Implementasi Ajaran Dama dan Mardawa untuk Ketenangan Hati dan Kedamaian Diri

Kefaspelita
1730727708
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

OM Avighnam astu namah sidham, OM Siddhir astu tad astu svaha, OM Svastyastu. OM Saraswati Namastubyam Warade Kama Rupini Sidharambham Karisyami Sidhir Bawanthu me Sadha. OM Yajagrato duram udaiti devam thadu suptasya ta iti va iti duranggamam jyotisam jyotir ekam tanme manah sivasankalpamastu.

Pemirsa setia kanal Pelita Dharma, umat se-dharma yang berbahagia. Pada kesempatan ini saya mengajak kita bersama, sekaligus untuk mengingatkan diri saya sendiri agar senantiasa menghaturkan puja Suksma, angayubagia, kehadapan Beliau, Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasi-Nya, segala wujud Kemahakuasaan-Nya. Bahwa atas waranugraha dari Beliau, Hyang Widhi Wasa, kita senantiasa diberikan paica baik berupa kesehatan dan umur panjang untuk memperbaiki karma kita. Semoga kita senantiasa dalam kondisi sehat. Om Tat Sat.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Berbahagia sekali, pada hari yang baik ini, saya I Made Sri Wirdiata hadir di tengah umat sedharma sekalian dalam program siraman rohani melalui saluran atau kanal Pelita Dharma. Tema kali ini mengenai Susila dengan topik Implementasi ajaran dama (menasehati diri) dan mardawa (rendah hati) untuk mewujudkan ketenangan hati, kedamaian diri.

Pemirsa setia kanal Pelita Dharma, umat se-dharma yang berbahagia. Bagi yang sering berselancar di media sosial, barangkali ada yang sudah pernah mendengar atau membaca cerita, atau mungkin menonton video tentang bagaimana makna ketenangan dalam hati, kedamaian dalam diri, yang dianalogikan kepada sekelompok murid di suatu sekolah. Dimana diilustrasikan, anak-anak atau murid dalam sekolah tersebut diminta membawa masing-masing beberapa biji tomat yang masih segar, hari pertama, kedua, ketiga, keempat, atau beberapa hari tomat masih segar. Hari-hari selanjutnya, tomat tidak segar lagi, mulai layu, hingga membusuk. Namun itu terus dibawa kemana-mana oleh murid-murid.

Apa yang terjadi? Tomat busuk mulai mengganggu murid-murid, kemana pun berjalan. Aroma busuk menyengat, sangat membuat tidak nyaman. Cara untuk membuat diri nyaman terhadap tomat yang busuk ialah, dengan cara berhenti membawanya. Buang! Karena tomat itu telah menjadi sampah. Busuk. Mengganggu.

Demikian lah diumpamakan, seperti analogi tersebut. Sering kita tidak sadar membawa ‘tomat busuk’. Membawa ‘sampah’ kemana-mana, mengganggu pikiran kita, merenggut ketenangan hati kita. Sampah itu berupa ‘sampah pikiran dan sampah perasaan hati’, seperti ego, dendam atau amarah (krodha), rasa sakit hati, iri hati (matsarya). Jika terus menerus emosi atau rasa negatif tersebut kita bawa kemana-mana, terus melekat di dalam hati dan pikiran kita, maka sama halnya seperti membawa tomat busuk, kita terus membawa sampah kemana-mana. Sangat mengganggu, membuat gelisah. Merenggut kenyamanan, ketenangan diri, setiap hari, setiap saat, setiap waktu. Dimanapun. Sehingga untuk mengembalikan ketenangan diri, kenyamanan diri agar tidak terganggu akan sampah-sampah itu, maka harus dibuang! Hanya saja, mungkin kebanyakan kita tidak ikhlas untuk membuangnya! Kita harus mulai belajar ikhlas membuang sampah dalam hati dan pikiran kita, sebagaimana kita dengan ikhlas dan senang hati menyingkirkan sampah-sampah dalam keseharian di rumahtangga kita.

Mudah menyampaikan ini, mudah mengajak untuk melakukan ini, namun sukar melakukannya. Untuk itu yuk kita berlatih dan saling mengingatkan.

Pemirsa setia kanal Pelita Dharma, umat se-dharma yang berbahagia. Mari kita sama-sama mulai dari mempraktekkan 2 (dua) ajaran yang sangat sederhana, namun belum tentu bisa dikerjakan. Walau sulit, namun harus diupayakan. Ajarannya sederhana. Walaupun sederhana namun bila dilaksanakan, dapat membawa ketenangan hati, kedamaian diri. Ajarannya remeh, namun bila diabaikan dapat menyebabkan kita celaka, membawa sampah hati-pikiran kemana-mana. Apa saja 2 ajaran itu? Dama, dan Mardawa, yang sama-sama merupakan bagian dari ajaran Dasa Yama Bratha. Dama artinya menasehati diri, Mardawa artinya rendah hati.

Dalam keseharian kita, kadang kita tidak sadar akan hadiarnya ego halus yang membuat kita menjadi sombong. Kadang kesombongan itu hadirnya tidak kita sadari. Misal: atas perbuatan baik membantu orang lain, memberikan sesuatu yang diperlukan orang lain, atau menyumbang ke Pura, ke Banjar, atau kemanapun dapat berpotensi memunculkan ego halus. Dalam hati misal berkata “saya sudah membantu itu, mambantu itu, nyumbang ini, nyumbang itu saya yang paling baik dianatara masyrakat disini”. Misalnya demikian di dalam hati kita. Itu termasuk ego halus yang bisa memunculkan sifat sombong. Merendahkan orang lain. Maka kita harus ingat bahwa dalam ajaran Dasa Yama Bratha terdapat ajaran dama, menasehati diri, dan mardawa, rendah hati. Atas kebaikan yang kita lakukan, jangan lah menjadikan kita sombong, jangan lah dijadikan bahan untuk pamer. Kita rendah hati. Kebaikan kita sudah pasti ada phala yang akan menjadi imbalannya, karena kita meyakini hukum karma phala. Untuk itu atas kebaikan kita, biarkan phala yang kita peroleh bekerja sesuai dengan hukum Rta. Jangan kita justeru menghalangi phala itu kita nikmati dengan sifat sombong. Phala yang kita peroleh tidak harus hari ini, bisa jadi esok lusa atau bahkan pada kehidupan yang akan datang. Karma baik kita menjadi ‘saldo tabungan’ yang akan menjadi tiket kebahagaiaan hari esok.

Selain itu, ‘sampah hati-pikiran’ berupa dendan dan kemarahan (krodha) merupakan emosi negatif yang dapat membebani keseharian kita. Orang yang pendendam atau pemarah, jika kita perhatikan, raut wajah akan cepat menua, aura diri menjadi negatif, keseharian tidak tenang. Hidup tidak damai. Itu merupakan sampah hatai dan pikiran. Seperti analogi di awal tadi, untuk membuat perjalanan keseharian nyaman, maka sampah harus dibuang. Amarah dan dendam harus disingkirkan. Bagaimana melakukannya? Itu memang tidak gampang. Teorinya ialah melaksanakan konsep dama dan mardawa. Menasehati diri, rendah hati. Kita menasehati diri bahwa dendan dan amarah (krodha) itu akan menimbulkan kebingungan, dari kebingungan akan menyebabkan kehancuran, seperti yang disampaiakn dalam Bhagawadgita II.63: krodhad bhavati sammohah sammohat smriti-vibhramah smriti-bhramsad buddhi-naso buddhi-nasat pranasyati

Artinya: Dari kemarahan timbullah kebingungan, dari kebingungan hilangnya ingatan dan dari hilangnya ingatan, kecerdasan terhancurkan. Dari hancurnya kecerdasan membawanya pada kemusnahan.

Kita mesti bisa menasehati diri, rendah hati. Biarkan karma bekerja sesuai dengan hukum Rta
yang telah ditetapkan.

Begitu pula dalam era saat ini, era digital, dimana banyak interaksi dalam media sosial yang berpotensi memunculkan emosi negatif, mari kita nasehati diri, rendah hati agar tidak tercemplung ke dalam lubang kesombongan, karena media sosial sering dijadikan ajang pamer. Sering dijadikan ajang debat. Mari kendalikan diri.

Demikian, semoga dapat menjadi penyejuk hati kita bersama.

OM Asato ma sad gamaya Tamaso ma jyotir gamaya Mrtyor ma amritam gamaya. Loka samastha sukhino bhavanthu Loka samastha sukhino bhavanthu Loka samastha sukhino bhavanthu​​​​​​​. OM Santih, Santih, Santih, OM

I Made Sri Wirdiata, S.Sos.H., M.I.Kom (Rohaniwan Hindu)