Pelitanusantara.com |Pendidikan adalah hal terpenting yang dibutuhkan manusia sejak lahir. Setelah kelahirannya, manusia mendapatkan layanan pendidikan pertama yang disebut pendidikan usia dini.Pengertian pendidikan usia dini dalam undang-undang Pasal 1 Ayat 14 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional menurut Supayadi & Ulfah: Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. (2013, p. 18) Supayadi & Ulfah juga mengatakan bahwa usia 0-6 tahun disebut dengan masa keemasan (the golden age). Masa keemasan hanya terjadi satu kali dalam kehidupan manusia. Masa keemasan merupakan masa peletakkan dasar yang tepat bagi seorang anak yang akan berpengaruh pada masa kehidupan anak yang akan datang (2013). Sehubungan dengan hal ini, maka sangat penting untuk memenuhi kebutuhan anak secara maksimal sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
Dalam merespons hal tersebut, pemerintah menyelenggarakan program pendidikan anak usia dini (PAUD). Layanan untuk PAUD dibedakan berdasarkan usia dan tahapan perkembangan anak. Kurikulum PAUD 2013 merupakan seperangkat panduan pelaksaan kegiatan belajar yang ditujukan kepada layanan PAUD di Indonesia. Diharapkan setiap layanan tersebut dalampelaksaannya mengacu pada kurikulum PAUD 2013.
Taman Kanak-Kanak (TK) adalah salah satu dari layanan PAUD. TK dibagi menjadi dua tingkatan yaitu TK A (usia 4-5 tahun) dan TK B (usia 5-6 tahun). Usia 4-6 tahun adalah masa prasekolah. Sekolah TK hadir dengan maksud untuk membantu peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangannya secara maksimal. Hal tersebut dilakukan dalam rangka untuk mempersiapkan anak sebelum masuk sekolah pendidikan dasar. Pendidikan pertama yang diterima anak berasal dari keluarga. Keluarga memiliki tugas untuk membentuk sikap dasar anak yang akan membekali ketika anak tersebut memasuki sekolah TK. Wiyani mengatakan beberapa hal yang diperlu dibentuk sejak usia dini adalah kasih, kemandirian, kedisiplinan, sopan santun, keindahan, patuh kepada otoritas, dan menjalin relasi dengan orang lain (2013). Namun, dalam perkembangan zaman yang semakin maju, keluarga kurang maksimal dalam menjalankan perannya untuk membentuk karakter dasar anak.
Dalam suatu penelitian yang kami lakukan di salah satuTaman Kanak-Kanak di kota Tangerang siswa kelas TK mengalami keterlambatan dalam hal kemandirian. Menurut Lafeudin kemandirian anak usia dini meliputi dua aspek, pertama memenuhi kebutuhan fisik tanpa bergantung dan dipaksa orang lain. Contohnya adalah makan, mandi, buang air kecil, membuka tutup botol, memakai baju dan sepatu. Kedua, keberanian untuk mengambil keputusan seperti munculnya inisiatif, menyelesaikan suatu masalah, ketekunan, melakukan suatu hal tanpa bergantung kepada orang lain (2017). Namun, yang ditemukan penulis adalah siswa belum mampu untuk membuka botol sendiri, memakai sepatu sendiri, makan terlalu lama atau tiak dihabiskan, tidak membereskan barang-barang setelah digunakan jika tidak diingatkan, masih sering menangis jika keinginan siswa tidak terpenuhi.
Salah satu pendekatan yang berpusat pada siswa adalah pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Penulis melihat bahwa pendekatan CBSA dapat digunakan untuk melatih kemandirian siswa usia dini melalui pembelajaran aktif.
PEMBAHASAN
Pendidikan merupakan suatu hal yang terpenting dalam kehidupan manusia sehingga setiap manusia membutuhkan pendidikan yang memadai. Pendidikan pertama yang diterima manusia berasal dari keluarga. Namun, fakta yang terjadi saat ini banyak keluarga yang tidak mampu untuk memberikan pendidikan kepada anak secara maksimal. Salah satu masalah yang ditemukan penulis dalam suatu penelitian adalah siswa mengalami keterlambatan dalam hal kemandirian yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangannya. Berdasarkan hasil wawancara, penyebabnya adalah hampir seluruh siswa TK pada sebuah sekolah memiliki pembantu pribadi dan perlakuan orang tua yang terlalu memanjakan anaknya sejak dini. Untuk itu, wajar jika siswa sekolah tersebut terlalu manja karena terbiasa dilayani ketika di rumah. Sebagai guru , membentuk kemandirian anak sejak dini adalah penting.
Berdasarkan fokus kajian, kemandirian anak usia dini merupakan salah satu aspek penting yang merupakan suatu bentuk usaha atas kehendak sendiri untuk melakukan suatu hal tanpa bergantung dengan orang lain. Berkaitan dengan hal tersebut, maka kemandirian penting untuk dimiliki setiap orang .
Karena kemandirian merupakan bentuk dari tanggung jawab terhadap diri sediri, orang lain dan Tuhan. Sebagai tempat pertumbuhan anak-anak , taman kanak-kanak harus mempersiapkan siswa
untuk dapat menjalankan perannya sebagai pendidik yang holistis. Salah satu aspek yang harus dipersiapkan adalah kemandirian siswa. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis,
untuk mengatasi masalah keterlambat kemandirian siswa usia dini, guru menerapkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa. Pendekatan CBSA adalah salah satu pendekatan yang berorientasi pada siswa. Berdasarkan kajian teori, menurut penulis pendekatan CBSA dianggap mampu untuk meningkatkan kemandirian anak usia 5-6 tahun disekolah karena pendekatan ini memiliki prinsip yang dapat mendukung dalam peningkatan kemandirian siswa.
Prinsip CBSA menurut Chomaidi & Salamah yaitu prinsip perhatian dan motivasi, prinsip respons yang dipelajari, prinsip penguatan (reinforcement), prinsip pemakaian kembali, prinsip latar belakang, prinsip keterpaduan, prinsip pemecahan masalah, prinsip penemuan, prinsip belajar sambil bekerja, prinsip belajar sambil bermain, prinsip hubungan sosial, prinsip perbedaan individual (2018).
Hal ini sejalan dengan pendapat Commy Semiawan dalam Gulo yang mengatakan bahwa prinsip CBSA meliputi prinsip motivasi, prinsip latar atau konteks, prinsip keterarahan, prinsip belajar sambil bekerja, prinsip perbedaan perorangan, prinsip menemukan, prinsip pemecahan masalah (2008). Berdasarkan kedua pandangan tentang prinsip CBSA tersebut, penulis menguraikan tujuh implikasi pendekatan CBSA terhadap kemandirian siswa usia dini di sekolah.
Prinsip pertama adalah motivasi berupa nasihat dan penguatan. Ciri khas dari pendekatan CBSA adalah keaktifan dalam diri siswa. Keaktifan tersebut harus dimiliki siswa selama proses pembelajaran. Tujuannya adalah supaya siswa terlibat langsung untuk mencapai keberhasilan belajar. Keaktifan siswa muncul ketika siswa memiliki motivasi dalam dirinya untuk mengikuti
pembelajaran.
Menurut Hamalik “Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan” (2001, p. 158). Perubahan tersebut akan timbul ketika orang sekitar atau lingkungan mendukung seseorang untuk mencapai tujuan sehingga akan muncul perasaan dianggap oleh orang sekitar atau lingkungan. Dengan kata lain motivasi akan menumbuhkan rasa percaya diri seseorang.
Menurut Marjanti berdasarkan hasil penelitiannya yang bertujuan untuk meningkatkan percaya diri siswa SMA II Bae Kudus mengatakan bahwa percaya diri penting dimiliki setiap orang karena percaya diri merupakan keberanian seseorang untuk melakukan satu hal hingga berhasil apapun jenis tantangannya sehingga percaya diri akan meningkatkan keefektifan seseorang dalam melakukan aktivitas (2016). Alasan yang lebih jauh lagi tentang percaya diri adalah bahwa percaya diri merupakan bentuk kepercayaan manusia kepada Tuhan. Pada dasarnya, manusia tidak perlu takut untuk gagal karena Tuhan akan memampukan manusia untuk berhasil dalam segala hal. Hal yang penting adalah beriman kepada Tuhan bahwa Ia akan selalu menyertai dan menolong manusia. Berdasarkan hal tersebut, maka peran motivasi sangat penting dimiliki siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa akan lebih percaya diri terhadap dirinya dan tidak takut untuk
gagal. Melihat pentingnya motivasi belajar siswa, maka guru berperan untuk memberikan motivasi kepada siswa. Dimyati dan Mudjiono (2006) dalam Despita & Montesori mengatakan “motivasi belajar penting bagi siswa pada awal proses belajar, saat dan setelah belajar dan menginformasikan kekuatan usaha belajar kepada siswa” (2019, p. 2). Penguatan merupakan bentuk motivasi.
Menurut Rifma penguatan dibagi menjadi dua yaitu verbal dan nonverbal. Penguatan verbal dilakukan dengan menggunakan nasihat atau kata-kata positif yang membangun. Sedangkan nonverbal dapat berupa ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan pemberian sesuatu (2016). Konteksnya di sekolah TK, guru dapat menerapkan penguatan verbal dengan mengatakan “good job”, “kamu bisa melakukannya!”, atau kata-kata yang mendorong siswa mau melakukan suatu hal. Sedangkan penguatan nonverbal dapat guru terapkan dengan memberikan stiker, pemberian nilai, mengacungkan ibu jari, tepuk tangan, senyuman yang menumbuhkan rasa semangat kepada siswa.
Prinsip kedua adalah respons peserta didik dalam proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran akan lebih efektif jika siswa memberikan perhatian penuh dan terlibat aktif selama proses pembelajaran. Kedua hal tersebut merupakan bentuk respon siswa terhadap komponen- komponen yang digunakan guru dalam pembelajaran. Untuk itu, guru perlu terampil dalam merancang strategi kegiatan pembelajaran sehingga siswa antusias dan tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran.
Keterampilan dalam merancang strategi kegiatan pembelajaran menurut Atwi Suparman dalam Prastowo meliputi penggunaan metode, alat, dan media pembelajaran yang bervariasi, penyusunan tahap-tahap pembelajaran secara terstruktur, pengolaan waktu yang efektif dan efisien, dan pemberian penguatan (2017). Dengan adanya upaya guru tersebut, maka proses pembelajaran tidak akan membosankan bagi siswa. Karena anak usia dini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal yang baru sehingga siswa akan tertarik dan antusias dalam memberikan perhatian dan responsnya terhadap kegiatan pembelajaran. Ketika siswa tertarik dan antusias, maka siswa akan terus berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan dalam dirinya untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Usaha tersebut merupakan bentuk keberanian diri untuk melakukan suatu hal tanpa bergantung dengan orang lain. Melakukansuatu hal tanpa bergantung dengan orang lain merupakan bentuk dari kemandirian.
Prinsip ketiga adalah kemampuan siswa sebelumnya. Setiap siswa pada dasarnya memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Begitu juga dengan tingkat kemandirian siswa. Hal tersebut harus di pahami guru sebagai titik keberangkatan dalam mengembangkan kemampuan selanjutnya. Karena kemampuan siswa sebelumnya akan mempengaruhi hasil akhir siswa.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mahendra, Murtafiah, & Adamura yang mengatakan bahwa kemampuan awal berpengaruh terhadap hasil diperoleh siswa berikutnya (2015, p. 7). Melihat pengaruh kemampuan awal terhadap hasil siswa selanjutnya, maka guru harus mengetahui perkembangan kemandirian siswa saat ini. Hal ini sangat penting bagi guru PAUD.
Karena di masa keemasan, pendidik harus mengoptimalkan kemandirian anak sesuai dengan tahapan perkembangannya sehingga anak tidak merasa tertekan untuk melakukan suatu hal. Rasa tertekan tersebut muncul karena siswa tidak memiliki dasar sebelumnya. Contohnya, siswa A belum tahu cara menggunakan double tape, maka guru seharusnya memberikan contoh terlebih dahulu cara menggunakan double tape. Dalam hal ini guru tidak boleh menyamaratakan kemampuan siswa.
Prinsip keempat adalah pengulangan dan kesatuan hasil belajar. Dalam prinsip ini, siswa diberi tugas untuk menyatukan semua hasil belajar yang telah dipelajari sebelumnya dan dilakukan di akhir tahap pembelajaran. Oleh karena itu, setiap bagian dalam pembelajaran harus berkaitan satu sama lain dan dilakukan secara terstruktur dengan mengacu pada hasil belajar yang optimal sebagai tujuan pembelajaran. Manfaat bagi siswa yaitu bisa menemukan keterkaitan dari segala yang telah dipelajari sebelumnya dan menemukan pengetahuan baru.
Dalam hal kemandiran, penilaian dilakukan melalui kegiatan yang mengacu pada pengetahuan dan keterampilan. Kemandirian adalah bagian dari aspek sikap. Rusman mengatakan “Penilaian sikap ini bukan merupakan penilaian yang terpisah dan berdiri sendiri, namun merupakan penilaian yang pelaksaannya terintegrasi dengan penilaian pengetahuan dan keterampilan, sehingga bersifat autentik” (2017, p. 445). Untuk itu, kaitannya dengan prinsip ini adalah menumbuhkan kemandirian siswa usia dini merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan membutuhkan pengulangan. Artinya pembentukan kemandirian merupakan suatu proses dan setiap proses disertai dengan penambahan pengalaman supaya terjadi suatu kemajuan. Hal ini sejalan dengan pendapat Prinsip Kelima, prinsip praktik langsung melalui bekerja dan bermain. Prinsip ini sangat tepat untuk diterapkan pada siswa anak usia dini. Karena belajar melalui bekerja dan bermain adalah hal yang dibutuhkan siswa anak usia dini. Sebagai pendidik anak usia dini, kegiatan pembelajaran harus dirancang dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran akan lebih efektif untuk mencapai hasil belajar siswa yang maksimal.
Gunarsa & Gunarsa mengatakan bahwa dalam perkembangannya, anak usia 2-6 sudah mulai bertambah kematangan otak yang berkaitan dengan system syaraf-otot sehingga anak akan lebih lincah dan aktif bergerak. Hal ini menyebabkan anak memiliki keinginan yang tinggi untuk mencoba melakukan berbagai macam aktivitas. Selain itu, anak juga sudah mengalami perkembangan bahasa dan berpikir sehingga anak sudah mulai percaya diri untuk menjalin kontak sosial dengan orang-orang disekitarnya (2008). Berdasarkan hal tersebut maka pembelajaran pasif tidak tepat untuk diterapkan pada siswa usia dini melainkan guru harus menciptakan pembelajaran aktif yang melibatkan siswa untuk mengalami langsung kegiatan pembelajaran.
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah salah satu cara supaya siswa mengalami pembejaran secara langsung. Ahliha, Mastuang, & Mahardika mengatakan “Pada pembelajaran berbasis masalah peserta didik dituntut untuk melakukan pemecahan masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan yang ada” (2016, p. 67). Hal tersebut yang dimaksud dengan prinsip bekerja,karena siswa disandingkan masalah dan berusaha keras untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikannya.
Untuk siswa usia dini, pemecahan masalah akan lebih menarik jika dilakukan melalui bermain. Karena pada tahap perkembangannya, bermain adalah aktivitas utama siswa. Seperti yang dikatakan Hawadi “Masa prasekolah adalah masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi.
Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan time for play” (2001, p. 4). Oleh karena itu, prinsip belajar melalui bekerja dan bermain dapat membuat siswa menikmati pembelajaran yang akan menumbuhkan motivasi belajar siswa untuk melakukan setiap kegiatan pembelajaran secara mandiri.
Prinsip keenam adalah relasi sosial. Prinsip ini menekankan adanya relasi yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Relasi yang baik akan menciptakan rasa nyaman dalam diri siswa. Dalam hal kemandirian, rasa nyaman dapat berpengaruh terhadap tingkat percaya diri yang dimiliki siswa. Puspitarini mengutip pendapat dari pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati yang mengatakan bahwa rasa percaya diri anak berkaitan dengan rasa nyaman terhadap lingkungannya. Beliau mengatakan anak yang kurang pecaya diri akan cenderung takut untuk mencoba dan mudah mengalami kegagalan (2013). Dengan demikian, guru harus menciptakan relasi yang baik di dalam kelasnya sehingga siswa akan merasa bahwa lingkungannya mendukung untuk siswa mengembangkan kemampuannya.
Relasi yang baik dapat diwujudkan melalui pemberian motivasi, menghargai hasil usaha siswa, mengadakan kompetisi yang sehat antar siswa. Prinsip ketujuh adalah keberagaman individu. Prinsip ini menekankan guru untuk menyadari setiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Sanjaya & Budimanjaya mengatakan “Salah satu keunikan siswa adalah adanya perbedaan minat dan bakat serta kemampuan dasar” (2017, p. 12). Dengan demikian, maka guru harus peka terhadap perbedaan yang dimiliki siswa sehingga guru mampu merancang pembelajaran yang efektif sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa.
Cara yang tepat untuk mengatasi perbedaan ini adalah memberikan siswa kebebasan untuk memilih aktivitas yang mereka senangi. Hal ini mampu secara efektif menumbuhkan motivasi dari dalam diri untuk mempelajari sesuatu. Izzaty mengatakan bahwa dalam mendidik siswa usia dini jangan mengandung paksaan. Dengan memberikan kesempatan untuk memilih, siswa akan merasa dihargai dan hal tersebut akan menumbuhkan motivasi baru dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas selanjutnya dengan penuh kesenangan” (2017). Dengan demikian, prinsip keberagaman individu dapat menumbuhkan kemandirian siswa.
Karena dengan guru memberikan kebebasan untuk memilih kepada siswa, maka akan menumbuhkan motivasi dalam diri untuk melakukan suatu aktivitas tanpa paksaan orang lain. Siswa akan berusaha untuk dapat mengerahkan dirinya dalam melakukan aktivitas yang disenanginya dengan maksimal.
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas tentang prinsip pendekatan CBSA, maka penulis menyimpulkan bahwa implikasi pendekatan CBSA terhadap kemandirian siswa usia 5-6 tahun meliputi:
- Pemberian motivasi yang dilakukan guru dapat meningkatkan percaya diri siswa.
- Respon peserta didik dalam pembelajaran dapat meningkatkan keberanian diri dalam diri siswa untuk mencoba hal baru.
- Cara guru untuk mengetahui kemampuan siswa sebelumnya, dapat memudahkan guru memilih cara yang tepat untuk meningkatkan kemandirian siswa.
- Melakukan pengulangan dan proses perpaduan hasil belajar siswa dapat meningkatkan kemandirian siswa karena membentuk kemandirian adalah suatu proses.
- Cara belajar dengan praktik langsung melalui bekerja dan bermain dapat menumbuhkan motivasi belajar karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa usia 5-6 tahun.
- Relasi yang baik di dalam kelas akan menciptakan rasa nyaman bagi siswa. Rasa nyaman tersebut akan menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Karena siswa akan merasakan bahwa orang-orang sekitar memberikan dukungan untuk kemajuannya.
- Cara pandang guru terhadap perbedaan dalam diri siswa akan membuat guru tidak memaksakan kehendak siswa, melainkan memberikan kesempatan untuk siswamemilih aktivitas sesuai dengan keinginannya. Untuk mencapai keinginannyatersebut, maka siswa akan berusaha mengerahkan segala kemampuannya dalammelakukan suatu hal.
SARAN
Penulis menyadari bahwa banyak kelemahan dalam paper ini. Namun, berdasarkan hasil analis tentang pendekatan CBSA terhadap kemandirian, penulis menyarankan kepada pendidik usia dini untuk memperhatikan kondisi perkembangan siswa sesuai dengan tahapannya dalam upaya meningkatkan kemandirian siswa. Karena hasil yang diperoleh akan lebih efektif jika cara perlakuannya sesuai dengan tahapan perkembangan siswa usia dini.
(Niken Pangajapsih & Abednego Tri Gumono, M.Pd.)
DAFTAR PUSTAKA
- Bird, C. E., & Rieker, P. P. (2008). Gender and health: The effects of constrained choices and
social policies. New York, NY: Cambridge University Press. - Fennema, E. & Tartre, L. A. (1985) The use of spatial visualization in mathematics by girls and boys. Journal for Research in Mathematics Education, 16(3), 184-206. DOI: httpss://doi.org/10.2307/748393
- Baskoro, D. G. (2013). Penulisan Tugas Akhir. Information Literacy, 1. Latif, M., Zukhairina, Zubaidah, R., & Afandi, M. (2013). Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Prenadamedia Group.
- Minatajaya, Y. (2013). Template Tugas Akhir. Karawaci: UPH. Reeve, J. M., Warren, C. S., Duchac, J. E., Wahyuni, E. T., Soepriyanto, G., Jusuf, A. A., & Djakman, C. D. (2009). Pengantar Akuntansi-Adaptasi Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
- Supayadi, & Ulfah, M. (2013). Konsep Dasar Paud. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Biodata Penulis
Nama : Abednego Tri Gumono, M.Pd.
Jabatan : Dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FIP-TC-UPH
Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat Prodi Pendidikan Bahasa
Indonesia
Pendidikan :
- S1 Universitas Negeri Yogyakarta, 1995 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
- S1 Universitas PGRI Jakarta, 2000 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
- S2 Universitas Pelita Harapan, 2004 Jakarta , Program Studi Teknologi Pendidikan
Karya Tulis :
- Menulis Buku Antologi Puisi Merayakan Keabadian, 2017 Penerbit Gloria Yogyakarta
- Menulis Buku Antologi Puisi Biji-Biji Sesawi, 2018 Penerbit Gloria Yogyakarta
- Menulis Cerpen pada Antologi Puisi Cinta Peneroka, 2019 Penerbit CV Kekata Group, Surakarta
- Menulis Puisi pada Antologi puisi Rindu 2019 Penerbit Lovrinz Publishing, Jakarta
- Analisis Film Denias karya Ari Sihasale dengan Pendekatan Pragmatik, jurnal ilmiah Polyglot 2017, FIP Universitas Pelita Harapan
- Analisis Cerpen Godlob karya Danarto dengan Pendekatan Semiotika, jurnal ilmiah Polyglot2017, FIP Universitas Pelita Harapan
- Hubungan Antara Kebiasaan Membaca dan Kemampuan Menulis Analisis Wacana, jurnal ilmiah Dompet Duafa, Bogor 2018
- Analisis Stilistika Pada Lagu Koes Plus. Jurnal Seni Musik. FSMC.Universitas Pelita Harapan
- Sang Kristus dalam Kesusastraan Indonesia Modern. Jurnal Pendidikan Agama Kristen. Universitas Pelita Harapan
- Menulis artikel Sastra dan Pendidikan di Suara Pembaruan, Berita Kota, dan Rakyat Merdeka
- Editor bahasa pada buku “Pemuridan Intensional dalam Gereja Tradisional” karya Jonathan W.Lo 2018
- Editor bahasa pada buku “Mengapa Aku Mengajar karya Dedy Panggabean, 2019
Niken Pangajapsih
Mahasiswa Tingkat Akhir, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu
Pendidikan-Teachers College, Lippo Village Tangerang.













