Tangerang-Banyak hal yang manis dan buruk terjadi seiring dengan penyesuaian diri dengan umur pernikahan kita. Hal ini adalah sesuatu yang wajar. Mungkin kita pernah memikirkan untuk mengakhiri pernikahan atau bercerai karena tidak tahan dengan kharakter pasangan kita. Barangkali kita dalampernikahan kita sering terjadi pertengkaran, ribut dan perselisihan sehingga mengurangi keharmonisan pernikahan kita. Oleh sebab itu artikel ini ditutis gar pembaca dapat mengukur bagaimanakah proses penyesuaian diri sesuai dengan umur pernikahan kita yang sekarang ini.
Penyesuaian diri dengan kepribadian pasangan Suami-Isteri (Pasutri) bukan sesuatu yang mudah namun mutlak diperlukan apabila menginginkan pernikahan yang bahagia dan harmonis karena pernikahan Kristen adalah penyatuan dua pribadi yang berdosa dan berbeda dalam kepribadian, latarbelakang hobby, dll. Keberdosaan dan perbedaan kepribadian ini sering membuat Pasutri tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan kharakter atau kebiasaan pasangan bahkan dapat menghancurkan sebuah perkawinan. Salah satu unsur penting yang perlu diketahui oleh pasutri agar dapat menyesuaikan diri dalam sebuah pernikahan adalah mengetahui periode atau tahap-tahap penyesuaian diri dalam umur pernikahan.
Ada 6 (enam) tahap penyesuaian diri dalam pernikahan yaitu:
- Honeymoon Period (Periode bulan Madu) : 1-3 tahun umur pernikahan
Periode bulan madu berkisar antara tahun pertama sampai tahun ketiga pernikahan ini disebut periode bulan madu atau sebagai Fantacy Time. Dalam tahap ini pasutri masih mempunyai pemahaman bahwa pasangannya adalah pasangan yang sangat hebat. Kekurangan-kekurangan yang ada pada pasangan atau kesalahan-kesalahan pada tahap ini dianggap tidak mengganggu tetapi justru mempermanis situasi.
Lamanya tahap honeymoon ini bergantung pada bagaimana pasutri secara bersama-sama membangun pernikahan dan keluarganya. Dalam tahap ini keduanya perlu saling bahu-membahu memelihara dan menumbuhkan cinta yang mereka sudah miliki. Menurut Wright, tahap ini bagi sebagian orang hanya bisa bertahan selama tiga tahun (Wright, 1992:38). Ada banyak faktor yang menolong mempermanis periode ini. Misalnya kehadiran anak dapat menambah kebahagiaan pasutri.
- Vulnerability Period: 4-10 tahun Umur Pernikahan
Pada periode ini hidup pernikahan mudah mendapat serangan karena masing-masing suami-isteri ingin mengubah karakter pasangan sesuai keinginannya. Periode ini sangat rentan terhadap konflik berupa pertengkaran, perselisihan bahkan menjurus kepada mempertimbangkan perceraian. Pasutri mulai mengalami benturan dengan sifat atau kebiasaan-kebiasaan pasangan yang belum diketahuinya pada waktu berpacaran. Pasutri sudah mulai tidak menerima kebiasaan-kebiasaan atau sifat-sifat buruk yang tidak berubah setelah menikah. Pasutri juga berusaha mengubah karakter pasangan sesuai dengan keinginannya. Perbedaan-perbedaan sifat yang masing-masing mereka miliki bisa menjadi jurang pemisah bagi pasutri.
Ketidak-siapan menerima keperbedaan pasangan dan ketidak sediaan mengubah kebiasaan buruk yang tidak dikehendaki pasangan mengakibatkan periode ini rentan dengan konflik berupa perselisihan dan pertengkaran. Keterbukaan untuk mengenal pasangan, kesediaan untuk berubah serta transparansi sangat dibutuhkan dalam periode ini. Keberanian pasutri saling terbuka untuk mengakui kekuatan dan kelemahan pasangan sangat dibutuhkan dalam periode ini.
- Reality Struggles Period : 8-12 Tahun Umur Pernikahan
Pada tahap ini pasutri sudah menemukan keaslian pasangan maka dalam periode ini menjadi tahun-tahun umur pernikahan sangat menentukan berlanjut atau cerai. Pasutri sudah mulai mengalami kekecewaan setelah menemukan kekurangan dalam pasangannya, merasa terganggu atau terluka oleh tingkah laku dan kebiasaan pasangannya. Dalam tahap ini banyak pasangan mulai menempuh jalan kompromi dengan cara membujuk pasangannya untuk mengubah kebiasaan buruk yang tidak disukai dan juga mulai kompromi dengan cara untuk mengubah kebiasaannya. Tahap ini merupakan tahap yang sangat rentan dengan bahaya perceraian. Ketidak-sesuaian dalam berbagai hal bisa mengakibatkan pertengkaran bahkan mengarah kepada perceraian. Hal-hal sepele bisa mengakibatkan pertengkaran atau kekecewaan.
Dalam tahap ini pasutri mulai sadar bahwa ternyata pasangannya tidak seperti yang diinginkannya. Pasutri mencoba berjuang untuk menerima realitas pasangan atau memutuskan untuk bercerai. Menerima realitas pasangan itu berarti berjuang untuk menerima pasangan. Dalam tahap ini pasutri berusaha melihat hal-hal baik dari pasangan untuk menutupi kekurangan-kekurangan. Pasutri berusaha bukan lagi untuk mengubah atau menuntut perubahan sifat pasangan melainkan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan partner.
- Decision : 13-16 Tahun Umur Pernikahan
Pasutri yang tidak menerima kekurangan dan kesalahan pasangan itu akan mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan. Dalam tahap ini pasutri menyadari bahwa ada sifat buruk dalam pasangan yang tidak bisa diubah. Mereka kecewa karena apa yang diharapkan tidak bisa terealisasi. Mereka yang tidak mampu menerima sifat dan kekurangan pasangan akan mengakhiri pernikahan dalam tahap ini atau memilih perceraian sebagai jalan terbaik.
- Together Again:17-25 Tahun Umur Pernikahan
Pasutri yang berhasil belajar melalui pengalaman-pengalaman selama periode kedua dan ketiga, pasutri mulai mulai memasuki tahap penyatuan dalam jiwa dan rohani. Setelah pasutri berhasil melewati berbagai kesulitan sebagaimana diuraikan dalam tahap kedua dan ketiga, maka pasutri menetapkan untuk tetap hidup bersatu. Dalam periode ini pasutri tidak lagi berpikir untuk bercerai melainkan bagaimana agar tetap mempertahankan pernikahan.
Pernikahan tahun ke-25 sering disebut sebagai tahun pernikahan perak. Banyak pasangan ingin merayakan hidup pernikahan mereka karena sudah merasa berhasil melewati berbagai rintangan dan kesulitan. Pada periode ini pasutri merasa seperti menikah kembali, bergairah kembali dan masuk ke dalam masa sebagaimana mereka ketika berpacaran dahulu.
- New Freedom: 26 – dst. tahun Umur Pernikahan
Dalam tahap ini pasutri biasanya pasutri sudah merasakan kebebasan baru dalam hidup pernikahan mereka. Pasutri sudah saling memahami dengan baik kharakter pasangannya, kekurangan tidak lagi menjadi hambatan, hubungan antar suami-isteri sudah semakin lancar. Komunikasi sudah membaik, pasutri saling menerima dengan hati dan tangan terbuka. Kemesraan manandai tahap pernikahan dalam periode ini.
Memahami tahap-tahap ini sangatlah penting untuk mempermudah penyesuaian dalam pernikahan dan keluarga. Banyak pernikahan dan keluarga mengalami kegagalan, ketidak harmonisan, kehilangan kebahagiaan, bahkan menuju perceraian karena pasutri tidak siap menghadapi alasan perubahan dan tidak siap menyesuaikan diri pada tahap-tahap perkawinan ini. Pernikahan yang mampu melewati tahap-tahap ini akan menjadi pernikahan yang bahagia dan harmonis.
Penulis: Pdt. Dr. Marulak Pasaribu
Editor: A. L. Malo













