MENJAWAB PERTANYAAN – MENGAPA YESUS MENAMPAKKAN DIRI KEPADA PETRUS

Kefaspelita
IMG 20250525 WA0013

Pelitanusantara.com Hari ini hari ketiga setelah kenaikan Yesus ke sorga (Ascension Day) namun masih mengkhotbahkan dari thema khotbah dalam kalender gereja internasional yang diambil dari kisah penampakan Yesus dalam kurun 40 hari. Hari ini secara khusus diberikan jawaban mengapa Yesus menampakkan diri secara khusus kepada Petrus. Yohanes 20:15-19.

Tujuh murid rupa-rupanya “kangen” pada progesi lama mereka sebagai nelayan. Mereka naik ke sebuah perahu di danau Tiberias dan coba menangkap ikan semalam-malaman, namun sia-sia. Ketika hari sudah mulai terang, Tuhan Yesus berada ditepi danau dan menyapa serta bertanya apakah mereka sudah mendapat banyak ikan. Tujuh murid itu menjawab belum sama sekali. Yesus kemudian memerintahkan mereka untuk menebarkan jala ke sebalah kanan dan hasilnya luar biasa.

Ketika para murid sampai di tepi, mereka mengenali bahwa orang yang menyuruh mereka tadi adalah Yesus. Yesus sudah menyiapkan ikan bakar dan roti sebagai sarapan. Dan terjadilah sarapan yang sunyi di tepi danau Tiberias (Yohanes 21:1-14). Setelah sarapan selesai, Yesus secara khusus mengajukan pertanyaan kepada Petrus sehingga terjadilah dialog yang indah antara keduanya, seperti tercantum dalam Yohanes 21:15-19.

YESUS ADALAH “GOD OF THE SECOND CHANCE”

Kita tentunya masih ingat bagaimana Petrus pernah menyangkal Yesus dengan sumpah dan kutuk (Matius 26:69-75) sampai tiga kali. Ketika ditepi danau Tiberias ini Petrus berjumpa dengan Yesus yang bangkit, Petrus diam seribu bahasa. Ia tidak berani mendahului berkata-kata, sebab di dalam hati ia merasa dirinya sangat berdosa. Ia bahkan siap dan rela apabila di tepi danau Tiberias itu Yesus memberinya kata-kata teguran yang keras.

Namun yang terjadi justru adalah sebaliknya. Tidak ada kata-kata teguran keras, tetapi Yesus memberi kepada Petrus “second chance” (kesempatan kedua) untuk memperbaiki hidup dan pelayanannya. Yesus memberikan (sampai tiga kali) kepada Petrus perintah untuk: menggembalakan domba-domba milik Yesus (Yohanes 21:15-17).

Disini Yesus menyatakan bahwa Ia adalah “God of the second chance”, perhatikan juga:

  • Second chance yang Yesus berikan kepada wanita Samaria yang tadinya hidup dalam perzinahan, Yohanes 4:1-42
  • Second chance yang Yesus berikan kepada wanita yang tertangkap basah sedang berbuat zinah (Yohanes 8:1-12).

Petrus menerima kesempatan yang kedua ini dengan baik. Sejarah mencatat bagaimana Petrus dengan tekun melayani Yesus sampai saat terakhir dimana ia disalib dengan kepala di bawah sebab ia merasa tidak layak disalib dengan kepala diatas seperti Yesus (tradisi dari kisah Quo Vadis)

YESUS SANGAT MENDAMBAKAN KASIH DARI UMAT-NYA

Sampai tiga kali Yesus mengajukan pertanyaan tentang kasih kepada Petrus. Dari ayat-ayat ini kita ketahui bahwa Yesus sangat merindukan kasih dari umat-Nya. Hal ini sangat sesuai dengan Matius 22:37 – “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
Apakah dasar dari tuntutan Yesus supaya kita mengasihi Dia?

  • Yesus terlebih dahulu mengasihi kita – 1 Yohanes 4:10
  • Yesus telah menyerahkan diri-Nya di kayu salib untuk kita – Yohanes 3:16

Bagaimanakan kita dapat membuktikan bahwa kita mengasihi Yesus? Kita membuktikan kasih kita kepada Yesus melalui 4K:

A. KETAATAN
Bukti yang paling jelas dari kasih kita kepada Yesus adalah ketaatan. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Yesus dalam Yohanes 14:21 – “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” Banyak orang dengan mulut mengatakan bahwa mereka mengasihi Yesus, tetapi kelakuan perbuatan mereka tidak menunjukkan bukti yang nyata. Mengasihi hanya dengan mulut.

B. KEINTIMAN
Kasih hany bisa dikembangkan dalam keintiman. Tak ada keintiman, tak ada bukti kasih. Keintiman dengan Yesus dibuktikan dengan waktu yang kita berikan untuk ibadah raya dan ibadah pribadi tiap-tiap hari dengan Yesus.

C. KESETIAAN
Hubungan jemaat dengan Kristus dilambangkan dengan hubungan nikah. Dalam pernikahan yang berlangsung life-time, kesetiaan memegang peranan yang sangat penting. Demikian juga dalam hubungan kita dengan Kristus yang juga berlangsung life-time, unsur kesetiaan merupakan hal yang sangat penting. Setia dalam waktu yang panjang membuktikan kasih.

D. KERELAAN MEMBERI
Ada sebuah pepatah yang indah yang patut kita camkan baik-baik – “Engkau bisa memberi tanpa kasih, tetapi engkau tidak bisa mengasihi tanpa memberi.” Ketika Allah menyatakan bahwa Ia mengasihi dunia ini, Allah memberi Anak-Nya yang tunggal sebagai korban penebus dosa. Yohanes 3:16.
Ketika seorang ayah mengatakan bahwa ia mengasihi anaknya, ia memberi. Ketika kita mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus, apakah kita sudah memberi?? Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan tulus. Tanpa memberi, kasih yang kita katakana itu hanya merupakan manis dibibir saja, tanpa bukti yang nyata. Hari ini Yesus bertanya kepada kita – “Apakah engkau mengasihi Aku??”

KASIH KEPADA KRISTUS MEMBAWA TANGGUNG JAWAB BESAR

Perhatikan apa yang Yesus katakana setelah Petrus mengatakan bahwa mengasihi Yesus. Sebagai respon yang positif, tiga kali Yesus berkata kepada Petrus sebagai berikut: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Disini kita melihat suatu kenyataan bahwa: kaih kepada Yesus membawa tanggung jawab besar. Petrus dengan sepenuh hati menerima tanggung jawab besar yang diberikan Yesus kepadanya.
Kemudian dalam Yohanes 21:18-19, Tuhan Yesus menubuatkan bagaimana Petrus akan mati. Menurut tradisi, Petrus mati disalib dengan kepala dibawah pada zaman kaisar Nero menganiaya orang-orang Kristen. Kepada kita semua anak-anak Tuhan yang mengasihi Kristus juga diberi tanggung jawab yang besar untuk:

  • Menjaga citra positif kita sebagai anak-anak Tuhan
  • Membawa anak-anak kita kepada Kristus sedini mungkin
  • Membangun dan memelihara kelangsungan jemaat local dimana kita menjadi warganya
  • Meneruskan pelayanan pekerjaan Tuhan sampai Yesus datang kembali

Abah Daniel