Dari Arena Pesparawi Nasional, Pebinmas Buddha mengapresiasi Pesparawi ke XIII

Yogyakarta –  dari Arena Pesparawi Nasional di JEC Stand Hall C pada Pukul 09 Pagi Awak media yang tergabung di Pewarna Indonesia Propinsi DIY di sambut oleh Pembimas Budha Kanwil Kemenag DIY Drs Saryono tepatnya di Stand Kanwil Kemenag (Kamis 23.6.22).

Dalam perbincangan yang diwarnai dengan suasana santai Drs Suryono mengatakan bahwa ” Kami dari Pebinmas Buddha selalu membantu dan mendukung acara yang di laksanakan oleh kawan -kawan dari Kristen, tidak menutup kemungkinan Buddha kalau ada acara pasti akan di bantu juga  oleh kawan dari Kristen.katanya kepada awak media yang tergabung di pewarna Indonesia Propinsi DIY

Lanjutnya lagi Karena hal  ini termasuk konsep Moderasi beragama dalam Buddha.”papar Saryono.

Pembimas Budha DIY menjelaskan Dalam Buddha selalu mengutamakan :

  1. Keseimbangan,
  2. Keharmonisan,
  3. Kerukunan Umat beragama.

Dan Ajaran ini telah lama ada dalam agama .Buddha, contoh adanya adalah bangunan Candi Plaosan, yang arsitektur atas bercorakkan Buddha, namun bawahnya bercorakkan Hindu.

Ini adalah ajaran toleransi yang dari dulu diajarkan mengutamakan keseimbangan, keharmonisan dan kerukunan Umat beragama”kata Saryono.

Ketiga ajaran tersebut di jadikan barometer keberhasilan dari Kementerian Agama.

Moderasi beragama adalah merupakan perkembangan dari kerukunan beragama, agama di Indonesia adalah hal yang sensitif, karena itu konsep Buddha dalam Moderasi adalah mengatur, merawat :

– Pikiran
– Ucapan
– Tingkah laku.

Umat Buddha harus memahami dan melaksanakan konsep tersebut , jelasnya

Kembali Saryono memberikan contoh : ketika Pangeran Sidharta bertapa selama 6 th, yang di dapat cuma penderitaan, sebelum mengakhiri bertapa Sidharta melihat pemusik yang bawa guitar dan berpikir apa yang terjadi kalau guitar ini kalau di stel terlalu kencang, pasti putus, kalau di stel terlalu kendor pasti tidak ada suaranya.

Di sinilah konsep Theologis Buddha, perlu di stel tengah saja atau sedang-sedang saja.

Akhirnya Sidartha melakukan bertapa lagi tetapi di ubah caranya akhirnya Pangeran Sidharta mendapatkan Wahyu atau Buddha, yang menjadi ajaran Buddhisme.”papar Saryono.

Dalam ajaran Buddha memiliki 5 landasan moral atau Pancasila Buddhis yaitu :

  1. Berlatih, berusaha menghindari pembunuhan baik maklhuk hidup maupun karakter.
  2. Berlatih, berusaha menghindari mengambil yang bukan miliknya.
  3. Berlatih, berusaha menghindari perbuatan  asusila.
  4. Berlatih, berusaha tidak berbuat kebohongan.
  5. Berlatih, berusaha tidak makan, minum yang mengakibatkan lemahnya kesadaran.

Ini wajib di laksanakan oleh umat Buddha, karena hidup atau mati adalah suatu kepastian kita tidak pernah tahu kapan mati, dan dengan jalan apa kita mati tetapi bahagia atau sejahtera adalah pilihan apabila kita melaksanakan Panca Buddha pasti bahagia.imbuh Saryono.

Dalam perjalanan hidup umat akan banyak godaan, oleh karena itu perlu meditasi, agar:

  1. Menciptakan suasana bathin yang tenang.
  2. Menjernihkan perilaku untuk kontrol kelakuan.

Demikian paparan secara santai dan lugas disampaikan oleh Drs Saryono Pembinmas yang santun dan bijak dalam memimpin jajaran Binmas Buddha di Kanwil Kemenag DIY

PERWARNA INDONESIA DIY – Goes/Romo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.