Cara Mendidik Anak Bertanggung Jawab Dalam Menepati Janji

Pelitanusantara.com Bertanggung jawab berarti memahami dan melakukan apa yang sepatutnya dilakukan. Karakter tanggung jawab menjadi hal yang sangat penting dan wajib bagi semua orang baik itu sebagai pemimpin, orang yang dipimpin, karyawan, guru dan semua profesi mewajibkan untuk memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi. Semakin bertambahnya usia atau semakin tinggi kedudukan seseorang, maka tanggung jawab yang harus diemban juga akan semakin besar. Tanggung jawab setiap orang berbeda-beda karena disesuaikan dengan peran masing-masing, karena setiap peran mempunyai kewajiban yang berbeda-beda.

Dengan sikap bertanggung jawab, seseorang akan dipercaya, dihormati, dan dihargai serta disenangi oleh orang lain, sikap bertanggung jawab seseorang membuat ia berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Semua manusia melakukan tanggung jawabnya dimulai kepada Tuhan, kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, serta kepada bangsa dan negara. Oleh karena tanggung jawab ada di semua usia, perlu untuk mengajarkan karakter tanggung jawab kepada anak-anak sejak dini, agar mereka terlatih dan terbiasa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bahkan dari hal-hal kecil dengan bertanggung jawab.

Dalam hal mengembangkan dan mengajarkan karakter bertanggung jawab pada anak perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Bercerita dengan tema yang berkaitan dengan karakter tanggung jawab. Setelah selesai bercerita, ajak anak untuk mengambil kesimpulan dari cerita tersebut tentang perilaku yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan.
  2. Mengajak anak bermain dapat juga dapat mengambil kesimpulan tentang perilaku yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh, seperti perilaku curang atau rela berkorban.
  3. Praktik langsung dapat dilakukan dengan memberikan tugas sederhana sesuai dengan kemampuan anak, membiarkannya untuk mengambil keputusan sendiri, melatih menyelesaikan tugas, membiasakan anak menerima konsekuensi dan belajar dari kegagalan, serta mendukung anak saat melewati situasi sulit dengan memberikan bimbingan, memberikan alternatif pemecahan dan mendampingi anak menyelesaikan tugasnya.

Hal-hal di atas dapat membantu para orang tua dan pendidik untuk mengembangkan dan mengajarkan karakter tanggung jawab kepada anak-anak. Membangun reputasi sebagai orang yang menepati janji itu seperti menaiki tangga, setiap kali menepati janji maka semakin tinggi tangga yang dinaiki, namun bila tidak menepati janji akan kembali tergelincir ke bawah. Jika seseorang menepati janji, maka orang lain akan dapat mengandalkan seseorang tersebut untuk melakukan sesuai yang dijanjikan, sebaliknya jika seseorang tidak menepati janji, maka ia tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain serta kehilangan rasa hormat dari orang lain, karena menepati janji merupakan salah satu syarat untuk lebih diterima dan dipercaya.

Berjanji dan mengucapkan janji itu jangan sembarangan walaupun di luar sana banyak juga orang yang berjanji tapi tak ditepati sama sekali. Soal ditepati atau tidak itu soal nanti, yang penting janjikan saja dulu. Alasan bisa dicari belakangan. Sakit, kurang enak badan, urusan keluarga, mogok, mungkin menjadi alasan paling favorit bagi banyak orang untuk melanggar janjinya.¬†Bagi orang-orang percaya, perilaku ingkar janji tidak berbeda jauh dengan berbohong. Yesus berkata tegas: ‚ÄúJika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.‚ÄĚ (Matius 5:37). Jadi jika kita sudah mengatakan ya, tepatilah, sebelum si jahat menemukan sebuah lahan bermain yang menyenangkan dalam diri kita dan kemudian membuat kita terus bertumbuh menjadi pembohong-pembohong kelas kakap yang tidak lagi merasa bersalah ketika melakukannya.

Itu sebabnya, belajarlah sejak dini untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain.  Tuhan Yesus mengajarkan kita, hendaklah kita mau menghormati janji dengan menepatinya. Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakan tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari si jahat. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun.

Mengajarkan anak menepati janji memang tidak semudah melatih kemampuan motorik atau bahasa, tapi akan membantunya mengembangkan karakter pribadi yang positif saat tumbuh dewasa nanti. Mengajarkan anak menepati janji itu penting dalam menumbuhkan kesadaran anak untuk menjadi orang yang bisa dipercaya, diandalkan, juga menghargai diri sendiri dan orang lain.

Berikut hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan karakter tanggung jawab anak dalam hal menepati janji, yaitu:

  1. Memberikan contoh Menurut pakar pendidikan dan perkembangan Dr. Gloria Julius, mengenalkan konsep menepati janji bisa dimulai dengan memberikan contoh nyata tentang sikap bisa diandalkan dan dipercaya sejak anak berusia 3 tahun. Misalnya saja, mengajak anak ke taman bila dia bersikap baik selama acara kumpul keluarga atau membuatkan makanan favorit untuk anak setelah pulang sekolah seperti yang sudah orang tua janjikan sebelumnya.
  2. Buat janji yang realistis Setelah memberikan contoh, orang tua bisa mengajaknya berdiskusi tentang pentingnya membuat janji yang realistis dan sesuai dengan kemampuan. Ingatkan anak untuk tidak membuat janji besar saat sedang bersemangat, tapi kemudian ternyata sangat sulit untuk ditepati. Misalnya saja membuat resolusi tahun baru untuk membaca lebih dari 5 buku dalam setahun. Ajarkan anak untuk membuat janji realistis dengan memasukkan pertimbangan waktu dan cara spesifik yang akan dilakukan untuk mencapainya, menjadi ‚Äėberjanji untuk membaca 5 buku dalam setahun, dengan membaca buku selama 30 menit setiap hari sepulang sekolah‚Äô. Janji yang realistis dan spesifik seperti tadi diharapkan bisa membuat anak lebih fokus menepati janji dan tidak memudar semangatnya setelah waktu berlalu.
  3. Membuat pengingat Membuat pengingat visual yang diletakkan di tempat yang mudah dilihat juga bisa membantu anak untuk selalu menepati janjinya. Bimbing anak untuk menuliskan janji di media apapun yang dirasa pas, misalnya pada bentuk bintang dari kertas warna dan ditempelkan di meja belajar atau catatan kecil di halaman depan buku hariannya. Dengan melihat pengingat visual yang dibuatnya, anak tidak akan mudah lupa dan bisa selalu fokus pada hal yang harus dilakukan untuk menepati janji.
  4. Tidak membuat janji yang tidak bisa ditepati Saat mengajarkan anak menepati janji, orang tua juga perlu mengajaknya berdiskusi tentang dampak dari kebiasaan membuat janji yang tidak bisa ditepati. Ingkar janji bukan hanya akan mengecewakan dan merusak kepercayaan orang lain, tapi juga sama saja dengan tidak menghargai dirinya sendiri. Rasa tidak nyaman yang timbul karena tidak menepati janji juga bisa membuatnya menilai buruk diri sendiri.

Hal-hal tersebut di atas dapat dilakukan di lingkungan keluarga dan juga di lingkungan sekolah untuk melatih dan mengembangkan karakter tanggung jawab anak dalam hal menepati janji kepada orang lain. Tentu masih banyak cara yang dapat dilakukan sesuai dengan keadaan dan kemampuan anak tersebut.

Penulis Rut Meldina, S.Pd (Pendidik Sekolah Tunas Pertiwi)

Sumber :
https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/09/17.1.17-Memgembangkna-Tanggung-Jawab.
https://www.orami.co.id/magazine/4-manfaat-penting-mengajarkan-anak-untuk-menepati-janji-sejak-kecil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *