Gerakan Gereja Berdoa Semarang dengan bekerja sama dengan GITJ Margokerto Menggelar KKR di Lapangan Margokerto Bondo

Hdevananda
IMG 20230507 WA0228
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Jepara – Pelitanusantara.com Gerakan Gereja Berdoa Semarang dengan bekerja sama dengan GITJ Margokerto menggelar Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), di lapangan Margokerto desa Bondo Bangsri Jepara, pada 4 Mei 2023 yang baru lalu.

Acara yang tidak dihadiri  oleh PJ Bupati Jepara Jepara Edy Supriyanto ATD, SH, MM, yang sambutan hanya di bacakan dihadapan ribuan pengunjung KKR oleh salah satu Pejabat yang mewakilinya ini mengatakan bahwa “Pluralitas adalah sebuah keniscayaan yang diharapkan dapat dirawat bersama. Hal itu disebabkan pluralitas memberi potensi yang besar dalam membangun kota Jepara.”

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Lebih lanjut, Pj bupati dalam sambutan tertulis mengatakan dan yang akan mengakhiri jabatannya pada 23 Mei 2023 setelah satu tahun menjalankan tugas ini mengharapkan seluruh masyarakat membantu percepatan pemulihan Jepara dalam perekonomian dan bidang-bidang lainnya, selepas pandemi covid yang menimpa Jepara.

Selanjutnya, Pj bupati menyampaikan di depan peserta KKR, terkait dengan agenda pemerintah mengadakan pemilu di tahun 2024, diharapkan masyarakat dapat menyukseskan agenda pemilu dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan negara. “Jangan sampai agama digunakan untuk alat pemecah belah bangsa,” demikian dalam sambutan tertulis yang di bacakan oleh pejabat yang salah satu pejabat Pemkab Jepara yang mewakilinya.

Kasih Yesus Mengubahkan

pengkhotbah KKR Joshua Christian sebagai narsumber KKR yang di hadiri oleh  anak-anak muda kabupaten Jepara menceritakan Sebuah  kisah yang cukup menyentuh hati.

Dalam kotbahnya di ceritakan kisah seorang anak perempuan yang telah dilecehkan oleh ayahnya sendiri yang kemudian merasa geram dan menimbulkan kepahitan hidup yang berkeinginan untuk  membunuh ayahnya.

Dan niat untuk membunuh ayahnya dengan menusukkan pisau ke ayahnya dapat digagalkan karena si ayah lebih kuat dari ayahnya, di karenakan usia Anak perempuan tersebut masih berusia 8 tahun itu kemudian diikat dengan rantai, ditempatkan di halaman rumah.

Dalam kisah tersebut,Bertahun-tahun kemudian datanglah seorang missionaris yang melewati desa itu dan melihat ada seorang anak perempuan yang terikat dengan rantai.

Missionaris itu lewat dan mengatakan,”Jesus love you.” Demikian juga saat missionaris itu balik lagi dan melewati desa yang sama, saat melihat anak perempuan itu yang masih terikat dengan rantai kembali berkata sambil mengangkat tangannya,”Jesus love you.”

Anak perempuan tersebut, lanjut Joshua Christian tersentuh hatinya dengan kalimat yang dilontarkan oleh missionaris tersebut. Saat anak ini dibebaskan dari rantai yang mengikatnya, dia kemudian bisa mengampuni perbuatan ayahnya. Rupanya perkataan missionaris yang sederhana dengan mengatakan ‘Jesus love you’ kepadanya telah dipakai Allah untuk mengubah hatinya, sehingga rasa dendam, benci berubah menjadi rasa kasih kepada sesama.

Untuk narasumber dari Pengkhotbah KKR yang lain, yang bernama Hadasah Gloria Purnama mengajak anak-anak remaja yang hadir untuk tidak takut menghadapi masa depannya. Menumpukan pada kisah hidupnya yang pernah sakit dan disembuhkan Tuhan serta hidup dipimpin Tuhan, maka pengkhotbah ini mengajak para peserta KKR untuk tetap optimis dengan masa depannya. Hadasah Gloria Purnama mengajak supaya anak-anak muda jangan pernah putus asa dengan keadaan yang berkekurangan karena Tuhan yang menjamin masa depan mereka, demikian ujar pengkhotbah ini.

Kesembuhan Ilahi

Dalam KKR tersebut banyak Mujizat Tuhan terjadi dan selain KKR tersebut sebelumnya diadakan seminar para Hamba Tuhan dengan pembicara Iin Sucipto, juga dilakukan doa kesembuhan. Seorang ibu peserta KKR, Nur menyaksikan di atas panggung bahwa setelah pelayanan doa yang dilakukan oleh tim KKR, ia merasakan sembuh dari penyakitnya. “Sebelum berangkat KKR ini dada saya sakit sesek, jantungku bermasalah, tapi saat didoakan di dalam nama Yesus, menjadi lega dan sembuh!” demikian Nur yang sehari-hari menjadi penjual angkringan dan menerima job sebagai penyanyi campur sari ini.

Selain Nur juga beberapa orang bersaksi bahwa penyakitnya sembuh. Mereka disembuhkan dari penyakit sakit asam urat, kaki yg sulit digerakkan, sulit berdiri, badan pegal-pegal, batu ginjal, sakit perut akut dan lain-lain.

Melibatkan Pelajar Sekolah dan LPPD

KKR yang melibatkan Pelajar-pelajar sekolah tingkat SMP dan SMA di Jepara dengan  mengikuti lomba yel-yel dan tari bersama. Sehingga nampak suasana KKR menjadi semacam festival bagi anak-anak sekolah dengan kreativitas dan dinamikanya masing-masing.

Dalam acara KKR juga ditampilkan dua remaja, Dea dan Moses wakil dari Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah Kabupaten Jepara menyanyikan lagu pujian. Dea dan Moses ini pernah mengikuti lomba Pes

parawi Jateng di Semarang, tahun 2020 yang baru lalu (Iwan Tan)