oleh Kyai Pamecutan, kemudian bernama  I Gusti Ngurah Pamecutan,  berdiam di Taensiat Pamecutan. Kemudian diceriterakan  I Dewa Karang dan  I Gusti Ngurah Made Bun bersama tempat tinggalnya kemudian  menuju desa Kengetan.

Diceriterakan I Gusti Wirya yang bertempat tinggal di Kengetan, dan juga di  desa Singakertha, ditantang oleh  I Dewa Karang dan  I Gusti Ngurah Made Bun untuk berperang tanding. Akhirnya seperti keder hati  I Gusti Wirya di Kengetan, kemudian beralih tempat  semuanya serentak  membawa perlengkapan  di saat malam  menuju ke  desa Sigaran terus ke Melanjung.

 Sejak itu kemudian Desa Kengetan, Jukutpaku serta Singakertha, dikuasai oleh I  Dewa Karang. Karena  keberhasilan itu , kemudian  I Dewa Karang beserta  I Gusti Ngurah Made Bun membuat puri di Karang Tapesan sampai kapada rakyatnya  semua.

Entah  berapa masa sudah berpuri di sana, ada  usulan dari  I Gusti Ngurah Made Bun agar membangun Puri yang  baik dan indah,  sebab  keadaan sudah membaik,  terus dinamai wilayah Negara. I Gusti Ngurah Made Bun membangun Puri dinamai  Puri Negari.

I Dewa Karang mempunyai  janji dengan  I Gusti Ngurah Made Bun agar bersuka duka berdua, dan semoga terus sampai ke  keturunan nantinya. Demikian inti perbincangan I Dewa Karang  serta  I Gusti Ngurah Made Bun, semuanya  merasa suka cita.

Diceriterakan Ida Peranda Nyoman Padangrata, yang pernah menjadi pendeta atau Bagawanta Ida Ngrurah Bun sudah berpindah dari wilayah  Bun, diikuti oleh putra serta isteri  menuju desa Kutri, sewilayah dengan Negara. Banyak rakyat  I Dewa Karang  ada di Kutri diberikan kepada Ida Peranda. Demikian halnya  di masa lalu, dicantumkan dalam  pariagem.

Dilanjutkan  sekarang putra  I Gusti Ngurah Made Bun di Negari sudah semua diandalkan oleh I Dewa  Karang yang berkuasa di Negara. Putra I Gusti Ngurah Made Bun yang paling sulung bernama  I Gusti Ngurah Gde Bun atau I Gusti Ngurah Mawang berpuri di Negari, I Gusti Ngurah Anom Angkrah di Banjar Tunon, I Gusti Ketut Alit Bija bertempat tinggal di Kutri ,  I Gusti Ngurah Tangeb masih di Mawang, serta wanita I Gusti Ayu Oka juga di Negari. Semuanya  memiliki jiwa  keperwiraan masing-masing  Demikian  keadaannya.

Diceriterakan sekarang  yang menjadi penguasa wilayah Gianyar bernama Ida I Dewa Manggis, memberi perintah kepada I Dewa Karang agar para putra   Anglurah Bun Pinatih menjadi pengokoh wilayah  Gianyar, paling utama mengawasi Tegal Pangrebongan. Kesimpulan  perbincangan itu agar putra Ngrurah Bun yang bernama I Gusti Ngurah Tangeb, yang memang keturunan Pinatih, itu yang  mengawasi  di Pangrebongan, diberikan rakyat 200 orang . Demikian dicatat di Pariagem

Juga diceriterakan Ida Bang Pinatih  memiliki keturunan yang bernama   Mangurah Guwa  dan Mangurah Campida.  Keduanya, ketika masa kerajaan Gelgel  atau Sweca Linggarsa Pura,  ada  di lingkungan Ida Dalem. Namun ketika masa  pemberontakan I Gusti Agung Maruti, terjadi  huru hara, maka  sanak keturunan  beliau berdua meninggalkan Gelgel, ke arah timur  perjalanannya, serta kemudian  berdiam di desa Gunaksa. Di sana membangun kahyangan dinamai  Pura Guwa. Tujuannya  agar diketahui oleh keturunannya  sebagai warga keturunan Mangurah Guwa. Demikian tercatat di dalam prasasti,  tentang keadaan  Sira Mangurah Guwa.

Diceriterakan juga di kemudian hari  mendapatkan  panjang umur  keturunan Mangurah Guwa, ada yang pindah ke  desa Timhun, sanak saudara yang lain  menuju desa Aan. Ada juga yang meninggalkan desa Gunaksa  menuju  desa Akah, Pagubungan, Manduang serta Nusa Panida.

Demikian dahulu kisahnya  Mangurah Guwa dan Mangurah Campida.

Dan demikian pula kisah tentang keberadaan  sanak keturunan Ida Wang Bang  Banyak Wide yang kemudian menjadi warga Arya Bang Pinatih  di seluruh pelosok Pulau Bali .

TATWA WANG BANG SIDEMEN

IDA  WANG BANG TULUS DEWA DI BESAKIH

Dikisahkan sekarang Ida Wang Bang Tulus Dewa atau Ida Wang Bang Tulus Ayu  di Besakih  bersama  adiknya Ida Wang Bang Wayabiya. Sesudah Ida Danghyang Bang Manik Angkeran berpulang  moksa ke Sorgaloka,  beliau berdua kakak beradik bertempat tinggal di Pasraman ayah beliau sang pendeta yang sudah  meninggal. Berdua beliau itu melanjutkan  tugas ayah beliau  sebagai Juru Sapuh, mengawasi  keasrian serta kesucian  sthana Ida Bhatara semua se wilayah Besakih, terutama di Kahyangan Hyang Naga Basukih serta menjadi  prakangge yang menyelesaikan  segala upacara di Kahyangan Jagat itu. Di samping itu Ida Bang Tulus Dewa memang benar-benar seorang  arsitek agung, beliaulah yang memperbaiki serta menata Pura Besakih  pada saat itu, sehingga menjadi asri serta  megah  nampaknya.

Ida Bang Tulus Dewa  serta Ida Bang Wayabiya  kemudian  menikah. Tidak diceriterakan lagi Ida Wang Bang Wayabiya

Ida Tulus Dewa  mempersunting  isteri yang sangat  cantik rupawan seperti bidadari, kemudian mempunyai putera tiga orang, yang sulung bernama Ida Panataran, yang kedua bernama Ida Tohjiwa dan Ida Singharsa  sebagai yang paling bungsu.

Putra beliau bertiga itu  sangat disayangi dan dimanja oleh Ida Bang Tulus Dewa, kemudian meningkat dewasa, bagus rupawan,  sebagai putra yang betul-betul berbhakti kepada ayahanda dan ibunya.  Kepada putranya semua,  Ida Tulus Dewa memberikan  pelajaran tentang tatwa kadharman, keagamaan serta  kaweruhan,  segala ilmu dan kesaktian yang utama, itu sebabnya  putra-putra beliau itu memiliki  kacakapan utama  sama dengan sang ayah.

Lama kelamaan, sesudah Ida Bang Tulus Dewa berusia lanjut, serta  telah memberikan  pelajaran Kadhyatmikan, kecakapan berdasarkan kebijaksanaan  kepada putranya, kemudian  beliau berpulang ke Sunyamertha  menunggal dengan Ida Hyang Parama Kawi. Belakangan beliau disthanakan di Meru tumpang 7 di Pura Penataran Agung Besakih,  karena besar  jasa beliau di dunia, seperti  di Pulau Bali ini,  terutama di  wilayah  Besakih,  kemudian bergelar I Dewa Panataran. Hentikan dahulu.

IDA BANG PENATARAN – ANGLURAH KACANGDAWA

Diceriterakan sekarang Ida Bang Panataran, putra dari Ida Bang Tulus Dewa, setelah ditinggal oleh ayahnya. Memang benar-benar sayang beliau kepada adik beliau Ida Bang Tohjiwa  serta Ida Bang Singharsa.  Siang malam beliau bertiga  memperdalam  kecakapan dan ilmu yang diberikan oleh ayahnya agar kian merasuk  di  diri beliau masing-masing.

Karena beliau sudah meningkat dewasa, andal  pada diri, maka pada suatu hari, Ida Panataran bernjangsana  turun dari Besakih ke desa-desa, sampai akhirnya tiba di Gelgel.  Saat itu Ida Dalem Smara Kepakisan yang menjadi  raja Bali didampingi oleh para patih dan menteri semua.  Di saat itu  beliau dilihat oleh Patih Agung Kriyan Patandakan  yang sedang   menuju ke puri menghadap Ida Dalem. Sangat  heran  Sang patih Agung , Kriyan Patandakan  melihat  prabawa Ida Panataran. Kemudian diminta beliau itu singgah di Puri Ki Patih Agung. Di sana Ida Panataran  jatuh cinta kepada purti Ki Patih Agung yang bernama I Gusti Ayu Buringkit.

Singkat cerietera, karena sudah  saling mangasihi, keduanya, maka  Ida Bang Panataran  menikahi  putri Ki Gusti Agung  dan kemudian berdiam di rumah mertuanya.

Diceriterakan  sekarang adik Ida Panataran yang bernama Ida Tohjiwa,  seperti kehilangan,  sudah demikian rindu  dengan kakak beliau, kemudian dicarinya kakaknya ke desa-desa, tak dinyana ditemuinya di Gelgel. Di sana kemudian  adiknya menghadap kepada kakaknya, di Kepatihan.  Merasa berbahagia benar Ida Panataran melihat kedatangan adiknya, kemudian matur adiknya Ida Tohjiwa : “ Maafkan  saya kanda,  dinda matur, ada permintaan  dari rakyat kanda-dinda , agar  palungguih kanda  bisa  pulang ke Besakih, mengatur rakyat di sana.  Marilah kanda, pulang”. Kemudian Ida Panataran pulang ke Besakih diiringi  oleh  isterinyta I Gusti Ayu Buringkit dan  adiknya Ida Tohjiwa, dan tidak lupa  memohon diri kepada  mertua beliau, Ki Patih Agung Kriyan Patandakan. Di Panataran Besakih, Ida Panataran mengatur  segala  upacara Hyang  sampai dengan ke Panataran Goa Lawah di tepi laut, karena Pura Goa Lawah merupakan sthana Ida Bhatara Hyang Basukih. Diceriterakan juga Ida Panataran lah  yang semula menjadi pamangku di Penataran Basukih  sampai dengan  di Goa Lawah, yang kemudian meminta I Gusti Batan Waringin, putra I Gusti Tusan  keturunan Arya Kepakisan untuk menjadi pamangku di Pura Gwa Lawah. Demikian ceriteranya dahulu.

Tidak lama di Besakih, kemudian Ida Panataran mempunyai  anak  seorang wanita  bernama Ida Ayu Puniyawati, sesudah  dewasa dilamar oleh I Gusti Pinatih Rsi dari Kerthalangu, Badung. Ada utusan  dari Kerthalkangu Badung  yang matur  seperti ini : “Inggih Ratu Sang Bang, kami datang kemari hanyalah utusan  dari Ki Arya Bang Pinatih, yang beristana di Kerthalangu kawasan Badung, yang merupakan paman kami, yang  bermaksud untuk melamar  puteri palungguh I Ratu akan dijadikan permaisuri”.

Kaget  Ida Bang Panataran, seperti gugup tak bisa berkata-kata, kemudian menjawab :  “ Saya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Ki Arya Pinatih, karena tidak boleh  sang Arya melamar sang Brahmana”. Demikian ucap Ida Bang Sidemen Panataran.  Menjawab  sang utusan I Gusti Gde Tembuku  serta I Gusti Putu Pahang : “Ah bagimana rupanya ratu  Bang Sidemen, mungkin tiada ingat dengan nasehat leluhur  dahulu ? Hamba berani melamar putri tuanku Bang Sidemen ke sini, karena  kawitan hamba dahulu  sesungguhnya adalah wangsa Brahmana. Sekarang mohon didengar  atur hamba agar merasa pasti. Pada saat dahulu ada  nasehat dari leluhur hamba, yang bernama Ida Bang Banyakwide, bersaudara dengan Ida Bang Tulus Dewa serta  Ida Bang Kajakauh. Ida Bang Banyak Wide pergi dari Besakih guna mencari kakeknda Ida Sang Pandya Siddhimantra di Jawa, namun tidak dijumpainya, kemudian  berjumpa dengan Ida Mpu Sedah, dan kemudian belakangan dijadikan menantu oleh Ki  Arya Buleteng. Karena Ki Arya Buleteng tidak memiliki keturunan langsung atau sentana, maka   Ida Bang Banyak Wide  dijadikan sentana Ki Arya, sehingga  Ida Bang Banyak Wide menjadi Arya. Ida Bang Banyak Wide itu merupakan leluhur kami yang menurunkan Ki Arya Pinatih Resi. Demikian halnya  dahulu. Nah, sekarang ini bagaimana  Sang Bang Sidemen, apakah tidak ada ceritera dari Leluhur seperti itu ? “. Demikian hatur  I Gusti Gde Tambuku. Segera ingat Ida Sang Bang Sidemen, pada  nasehat dari sang leluhur kepada beliau,  pada saat dulu.

Karena mendengar hal itu, maka diberikanlah putri  Ida Bang Panataran Sidemen kepada  Ki Arya Bang Pinatih, dan  dengan segera  mau bersama menjadi Arya  Ksatrian.

Sesudah  utusan  itu memohon diri dari Besakih, prihal itu   disampaikan  kepada  adiknya Ida Tohjiwa.  Kemudian dikisahkan, Ida Tohjiwa juga  menggelar ksatriya  wangsa seperti kakaknya, namun adiknya paling  kecil Ida Singharsa  masih  memakai kebrahmanan. Demikian dahulu.

Diceriterakan sekarang Ida Panataran  dari Besakih  kembali ke Gelgel, karena diperintahkan oleh Ida Dalem  untuk mendampingi kedudukan Ida Dalem, serta diminta untuk menguasai  kawasan Kacangpawos, di sebelah timur  Istana Dalem di Gelgel. Dalem memberikan Ida Panataran  rakyat 200 orang banyaknya. Kemudian beliau membangun puri di Kacangpawos. Sesudah berdiam di Kacangpawos, beliau kemudian bergelar Ida I Gusti Anglurah Kacangdawa. Adiknya  yang bernama Ki Gusti Tohjiwa juga menjadi penjabat pendamping Dalem Smara Kepakisan.

Dikisahkan yang menjadi  pendamping Ida Dalem waktu itu  adalah  Kriyan Patandakan yang menggantikan Kriyan Nyuhaya dari  Arya Kepakisan sebagai Mahapatih,  kemudian Ki Gusti Pinatih dari Arya Wang Bang Kediri, Ki Gusti Kebon Tubuh, Ki Gusti Kaba-kaba, Ki  Gusti Buringkit dari Arya Belog,  Ki Gusti Tabanan, Ki Gusti Tegeh Kori dari Arya Kenceng, Ki Gusti Panataran, Ki Gusti Tohjiwa juga dari  Arya Wang Bang Kediri, Ki Gusti  Brangsingha, Ki Gusti Tangkas, Ki Gusti Pagatepan dari Arya Kanuruhan, juga  Pring., Cagahan, Sukahet keturunan Arya Sura Wang Bang, Manguri, Dauh, Pangalasan, Jlantik sebagai keturunan Erlanggiya, Pacung, Camenggawon dari Tan Kober, Abyansemal dari Tan Kawur, Cacaha keturunan Tan Mundur.

Sesudah Ida Dalem Smara Kepakisan  berpulang ke Sorgaloka pada tahun Isaka 1382 atau tahun Masehi 1460, maka putranya Ida Dalem Waturenggong  menjabat sebagai Raja Agung di Pulau Bali.  Memang menjadi tertib,  subur makmur kawasan Bali ini  semasa pemerintahan Ida Dalem Waturenggong. Para arya yang disebutkan tadi mendampingi ayah beliau Ida Dalem Smara Kepakisan,  juga menjadi   tanda mantri Ida Dalem Waturenggong. Itu sebabnya  tidak ada musuh yang berani ingkar, semuanya  menghaturkan  sembah takluk. Beliau memang benar-benar  seorang raja yang  pandai, bijaksana serta mengetahui betul   permasalahan tata pemerintahan. Itu juga sebabnya beliau dipuja  oleh  keluarga serta  sanak saudara beliau semuanya, serta tanda mantri  diberikan pengetahuan tentang  falsafah hidup mati.  Lengkap tidak   ada yang ingkar. Beliau  menjadi penguasa  sampai dengan  beliau berpulang-moksa, pada  tahun Isaka 1472, kemudian diberi gelar Dewateng Enggong.

Diceriterakan I Gusti Anglurah Panataran Kacangdawa  kemudian mempunyai putra laki-laki  bernama I Gusti Dimade  atau I Gusti Kacang.

Walaupun Ida I Gusti Anglurah Kacangdawa sudah menggelar  wangsa ksatriya menjadi Anglurah Dalem, tidak sekali-kali beliau  lupa  melaksanakan pekerjaan yang sudah dipegang sejak ayahnya  yakni menjadi Juru Sapuh atau Pamangku  di Pura Besakih. Pada hari Piodalan Bhatara di Besakih, beliau pasti  kembali ke Besakih, menjadi pemimpin  dan menghantarkan segala upacara pajantenan Ida Bhatara di Besakih. Sesudah beliau  lanjut usia,  beliau berpulang ke Swahloka tepat pada saat  beliau melaksanakan tugas di Besakih, kemudian diperabukan di   Setra Agung, Besakih. Itu sebabnya  beliau bergelar  Ida Swarga  ring Gunung Agung. Beliau disthanakan di Meru tumpang 5  dengan gelar I Dewa Hyangning  Gunung Agung. Di Kacangdawa  juga  dibangun  pura  sewaktu beliau masih hidup.

I GUSTI MADE KACANG – IDA I GUSTI ANGLURAH SIDHEMAN I

Diceriterakan sekarangputra  Ida I Gusti Anglurah Kacangpawos  yang bernama I Gusti Made Kacang atau I Gusti Dimade, sudah  dewasa beliau itu kemudian menggantikan kedudukan ayahnya  seperti yang diperintahkan oleh Ida Dalem. Semasa ayahnya  hidup, Ida I Gusti Dimade  ditugaskan  untuk mengadakan penelitrian serta membangun permukiman di perbukitan atau tanah cebola  di tepi  timur laut desa Kacangpawos. I Gusti Made Kacang  menuruti perintah ayahnya dengan membawa perlengkapan serta  rakyat 200 orang banyaknya.

Disertai oleh rakyatnya, I Gusti Made Kacang  tanpa pamrih membangun kawasan tanah cebola  itu, kemudian membangun istana. Wilayah itu  dinamai Cabola yang belakangan menjadi Tabola atau Tebola. Demikian ceriteranya.

Lama kelamaan Ida I Gusti Mnade Kacang  berdiam di Cabola, kemudian pada suatu hari beliau   beranjangsana, melihat  wilayah sebelah timur tempat istana beliau. Kemudian beliau  sampai  di suatu tempat yang luas yang masih  sepi namun  baru – suwung lan hnu anyar. Kemudian  beliau beristirahat di tempat itu. Ada   wangsit  dari beliau Yang Di Atas yang meminta  agar beliau membangun  tempat itu . Itu sebabnya  beliau disetai rakyatnya  semuanya kemudian membangun tempat itu  dan membuat istana di sana.  Kemudian tempat itu diberi nama Yang Taluh. Itu sebabnya beliau diberi gelar  I Gusti Yang Taluh.  Memang beliau tidak bermaksud lama di sana, kemudian beliau berjalan arah ke utara lagi,  sampai di suatu tempat yang  luas.  Rakyat beliau memohon  agar beliau  mau  beridiam di tempat itu. Kemudian beliau juga mendapat wangsit dari Ida Bhatara yang memberikan  wacana prihal tempat itu sangat baik  untuk tempat keraton beliau. Wahyu itu  juga  menjelaskan bahwa belakangan beliau akan menemui keberhasilan  arau sidha – maan ( berhasil mendapatkan) ,  mendapatkan ketentraman serta kecakapan  mememerintah kawasan itu.  Akhirnya beliau membangun istana di wilayah yang  kemudian bernama Sidheman itu. Istana beliau diberi nama Puri Singharsa, sebagai pertanda tempat itu yang diinginkan ( sing = yang, arsa = ingin). Lama kelamaan tempat itu menjadi Sidemen.

Beliau memiliki  dua putra, laki dan perempuan. Yang laki bernama I Gusti Gunung Agung, yang wanita bernama I Gusti Ayu Singharsa. I Gusti Ayu Singharsa  diperistri  oleh I Gusti Byasama,  putra dari I Gusti Pande , atau cucu dari I Gusti Dawuh Bale Agung  Panyarikan Dalem. I Gusti Byasama puniki mengadakan  keturunan I Gusti Dauh atau Arya Dauh.

Lama kelamaan  sudah  aman sentausa  beliau beserta  putra  keturunan beliau  serta didampingi oleh rakyatnya semua, kemudian Ida dalem memerintahkan beliau agar menjadi penguasa  wilayah itu , karenanya beliau  bergelar Ida I Gusti Anglurah Sidheman. Memang benar beliau itu  bijaksana, cakap dalam  menata  pemerintahan beliau,  cakap memegang kekuasan, serta  sayang kepada rakyat, itu sebabnya rakyat sangat  patuh dan taat kepada beliau. Saat beliau  menjabat di Sidemen beliau membangun  pura  yang dinamai Pura Linjong. Hentikan dahulu sampai disini.

Setelah beliau  berusia lanjut, pulang lah beliau ke Sorgaloka, diperabukan di Setra Yang Taluh, kemudian berliau disthanakan di Meru  tumpang satu  di Pura Panataran Agung, Besakih berg elar I Dewa Hyang Antiga.

I GUSTI GUNUNG AGUNG – ANGLURAH SIDHEMAN II

Sepulang Ida I Gusti Anglurah Sidheman Dimade ke Sorgaloka, maka kedudukan beliau digantikan oleh putranya I Gusti Gunung Agung, memakai gelar sebagai  ayahnya Ida I Gusti Anglurah Sidheman.

Beliau menjadi Anglurah yang mendampingi Ida Dalem Sagening di Gelgel.  Sebagai mahapatih Ida Dalem  adalah I Gusti Agung Widhya diseratai oleh  adiknya yang bernama I Gusti Ler Pranawa. Karena  sehari-hari  bertemu dengan putri I Gusti Ler, maka beliau jatuh cinta kepada I Gusti Ayu Kaler putri dari I Gusti  Kaler.

Diceriterakan I Gusti Ler Pranawa yang menjabat  Demung di Gelgel  mempunyai putra laki-laki 9 orang,  wanita 5 orang. Yang laki bernama   I Gusti Penida, I Gusti Wayahan Kamasan, I Gusti Ketut Kamasan, I Gusti Sibetan, I Gusti Sampalan, I Gusti Tambesi, I Gusti Teges, I Gusti Ubud, I Gusti Basang Kasa. Yang wanita, diambil sebagai isteri oleh Ida Dalem satu orang yang melahirkan Ida Dalem Dimade, diambil ke Bon Nyuh seorang, diambil ke Sukahet seorang, diambil oleh I Gusti Anglurah  Tambaan Kancing Masuwi keturunan  Wang Bang Wayabiya di Bangli satu orang dan diambil oleh Ida I Gusti Anglurah  Sidheman Gunung Agung. Ada  isteri   I Gusti Kaler diseangi oleh Ida Dalem, melahirkan  I Gusti Ngurah Mambal. Demikian riwayatnya.

Ida I Gusti Anglurah Sidheman berputra 3 orang yakni I Gusti Kaler Dimade, I Gusti Kubayan  dan I Gusti Dangin.

Tentram dan  makmur wilayah Sidemen pada saat kekuasaan Ida I Gusti Anglurah Sidheman Gunung Agung. Sesudah berusia lanjut  dan berpulang di Yang Taluh,  terkenal beliau dengan nama Ida I Gusti Mur ring Yang Taluh, disthanakan di Meru Tumpang satu bergelar I Gusti Hyang ning Teges, di Panataran Agung, Besakih.

I GUSTI KALER DIMADE – IDA I GUSTI ANGLURAH  SIDHEMAN  III

Kemudian beliau diganti  oleh putranya I Gusti Kalser yang mempergunakan gelar sebagai ayahnya  yakniIda I Gusti Anglurah Sidheman. Putra yang kedua bernama I Gusti Kubayan sakti diminta menjaga Parhyangan Ida Bhatara di Besakih, putranya yang ketiga I Gusti Dangin  diminta untuk berdiam  menjaga kawasan Yeh Mumbul, Sibetan. Ida I Gusti Anglurah Sidheman Dimade, Ken Sena juga namanya yang lain, terkenal dengan  kepandaiannya dalam hal sastra, serta indah sekali tulisan  beliau.

Ida I Gusti Anglurah Sidheman – atau I Gusti Kaler Dimade memiliki 3 puri – tempat tinggal, yakni Puri Singharsa di Sidemen sebagai tempat beliau menata pemerintahan beliau, di Muncan sebagai tempat beliau  melaksanakan tugas di Pura Besakih atau di Pura Linjong, istana di Kacangpawos dipakai tatkala beliau bersitirahat saat menghadap kepada Ida Dalem di Suwecapura. Demikian dahulu .

I GUSTI CERAWIS – IDA I GUSTI  ANGLURAH SIDHEMAN IV

Sekarang diceriterakan I Gusti Anglurah Sidheman – I Gusti Kaler  sudah berputra  seorang anak laki-laki bernama I Gusti Cerawis atau I Gusti Kumis. Memang beliau berbadan tiggi besar dan tegap serata berkumis lebat. Beliau sama sekali tidak hirau dengan kesaktian orang lain, tidak  pernah takut  kalau beliau sudah merasa benar.

Kemudian diceriterakan ayahanda beliau I Gusti Anglurah Sidheman sudah berusia lanjut kemudian berpulang ke Sorgaloka, diperabukan di Setra Yang Taluh. Bergelar  Ida Hyang ring Antiga. Ida I Gusti Ceramis kemudian menggantikan kedudukan ayah beliau dengan gelar bhiseka Ida I Gusti Anglurah Sidheman.. Lama  beliau menjabat Anglurah di Sidemen kemudian Ida  I Gusti Anglurah Sidheman Cerawis  berpulang di Teges, beliau diberi gelar Ida Hang Ning Teges.

I GURAH SAKTI –  IDA I GUSTI ANGLURAH SIDHEMAN V

Kedudukan   Ida  I Gusti Anglurah Sidheman Cerawis  digantikan oleh putranya yang bernama  I Gusti Ngurah Sakti  bergelar I Gusti Anglurah Sidheman .

Putra I Gusti Cerawis yang lainnya adalah I Gusti Dangin Sidemen bertempat tinggal di Pakandelan, Sidemen , I Gusti Sampalan di Padang Tunggal, I GustiPrayu di Muncan,  I Gusti Culik di Culik dan I Gusti Tabola menetap di Tebola, serta  wanita bernama I Gusti Ayu Sapuh Jagat  diambil  sebagai isteri oleh Ida I Dewa Pamahyun  kemudian bernama I Gusti Ayu Dijaba.

I  Gusti Ngurah  Sumerta –   Ida I GUSTI ANGLURAH SIDHEMAN VI

Sesudah Ida  I Gusti Anglurah Sidheman Sakti meninggal,  beliau kemudian   digantikan kedudukannya oleh putranya yang bernama I Gusti Ngurah Sumertha, bergelar Ida  I Gusti Anglurah Sidheman . Saudara beliau yang lainnya  adalah I Gusti Bagus Sangkan Gunung  bertempat tinggal di Sangkan Gunung, I Gusti Alit Bhawan di Satria , Klungkung, I Gusti Anom Juti Gde di Klungkung, I Gusti Sumeta di Sidemen serta I Gusti Alit berdiam di Tegal, Sidemen.

I GUSTI NGURAH MANGKU  –  IDA I GUSTI ANGLURAH SIDHEMAN VII

Para putrada I Gusti Anglurah Sidheman Sumertha adalah I Gusti Ngurah Mangku yangmenggantikan ayahandanya bergelar Ida  I Gusti Anglurah Sidheman, yang  kedua  I Gusti Teges  tinggal di Ulakan, I Gusti Anom     di Bangli, I Gusti Ketut Putu menetap di Muncan, I Gusti Kebon pergi ke desa Abang dan I Gusti Alit Sawan di Macetra.

Ida  I Gusti Anglurah Sidheman Mangku dikatakan sebagai Anglurah   Sidemen terakhir, karena sesudah beliau tidak ada lagi keturunan Arya Bang Sidemen yang menjadi pejabat Anglurah. I Gusti Anglurah Mangku Sidheman diperdaya oleh I Gusti Nengah Sibetan yang di bantu oleh Raja Karangasem.  Di wilayah desa Duda beliau dihadang dan direbut sehingga akhirnya beliau moksa dalam peristiwa tersebut.

Kisahnya seperti ini. Pada suatu hari, tahun Isaka 1613 atau tahun Masehi 1691,  Ida  I Gusti Anglurah Sidheman bermaksud untuk memeriksa keadaan rakyat beliau di desa-desa yang termasuk dalam wilayah kekuasaan beliau, diiringi sejumlah kecil pengiring-pengawal beliau.  Beliau memang beranjangsana  melewati desa Iseh, dan ketika sampai di kawasan Duda, di sebelah utara Padang Tunggal, beliau dihadang oleh musuh beliau di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Sibetan dengan bala yang jumlahnya cukup besar, dan didampingi oleh bala tentara penguasa Karangasem. Jelas daya upaya serupa itu bertujuan untuk mengalahkan  kekuasan  I Gusti Anglurah Sidheman

Singkat cerita kemudian di tengah areal persawahan di tempat itu terjadi pertempuran yang sangat seru, namun tidak seimbang. Pengiring I Gusti Anglurah Sidheman Mangku hanyalah sedikit jumlahnya, bisa dihitung, dan semua habis terbunuh oleh pasukan I Gusti  Sibetan, setelah sebelumnya mereka bertempur dengan gagah berani.  Banyak  lawan yang dapat mereka tewaskan atau lukai sebelum mereka sendiri akhirnya ikut tewas.

Akan halnya I Gusti Anglurah Sidheman, beliau memang sangat perwira dalam menghadapi musuh,  tidak seorang pun dapat menyentuhnya karena kesaktian beliau.  Menyadari akan kekalahan  jumlah pasukan,  beliau lalu menggelar  kawisesaan, seraya kemudian  beliau menghilang dari pandangan  musuh.   Di atas batu yang tinggi dan datar beliau berdiri menyaksikan peperangan itu..  Yang dilihatnya hanyalah lawan-lawan beliau. Pengiring beliau sudah habis  tewas.   Tinggal beliau sendiri yang masih hidup. Marah bercampur sedih beliau menyaksikan semua pengiringnya tewas.  Kemudian beliau teringat dengan  titah Ida Hyang Parama Kawi, akan kembali ke Swahloka menunggal dengan Sang Maha Pencipta. Perang itu sebenarnya hanyalah jalan bagi beliau unruk kembali ke Sorgaloka. Gugur di medan laga !  Kemudian beliau tidak lagi berkeinginan untuk melanjutkan peperangan itu. Di puncak batu yang datar itu beliau kemudian menggelar yoga semadhi menyatukan pikiran beliau, menyatukan sabda bayu idep nurani beliau. Kemudian tak lama beliau moksa tanpa jasad, menunggal dengan  Ida Hyang Parama Kawi. Bukan  beliau  takut dengan musuh, namun jalan seperti itu jelas sangat utama.

Setelah peperangan itu usai, kemudian  rakyat di Duda,  mengumpulkjan mayat untuk dikubur, dibuatkan  lubang. Tidak  lupa,  sanak sauadara serta rakyat juga membuatkan  kuburan atau bangbang untuk jasad beliau. Sesudah semua mayat rakyat yang   tewas dikumpulkan di sana,  kemudian jasad beliau dicari-cari, namun tidak diketemukan. Benar-benar tidak ada,  walaupun sudah dicari ke sana-kemari. Karena itu,  bangbang atau lubang yang sedianya  dipergunakan untuk mengubur jasad beliau ditimbun kembali.  Iti sebabnya tempat itu  dinamai Bangbang Buwung (lubang tak jadi), yang lama-kelamaan menjadi Bangbang Biaung.

Mendengar gugurnya Ida  I Gusti Anglurah Sidheman Mangku dalam perang itu, sanak saudara beliau di Sidemen menjadi geger.  Puri Singharsa dirusak diratakan dengan tanah agar tidak dapat digunakan oleh musuh, namun pamerajannya dibiarkan. Sejak itu kemudian  Sidemen ada di bawah kekuasaan Raja Karangasem.  Putra-putri beliau semuanya lalu meninggalkan istana diiringi rakyatnya yang masih setia ,  I Gusti Alit, I Gusti Ayu Mayun dan I Gusti Ayu Anom pergi ke Gelgel. I Gusti Alit tidak memiliki keturunan. Yang paling bungsu pindah  ke Bangli bernama I Gusti Lanang Bangli, juga tidak mempunyai  keturunan.

Di tempat beliau moksa itu, belakangan, oleh  keturunan beliau dibuatkan parhyangan yang bernama Pura Pajenengan Bangbang Biaung, serta beliau diberi gelar Ida Bhatara Lina di Bangbang Buwung. Demikianlah  ceriteranya dahulu  pada masa pemerintahan Anglurah Sidheman yang diperdaya musuh

I GUSTI KUBAYAN SAKTI

Sekarang  kembali  diceriterakan I Gusti Kubayan Sakti, putra kedua  dari Ida I Gusti Anglurah Sidheman Gunung Agung, atau adik dari  Ida I Gusti Anglurah Sidheman Kaler Dimade, yang berdiam di pasraman Ida Bhatara Danghyang Bang Manik Angkeran di Besakih.  Beliaulah yang melanjutkan   pelaksanaan upacara di Kahyangan Besakih, serta  menyelesaikan selengkapnya  hal-hal yang ada di Besakih. Beliau mempunyai putra     dua orang,  yang  sulung bernama I Gusti Ngurah Mangku Sidemen, adiknya bernama  I Gusti Mangku Kubayan. Kemudian berdua itu melaksanakan dwijati serta diberikan  pegangan masing-masing  satu buah yakni agar  mengingatkan  pekerjaaan  ayah-ayah di Pura Besakih, yang dibagi  dua bagaikan  akasa  dengan pertiwi. Yang satu  agar mengingatkan  wilayah yang dinamai Luhuring Ambal-ambal,  memiliki  pembantu atau petangan  empat orang   yakni : Ki Tinggi, Ki Tincap, Ki Pageh serta Ki Patuh. Yang  satunya  lagi mengawasi  serta melakukan  kebersihan di wilayah yang dinamai Soring Ambal-ambal, memiliki pembantu petangan  tiga orang yakni Ki Dangka, Ki Gaduh dan Ki Pejengan. Demikian keadaannya dahulu.

Diceritekan kembali I Gusti Ngurah Mangku Sidemen,  berdiam di Jero Meregan, Besakih, I Gusti Mangku Kubayan di Delod Sisi.  I Gusti Ngurah Mangku Sidemen mempunyai putra tiga orang, pertama I Gusti Mangku Mumbul, beradik I Gusti Ngurah Badeng, pindah ke Payangan Muncan, serta I Gusti Ngurah Wingin pindah ke Babakan, Selat.

I Gusti Mangku Mumbul  berputra tiga orang : I Gusti Wayan Ketab, I Gusti Mangku Gede serta I Gusti Nyoman Putu.

I Gusti Wayan Ketab  berputra tiga orang, yang paling tua bernama I Gusti Ayu Windi kawin ke Babakan,  yang  kedua I Gusti Aji Gedab, yang paling kecil I Gusti Aji Besakih, nyeburin ke Payangan  mempunyai putra seorang yakni I Gusti Ayu Kaler.

I Gusti Mangku Gede  memiliki tiga orang putra I Gusti Made Gejir, I Gusti Nyoman Gunung, I Gusti Ketut Karang.

I Gusti Nyoman Putu memiliki putra  tiga orang, yang pertama I Gusti Wayan Mandi, I Gusti Made Manda, I Gusti Nyoman Opa.

Diceriterakan I Gusti Ngurah Badeng   memiliki dua orang putra, I Gusti Made Rentang, memiliki putri  satu orang  bernama I Gusti Ayu Ratih,kaceburin  dengan bersuamikan I Gusti Aji Besakih, tidak memiliki keturunan. Putra yang  nomor  dua I Gusti Nyoman Sepel, memiliki dua isteri, di antaranya  seorang  selir – tidak diupacarai.  Isteri yang  lebih tua  melahirkan  tiga putra : I Gusti Uda, I Gusti Tengah Rida  pindah ke Padang Tunggal, serta I Gusti Bukit pindah ke Pangsaan.  Isteri  selir itu memiliki putra satu orang I Putu Astra, bertempat tinggal di Payangan Susut.

Diceriterakan I Gusti Ngurah Wingin, memiliki putra empat orang, I Gusti Ngurah Lengar, I Gusti Ngurah Butuh, I Gusti Made Daya, I Gusti Nyoman Temu, tidak memiliki keturunan.

I Gusti Ngurah Lengar mempunyai  satu orang putra I Gusti Wayan Atur. I Gusti Ngurah Butuh memiliki  putraI Gusti Wayan Lipur. I Gusti Made Daya berputra  I Gusti Made  Kanca mengambil isteri ke Besakih bernama I Gusti Ayu Windi .

I Gusti Mangku Kubayan mempunyai putra tiga orang , yang sulung bernama I Gusti Dangin Kebayan, adiknya I Gusti Baledan di Selat serta  yang bungsu I Gusti Putu Kebon.

Demikian  semua keturunan I Gusti Kubayan Sakti.

Ida Tohjiwa

Mari sekarang  bicarakan  keberadaan Ida Tohjiwa atau Ida Sukaluwih , adik dari I Gusti Panataran, putra dari Ida Wang Bang Tulus Dewa.

Seperti diceriterakan di depan Ida Tohjiwa kemudian beralih wangsanya menjadi Arya-Kstariya mengikuti kakaknya Ida Bang Panataran yang menjadi I Gusti Ngurah Panataran atau I Gusti Ngurah Kacangpawos. Karena itu berliau bernama I Gusti Ngurah Tohjiwa. Beliau juga  menjadi pejabat mendampingi Ida Dalem Smara Kepakisan di Gelgel, kemudian ketika Ida Dalem  wafat, beliau diganti  oleh Ida Dalem Waturenggong. Ida Dalem Waturenggong  sudah berusia lanjut kemudian  berpulang ke  Sorgaloka. Ada putranya dua orang masih kanak-kanak, yang sulung bernama I Dewa  Pamahyun,  adiknya bernama Ida I Dewa Dimade  atau Ida I Dewa Anom Sagening  nama  beliau yang lain. Kemudian I Dewa Pamahyun yang menggantikan Ida Dalem Waturenggong,  namun masih kanak-kanak, sehingga  beliau diasuh oleh paman beliau. Pada saat itu yang menjadi patih adlaah Kriyan Batan Jeruk.

Kemudian tibalah masa kekacauan, dunia ini memasuki Kali Yuga,  muncul  nafsu angkara murka Kriyan Batan Jeruk dimasuki oleh tri medha : lobha, moha, murka,  serta berkeinginan untuk menjadi  penguasa,  itu sebabnya  ia mengadakan huru hara.  Terjadilah perang besar di Gelgel,  dikenal dengan  Pabalik Kriyan Batan Jeruk atau pemberontakan Kriyan Batan Jeruk serta I Dewa Anggungan pada  saat kala naga aswa yuga ning rat atau tahun Saka 1478 atau tahun Masehi 1556. I Dewa Anggungan juga  ingin menjadi raja di Bali, dibantu oleh Kriyan Pande serta Ki Gusti Tohjiwa.

Pada saat itu I Gusti Tohjiwa membawa pasukan  dari Besakih berjumlah 200 orang banyaknya, kemudian membangun  tempat perkemahan untuk  pasukannya di Bukit Andakasa. Sebelum menghadapi peperangan, beliau  mandi di Buatan, beliau di hulu, pengiringnya di bagian hilir.

Singkat ceritera,  perang terjadi dengan serunya. Kriyan Batan Jeruk dihadang oleh Kriyan Manginte dari Kapal serta  para tanda mantri Dalem yang masih setia kepada Ida Dalem.  Lalu kalahlah Kriyan Batan Jeruk, lari ke Bungaya dan dibunuh di Jungutan Bungaya. Kriyan  Pande Bhasa sementara itu meneyrahkan diri kepada Kriyan Manginte. Namun Ida  Tohjiwa, sama sekali tidak berkeinginan untuk menyerahkan diri, sebab sudah menmgetahui akan  tibanya   hari untuk  gugur di medan laga.

Ida I Gusti Tohjiwa kemudian berperang tanding melawan Kriyan Nginte yang mempergunakan senjata tumbak Ki Baru Gudug. Keduanya saling  penggal, saling pukul, namun  memang benar-benar  perwira dan andal dengan diri masing-masing. Sesudah perang tanding itu berlangsung lama,  kenalah lambung I Gusti Tohjiwa oleh senjata Ki Baru Gudug,  kemudian hilang tanpa bekas Ida I Gusti Tohjiwa. Menakjubkan sekali.

Memang  beliau I Gusti Tohjjiwa   seorang perwira sejati. Beliau sudah  mengetahui kalau akan meninggalkan dunia fana ini pulang ke Sorgaloka. Perang tanding melawan Kriyan Nginte hanya merupakan jalan  menyatukan jiwanya dengan Sang Paratma, karena Kriyan Nginte memiliki Ki Baru Gudug, tombak yang hanya bisa mencabut  jiwa  beliau. Jadi beliau menunngu waktu pertemuan dirinya dengan  senjata tumbak yang bernama Ki Baru Gudug yang dibawa oleh Kriyan Nginte itu. Sama sekali tidak ada keinginan beliau untuk berani melawan Dalem. Hanyalah karena  beliau berkeinginan untuk gugur di medan laga, dengan jalan bertemu dengan Ki Baru Gudug. Demikian keadaannya  dahulu.

Itu sebabnya sebelum berperang, beliau sudah memberikan  petuah kepada  rakyatnya, agar kembali lagi ke Besakih, bilamana beliau gugur dalam medan perang.

Ida Tohjiwa yang juga dinamai Ida Sukaluwih, serta kemudian bernama I Gusti Tohjiwa  kemudian  disthanakan di Meru tumpang 3 di Panataran Agung Besakih, bergelar I Dewa   Gusti Ibyang. Ida I Gusti Tohjiwa  mengadakan putra laki-laki seorang, wanita seorang, masing-masing bernama I Gusti Dangin  dan I Gusti Ayu Tohjiwa atau I Gusti Ayu Singharsa.

I Gusti Dangin  berputera 3 orang : I Gusti Tohjiwa Babakan diperintah oleh I Gusti Anglurah Sidheman  berdiam di Selat, I Gusti Tangkup di Padangaji dan I Gusti Alit Tabola di Tabola.

 I Gusti Tohjiwa Babakan di Selat memiliki putra lima orang : I Gusti Nitya, I Gusti Mendem, I Gusti Danu, I Gusti Tilas serta  seorang wanita I Gusti Luh Putu Sari.

I Gusti Tangkup di Padangaji  menurunkan I Gusti Padangaji, I Gusti Pejeng  serta I Gusti Taji.

Demikian  kisah keturunan Ida Tohjiwa, putra kedua Ida Wang Bang Tulus Dewa.

IDA SINGHARSA

Seperti  yang sudah disampaikan di depan  putra Ida Wang Bang Tulus Dewa  yang bungsu Ida Singharsa, masih  mempergunakan  gelar kebrahmanaan beliau, sampai kelak di kemudian hari  serta keturunan beliau memakai Ida Bagus, berdiam di banyak desa-desa se kawasan Pulau Bali.

Demikian   ceriteranya  Ida Singharsa, putra bungsu Ida Wang Bang Tulus Dewa..

Dan demikian pula  ceritera kerturunan Ida Wang Bang Tulus Dewa, putra Ida Danghyang Bang Manik Angkeran yang terpencar di seluruh pelosok Pulau Bali.

TATWA WANG BANG WAYABIYAIDA WANG BANG WAYABIYA

Dikisahkan  sekarang  Ida Wang Bang Wayabiya mempunyai seorang putra laki-laki bernama sama dengan ayah beliau Ida Wang Bang Wayabiya atau Ida Bang Kaja Kauh bertempat tinggal di Besakih. Sang ayah, Ida Wang Bang Wayabiya, kemudian berusia lanjut, dan  wafat moksa ke Sorgaloka.

Diceriterakan kemudian pada saat  Ida Bang Panataran – putra Ida Wang Bang Tulusdewa, bertemu wicara dengan  adik sepupunya Ida Bang Wayabiya. Ida  Bang Wayabiya berkehendak ingin melamar putri  Ida Panataran yang bernama Ida Ayu Puniyawati,   namun sudah didahului oleh  I Gusti Pinatih Rsi, dari  Kerthalangu, Badung, keturunan dari Ida Wang Bang Banyak Wide. Karena tidak berhasil, maka  Ida Wang Bang Wayabiya  tanpa mohon diri kepada kakaknya meninggalkkan tempat itu. Tanpa arah tujuan perjalanan beliau , tidak jelas ke mana tempat yang akan dituju.

Lama kelamaan Ida  Sang Bang Wayabiya   menuju  Dalem Balingkang, tidak lama beliau di sana, kemudian  berdiam di  Pura Panarajon Panulisan Tegeh Kuripan. Di Gunung Panulisan itu beliau mendapatkan anugerah, kemudian menjadi pendeta utama dan beliau bergelar Ida Sang Bang Bujangga Panulisan. Belakangan ada wabah sampar  di kawasan  Bangli, susah masyarakat Bangli  karena tidak  kuasa melenyapkan penyakit yang melanda masyarakat Bangli itu. Kemudian  ada yang mendengar  sabda , agar Ida Sang Bang  Bujangga Panulisan  turun  menghilangkan penyakit sampar yang mewabah di Bangli.  Memang  banyak benar saat itu anggota masyarakat  Bangli yang  meninggal dan  juga banyak yang sudah  pindah berhamburan ke luar daerah, meninggalkan kawasan Bangli. Segera Ida Bang Bujangga  turun ke  Bangli yakni ke hutan  Jarak Bang menuju Pura  Hyang Ukir yang juga disebut dengan Pura Ida Hyang Api.  Selanjutnya beliau  berjalan  menuju Pura Hyang Kalimama di Simpat Bunut serta ke Parhyangan Hyang Tanda di puncak Bukit Tengah Bangli. Di sana kemudian beliau menggelar yoga samadhi, kemudian berpindah ke Bukit Cemeng serta membangun pasraman di sana. Belakangan beliau membangun Griya  yang bernama Griya Lebur Gangsa di Simpat Bunut. Di sebelah atas dari griya beliau, dibangun pura pangayatan  Ida Bhatara di  Panarajon Panulisan  Tegeh Kuripan, yang belakangan bernama   Pura Tegaa. Ida Bang Bujangga ditemui oleh masyarakat Bukit Cemeng, kemudian beliau  membangun Parhyangan Taman Sari sebagai tempat  patirthan Ida Bhatara Pangupahayu Jagat Ida Hyang Pamayun serta  Tirtha Giri Kusuma yang dikatakan sebagai tempat tirtha amertha pembersihan segala mala kekotoran. Dari sana  beliau melakukan yoga menyatukan pikiran  menghaturkan sembah bhakti kepada Ida Hyang Parama Kawi.  Kemudian terlihat ada  cahaya di sebelah barat Bukit Bangli. Segera beliau mencari tempat cahaya itu. Ada terlihat  batu  bercahaya  api yang  menyilaukan. Di tempat itu kemudian  beliau menggelar yoga samadhi,  memohon  pemusnah penyakit. Di tempat itu pula belakangan dibangun Pura Siwapati.  Dari tempat itu beliau melaksanakan dharma  wisadha untuk menghilangkan segala macam penyakit. Kemudian beliau selanjutnya  menggelar yoga samadhi di pura yang ada di tengah-tengah hutan yang bernama Alas Angker. Pindah dari sana beliau menuju Alas Daun  sebab banyak orang yang tinggal di tempat itu menderita sakit tidak bisa diobati. Beliau kemudian menggelar yoga samadhi memohon anugerah kesaktian kepada Ida Bhatara di Parhyangan Panarajon Panulisan Tegeh Kuripan seraya membangun sthana berupa gedong beratapkan klangsah. Belakangan Alas Daun itu dinamai dengan kawasan  Tambaan,  sebab dari sana sang pendeta menyelengarakan pengobatan (tamba = obat) kepada masyarakat di desa-desa se kawasan Bangli.

Dikisahkan kembali di Baleagung, Bangli, beliau sang pendeta sakti bertemu dengan Ki Pasek Bukit Cemeng. Masyarakat Ki Pasek  banyak yang   meninggal dan lesu terkena penyakit. Pada saat itu merasa kasihan sang pendeta Ida Sang Bang Bujangga Panulisan,  kemudian memberikan  obat penawar kepada  anggota masyarakat Ki Pasek Bukit Cemeng. Tidak dinyana sehat, kembali segar  anggota masyarakat Ki Pasek Bukit Cemeng seperti sediakala.  Itu sebabnya tempat itu kemudian dinamai desa Pakuwon, nsampai di kelak kemudian hari. Ida Sang Bang Bujangga Panulisan, kemudian dihaturi isteri, putri dari I Mangku Pasek Bukit Cemeng. Kemudian lama kelamaan ada putra  tiga orang, yang pertama Ida Bang Tulia yang  beralih tempat ke kawasan yang belakangan bernama kawasan  Lebah, Klungkung, yang kedua Ida Bang Dauh  membangun asrama di Taman Sari, kemudian berpindah dan berdiam di Pagereman, yang  nomor tiga  Ida Bang Kaja Kauh berdiam di Bangli. Putra beliau di Pageremen  masih memakai gelar kebrahmanan dengan memakai Ida Bagus sampai kelak kemudian hari.

Putra beliau yang  nomor tiga  saat itu mendengar prihal  saudaranya  keturunan Ida Bang Tulus Dewa  yakni Ida Bang Panataran sudah menghapus wangsa  kebrahmanaan beliau menjadi  Arya – ksatriya wangsa mempergunakan  I Gusti, sehingga kemudian Ida Bang Kaja Kauh  bergeser keberadaan beliau dari wangsa brahmana menjadi Arya – ksatriya sebab ingat dengan petuah – bhisama  leluhur beliau  Ida Bang Manik Angkeran : “Ala Ayu Tunggal” ( Suka – duka  tunggal)”. Ida Bang Kaja Kauh  kemudian menjadi I Gusti Bang Kaja Kauh.  Sejahtera beliau berdiam di kawasan  Bale Agung, Bangli. Lama kelamaan  beliau diupacarai menjadi pendeta menggantikan ayahnya dan bergelar Ida Rsi  Bang Bujangga Panulisan .

PERLAWANAN NGAKAN POG  DI BANGLI

Diceriterakan sebelum itu di wilayah Bangli. Ada penguasa di sana  yang melawan pemerintahan  Dalem. Kekuasaannya meliputi 17 desa. Itu sebabnya Dalem mengutus tanda mantrinya seperti Ki Arya Jelantik, Ki Arya Pinatih Perot, Ki Gusti Nyoman Rai, menyelipkan keris bernama Ki Tanpa Kandang, diiringkan oleh  balatentaranya. Setibanya di Bangli, ramai perang di sana, Ki Gusti Ngurah Jelantik berhadapan melawan Ngakan Pog, juga berhadapan dengan Ki Gusti Nyoman Rai dan di tengah-tengah perang itu kalahlah Ngakan Pog serta balatentaranya semua. Di sebelah selatan Bangli pasukannya dikalahkan  oleh Ki Gusti Pinatih Perot. Takut semua orang Bangli, semua tidak berani melawan, maka amanlah kawasan Bangli itu, namun juga tidak ada yang berkuasa menjadi raja. Terhentilah sampai di sini.

Diceritakan kemudian I Pasek Bendesa, Ki Pasek Telagi, Ki Pasek Kayu Selem, bermusyawarah pula mereka. Karena negara Bangli tidak memiliki raja. Keinginan semua warga Pasek itu, meminta kepada Raja Dalem Ketut Smara Kepakisan di Gelgel agar ada raja yang  memerintah kawasan Bangli Singharsa. Demikian perbincangan Ki Pasek semuanya, kemudian berjalanlah Ki Pasek semuanya menghadap kepada Dalem Gelgel. Tidak diceritakan di perjalanan. Setelah sampai di hadapan Dalem, Ki Pasek matur, memohon agar Dalem memberikan seorang penguasa yang memerintah  kawasan Bangli itu.

Dikisahkan sekarang, sepeninggal Ki Pasek Bangli, dari Puri Gelgel, Dalem mengutus dua orang ke negara Badung. Segera berangkatlah utusan itu, tidak diceritakan di jalan, sampai pula utusan itu di Badung, menuju Puri Kerthalangu .  Di sana utusan itu menghadap kepada putranya I Gusti Ngurah Pinatih Perot, yakni I Gusti Anglurah Pinatih Rsi serta I Gusti Anglurah Bija Pinatih. Berkatalah utusan itu :  “Singgih Ki Gusti Ngurah, agar Cokor I Gusti segera menghadap ke Gelgel ke hadapan Dalem, hamba adalah utusan Bathara Dalem.” Demikian hatur utusan itu. kemudian mereka segera kembali ke Gelgel.

Dikisahkan lagi, setelah mengadakan perbincangan berdua, maka I Gusti Anglurah Pinatih Rsi meminta adiknya I Gusti Anglurah  Bija Pinatih agar menghadap Ida Dalem. Ki Gusti Ngurah Bija Pinatih, lalu berjalan menghadap ke Puri Gelgel. Tidak diceriterakan di jalan, sampailah beliau di Puri Gelgel.  Kemudian menghadap Dalem. Berkatalah Ida Dalem “ Ih Kyai Ngurah Bija,  Ngurah saya perintahkan memerintah di  Singharsa Bangli. Ngurah yang menguasai  kawasan itu. Saudara Ngurahe, biarkan dia memerintah kawasan Badung”. Demikian  kata Ida Dalem. Kemudian menghaturkan sembah  Ki Gusti Ngurah Bija Pinatih :” Ainggih, kalau demikian perintah  Bhatara Dalem, hamba hanya menuruti. Dan hamba memohon ampun, agar berkenan Cokor I Dewa memberikan hamba pariagem kawitan hamba yang dibawa dari Majapahit dahulu”. “Nah, ke sanalah Ngurah secepatnya, ini ada  pariagem Ngurah silahkan bawa, tembaga  serta lontar, serta keris sungsungan bernama I Loting, dan pedang, semua itu patut disungsung  di kawasan Bangli kelak”. Setelah dimohon pusaka serta kawitan itu, mohon dirilah Ki Gusti Ngurah dari Gelgel, pulang ke Badung.

KI GUSTI NGURAH BIJA PULAGA MENJADI  PENGUASA BANGLI

Dikisahkan sekarang, sedatangnya I Gusti Ngurah Bija dari Gelgel, diselenggarakanlah pertemuan di Badung dengan kakaknya I Gusti Ngurah Pinatih Rsi, serta semua sanak keluarga. Sebagai hasil keputusan pembicaraan, ada putranya yang dibanggakan, yang menuruti kehendak Dalem bernama I Gusti Bija Mpulaga. Setelah selesai  pertemuan itu, ada hari baik :  hari Senin Wage Julungwangi, bulan ke 5, penanggal 20, rah tenggek 7, tahun saka 1375 atau Masehi 1453. Pada saat itu  berbicaralah I Gusti Ngurah Bija Pulaga kepada ayah serta sanak keluarga semuanya. Kata beliau : “Sekarang ananda, putra ayahanda, memohon pamit kehadapan ayah, kakak serta adik. Di kemudian hari semoga tiada lupa kakak dan adik kepada diri saya. Sampai kepada keturunan kita nanti. Saya diperintahkan oleh Bhatara Dalem menjadi penguasa kawasan Singharsa Bangli”. Setelah itu berkata kakak dan adik semuanya :””Nah dinda Ngurah Bija Pulaga, kalau sudah perintah Ida Bhatara Dalem, kekak serta adik-adikmu di sini merasa  sulit  ditinggal oleh dinda yang meninggalkan  Badung ini,  namun semuanya sudah ikhlas. Kanda  tidak akan  putus bersaudara dengan dinda  sampai kelak di kemudian hari. Dan juga ada  hamba sahaya 455 orang. Itu akan menyertai dinda di Singharsa Bangli”. Demikian akhir perbincangan yang berlangsung di Badung, di Puri Kerthalangu. Setelah itu, memohon diri Ida I Gusti Ngurah Bija Pulaga kepada ayahnya, kakak serta adiknya semua. Kemudian berjalanlah beliau disertai rakyat dengan  menyelipkan keris bernama I Loting  serta pariagem dan pedang.

Diceriterakan lancar perjalanan beliau diiringkan oleh rakyatnya semua.. Tidak diceriterakan di jalan, sampailah beliau di Singharsa Bangli. Langsung menuju  sebelah selatan bukit, membuat istana beliau di desa Baleagung, Bangli,  Semua  rakyat beliau yang menyertai  menyusup mencari tempat masing-masing.

I GUSTI BIJA PULAGA  DIANGKAT PUTRA OLEH IDA RSI BANG BUJANGGA PANULISAN MENJADI ARYA BANG WAYABIYA

Pada saat itu Ida Ki Gusti Ngurah Bija Pulaga bertemu dengan Ida Rsi Bang Bujangga Panulisan. Kemudian  keduanya  bertukar pikiran. Bertanyalah Ida Rsi Bujangga Panulisan kepada raja Bangli :” Aum, anakku sang Prabu, Bapak ingin sekali bertanya kepada  ananda,  agar supaya Bapak tahu dengan   keberadaan ananda. Siapakah yang  mengadakan ananda. Beritahu Bapak, agar Bapak mengetahuinya”. Kemudian matur Ida I Gusti Ngurah Bija Pulaga :” Ainggih, ratu Peranda, maafkan saya  berani  menyampaikan kepada I Ratu mengenai keberadaan  saya. Hamba adalah putra I Gusti Ngurah Pinatrih yang  menguasai wilayah Badung. Sekarang  saya diperintah  oleh Bhatara dalem  untuk menjadi penguasa di wilayah Bangli ini. Leluhur saya tiada lain Ida Bang Banyak Wide putra dari Danghyang Bang Manik Angkeran”. Kaget Ida Rsi Bang : “ Uduh, ananda, seperti ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa,  sangat kasih beliau Ida Hyang Parama Kawi, bisa  Bapak bertemu dengan  I Dewa. Bapak tiada lain , keturunan dari Ida Wang Bang Wayabiya,  saudara kandung  leluhur Ananda Ida Wang Bang Banyak Wide. Jadinya, kita ini berasal dari  satu Ananda dengan Bapak”.  Sangat sukacita beliau berdua, tidak bisa digambarkan. Belakangan, lama kelamaan, karena sudah demikian erat  persaudaraan beliau berdua, tidak bisa dipisahkan, maka  ada  pernyataan Ida Sang Pandita Rsi Bang Bujangga Panulisan  kepada I Gusti Ngurah Bija Pulaga, agar  satu keberadaan  beliau berdua. Tatkala itu Ida I Gusti Ngurah Bija Pulaga  kadharma putra atau diangkat putra oleh sang pendeta. Sejak itu   se keturunan I Gusti Ngurah Bija Pulaga menjadi satu  pungkusan atau warga dengan keturunan  Ida sang pendeta, memakai pungkusan warga Arya Bang Wayabiya. Hentikan dahulu.

Lama kemudian diceritakan negara Singharsa Bangli, sentosa serta makmur, karena Arya Bija Pulaga yang menjadi penguasa Singharsa, seperti yang diperintahkan oleh  Dalem Gelgel. Semakin bijak sikap beliau memerintah daerah itu, sehingga keagungan kawasan Bangli semakin meningkat, karena beliau tiada lupa kepada Parhyangan, bhakti kepada Dewa Bhatara, kawitan, sungsungan. Itu semua membuat Dalem sukacita, mendengar kecakapan Ki Arya Bija Pulaga menjadi raja di Bangli.

Setelah lama, diceritakan Ki Arya Bija Pulaga berputra laki seorang, bernama I Gusti Dawuh Baleagung bukan Dawuh Baleagung Panulisan. Lama kemudian I Gusti Dawuh Baleagung berputra seorang laki bernama I Gusti Ngurah Praupan. Saat itu I Gusti Bija Pulanga, sudah tua beliau.

Diceritakan sekarang I Gusti Ngurah Dawuh Baleagung menggantikan menjadi raja di Singharsa Bangli. Semua tidak ada yang ganjil, karena kalau ayahnya memakai lungka sembilan , I Gusti Ngurah Dawuh Baleagung memakailungkatujuh. Lengkap berbusana sebagai penguasa – Adhipati, disertai lante, sepayung. Sesudah itu pada hari : Sabtu, Kliwon Landep (Tumpek Landep), keluar beliau di Balai Penghadapan, duduk pada pelataran yang tinggi, berkain wilis berkampuh sutra jingga, akeretan sutra gagulung. Di hadapan beliau ada berang pangawin, diapit dengan tamiyang, di belakang ada lelancang, lengkap dengan upacara adhipati. Penuh di balai penghadapan, dihadap oleh para manca, pepatih, para Bendesa Pasek Paling Wayah.

Setelah lengkap di Balai Penghadapan, berkatalah I Gusti Baleagung kepada I Pasek serta I Bendesa Paling Wayah. Sabda beliau :” Bapa, Bapa  Pasek Paling Wayah serta serta I Bendesa Paling Wayah, semuanya, apakah engkau setia padaku? Bila engkau setia kepadaku, maka saya kukuh pada para  Bendesa Pasek semuanya”. Lalu menjawablah I Pasek serta I Bendesa berlima, katanya :  “Inggih Gusti Ngurah, sejak semula memang hamba dikuasai oleh Cokor I Gusti”. “Nah apabila engkau setia, sayapun kukuh terhadap ke-Pasekanmu.  Sekarang Bapa, menguasai kerabat di desa-desa, sekawasan Singharsa Bangli. Supaya teguh Bapak,  tidak boleh setengah-setengah, menyelesaikan permasalahan di jaba. Besar kecil nista madya utama. Sebagai  sarana untuk memegang kerabat yaitu : Dewa Gama, Adi Gama, Agama. Itu semua agar teguh dijalankan di desa-desa, agar jangan para  sanak saudara  kerabat bertikai dengan  saudara”. Demikian  kata I Gusti Ngurah. Saat itu  I Pasek Bendesa berlima semuanya menyatakan setuju bersatu tidak ada yang menolak. Setuju dengan sabda I Gusti Ngurah Singarsa. Kemudian dimuat  hal itu dalam lempengan piagam.  I Pasek menanyakan kerabat 1525 orang. Semua mempunyai bukti karang.

Sesudah itu,  demikian subur makmur kawasan Singharsa saat berkuasanya I Gusti Ngurah Baleagung. Sebagai Bhagawanta – pendeta istana  tidak lain yang bernama Ida Rsi Bang Bujangga Panulisan, sebagai patokan tempat bertanya mencari nasehat, yang juga menjadi siwa patirtan-pendeta tempat memohon tirta dari para Arya Bang sekeluarga yang ada di Singharsa Bangli. Ada juga tempat memohon tirta pembersihan sekala dan niskala di Tirta Arca namanya. Tirta itu patut disungsung oleh Arya Bang semua. Juga dibangun parhyangan tempat mamuja Ida Bhatara Susunan Sakti Dalem Bujangga serta Ida Danghyang Manik Angkeran. Parhyangan itu dinamai Pura Dalem Bujangga, di Bale Agung, disungsung  oleh  keturunan Arya Bang Wayabiya di kawasan Bangli. Demikian  dikatakan.

Diceritakan sekarang di Suwecapura – Gelgel, Ida Dalem Ketut  Smara Kepakisan  yang memegang kekuasaan di  Bali sudah  meninggalkan dunia menuju Sorgaloka. Ada anak beliau  bergelar Sri Aji Baturenggong, tidak berbeda dengan yang telah dilakukan  sebelumnya. Ada kemudian keinginan Dalem akan menyelenggarakan yadya memuja Ida Bhatara di Besakih. Karena itu Dalem mengutus I Bandesa memberi-tahukan para manca semua supaya siap mengadakan pertemuan di Suwecapura – Gelgel.

Dikisahkan sekarang para Manca Dalem telah tiba di Suwecapura.  Penuh di Paseban – tempat menghadap. Sesudah itu keluarlah baginda Dalem, duduk di tepas yang tinggi, yang dialasi permadani, diapit dengan lelancang dan pengawin. Sesudah itu muncullah para isteri Dalem semuanya  membawa bokor gedah bertatahkan emas mirah permata. Menghaturkan sirih (canang) kepada Sang Raja. Tiada beberapa lama datanglah I Pasek Paling Wayah, berbusana Empu kuturan. Membawa bokor menghaturkna canang kepada para Manca, menteri  Dalem semua. Setelah semua memakan sirih para manca itu, tiba-tiba datang di Balai penghadapan pramanca Bangli Singarsa. Terlihat menunggang kuda diiringi oleh bala. Segera menghadap menyembah ke hadapan Dalem. Tiba-tiba disana, disapa dengan kata-kata mengejek oleh I Dewa yang berkedudukan di Taman Bali bersama I Dewa Gede Pamecutan, katanya ” Baru datang ki Arya Bangli Singharsa ?”. Dijawab oleh I Gusti Ngurah Dawuh Baleagung: “Inggih, baru datang kakakmu. Bagaimana, sudah lama menghadap kepada Ida Bhatara Dalem?”. Dijawab dengan rada kesal oleh I Dewa Gde Taman Bali “Ah, mengapa Ki Arya berkata seperti itu? Nanti akan kujadikan satu  kawasan Taman Bali dan Bangli”. Menjawab I Gusti Dawuh Baleagung “Walapun begitu, kalau hancur Bangli, akan rusak juga Taman Bali”.  Setelah peristiwa itu, keduanya berdiam. Pembicaraan  kedunya kemudian diambil alih  oleh Dalem, itu sebabnya maka  dibubarkanlah penghadapan itu . Demikian ceriteranya di Suwecapura.

Diceriterakan sekarang  Ida Rsi Bang Bujangga Panulisan, sudah  tua, kemudian wafat  menuju Sorgaloka. Demikian pula Ida I Gusti Ngurah Bija Pulaga, karena sudah tua  kemudian meninggalkan dunia fana ini menuju  Sunyaloka. Putra Ida Rsi Bang Bujangga Panulisan yang bernama I Gusti Dawuh Baleagung Panulisan kemudian menjadi pendeta menggantikan ayahanda beliau bergelar Ida Rsi Bang Dawuh Baleagung Panulisan. Ida Rsi menjadi pendetanya  seluruh  warga Arya Bang Wayabiya di Bangli. Memang  tentram, subur makmur tidak kurang makan dan minum  wilayah Bangli  pada waktu pemerintahan Ida I Gusti Ngurah Dawuh Bale Agung. Inggih, hentikan dahulu.

Dikisahkan Ida Rsi Bujangga Dawuh Baleagung Panulisan  sudah tua kemudian  pulang ke Siwaloka. Tidak adalagi yang menggantikan beliau sebagai  pendetanya  warga Arya Bang Wayabiya. Ida I Gusti Ngurah Dawuh Baleagung juga  sudah tua usia  beliau, namun  masih merasa handal dengan diri beliau. Kini ada yang menggantikan sebagai raja yakni I Gusti Ngurah Praupan. Para menteri beliau adalah para putra Ida Rsi Bujangga  Dawuh Baleagung Panulisan. Yang paling terkemuka  I Gusti Caling Lingker, I Gusti Dangin Pasar, I Gusti Delod Peken, I Gusti Lor Bancingah, I Gusti Batan Waringin, I Gusti Dawuh Panulisan yang paling  akhir. Setelah  ganti berganti, sanak beranak, banyaknya mencapai 60, sampai kepada Arya Pamijian, tunggal bersuka-duka Ki Arya Bang semuanya,  sekeluarga besar itu menjadi Arya Bang Kaja Kawuh atau Arya Bang Wayabiya.

Kembali diceriterakan prihal keadaan di Kraton Suwecapura – Gelgel, pada hari Selasa-Kliwon – Anggara Kliwon wuku Medangsiya, pada bulan Bali keempat : sasih Kapat, tanggal ping 13, keluarlah beliau  Ida Dalem Sri Aji Baturenggong, dihadap oleh para Menteri beliau. Menghaturkan sembah saat itu I Gusti Ngurah Sidemen, didampingi oleh Kriyan Patandakan, Kriyan Jelantik, Kriyan Tabanan, Kriyan Kebon Tubuh serta terakhir Kriyan Pinatih. Atur para menteri itu tiada lain  prihal  pertikaian  Kyai  Taman Bali dengan Kyai Singharsa Bangli pada saat pertemuan lalu. Para menteri  itu semuanya memohon agar supaya Dalem  mengadakan utusan  sepagai Bhagawanta  yang dimintai nasehat dan pertimbangan, guna menyudahi pertikaian  antara Singharsa Bangli dengan  Taman Bali. Akhirnya merasa senang  Ida Dalem,  kemudian memenuhi keinginan  para menteri semuanya. Setelah itu  ditutuplah pertemuan itu .

Diceriterakan sekarang Ida Dalem memerintahkan bhagawanta – pandita istana – beliau  yang bernama Ida Sang Brahmana Pandita Manwabha. Di sana kemudian sang brahmana  setuju dengan perintah Dalem . Akan menjadi  penasehat yang memberikan pertimbangan di bhumi Singharsa Bangli.

Terkisah sekarang  Peranda Manuwabha, disertai dengan  anak serta isteri beliau. Semua isi Griya beliau dibawa, berpindah dari Gelgel. Pada hari yang baik yakni Sabtu Wage Julungwangi, bulan Bali ke 5, tanggal ping 13, berjalanlah beliau sang pendeta  mengikuti  Munduk Mina Nyalian. Tidak diceriterakan di jalan, sudah dawuh pitu sang mentari, sampailah beliau di Singharsa Bangli, langsung menuju Puri  Bale Agung.

 Diceritakan sekarang raja Singharsa Bangli, setibanya Sang Pandita Manuaba, telah terdengar oleh I Gusti Ngurah Dawuh Baleagung serta I Gusti Ngurah  Praupan, I Gusti Dangin Pasar, I Gusti Lod Peken, Kyai Ler Bancingah,  Kyai Batan Waringin, semuanya sibuk menjemput Sang Pandita yang baru datang. Juga ikut menjemput I Gusti Dawuh Panulisan, serta semua putra Arya Bang Kaja Kauh . Serta para Bendesa dan Pasek semuanya. I Gusti ngurah Dawuh Baleagung menyapa sang pendeta : “Singgih Sang Panduwa sudah tiba. Silahkan duduk di balai pertemuan”. Tak bedanya, bagaikan antara Bapak dengan anak. Semuanya sekarang sudah duduk. Datang permaisurinya membawa bokor arerempon, menghaturkan canang (sirih) kepada sang Pandita. Setelah itu terlihat I Pasek berdua, membawa bokor mas berbintang, menghaturkan susuh kepada sang pandita, kemudian semuanya dipersilahkan menyantap sirih itu. Karena semnuanya sudah  dihaturi  canang,  kemudian sang pendeta bertanya kepada Kyai Baleagung. Kata sang pandita : “Benarkah ananda bersilang kata dengan I Dewa Taman Bali, seperti dikatakan Dalem? Kalau benar demikian sepatutnya ananda memberitahu Bapak ”. Menjawablah I Gusti Baleagung: “Singgih Sang Pandita, ingat saya dahulu ketika ada di Gelgel, anak Sang Pandita diejek oleh I Dewa Gde Taman Bali yang menjadi manca di Taman Bali. Pada saat itu ada  pertemuan antar para menteri semua. Ada di sana Ki Ngurah Agung, Rakriyan Patandakan, Rakriyan Jelantik, tahu juga kakak hamba Arya Sidemen dan kakak I Gusti pinatih. Sangat kesal ananda serta  para tanda mantri dan kakak ananda semua.” Demikian atur Ki Gusti Dawuh Baleagung . Kemudian berkata sang pendeta :”  Nanda Kyai Arya, sekarang karena Bapa  diminta Dalem untuk datang di sini, Bapa meminta tempat kepada ananda.  Ada keinginan Bapa  bertempat tinggal di sebelah selatan, bernama desa Bebalang. Tidak jauh Bapa dengan  ananda”. Berkata Ki Gusti Ngurah : “ Singgih, memang berhak  sang pendeta sebagai patirthan  hamba  sampai kelak di kemudian hari”.

Diceritakan sekarang I Gusti Dawuh Baleagung, bersabda kepada I Pasek Bandesa berlima. Diperintahkan I Pasek mengajak  saudaranya, membangun tempat tinggal di desa Bebalang. Tidak diceritakan berdirilah sudah tempat kediaman itu. Diceritakan Sang Pandita sudah bertempat tinggal  di Griya yang baru dibangun. Tingkah laku beliau sunguh-sungguh  bagaikan Sanghyang Paramesti. Sekarang berkatalah I Gusti Dawuh Baleagung kepada Pasek Bandesa. “Bapa Pasek serta Bandesa, silahkan memilih saudaramu sebagai rakyat Sang Pandita. Saudara Ki Pasek 25, saudara Ki Bendesa, 25”. Demikian kata Ida Ki Gusti Dawuh Baleagung. Semua yang diberitahu menyatakan setuju, semuanya menghaturkan  keluarganya laki perempuan kepada sang pendeta, sebagai pembantu beliau .

I GUSTI NGURAH PRAUPAN MENJADI PENGUASA  BANGLI

Pada masa pemerintahan Ida I Gusti Ngurah Praupan, memang benar-benar beliau itu terkenal akan kecakapannnya dalam mengatur tata  pemerintahan serta juga  mengasihi rakyatnya semua. Itu sebabnya beliau  sangat dipuja  oleh rakyat semua  se kawasan Bangli. Apalagi  beliau didampingi  oleh Ida Peranda yang bertempat tinggal di Griya Bebalang, sebagai bhagawanta beliau yang memegang kekuasaan, menjadi subur makmur dan sejuk kawasan Singharsa Bangli pada waktu itu .

Diceritakan sekarang raja di Taman Bali yang bernama I Dewa Gde Tangkeban, sentosa kerajaannya. Tetapi tidak lupa pada pertikaiannya dengan  penguasa kawasan  Singharsa Bangli. Pada  saat pemerintahan I Gusti Praupan,  diceriterakan di Taman Bali ada petugas  jaga (gebagan) menginap di istana Taman Bali,  mereka disuruh mencuri  di Puri Singharsa Bangli. Mereka itu  disuruh  agar datang  diam-diam  kemudian membunuh I Gusti Ngurah Praupan beserta  tanda mantrinya bernama Ki Arya Batan Waringin. Dan lagi mereka itu diberikan keris. Lalu berangkatlah kedua orang itu . Setibanya di Bangli di Puri Baleagung, dilihatnya di  sana  I Gusti Ngurah Praupan sedang dihadap di Balai Penghadapan. Lengkap di  balai itu, dan semuanya membawa senjata. Saat itu merasa  takut keduanya,  merasa tidak akan berhasil  melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, karena  sangat menanggung resiko dan berbahaya untuk  menuju tempat  I Gusti berdua. Kemudian I Gusti Ngurah Praupan melihat  kedua orang itu. Lalu segeralah berhatur sembah keduanya karena kehabisan akal, kepada I Gusti Ngurah Praupan. Katanya : “Inggih palungguh Gusti, mohon dimaafkan,  mohon hidup hamba. Hamba sebenarnya diutus oleh Dewa Taman Bali, agar hamba membunuh palungguh I Gusti. Namun tidak berani hamba kepada tuanku. Sekarang agar  tahu  tuanku akan daya upaya I Dewa Taman Bali. Karena besar nian iri hatinya kepada tuanku “. Demikian atur  mereka bedua, menjadi gembiralah I Gusti Ngurah Praupan serta berkata ; “Duh engkau utusan dari Taman Bali, memang  demikiankah  katamu.  Kalau memang benar engkau tidak berani padaku, dan juga memang tidak akan berhasil melaksanakan perintah yang ditugaskan kepadamu, nah sekarang aku  memberitahu, jika engkau ingin, dengan senang hatilah engkau kembali ke Taman Bali. Bunuhlah tuanmu di Taman Bali. Jika engkau berhasil melaksanakan perintahku ini, jika sudah mati tuanmu olehmu, kuberikan engkau memerintah negara Taman Bali”. Demikian sabda I Gusti Ngurah Praupan. Senang hati penjahat itu mendengar perintah beliau. Kemudian memohon diri setelah menghaturkan sembah kepada I Gusti Ngurah Praupan. Beliau memerintahkan pembantunya  agar mengambilkan  keduanya  seperangkat busana serta keris untuk disungklit. Kemudian  mereka berdua mengatakan keyakinannya bahwa mereka akan berhasil  melaksanakan perintah  I  Gusti Ngurah. Berjalanlah kedua orang itu  kembali dari  Purinya I Gusti Ngurah Praupan.

Sesudah  matahari terbenam, sampailah  mereka di Puri Taman Bali. Pada saat itu I Dewa Gde Tangkeban  sedang pergi mandi, namun membawa cundrik. Saat itu keduanya  masuk ke gedongan tempat peraduan I Dewa Gde Tangkeban, bersembunyi di bawah tempat tidur. Lalu setelah malam tiba datanglah I Dewa dari mandi. Kemudian  memasuki Gedong. Pada saat memasuki gedong itu , tercium olehnya bau manusia, sehingga menjadi  waspadalah hatinya, kemudian mundurlah I Dewa  serayasa  menghunus cundrik. Tidak lama keluarlah penjahat itu dari kolong tempat tidur, serya menusuk. Yang ditusuk tahu akan hal itu, kemudian menangkis seraya  turun ke  halaman. Kemudian mereka berkelahi di halaman, satu lawan satu. Tak lama kemudian matilah  si gebagan itu. Setelah itu lalu I Dewa Gede Tangkeban ke Bale Gede. Ada putranya yang sedang duduk di pelataran balai, yang bernama I Dewa Ketut Kaler.  Berkatalah ayahnya “Yah anakku, disini anak duduk. Apa ananda tidak tahu prihal Baoak berperang melawan penjahat di halaman. Kok tidak  ada perhatian ?” Berkatalah anaknya : “Singgih Aji, tahu ananda  prihal perkelahian  Ayahanda dengan  penjahat itu, namun karena keadaan sangat gelap, tidak  bisa   ananda mengenali, itu sebabnya ananda  tidak memberi bantuan kepada ayahanda. Lagi pula  ananda  sudah tahu betul tentang ketangkasan ayahanda  melawan penjahat itu. Tidak akan menang si penjahat itu  melawan ayahanda”. Demikian atur I Dewa Ketut Kaler. Diam ayahnya , segera menyalakan lampu serta menggantungkannya di kolong barat laut. Tidak lama keluar lagi penjahat yang lainnya dari gedongan . Kemudian  berperang di halaman melawan I Dewa Gde Tangkeban.  Seru nian perkelahian itu, lalu matilah si penjahat , namun I Dewa Gde Tangkeban terluka di bagian pangkal lengannya. Mayat si penjahat dipotong-potong, kemudian diperintahkan agar dibuang ke jurang.

Diceriterakan I Dewa Gde Tangkeban, karena  sakitnya cukup parah,  banyak putranya, sanak saudaranya, datang menjenguk. Ada yang membawa dukun untuk mengobati  penguasa kawasan Taman Bali. Banyak juga  isterinya yang datang diiringi rakyat, semua menyampaikan pujian  karena  ayahnya berhasil membunuh  kedua penjahat itu. Diceriterakan kemudian, tak sembuh jualah  ratu Taman Bali dari  sakitnya, kemudian  beliau meninggal .

BANGLI  BERPERANG MELAWAN TAMAN BALI

Diceritakan di Taman Bali, sewafatnya I Dewa Gede Raka Oka  ada putranya  sudah dewasa, bernama I Dewa Anom Teka. Karena  beliau tahu prihal   meninggalnya ayah beliau, tiada lain karena upaya penguasa  kawasan Bangli Singharsa yang  beristana di Bale Agung. Itu sebabnya berang hatinya, kemudian mengadakan pertemuan di dengan  sanak saudaranya, diikuti juga oleh mereka yang sudah berpindah tempat tinggal,  semuanya sudah diberi tahu,  merencanakan akan menyerang  penguasa Bangli. Kemudian semuanya  menyatakan  dan berjanji sanggup  seperti halnya  burung,  akan membela  ayahnya yang sudah meninggal. Sesudah  seia sekata sanak saudaranya semua,  menjadi riuh rendah dan penuh  Puri Taman Bali., sanak saudaranya dari Nyalian juga datang dari sebelah  timur yang bernama I Dewa Pring, beserta bala rakyatnya,  penuh sesak,  dengan senjatanya semua. Kemudian berjalan bersama  pasukannya ke utara  dan  turun  dari sebelah timur Puri Bale Agung Bangli .

Ternyata Anglurah Bangli  I Gusti Ngurah Praupan  sama sekali tidak tahu  akan datangnya  pasukan Taman Bali yang sudah mengepung kawasan Bangli. Kemudian didengar oleh beliau suara bedil serta sorak sorai pasukan Taman Bali. Ada seorang hamba sahaya lalu  menghaturkan sembah seraya berkata : “  Uduh Cokor I Gusti, ada musuh mengurung, datang dari Taman Bali” Saat itu menjadi  sangat murka Kyayi Anglurah  Praupan. Beliau segera memerintahkan agar memukul kentongan besar kerajaan di puri bertalu-talu. Datanglah  semua bala pasukan lengkap dengan senjatanya, yang terkemuka para menteri beliau semuanya. Lalu  prajurit pasukan  itu bersorak  menghadang musuh mereka.

Beberapa saat kemudian riuh rendah perang itu,  sungguh ramai  di sebelah timur  Bangli. Diceriterakan I Dewa Taman Bali, beliau menyerang dari selatan Bangli,  diiringi oleh pasukannya. Lanjut  bersatulah mereka , dikepung Puri  Bale Agung Bangli dari segala arah, direbut  oleh bala pasukan Taman Bali. Sungguh ramai perang saat itu. Namun banyak prajurit Taman Bali yang keteteran, tidak bisa melawan, ada yang  mati. Saat itulah kemudian disatukan  pasukan Nyalyan  dari timur, melewati desa  Blungbang. Ramai peperangan di sana, saling  gebug di Panunggekan, saling suduk. Bersusun-susun bangkai manusia di sana. Itu sebabnya, seakan  keder keadaan di Bale Agung Bangli. Karena dikelilingi oleh musuh. Saat itu  marah besar I Gusti Dawuh Bale Agung  yang sudah  sepuh,  akan  menghadang dengan pasukan beliau. Karena itu  kembali bala pasukan itu, mengiringkan  ratunya. Sekarang kembali ramai perang itu . Belakangan kalah pasukan Nyalian, Karena itu I Dewa Pring menjadi  terusik hatinya. Marah hatinya  akan membunuh orang yang menyebabkan meninggal ayahnya. Saat itu lalu dia  mengamuk  berperang tanding melawan Ki Arya Dawuh. Namun, walaupun Ida I Gusti Ngurah Dauh Baleagung susah berusia lanjut, beliau masih sangat  handal  pada dirinya. Jadi demikian  ramainya preng tanding di antara beliau berdua.  Bagaikan  ombak di lautan  yang  menghempas  lambungnya gunung.  Disebabkan karena demikian banyaknya sanak saudara dan bala pasukan  I Dewa Pring dibandingkan dengan  pasukan  I Gusti Ngurah Dawuh Baleagung, setelah cukup lama peperangan itu , kalahlah I Gusti  Ngurah Dawuh Bale Agung, beserta sanak saudaranya  serta para menterinya banyak yang meninggal.

Menjadi  murka Ida I Gusti Ngurah Praupan  mendengar  gugur ayahandanya tercinta. Kemudian beliau menghadang  pasukan Taman Bali. Kembali seru peperangan itu  jadinya,  gemuruh seperti  lautan menghempas gunung, saling penggal, saling tumbak, saling  pukul. Karena kalah  jumlah pasukannya,  maka banyak  anggota pasukan Bangli yang mundur. Sekarang hanya tinggal Ida I Gusti Ngurah Praupan saja di medan laga,  karena memang sangat perwira beliau itu . Beliau mengamuk seperti banteng kataton. Menakjubkan  sekali keberanian beliau. Asalkan  ada  pasukan Taman Bali yang mendekat, dipenggal,  ditusuk,  sampai mati. Itu sebabnya seperti takut  bala pasukan Taman Bali melihat  keperwiraan Ida I Gusti Ngurah Praupan, serta  berlari  tidak menghiraukan lagi keadaan  junjungan mereka. Ada yang jatuh ke dalam jurang, ada yang  diinjak-injak  oleh teman mereka. Tak terbilang betapa banyaknya  anggota pasukan Taman Bali  yang  luka parah. Merasa jengah, malu, para ksatriya Taman Bali itu. Kemudian direbutlah Ida I Gusti Ngurah Praupan, paling muka adalah I Dewa Prasi serta I Dewa Batan Wani.  Dapat kesempatan Ida I Gusti Ngurah Praupun  menusuk  I Dewa Batan Wani, lalu  meninggal I Dewa Batan Wani. Cukup lama juga peperangan di sana. Lalu  kehilangan tenaga rupanya Ida Anglurah Praupan, seperti perahu tanpa kantih, karena  lebih besar jumlah yang merebut. Akhirnya  semakin melemah  tenaga  beliau,  dan dapat ditusuk oleh I Dewa Prasi. Maka  keluarlah darah mengucur dari tubuh meliau, dan  gugurlah beliau di Panunggekan .

Sisa yang gugur, semuanya  lari berhamburan. Jadi  berhasil dikalahkan waktu itu penguasa Bangli .

PARA PUTRA ARYA WANG BANG  MENYEBAR DI BANGLI

Diceritakan sekarang para putra raja Baleagung yang tidak wafat, ada yang mengungsi ke jagat Karangasem di Sindhu bernama I Gusti Dauh, disertai oleh Pendeta Manuaba, membawa pusaka I Loting serta pariagem (prasasti). Di sana disambut oleh I Gusti Sidemen. Putra I Gusti Tumenggung bertempat di Pekandelan Baleagung Bangli, di selatan Dalem Bujangga, turun wangsa setelah mengawini perempuan asal Pasek Bendesa menjadi watek Dangin. Serta ada yang  berpindah  membawa ayam menuju Manikliyu dihaturkan kepada Sanghyang Surya menyembah dengan ancak-ancak ayam, tetapi Dalem Bujangga masih diingat, karena itu di sana ada Pura Ancak.

Keturunan I Gusti Caling Lingker teguh memegang wangsanya tiggal di Bale Agung, memelihara Pura  Dalem Bujangga. Putra I Gusti Batan Waringin, ada dua orang, yang pertama menjadi pengemong di arca. Yang  kedua I Gusti Ngurah Kancing Masuwi, mengungsi menuju sungai Melangit naik ke desa Tambaan tempat kediaman leluhurnya  Ida Bang Wayabiya melakukan yoga dahulu. Seterusnya menjadi Arya Bang Tambaan.

Keturunan I Gusti Dangin Pasar, yang pertama I Gusti Ngurah Lukluk, yang pemade bernama I Gusti Ngurah  Demang diam-diam pergi ke daerah Petak. Ada juga adiknya pergi diam-diam di sebelah barat Bebalang, di desa pulung bernama I Gusti Demung.

Keturunan I Gusti Praupan bernama I Gusti Wayahan, pergi diam-diam ke hutan Belancan, Kintamani, membawa pusaka berang serta kawitan. Disertai dengan setia oleh rakyatnya I Pasek serta I Bendesa. Lama beliau itu di Plancan Bonyoh, membuat tempat suci bernama Pura Anggarkasih. Adiknya pergi diam-diam ke Bebalang bernama I Gusti Ngurah Anom Tengen. Disertai adiknya I  Gusti ayu Alit. Yang paling bungsu, pergi berdiam di Alas Tugak,  bernama I Gusti Gede Raka Oka, disertai oleh pengikutnya I Pasek Bendesa.

   Dikisahkan sekarang I Gusti Ngurah Gde Raka Oka, sewaktu  pulang dari hutan  Tugak, disertai oleh I Pasek Bendesa Paling Wayah, berpindah dari hutan itu kemudian menuju kawasan Bebalang. I Gde Pasek Bandesa  mengungsi ke hutan  Bebengan Saga. Ada keinginan I Pasek  menelusuri sanak saudaranya yang pindah  melewati Sungai Sangsang,  dan  pembantunya didengar berada di barat daya  membuat  tempat tinggal, pemukiman itu dinamai soroh Kahadan.

Belakangan I Gusti Ngurah Anom Tengen  berpindah dari Bebalang, melewati Sungai Sangsang,  kemudian berdiam di Serokadan membawa  pajenengan – pusaka Tulup, diikuti hamba sahaya sebanyak  21 orang, membangun Pamerajan, mensthanakan leleluhur beliau Ida Bang Manik Angkeran,   disungsung oleh para putra di kemudian hari. Itu antara lain  keturunan  Ki Arya Dawuh Bale Agung. Dan semuanya itu merupakan keturunan warga Arya Wang Bang, yang   masurya kepada pendeta Ida  Rsi Bujangga Dawuh Bale Agung Panulisan.

Dikisahkan sekarang, setelah kalah Raja Singharsa Bangli di Puri Baleagung, sekarang ada penggantinya bernama I Dewa Perasi, beristana di Puri hutan Soka, dinamai Puri Soka, serta Puri Timbul. I Dewa Pindi di Gaga, Taman Bali, banyak para anggota keluarga dari penawing  serta bala mantri bertempat tinggal masing-masing di Bangli. Setelah itu bulatlah kawasan Bangli itu, sewaktu pemerintahan  I Dewa Perasi.

Diceritakan juga Raja Bangli sangat bijaksana dalam memerintah. Sangat sayang Raja Bangli itu kepada para putra Ki Arya dahulu, semuanya dijadikan patih Raja Bangli di tempat tinggalnya masing-masing.

I Gusti Ngurah Kancing Masuwi menjabat di di desa Tambaan. Menjadi patih beliau di sana.  I Gusti Demang menjadi patih di bagian timur  yakni di Petak, I Gusti Demung di Pulung, I Gusti Ngurah Gede Raka Oka di Bebalang, I Gusti Caling Lingker di Baleagung, I Gusti Dawuh Panulisan di Baleagung, I Gusti Delod Peken, I Gusti Batan Waringin di Puri Kelodan, Bale Agung, juga menjadi pangemong  di Arca, Bangli. I Gusti Ngurah Anom Tengen, menjadi patih di Serokadan. Belakangan I Gusti Ngurah Kancing Masuwi atau I Gusti Ngurah Tambaan  menyunting putri  Ki Gusti Ler Pranawa yang menjabat Demung pada pemerintahan  Dalem Segening di Gelgel, itu sebabnya Ida I Gusti Ngurah Kancing Masuwi  dijadikan Anglurah olih Dalem Gelgel. Sering Ida I Gusti Anglurah Tambaan  pergi pulang ke Gelgel pada saat diadakan pertemuan oleh Dalem  di sana. Hentikan dahulu.

Para putra I Gusti Ngurah Praupan banyak yang berhamburan  mengungsi ke luar daerah Bangli, seperti ke kawasan Badung, mencari tempat yang dekat dengan leluhurnya dahulu, ada yang berdiam di Peguyangan mencari tempat di desa Praupan. Ada yang  bertempat tinggal di Jimbaran dan Serangan, di Bukit Badung, menyembah Pura Balangan. Ada juga yang pindah ke Parerenan, Badung. Semuanya itu membawa pungkusan sebagai warga Arya Bang Wayabiya. Demikian keadaannya.

Ada lagi keturunan Ida Pandita Rsi Bujangga , putra dari I Gusti Caling Lingker, pindah dari Singharsa Bangli, mengungsi ke desa Mengwi, membawa ketu, kukul, bende, serta prasasti. Beliau  bernama I Gusti Ngurah Bang Kaja Kauh. Tidak diceritakan lagi disana.

Diceritakan I Gusti Wayahan sudah dewasa. Beliau didampingi oleh  I Pasek Bendesa yang mempunyai anak seeorang bernama I Pasek Pulasari.  Karena I Gusti Wayahan sudah mendengar berita bahwa adiknya semua sudah dirangkul serta disayang oleh Raja Bangli, sekarang ada maksud beliau untuk pulang, mencari adiknya semua. Tidak diceritakan berangkatlah beliau diiringkan oleh I Pasek Pulesari. Tidak diceritakan di perjalanan tibalah beliau di Serokadan, di sana bertemu dengan adik beliau. Berapa hari beliau di sana , kemudian didengar oleh Raja Bangli. Ada utusan mendatangi I Gusti Wayahan agar menghadap ke Puri Bangli. Menghadaplah beliau. Tidak diceritakan perbincangan mereka, diminta oleh Raja Bangli pulang ke Bebalang. Di sana  dijadikan Jaksa oleih penguasa  Bangli. Senanglah adik-adiknya semua, diemban oleh para pengikut semua. Setelah lama-kelamaan berada di sana, beliau  mengambil istri bernama I Gusti Ayu Nyoman Belong dari Kentel Gumi Banjarangkan. Setelah lama beristri tidak pula mempunyai keturunan. Demikian keadaannya I Gusti Ngurah Wayahan. Hentikan dahulu.

Diceritakan sekarang Raja Bangli, sepeningal I Dewa Prasi, putrinya menjadi Ratu bernama I Dewa Ayu Den Bencingah. Setelah lama kemudian beliau  bersuamikan I Dewa Gde Anom Rai  dari Taman Bali.

Diceriterakan  I Dewa Gereh Tangkeban, Nyalian, berperang melawan  I Dewa Manggis  dari Gianyar. Asal muasal pertikaian itu, disebabkan pusaka –pajenengan  yang bnernama Ki Lobar, sangat diinginkan oleh I Dewa Manggis. Itu sebabnya terjadi perang. Kemudian  diceriterakan kalah I Dewa Gereh Tangkeban, kehilangan tenaga di medan laga, direbut oleh pasukan dari Gianyar dan Gelgel. Saat itu kemudian ujung keris Ki Lobar dipatahkan  lalu dimakan oleh I Dewa Gereh Tangkeban seraya mengutuk agar sanak saudaranya di Taman Bali dan di Bangli, segera  mendapatkan masalah yang sama  seperti yang dialami oleh Nyalian, yakni berperang melawan saudara. Apa sebab  raja Bangli dan raja Taman Bali dikutuk  oleh I Dewa Gereh Tangkeban, karena ketika berepenag,  ingkar janji, tidak datang memberikan bantuan, itu sebabnya I Dewa Tangkeban di Nyalian  kalah melawan Gianyar dan pasukan dari Gelgel.

Dikisahkan  setelah meninggalnya  I Dewa Gereh Tangkeban, ada putranya  laki-laki yang masih kecil, diasuh oleh  hamba sahaya sebanyak 12 orang . Anak yang masih kecil itu  diserahkan kepada Ratu Bangli.  Diterima  putra yang masih kecil itu  oleh sang ratu Bangli I Dewa Ayu Den Bencingah. Putra beliau itu kemudian dinamai I Dewa Tangkeban.

Diceriterakan sekarang hamba sahaya yang mengasuh  anak  yang masih bayi itu dari Nyalian.  Hamba sahaya itu diminta  untuk datang menghadap oleh Ratu Bangli kepadfa  I Gusti Ngurah Wayahan di Bebalang. Setelah menghadap di Bebalang kepada I Gusti Ngurah Wayahan, kemudian diberikan tempat  kedua belas orang itu di Tegal Gancan.  Belakangan  tempat itu dikenal dengan nama Banjar Gancan. Serta  hamba sahaya itu membawa parhyangan pasimpangan panyungsungan  penguasa Nyalian, pura itu dinamai Pura Agung . Hentikan dahulu.

Ada ceritanya lagi, disebutkan I Gusti Made Kaja Kauh keturunan Arya Bang Pinatih yang meninggalkan kawasan Kerthalangu, Badung,  pindah dari Tulikup, ke arah utara perjalanannya, diikuti kawula 66 orang banyaknya, mengungsi ke desa Bebalang. Disana bertemu wicara dengan I Gusti Ngurah Wayahan di Bebalang, di bawah pohon beringin, di sebelah barat  rumah I Gusti Wayahan. I Gusti Made Kaja Kauh bertanya kepada I Gusti Wayahan. Katanya : “Inggih Gusti, saya memohon maaf  kepada Gusti,  kalau memang berkenaan I Gusti, serta juga agar  tahu tentang diri I Gusti, mohon dijelaskan siapa sebenarnya I Gusti ? ”. Lalu menjawablah I Gusti Ngurah Wayahan, katanya “Inggih Gusti, saya minta perkenaan kepada Gusti, mula saya bertempat tinggal disini di Bebalang, saya memang keturunan I Gusti Bija Pulaga dulu”. Dengan penuh keinginan I Gusti Kaja Kauh berkata lagi “I Gusti Bija  Pulaga itu siapa ? Siapa yang menurunkan?’ Menjawab I Gusti Wayahan : “I Gusti Bija Pulaga itu bhatara kami dahulu, putra dari I Gusti Made Bija yang  bersaudara dengan I Gusti Ngurah Pinatih Rsi, di Kerthalangu, Badung. Leluhur beliau itu diperintahkan Dalem dulu, menjadi penguasa negara Badung”. Demikian kata I Gusti Ngurah Wayahan. Kemudian berkata I Gusti Kaja Kauh, katanya : “ Inggih I Gusti,  saya tadi  matur, apa sebab I Gusti ada di sini, agar tahu  keberadaan I Gusti, saya  adalah putra I Gusti Made Pahang Pinatih, tetapi malang, leluhur  saya dikalahkan oleh semut. Itu sebabnya saya datang ke sini’. Demikian permbicaraan mereka berdua. Karena I Gusti Ngurah Wayahan  dan I Gusti Made Kaja Kauh sama-sama tahu bahwa keberadaan  beliau  berdua memiliki kawitan satu, itu sebabnya  beliau berdua memakai bahasa satu  yakni menyebut kakak-adik.

Diceritakan kembali besok paginya, keluar Ki Arya berdua, berkeliling guna melihat-lihat tempat di sana. Lalu berkata I Gusti Ngurah Wayahan.: “Dinda Made Kaja Kauh, yang mana tempat yang cocok untuk diri dinda”. Menjawab I Gusti Made Kaja Kauh : “Inggih, dinda meminta itu yang di depan timur laut puri kanda. Lalu dinda akan membangun puri”. Berkata I Gusti Wayahan “Dinda Made Kaja Kauh, silahkan dinda membangun, kanda malu menyuruh hamba sahaya  disini di Bebalang, karena lain perintahnya nanti.” Menjawab I Gusti Made Kaja Kauh : “Inggih, kanda diamkanlah hal itu. Ini bala (rakyat) yang mengikuti dinda dari Tulikup miliki bersama kanda dan dinda, agar membuatkan dinda rumah”. Demikianlah  akhirnya keadaan  mereka sebagai Arya di tempat itu .

Diceritakan adik I Gusti Wayahan , bernama I Gusti Ayu Alit, lama kemudian diambil sebagai istri oleh I Gusti Kaja Kauh, sehingga beripar I Gusti Wayahan dengan I Gusti Kajakauh. Ada terlahir dua anak lelaki. Yang pertama dinamai I Gusti Gede Kaja Kauh, adiknya bernama I Gusti Made Talibeng. Lama kemudian dewasalah berdua putra itu, tahu mereka mengambil pekerjaan di sawah sebelah timur puri, persawahan itu dinamai persawahan Talibeng. Serta I Gusti Talibeng, semua keturunannya  membawa sebutan warga I Gusti Talibeng.

Serta I Gusti Kaja Kauh berputra laki seorang bernama I Gusti Putu Kajakauh, di kemudian hari semuanya membawa nama warga pungkusan Arya Bang Wayabiya  atau Arya Bang Kajakauh, seperti yang menjadi petuah  tetua mereka dahulu di Bale Agung, Bangli.

Ada kisah lain lagi, I Gusti Ayu oka, putra I Gusti Ngurah Sidemen asalnya diinginkan oleh raja di Gegel, namun pada saat  keadaaan  Kaliyuga di Gelgel, saat itulah I Gusti Ayu Oka meninggalkan puri Gelgel,  tidak karuan perjalanannya. Tidak diceritakan dijalan, lalu tibalah didesa Bebalang, disambut oleh I Gusti Kajakauh, kemudian diambil istri oleh I Gusti Putu  Kajakauh, sudah diupacarai  widhi widana. Tidak diceritakan lagi.

I GUSTI NGURAH WAYAHAN  DIPERDAYA

Diceritakan I Gusti Ngurah Wayahan. Sangat sayang  ratu Bangli I Dewa Ayu Den Bencingah kepada I Gusti Ngurah Wayahan. Ada  masalah berkenaan dengan suami I Dewa Ayu Den Bencingah yang bernama I Dewa Anom Rai, meninggal di Balai Sumanggen, karena tidak setia  kepada isterinya I Dewa Ayu Den Bencingah. Itu sebabnya  dinamai I Dewa Mantuk ring Sumanggen, Bangli.. Tidak diceritakan lagi.

Diceriterakan juga bahwa  anak yang diasuh di Puri Bangli yakni I Dewa Tangkeban, sudah  meningkat dewasa,  bagus rupanya, diasuh oleh I Dewa Ayu Den Bencingah. Itu juga sebabnya  seringkali dilihat atau diperhatikan  oleh I Gusti Ngurah Wayahan. Prihal  prilaku I Dewa Gde Tangkeban  yang durhaka kepada ratu dan durhaka kepada ibu, dirasakan oleh I Gusti Ngurah Wayahan. Itu sebabnya  marah I Dewa Tangkeban kepada I Gusti Ngurah Wayahan.

Diceritakan sekarang Ratu Bangli, karena marah, menginginkan kematian I Gusti Ngurah Wayahan, dengan alasan tidak berbeda sikapnya menyamai  ratu Bangli. Itu sebabnya ratu Bangli, menyuruh Ki Mekel Sekerdadi agar menghadap ke Puri.. Sedatangnya I Mekel Sekardadi menghadap ke Puri, ada perintah Ratu Bangli, agar membunuh I Gusti Ngurah Wayahan. Serta diberikan pusaka -pajenengan keris bernama I Banyuwangi, untuk membunuh I Gusti Ngurah Wayahan.  I Mekel Sekardadi menuruti perintah beliau. Sesudah itu memohon diri I Mekel Sekardadi.

Diceritakan sekarang I Gusti Ngurah Wayaan menghadap kapada Ratu Bangli. Ada permintaan Ratu Bangli kepada I Gusti Wayahan. Katanya : “Dinda Ngurah Dauh pergilah dinda ke Brangbangan, Salulung, Kintamani. Menghitung upeti kawasan itu.. Pasukan sekardadi akan turut dalam perjalanan dinda”. Lalu berkatalah I Gusti Wayahan. Katanya  : ” Inggih, kalau begitu perintah I Dewa, saya menurut “. Seraya pulang I Gusti Ngurah Wayahan menemui  isterinya di Bebalang. Saat itu  beliau berkata kepada isterinya :  “Dinda Ngurah Ayu, sekarang di rumah dinda  baik-baik. Kanda diutus oleh Ratu Bangli, diperintahkan mencari upeti bumi di Brangbangan”. Demikian kata I Gusti Ngurah Wayahan kepada isterinya. Diceriterakan setelah lewat malam hari, sekarang tibalah pagi, sudah beliau mandi. Setelah mandi kemudian berpakaian, pakaiannya berkedudukan Mantri. Berkata istrinya ; “ Kanda Ngurah, bilamana kanda pergi, keris yang berlekuk (luk) tiga biarkan di Puri”.

Diceriterakan sekarang perjalanan I Gusti Ngurah Wayahan, diikuti bala yang mengiringkan. Tidak diceritakan di tengah perjalanan, tibalah di barat laut bukit bernama Sekardadi. Tak dinyana, disana beliau disambut oleh pasukan perang  I Mekel Sekardadi. Lalu direbut I Gusti Ngurah Wayahan oleh I Mekel Sekardadi. Baru luka dua, beliau menyebut-menyebut Dalem Ketut dahulu, katanya : “Ratu Bathara Dalem, jikalau hamba masih memiliki keturunan, agar sanak keturunan hamba hanya kepada Bhatara Dalem saja menghamba”. Hanya itulah atur I Gusti Ngurah Wayahan, kemudian ditusuklah lambung  beliau sebelah kiri, muncrat darah beliau  membasahi daun kayu yang lantas berbau harum  dan kemudian beliau wafat. Kemudian jasadnya diupacarai oleh orang Sekardadi, serta dikubur di sana. Tempat itu kemudian dinamai Kayu Ambua. Padukuhan di sana  juga dinamai Padukuhan Pasek Telagi. Lama-kelamaan karena Ki Arya wafat dikasihi Yang Mahakuasa, ada tanda-tanda  prihal permintaan sang meninggal, beliau meminta parhyangan, yang disembah oleh yang menginginkan kematiannya. Tidak diceritakan lagi.

Diceritakan I Gusti Kancing Masuwi, adik yang berdiam di  Puri Tambaan. Beliau  mendengar khabar dari pembicaraan orang-orang pangalu, bahwa sang kakak di Bebalang sudah meninggal. Menjadilah sesak dada beliau I Gusti Ngurah Tambaan sekeluarga, lalu segera pergi beliau ke Bebalang. Sesampainya di Puri Bebalang, lalu dilihat istri I Gusti Wayahan sudah wafat menusuk diri  di halaman Puri. Serta masih  memegang keris. Lalu menangislah I Gusti Tambaan.

Setelah matahari terbenam, sampai  tengah malam, lalu berbicaralah I Gusti Ngurah Tambaan kepada semua saudaranya di Bebalang terutama I Gusti Kaja Kauh. Katanya :” Adi Made Ngurah, bagaimana cara memikirkan kemalangan dinda – kanda sekarang ini “. Menjawab I Gusti Kaja Kauh ; “Inggih Kanda, dengan keadaan seperti sekarang ini ada baiknya kanda mengirim utusan ke Petak, ke Serokadan, ke Bale Agung, agar datang saudara semua”. Demikian atur I Gusti Made Kaja Kauh, disetujui oleh I Gusti Ngurah Tambaan Kancing Masuwi. Setelah malam berganti pagi, kemudian beliau mengirim utusan, agar  semua saudaranya datang. Diceriterakan setelah semua genap saudaranya datang- besar kecil – lalu diadakan pembicaraan di rumah I Gusti Ngurah Wayahan. Berkatalah I Gusti Ngurah Tambaan Kancing Masuwi kepada saudaranya semua, katanya : “Dinda  para Arya Wayabiya semuanya, karena beliau sesepuh  kita semuanya I Gusti Ngurah Wayahan  sudah  meninggal diperdaya  di Penyabeh, mari  kita semuanya  memohon  kesejahteraan kepada Ida Dalem Ketut di Parhyangan Hyang Tegal. Juga memohon keselamatan kepada Ida Bhatara Kawitan serta melakukan persembahyangan kepada Ida Bhatara Manik Tirtha, buatkan panyawangan di Pura Hyang Tegal, karena  semuanya  malu  untuk bersembahyang di Manik Tirtha. Nah  baiklah kita upacarai jasad ipar kita dahulu oleh saudaraku semua”.  Tidak diceriterakan  sudah dilaksanakan upacara palebonan isteri I Gusti Ngurah Wayahan  menurut tata upcara sang meninggal.

MEMBANGUN  PURA DALEM LAGAAN

Lama-kelamaan ada hari baik, yakni hari Anggara Kliwon wara Kulantir, bulan Kedasa, bulan Bali kesepuluh, tanggal 10, pada saat itu membangun Parhyangan itu, dengan bahan  turus dapdap di sebelah barat Sungai Melangit, di palinggih Hyang Tegal, di sebelah timur Bebalang. Di sana semua, para Arya di Bebalang, Serokadan, Beleagung,  Tambaan, Petak, Pulung, menghaturkan sembah  kepada Bathara Dalem. Atur beliau semuanya : “ Ratu Bathara Dalem, bilamana hamba masih memiliki keturunan, agar kepada Bhatara Dalem saja menghamba”. Demikian sumpah Ki Arya semua. Setelah demikian berbicara I Gusti Ngurah Made Kaja Kauh kepada putranya dua orang, katanya : ’’ Nanda Gede Kaja Kauh, nanda Made Talibeng, karena nanda bersaudara di sini di Bebalang, apabila ayah sudah tiada, nanda agar ingat menyembah di Pariyangan Dalem Pulaga ini”. Hentikan dahulu.

Ada ceritanya lagi, I Gusti Talibeng berkata kepada I Gusti Ngurah Tambaan Kancing Masuwi, katanya : “Ayahhanda, kalau benar permohonan nanda kepada ayahhanda, agar di sini ayahanda mendirikan Puri di sebelah timur desa Bebalang. Agar jangan jauh dari parhyangan kita”. Menjawab I Gusti Ngurah Tambaan: “Inggih, ada pemikiran nanda demikian, ayahanda menyetujui keinginan nanda itu”. Setelah itu segera I Gusti Ngurah Kancing Masuwi membangun puri  di Pategalan Bebalang, di Plancan, Tegal sebelah utara Pura Dalem Pulagaan . Putranya I Gusti Ngurah Tambaan Saguna serta adiknya tetap tinggal di Tambaan. Hentikan dahulu .

Ada cerita lagi, I Gusti Ngurah Gede Kaja Kauh, berbincang dengan I Gusti Ngurah Kancing Masuwi, diiringkan oleh I Gusti Made Talibeng. Pembicaraan itu berlangsung pada hari Rabu Kliwon, Sinta, bulan kelima, tanggal ping 12. Saat itu berujar I Gusti Ngurah Gede Kaja Kauh kepada I Gusti Ngurah Kancing Masuwi : “Inggih ayahanda, seperti sekarang sudah datanglah janji kita, Anggara / Selasa kliwon  Kulantir. Bagaimana cara kita memperbincangkan prihal di Pura Dalem Pulagaan, agar berjalan upacara pangupa aci. Agar berjalan segala suatu berkenaan dengan piodalan pujawali Ida Bhatara”.

Lalu berkata I Gusti Ngurah  Kancing Masuwi kepada kemenakannya  tertua, bernama I Gusti Ngurah  Arsa Guwi.” Nanda Arsa Guwi, kirimlah utusan ke Petak, ke Serokadan, ke Bale Agung, Bangli. Berapa yang mengikuti perkataan ayahanda.  Kalau sudah datang, agar bisa dicatat ke tembaga wasa (prasasti)”. Lalu I Gusti Guwi menjalankan surat kepada saudara masing-masing.

Diceriterakan pada hari Kamis Umanis, datang semua saudaranya. Semua menuju desa Bebalang. Sesudah penuh,  rakyat juga menghadap, dan setelah semuanya selesai memakan sirih, lalu mulai diadakan pembicaraan prihal masalah  seperti di depan. Karena sudah sama-sama menjawab, bersatu tidak ada yang ingkar, seperti keputusan pembicaraan terdahulu. Akan menyelanggarakan pujawali-piodalan di Pura Dalem Pulagaan.

Pada akhirnya I Gusti Ngurah Kancing Masuwi bertemu wicara dengan  rakyatnya yang merupakan keluarga I Pasek Penyarikan, yang paling dituakan memakai pungkusan I Pasek Pulasari. Kata I Gusti Ngurah Tambaan : “Bapa gede pulasari, sekarang saya membangun pura bernama Dalem Pulagaan, sebagai tempat   pengayatan Bathara  Dalem Ketut, saya pakai tempat persembahyangan bersama saudara saya semua. Sekarang masihkah Pasek setia kepada saya ? Bila Pasek setia kepadaku, saya juga pageh dengan kepasekan bapak”. Kemudian berkata I Pasek : “Ratu panembahan hamba Cokor I Gusti, walaupun hamba jaba, agar hamba ngajabain Cokor I Ratu saja, karena Cokor I Gusti ingat sekali kepada hamba, agar seketurunan hamba masih dipegang oleh Cokor I Gusti”. “Nah kalau Bapa Pasek masih setia, saya juga pageh dengan Kepasekan Bapa. Sekarang saya membuat desa dadiya dengan saudaraku yang kokoh membawa keAryaannya. Kalau menyelenggarakan aturannya, saya memiliki anak I Gusti Ngurah Arsa Guwi. Agar dia memimpin semua saudara saya. Agar bisa saya catatkan ke tembaga wasa (prasasti). Sekarang Pasek agar menjadi Panyarikan Desa di Dalem Pulagaan. Prihal pengeluaran, kemudian  pangupa aci, agar bisa Bapa Pasek  memikirkannya. Agar  tercatat di ilikita. Agar saya catat ke pariagem prasasti”. Lalu berkatalah I Pasek tidak ingkar.

Di sana I Pasek Panyarikan, menulis semua isi upakara. Sampai kepada  garam, kelapa butiran, serta uang. Pendeknya, semua penghabisan itu, ditulis oleh I Pasek Panyarikan. Selesai pembicaraannya waktu itu. Hentikan dahulu .

Dikisahkan pada hari Saniscara/Sabtu Kliwon Landep tidak lain yang dibicarakan seperti di depan. Yakni prihal tatkala I Gusti Ngurah Tambaan menurunkan semua saudaranya. Setelah semuanya datang, penuh tempat penghadapan di bawah pohon beringin di desa Bebalang. I Gusti Ngurah Arsa Guwi diangkat untuk mengatur saudaranya  berjumlah 45 KK sewilayah Bangli.  Sampai dengan Arya Pamijian, serta  I Pasek menanyakan kerabat 138 KK sewilayah desa Bebalang. Hal itu ditulis I Pasek menjadi berkentongan satu – tunggal.

Tidak diceritakan hari berganti hari, tibalah hari piodalan wali di Pura Dalem Pulagaan. Penuh sesak pada upacara di pura Dalem. Tatkala itu berkatalah I Pasek  Panyarikan “Inggih I Gusti  Ngurah semua, hamba diminta oleh I Gusti menjadi panyarikan desa. Sekarang hamba minta tangtu kepada Cokor I Gusti. Kalau ada  rakyat I Gusti bertikai  dengan  saudara mereka, agar bisa hamba  menjalankan benar salah untuk mereka”. Kemudian berkata  I Gusti Ngurah Tambaan : “Nah sekarang Bapa Pasek menyelesaikan persoalan untuk di jaba/luar. Kalau di sini  di luhur, aga saudara  saya menjadi juru sapuh. Sekarang Bapa Pasek merencanakan pangupa aci ke Puseh sampai ke Baleagung”. Demikian, selesailah pembicaraan I Gusti Ngurah semuanya disertai  oleh I Pasek. Lalu semuanya membuat pernyataan dan ketentuan. Ki Arya semua menyampaikan pernyataannya: “Ratu Bathara di Gunung Agung, kalau saya mempunyai keturunan, disertai oleh I Pasek, seketurunan saya agar menjadi juru sapuh di Dalem Pulagaan ini,  serta menyembah di  Pulagaan. Jika tidak menyembah agar tidak menemui suka di tempatnya masing-masing. Bagaikan tidak ingat kepada kawitan/leluhur”. Berkatalah I Pasek Pulasari : “Ratu Bathara di Gunung Agung, kalau hamba bisa beranak cucu agar seketurunan hamba menjadi Panyarikan Desa di Dalem Pulagaan ”. Habis.

Setelah itu diceritakan pada masa pemerintahan I Dewa Tangkeban menjadi Raja di negara Bangli, ada  kedigjayaan pusakanya keris bernama I Luk Telu. Tatkala itu para Arya masih memegang kemantrianya. Lalu menjadi Arya Pamijian. Karena itu banyak yang pindah ke  desa lain

Serta ada juga Arya Bale Agung yang mulanya menjadi patih di Panida,  bernama I Gusti Panida. Beliau pindah ke Den bukit, menjadi Panyarikan  I Gusti Panji Sakti di sukasada, kemudian tinggal berdiam di sana. Diceritakan lagi, banyak yang pindah dari Bangli ke luar daerah. Mereka siap memelihara kekokohan keAryaannya. Hentikan dahulu.

PARA PUTRA ARYA WANG BANG WAYABIYA BERPINDAH TEMPAT

 Diceriterakan  I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi  ketika beristana di  Tambaan serta menjadi  Anglurah  Gelgel, ada putranya bernama I Gusti Ngurah Tambaan Saguna, I Gusti Ayu Jembung, I Gusti Ayu Raka serta I Gusti Tambaan Laca. I Gusti Tambaan Laca  menyertai ayahnya di  Tegal.  I Gusti Ayu Jembung  sudah dipertemukan dan dinikahkan  dan sudah diupacarai dengan I Gusti Ngurah Arsa Guwi. Tahu-tahu datang utusan sang ratu Taman Bali,  meminang I Gusti Ayu Jembung. Utusan itu bernama  Padanda Sakti Gde Mawang. Tatkala I Gusti Ngurah Tambaan keluar dari puri, dilihat sang pandita di halaman  puri sedang memegang tateken beliau dan terlihat keluar  api se kepalan tangan bertingkat satu. Kemudian Ida I Gusti Ngurah Tambaan seraya menghaturkan ucapan selamat dating, juga memegang  keris pusaka – pajenengan beliau dan keluar api se hasta bertingkat 21. Saat itu merasa  kalah kesaktian sang pandita dengan I Gusti Ngurah Tambaan. Lalu   Ida pandita  menyampaikan  prihal akan meminang  adiknya I Gusti Ayu Jembung  akan dipakai  isteri oleh  I Dewa Taman Bali. Tidak diceriterakan pembicaraan saat peminangan itu. Tahulah I Gusti Ngurah Tambaan, peminangan itu hanyalah daya upaya raja Taman Bali saja, karena merasa takut disaingi. Jadi peminangan itu tidak bisa dipenuhi, sebab I Gusti Ayu Jembung sudah diperisteri  oleh saudaranya  I Gusti Arsa Guwi. Di sana marah ratu Taman Bali. Singkat ceritera, kemudian diserang I Gusti Ngurah Tambaan . Karena terpikir jumlah  musuh lebih besar,  kemudian  semuanya  berkemas meninggalkan istana beliau di Tambaan, membawa semua isi istana beliau. I Gusti Ayu Jembung membawa  karas pratima Pura Batu Madeg di Tambaan.  Kemudian beristirahat di  Sungai Malangit, dekat dengan  kediaman  ayah beliau, I Gusti Ngurah Kancing Masuwi di Tegal, Bebalang. Di sana kemudian beliau disambut oleh  I Pasek Dawan Tegal. Diceriterakan lama juga beliau berada di Pangsut, di sana I Gusti Ayu Jembung beserta suaminya  serta saudara. Di jurang  Pangsut itu semuanya disembunyikan oleh ayahandanya,  karena I Gusti Ayu Jembung sudah hamil. Disertai oleh  I Pasek Dawan Tegal. I Gusti Ayu Jembung menyampaikan janji disertai suami dan saudaranya : “ Ratu Bhatara, kalau saya  bisa  hidup  serta memperoleh keturunan, agar  kemudian kelak dibangun pura di sini dinamai Pura Sumadewi”.

Juga dibangun pura yang dibawa dari  desa Tambaan, dibangun oleh I Gusti Ngurah Tambaan  bernama Pura Batu Madeg, sebagai pengayatan ke hadapan Pura Batu Madeg di Besakih, ke hadapan Leluhur beliau . Danghyang Sidhimantra serta Danghyang Bang Manik Angkeran .

Belakang hari, karena tidak berani lagi menyembunyikan putra-putra beliau,  karena sudah diintip oleh I Dewa Taman Bali, dan juga karena sangat sayang ayahnya kepada  semua putranya agar masih  hidup, maka diminta putranya semua  untuk berpindah tempat  pergi diam-diam meninggalkan desa Tegal Babalang. I Gusti Ngurah Tambaan, I Gusti Arsa Guwi, I Gusti Ayu Jembung sudah hamil, berjalan menuju  Den Bukit, membawa pusaka –  keris pajenengan beliau  yang bernama  Ki Baan Kawu-kawu.  Tidak diceriterakan di jalan,  lalu  sampailah di Bukit Tajun. Hentikan dahulu sampai di sini .

Para putra  I Gusti Gde Raka Oka di Bebalang, Bangli banyak yang pindah  ke luar daerah, seperti  I Gusti Bang Kaja Kauh beralih ke  Balingkang, Kintamani,  kemudian  berdiam di  Manik Liu, membuat  panyawangan untuk  Bhatara di Dalem  Bujangga dan Dalem Lagaan.

Dikisahkan  setelah berpindahnya  putra  Dalem Gulyang  yang bernama I Dewa Pamayun  menuju  desa Tampaksiring, serta ada yang mengungsi ke desa Manukaya, ada ikut serta putra Arya Bang Wayabiya atau Kaja Kauh, membawa pusaka  pajenengan  bernama  Ki Palangsoka. Itu sebabnya ada para putra Arya Bang Wayabiya dahulu, yang bernama I Gusti Pasih berdiam di   Tampaksiring serta I Gusti Meranggi di Manukaya. Adiknya I Gusti Made Selir  beralih tempat ke  Tegalwangi, disertai prasanak I Pasek Pulasari. Berdiam di sana. Mempunyai putra 4 orang. Yang bungsu I Gusti Ketut Tegal Gading namanya, dipakai menantu oleh  I  Dukuh kemudian  nyeburin serta berganti nama menjadi  Dukuh Tegal Gading. I Dukuh Tegal Gading berputra 2 orang, paling tua bernama  I Gde Wayan Pauman pindah ke Sakaan, yang kecilan  I Gede Wayahan beralih ke  Tegal Lalang berdiam di Paku Dui. Keturunan  I Gusti Kaja Kauh  di Tampaksiring  ada yang  berguru kepada Ida Ayu Datu. Diburu oleh  I Gusti Mambal. Kemudian lari  semuanya  ke luar daerah itu. Ada yang mengungsi ke Blahbatuh,  Babalangan Sangeh, serta Bongkasa.

Diceritakan putra I Gusti Kajakauh di desa Tegal Bebalang bernama I Gusti Talibeng, I Gusti Sidemen, I Gusti Dauh, I Gusti Sala, I Gusti Pering semuanya mengambil nama dari ibu : pungkusan wadu. I Gusti Pring menjadi pangemong Pura Dalem Panasar sebagai pangayatan Bhatara dalem Puri, Besakih. Itu permulaan keturunan I Gusti Kaja Kauh dahulu. Ada lagi keturunan Arya Pinatih  dari Kerthalangu, Kesiman, menyembunyikan wangsanya  di Blahbatuh, kemudian  pindah ke Bebalang, berdiam di Tegal Bebalang, menjadi Arya Bang wayabiya.

Diceritakan lagi keturunan I Gusti Kaja Kauh dahulu, yang paling utama putra I Gusti Dangin Pasar bernama I Gusti Lukluk, serta adiknya bernama I Gusti Made Kaja Kauh mengungsi menuju kawasan Badung. I Gusti Lukluk  kemudian nyineb wangsa. Lama kelamaan  I Gusti Lukluk jatuh cinta kepada putri Mekel Sawung Galing dan kemudian dipersunting sebagai isteri, selanjutnya  bertempat tinggal di Titih, Badung.

I Gusti Lukluk berputra 5 orang , seorang menjadi warga Mekel Sawung Galing, seorang berpindah ke   Kedonganan, seorang ke Grenceng. Dua yang lainnya masih berdiam di Lukluk, Titih, membangun  pangayatan Dalem Lagaan di  Pamerajannya. Lama kelamaan  adik I Gusti Lukluk yang bernama I Gusti Made Kaja Kauh pindah dari Badung mengungsi menuju daerah Tabanan, selanjutnya ke  Tuakilang, bertemu dengan anak  I Pasek, kemudian menjadi warga – nyeburin- bernama I Gde Kajakauh.    

Ada lagi   putra I Gusti Dangin Pasar, yang bernama  I Gusti Bebasa serta I Gusti Dauh Giri. I Gusti Babasa mengungsi ke kawasan Bringkit, Badung . Dari  Badung I Gusti Bebasa  menuju kawasan  Titih, Badung disambut oleh saudaranya di sana, menyunting istri dari warga Gaduh berputra I Gusti Kompyang Basa kemudian nyineb wangsa. Dari Titih, Badung, I Gusti Bebasa kembali ke Bringkit, berdiam di sana nyungsung Pura Dalem Lagaan di  Pangadangan. Belakangan ada putra dari Bringkit pindah ke Cica, Kapal,  ada yang ke Kekeran serta Gulingan dan ada juga yang beralih tempat ke Baler Bale Agung, daerah  Jembrana. Adiknya  I Gusti Dauh Giri  mengungsi ke  desa Tuakilang. Ada  para putra dari Tuakilang pindah ke   Pasut, Krambitan serta ke Banjar Lebah, Tabanan mengadakan  pangayatan Dalem Lagaan di pamerajannya. Hentikan dahulu.

Ada lagi  putra I Gusti Gde Raka Oka di Bebalang bernama I Gusti Bang Panasan dan I Gusti Bang Dauh pindah ke Pangsan, membangun Pura Dalem Lagaan. Dari Pangsan, I Gusti Bang Dauh  pindah ke Mambal. Di  Mambal, karena berbeda pendapat dengan I Gusti  Mambal, kemudian pindah  dari Mambal ke  Abiansemal membangun  Pura Dalem Bujangga serta  Dalem Lagaan.

Lagi ada putra  I Gusti Ngurah Gde Raka Oka, bernama I Gusti Bang Panasan Weda pindah mengungsi  ke  desa Sanpara, membawa arca Prajapati Dalem Lagaan, Bangli yang diganti.  Patung itu disungsung oleh  Arya Bang Wayabiya di Sanpara ditempatkan di  Pamerajan di sana, di sthana  pangayatan Pura Dalem Lagaan.

Ada lagi para putra I Gusti Ngurah Gde Raka Oka di Bebalang pindah ke Angantaka bernama I Gusti Gde  Putra. Saudaranya yang bernama  I Gusti  Kekeran, pindah dari Bebalang  menuju keluarganya di Serokadan. Dari Serokadan I Gusti Kekeran  pindah ke  Katik Lantang, Gianyar membawa arca kemudian berpindah lagi serta berdiam di Air Paku atau Jukut Paku, ingat dengan Dalem Lagaan dan Dalem Bujangga. Serta ada lagi  saudaranya yang bernama  I Gusti Tulia berdiam di  Sembung. I Gusti Madya pindah ke  kawasan Badung, ditunjukkan tempat oleh saudaranya di Badung  berdiam di Jimbaran nyungsung Pura Balangan sebagai peringatan kepada Ida Bhatara Hyang Tegal – Dalem Lagaan, kemudian berputra berhamburan pindah ke kawasan  Badung sebelah selatan  seperti desa Tanjung, Bukit Catu, Ungasan, Celuk – Bualu. Juga ada putra Arya Bang Wayabiya yang pindah dari Bale Agung, Bangli, belakangan menuju Panginyaan, Payangan. Diceriterakan juga  anak dari  I Gusti Gde Kaja Kauh  di Bebalang, ada yang berpindah tempat ke  Belega, Blahbatuh.

Diceriterakan para putra  I Gusti Ngurah Demang di Petak, karena  menepi  tempat tinggalnya, dekat dengan Taman Bali, senjata berang yang dipakai sebagai pusaka diinginkan oleh saudara yang berdiam di Petak itu. Itu sebabnya  pusaka itu  diberikan kepada saudaranya di Petak. Lama kelamaan hal itu didengar oleh  saudara semuanya. Disebabkan karena  senjata berang itu merupakan pusaka leluhur dahulu,  kemudian  pusaka itu diserahkan  agar disungsung di Pura Dalem Lagaan. Serta  genta. Demikian keadaannya dahulu. Hentikan  dahulu.

Diceriterakan kembali I Gusti Ngurah Tambaan Saguna di Bukit Tajun disambut oleh  Ki Pasek Bulyan. Di sana I Gusti Ngurah Tambaan lama berdiam  serta membuat pesanggarahan serta pangayatan Bhatara. Beliau juga melaksanakan kewajiban dharma  usadha mengobati  sanak sauadara Ki Pasek, itu sebabnya  disayangi serta  sangat erat persahabatan dengan Ki Pasek. Kemudian beliau dimohon agar membuat persawahan tempat menggembalakan itik, kuda, lembu. Tempat persawahan itu  dinamai Subak Tambaan.

Diceriterakan juga tatkala Ki Pasek Bulyan menemui kesulitan sehari-harinya  disebabkan karena banyak sapi peliharaan Ki Pasek hilang tanpa bekas, beliau dimohon belas kasihannya . I Gusti  Ngurah Tambaan  kemudian melakukan  yoga samadhi.  Akhir cerita, berhasil sapi-sapi itu diambil dari buta-buti-banaspati  yang menyembunyikan di tempat mereka. Karena itu  I Gusti Ngurah  diberikan tanah persawahan  yang sudah dibuat. Kemudian beliau bertempat tinggal di Alasarum. Tempat itu kemudian dinamai Kubu Tambaan sebab di sanalah tempat tinggal    I Gusti Ngurah Tambaan.  Hentikan dahulu

Kemudian dikisahkan,   Ki Pasek  Menyali  mendengar prihal kebolehan  I Gusti Ngurah Tambaan. Pada saat itu anggota masyarakat desa di Manyali sangat gelisah karena  jika diselenggarakan pujawali  Ngusaba Desa,  penari rejang yang paling belakang yang menari di Pura Desa, hilang. Itu sebabnya Ki Pasek Manyali meminta tolong kepada Ki Pasek Bulian, agar memohonkan kepada  I Gusti Ngurah Tambaan berkenan mencarikan jalan keluar. I Gusti Ngurah Tambaan lalu melakukan penelitian, membawa pusaka pajenengan beliau Ki Bahan Kawu, Ki Baru Sembah serta Ki Baru Uled, berjalan ke sana – ke mari. Lama kelamaan beliau melakukan yoga samadhi di Pura Agung, pura yang dibangun oleh beliau. Di sana kemudian beliau mendapatkan kejelasan bahwa I Manaru – seorang  manusia raksasa sedang berada di sebuah Goa yang bernama Goa Sah. I Menaru inilah yang memangsa  penari rejang itu, dipakai untuk meningkatkan kesaktiannya. Lalu I Gusti Ngurah Tambaan menyucikan pusaka  beliau semuanya di Pura  Dalem Negara Panyucian, selanjutnya menuju ke goa tersebut. Sesampainya di goa itu,  dilihat oleh beliau I Menaru sedang berjemur  di bibir goa itu. Karena I Menaru tahu  saatnya mati sudah tiba, dia akan diruwat oleh yang baru datang, segera  dia menghaturkan sembah seraya menyerahkan diri :  “ Inggih Cokor I Dewa,  cepatlah bunuh hamba. Hamba  memohon panyupatan. Di kemudian hari, jiwa hamba akan menjadi I Bhuta Seliwah, menunggui  Ida Bhatara semuanya di kawasan ini. Namun ada permohonan hamba, agar setiap tahun dibuatkan saya guling saliwah – yang matang sebelah, bukakak namanya, agar  subur makmur kawasan ini. Silahkan  bunuh hamba sekarang “. Demikian permohonan I Menaru, kemudian dibunuhlah I Menaru dengan  pusaka beliau Ki Baan Kawu. Atas  kesaktian beliau  kemudian I Gusti Ngurah Tambaan diberikan  daerah di sebelah barat Sungai Daya, di sebelah utara  Menyali, bernama Bungkulan. Beliau juga membangun Pura Yeh Lembu, Pura Hyang Ahi tempat memuja  Hyang Hari atau  Bhatara Wisnu dan Dewi Sri, serta Pura Maduwe Karang sebagai pasimpangan  Pura Lod Guwuh di  Bulyan.  Hentikan dahulu.

Kemudian dikisahkan  sudah  subur makmur  kawasan Kubutambaan dan  Bungkulan, di bawah  I Gusti Ngurah Tambaan. Saat itu didengar oleh  I Gusti Ngurah Panji Sakti  yang sedang memperluas wilayahnya. Lalu diserang I Gusti Ngurah Tambaan oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti. I Gusti Ngurah Tambaan, sebenarnya tahu betul dengan keberadaan  I Gusti Ngurah Panji Sakti sewaktu ayahnya I Gusti Ngurah Tambaan Kancing Masuwi menjadi Anglurah di Gelgel. Itu sebabnya beliau merasa tidak ikhlas  untuk berperang melawan I Gusti Ngurah Panji Sakti. Namun demikian, perang itu  ternyata  sangat seru. Karena kalah jumlah pasukan, maka I Gusti Ngurah Tambaan beserta  putranya I Gusti Tambaan Sampun  mundur ke arah tenggarta. Pasukan   I Gusti Ngurah Panji Sakti kemudian memburu. Namun hilang, tanpa bekas. Tambaan Ilang ! Tempat itu belakangan dinamai Tamblang. Karena tidak bisa dicari , kemudian I Gusti Ngurah Panji Sakti mengeluarkan janji akan memakai I Gusti Ngurah Tambaan sebagai saudara. Saat itulah kemudian keduanya  dipersaudarakan.  Kemudian I Gusti Ngurah Tambaan  menjadi  Penasehat  I Gusti  Ngurah Panji Sakti. Beliau dibeirkan kepercayaan melatih pasukan yang dinamai dengan  Taruna Goak. Putra beliau I Gusti Ngurah Tambaan Sampun yang kemudian diberi nama juga I Gusti Ngurah Tamblang Sampun dijadikan   mahapatih I Gusti Ngurah Panji Sakti. I Gusti Ngurah Tamblang Sampun mempunyai putra  laki-laki dua orang,  yang  lebih tua bernama I Gusti Ngurah Bungkulan , yang lebih kecil bernama  I Gusti Ngurah Made Tambaan. Putra yang lebih tua  I Gusti Ngurah Bungkulan diberikan putri  I Gusti Ngurah Panji Sakti sebagai isteri.

Pada saat menyerang Blambangan, I Gusti Ngurah Panji Sakti didampingi oleh  Mahapatih I Gusti Ngurah Tamblang Sampun dan I Gusti Made Batan.  Juga ketika  merencanakan menyerang I Gusti Agung Maruti  di Gelgel, I Gusti Ngurah Tamblang Sampun   dijadikan utusan  merencanakan hal tersebut bersama dengan  I Gusti Ngurah Sidheman serta  I Gusti Jambe Pule dari Badung. I Gusti Agung Maruti  baru kemudian kalah setelah patihnya  Ki Dukut Kerta dibunuh oleh I Gusti Ngurah Tamblang Sampun di medan laga. Sejak saat itu  istana I Dewa Agung Jambe yang  menjadi penguasa, berpindah istana ke Semara Pura. Hentikan dahulu .

Diceriterakan  I Gusti Ngurah Bungkulan berpindah tempat dari Alas Arum ke sebelah barat Sungai  Daya, itu sebabnya beliau juga bernama  I Gusti Ngurah Dauh Yeh yang menurunkan I Gusti Panji Tambaan.  Adiknya  I Gusti Ngurah Made Tambaan berpindah tempat dari  Alas Arum  menuju sebelah timur Sungai Daya, kemudian dikenal dengan nama I Gusti Ngurah Dangin Yeh.

Demikian keadaan  keturunan  Ida Wang Bang Wayabiya, putra ketiga Ida Danghyang Bang Manik Angkeran  yang menyebar ke seluruh pelosok Pulau Bali.

 TATWA SIRA AGRA MANIKAN

SIRA AGRA MANIK

Sekarang dikisahkan Sira  Agra Manik di Besakih yang bertugas untuk nabdabin Lawangan Agung. Selama di Besakih beliau tinggal di Pesraman mendampingi Ida Bang Tulusdewa. Setelah Sira  Agra Manik dewasa, beliau lama tidak menikah. Pada suatu  hari Sira Agra Manik pergi ke Lawangan Agung untuk melakukan  kegiatan kebersihan. Di sana bertemu dengan anaknya I Pasek Prateka yang bernama Ni Luh Watusesa. Lama kelamaan keduanya  saling mencinta, kemudian melangsungkan pernikahan.  Kemudian Ni Luh Watusesa  hamil dan melahirkan putra laki-laki dinamai Sira Manikan.

Semenjak mempunyai putra itu kemudian Sira  Agra Manik tinggal di Lawangan Agung. Tidak diceritakan kegiatan Sira Agra Manik setelah mempunyai putra Sira Manikan. Sampai lama kelamaan Sira Manikan menjadi dewasa. Selanjutnya Sira Manikan kawin dengan anaknya I Pasek Kayuselem yang bernama Ni Luh Sari.  Setelah perkawinannya itu beliau tinggal di Batusesa, dan diberi oleh orang tua beliau senjata batu yang sangat ampuh (mawisesa) serta kris pasupati.

Dari perkawinannya tersebut melahirkan 2 (dua) orang putra dan 1 (satu) orang putri. Putra yang pertama diberi nama Sira Manik Gumi, dan Putri yang kedua diberi nama Sira Ayu Manik Mas dan putra yang terkecil (ketiga) diberi nama Sira Manik Arum.

Setelah Sira Manik Gumi dianggap dewasa, beserta dengan orang tuanya Sira Manikan kemudian pergi ke Swecapura untuk membantu  Ida I Gusti Anglurah Sidemen. Sedangkan Sira Manik Arum pergi ke Karang Amla.

Di Semarapura terjadilah musibah/perang saudara yang mengakibatkan Sira Manikan wafat akibat ditikam dari belakang. Sira Manik Gumi selanjutnya menikah dengan anaknya I Pande Basa yang bernama Ni Luh Pande. Dari perkawinannya tersebut  mempunyai 2 (dua) orang putra, masing-masing bernama I Ngurah Manikan sebagai putra pertama   dan     I Manik Gde Arum sebagai putra kedua. I Ngurah Manikan tinggal di Semarapura, sedangkan I Manik Gde Arum pergi dan bertempat tinggal di Gianyar.

I Ngurah Manikan selanjutnya menikah dengan Ni Luh Biasama dan didaulat menjadi patih Ida Dalem. Dari perkawinannya tersebut mempunyai 4 (empat) orang anak. Yang pertama laki-laki diberi nama I Wayan Ngurah, anak kedua seorang putra yang diberi nama I Made Dabdab, yang ketiga laki-laki diberi nama I Nyoman Brata, sedangkan yang terkecil laki-laki yang bernama I Ketut Kemoning.

Di Gianyar, I Manik Gde Arum bertugas sebagai prajurit Raja Gianyar , dan bertemu serta kawin dengan anaknya I Bandesa yang bernama Ni Luh Kunti Sari. Dari perkawinannya itu, mempunyai 2 (dua) orang anak, masing-masing diberi nama I Gede Ngurah Geni dan I Gede Gianyar.

Di Karang Amla, Sira Manik Arum kawin dengan anaknya I Gede Karangasem yang bernama Ayu Putri, dan kemudian diangkat menjadi pejabat  Raja Karangasem. Dari perkawinannya itu mempunyai seorang putra yang diberi nama Sira Manik Arum”. Dan karena terjadi pergolakan di Puri, pergilah Sira Manik Arum tanpa tujuan yang pasti.  Sira Manik Arum kawin dengan Ni Luh Karang dan mempunyai (4) empat orang anak. Putra pertama diberi nama I Ngurah Wisesa, putra kedua I Ngurah Karang, putri ketiga Ayu Mas, dan putra keempat bernama I Ngurah Manikan.

Atas permintaan Ida Dalem, maka I Wayan Ngurah ditunjuk menjadi pejabat kerajaan, sedangkan I Made Dabdab kembali ke Besakih. Sampai di Gembalan, I Made Dabdab kemalaman dan kemudian bertemu dengan I Pande. Beliau memutuskan untuk menginap di sana. Pada saat itu bertemulah beliau dengan anaknya I Pande yang bernama Ni Pande Dewi. Akibat kecantikan dari Ni Pande Dewi, akhirnya I Made Dabdab tidak jadi melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk kawin dan menetap di Gembalan.  Sedangkan I Nyoman Brata diperintahkan untuk berjaga dan sebagai prajurit  di Budaga. Dan pada suatu ketika  bertemu dengan Ni Ayu Bajing, selanjutnya kawin dan menetaplah beliau di sana.

Sedangkan I Ketut Kemoning ditunjuk sebagai prajurit dan ditugaskan untuk  berjaga di daerah Kemoning. Di Kemoning bertemu dengan Ni Luh Canting serta kawin dan menetap di sana. Selanjutnya tidak diceritakan lagi.

Di Sweca Pura, I Wayan Ngurah kawin dengan Ayu Manik Mas, dan mempunyai 3 (tiga) orang anak. Putra pertama bernama I Putu Gunadi, yang kedua seorang putri yang diberi nama Ni Luh Manik Parasara, dan yang ketiga seorang putri yang diberi nama Ni Luh Suryani.

I Putu Gunadi kawin dengan Ayu Mas, dan mempunyai 2 (dua) orang anak. Anak pertama seorang laki-laki yang diberi nama I Paresara dan yang kedua seorang laki-laki yang bernama I Made Wardana (putung/camput).

I Paresara kawin dengan Ayu Manggis Kuning dan mempunyai anak tunggal yang bernama I Putu Gelgel. I Putu Gelgel setelah dewasa diangkat menjadi pejabat utama Ida I Gusti Ngurah Sumerta yang saat itu sebagai Anglurah Sidemen VI, seperti permintaan Ida Dalem. Selanjutnya kawin dengan Ni Luh Sri Wardani serta mempunyai 5 (lima) orang anak. Anak pertama I Putu Paresara, yang kedua bernama I Made Widjaya, yang ketiga bernama Ni Luh Wardani, yang keempat bernama I Gede Manikan, dan yang kelima bernama I Catri Arsana.

Akibat terjadinya situasi yang tidak kondusif di Kerajaan Gelgel, maka sekitar tahun 1685 Masehi I Putu Paresara bersama-sama dengan saudara-saudaranya pergi meninggalkan Suweca Pura (Gelgel). I Putu Paresara pergi ke Timur sampai di Wilayah Selatan Bukit Indrawati, yang sekarang bernama Ulakan dan menetap di sana.

Tidak diceritakan berapa lama I Putu Paresara tinggal dan menetap di Ulakan, sampai pada suatu ketika  I Putu Paresara bertemu dengan Ni Luh Nurida dan melakukan perkawinan. Dari perkawinannya itu  mempunyai 3 (tiga) orang anak. Anak pertama bernama I Wayan Budjangga, anak kedua bernama I Made Suda, dan yang ketiga bernama   I Nyoman Brati.  Lama kelamaan I Wayan Budjangga dan I Made Suda diutus untuk membawa surat ke Kerajaan Bangli. Sesampainya di Kerajaan Bangli, bertemu dengan I Gusti Anom  Wanasari dan atas persetujuan beliau diangkatlah menjadi prajurit dan oleh karenanya menetap di Puri Bangli. Sedangkan    I Nyoman  Brati pergi ke Daerah Sasak. Tinggalkan cerita itu sejenak.

Sekarang diceritakan, bahwa adiknya Ida I Gusti Anglurah Mangku Sidheman bernama I Gusti Made Teges, yang tinggal di Karangasem, lama kelamaan rindu dengan adiknya yang bernama I Gusti Anom Wanasari yang tinggal di Puri Bangli.

Beliau dengan beriringan beberapa orang prajurit dengan membawa senjata  “Sangkut” yang bernama Ki Barujaya dan “Pawedaan”, pergi mencari adiknya I Gusti Anom Wanasari di Bangli, dengan maksud untuk di ajak ke Karangasem. Tidak diceritakan berapa lama mereka diperjalanan, akhirnya sampai mereka di Puri Bangli. Lalu menghadap Raja, dan permintaan beliau agar Raja berkenan memberikan adiknya I Gusti Anom Wanasari untuk bisa diajak ke Karangasem. Raja tidak mengijinkankan, tetapi Raja berkenan  memberikan mengajak prajurit sebanyak-banyaknya, tetapi I Gusti Made Teges tidak mau. Lalau Raja berkenan dan memberikan mengajak prajurit andalan yang bernama         I Made Suda yang memang keluarga Manikan, supaya mengikuti ke Karangasem ditambah beberapa prajurit lainnya.        I Gusti Made Tegespun mengikuti perintah Raja, dan berpamitan kepada Raja untuk pergi ke Karangasem. Beliaupun berangkat dengan I Made Suda dengan beriringan beberapa orang prajurit pemberian Raja Bangli. Sesampainya di Karangasem beliau lalu membangun Puri yang bernama “Karang Sidemen”.

Entah berapa lama I Made Suda tinggal dengan I Gusti Made Teges, lalu kawin dengan seorang putri yang berasal dari Belong Karangasem. Dari perkawinannya itu, melahirkan 3 (tiga) orang putra dan putri, yang masing-masing diberi nama I Ganti sebagai putra pertama, Ni Luh Bagia sebagai putrid kedua, dan I Komang Jata sebagai putra terkecil. Lama kelamaan, I Ganti pergi mengembara ke Daerah Badung, di Kerobokan, sedangkan I Komang Jata pergi ke Ulakan.

Kembali diceritakan sekarang, saudaranya I Putu Paresara yang nomor dua yang bernama I Made Widjaya. Beliau pergi meninggalkan Gelgel ke Daerah Buleleng dan memutuskan untuk menetap di sana. Di Buleleng diangkat menjadi prajurit kerajaan dan selama di Buleleng bertemu dan melangsungkan perkawinan dengan anak I Pasek Preteka yang bernama  Luh Pasek Lemuh. Selanjutnya tidak diceritakan lagi.

Ni Luh Wardani, manjing ke Puri sebagai dayang. Dan I Gede Manikan  tinggal di Gelgel dan kawin dengan Ni Widiasih. Akibat semakin tidak kondusifnya keadaan  di Puri Gelgel menjelang pemberontakan I Gusti Agung Maruti terhadap Dalem Dimade, maka  pergilah  I Gede Manikan dari Gelgel ke Bala Batuha, yang sekarang bernama Blahbatuh, bersama-sama dengan wadwanya I Gusti Ngurah Jelantik.

I Catri Arsana pergi ke Daerah Badung, dan di Badung kawin dengan Ayu Kunti Manik. Dari perkawinannya itu mempunyai 2 (dua) orang anak, masing-masing diberi nama I Wayan Majun dan I Made Gede Rai.

Demikianlah keberadaan keturunan dari Sira Agra Manik, putra keempat Ida Danghyang Bang Manik Angkeran..

Demikian ceriteranya dahulu, keberadaan keturunan persaudaraan Catur Warga, keturunan Pendeta Besar  Ida Danghyang Siddhimantra, yang berputra Ida Danghyang Bang Manik Angkeran,  di Pulau Bali. Inilah   sapanya:

Om Ksamaswamam pangastutyem,

Sarwa sujanyem Çiwabudhayem,

Wetting hina wakyam hina budyem,

Hinaksaram hina prityaksyem,

Siddhakarem wahya turyyanem,

Grahanem edatwantu çimantanem.

(berbagai sumber / Pelitanusantara.com)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *