Salatiga, Pelitanusantara.com – Manusia tidak terlepas dari kodratnya sebagai mahkluk yang berelasi. Di tengah keluarga, gereja, masyarakat, lembaga-lembaga dan lain-lain tak dapat dipungkiri tidak sedikit yang mengalami kegagalan dalam membangun dan memelihara relasi dengan baik. Yang kemudian menimbulkan luka-luka hati bahkan sampai pada luka batin yang mendalam yang disebut trauma.
Trauma dalam hidup manusia juga dapat ditimbulkan dari luka mendalam pada konflik-konflik relasi. Tentunya ada penyebab lain seperti peristiwa bencana yang datang tiba-tiba, penyakit kronis atau kehilangan yang mendalam.

Hal-hal buruk dan menumpuk dalam memori kita tentu membutuhkan pemulihan agar tidak menimbulkan dampak-dampak negative dalam perilaku, pola pikir, kerohanian dan Kesehatan tubuh kita. Trauma Healing berbasiskan pastoral adalah bentuk-bentuk pemulihan hal-hal tersebut d iatas dengan berbasiskan pada firman Tuhan.
Untuk tindakan trauma healing secara efektif maka MDS mengadakan training trauma healing berdasarkan pastoral selama dua hari, Senin-Selasa, tgl. 11-12 Februari 2025 yang baru lalu di Wisma MTC Bugel Salatiga. Kegiatan yang diikuti 15 orang ini bertujuan untuk melengkapi pelayanan dalam konteks gereja, lembaga-lembaga sosial, keagamaan, terapis dan lainnya dalam layanan pemulihan stress, depresi dan trauma.

Secara khusus, pelatihan trauma healing ini memiliki tujuan, yakni melakukan pemulihan diri dan dapat membantu pemulihan orang lain serta pengembangan trauma healing berbasiskan pastoral.
Pelatihan ini yang diikuti oleh para pendeta, aktivis, pelayan lembaga sosial, keagamaan, serta kesehatan ini dimentori oleh Pdt. Paulus Hartono dalam hal Pastoral-Terapis, Pdt. Em Janti Diredja dalam bidang Pastoral-Psikologi dan Lydia Widjaja sebagai Psikolog.
Adapun materi-materi yang disampaikan meliputi pastoral dan recovery, stress-depresi dan trauma , serta assesment gejala-gejala dan berikut dengan belajar menganalisa. assesment yang diberikan meliputi ambang sadar, keseimbangan cortex, mata dominan dan titik accupresur jari tangan.
Pdt, Paulus Hartono, M.Min mentor dalam bidang pastoral dan terapis sekaligus Direktur Mennonite Diakonia Service (MDS) mengatakan bahwa pelatihan trauma healing ini hanya menjadi salah satu fokus kegiatan MDS. MDS yang kemudian saat ini memiliki kepanjangan Muria Damai Sentosa menurut Paulus Hartono memiliki fokus program bermacam-macam yakni penanganan kasus bencana, penanganan perdamaian di lokasi konflik, problem lingkungan dan pendampingan pengembangan masyarakat.

Program trauma healing dilakukan di lokasi bencana dan di lokasi konflik dan beberapa gereja yang mengalami diskriminasi penutupan. Menurut Paulus Hartono, dulu waktu di Singkil Aceh ada pembakaran gereja mereka bergerak ke sana untuk pemulihan trauma. Hampir tujuh tahun terkait dengan pemulihan trauma, bencana alam, konflik antar suku dan konflik berbagai tindakan kekerasan lainnya termasuk problem kekerasan operasi militer.
“Kami melakukan transformasi konflik atau peace building. Di Sulawesi hampir dua tahun penanganan di aspek trauma healing dengan berbagai kegiatan termasuk pembangunan rumah tempat ibadah dan pembangunan-pembangunan lainnya. Di Lombok kami juga lakukan itu. Di Bantul karena erupsi Gunung Merapi kami menangani hampir dua tahun,” demikian jelas Paulus Hartono.
Istilah trauma healing ini sebuah istilah yang belum lama digunakan.
“Kegiatan ini dimulai di 2005. Saat itu belum ada istilah trauma healing, yang ada istilah saat itu adalah psiko sosial, kemudian kami bergerak dengan mempromosikan trauma healing dan saat itulah trauma healing mulai dikenal,” jelas Paulus Hartono.

“MDS sekarang bergerak fokus di mitigasi di Pati Selatan di pegunungan gundul dengan mengadakan reboisasi. Saat ini bergerak lagi di Papua terkait dengan peace buliding dan trauma healing. Setelah 3 bulan melakukan assesment dengan teman-teman Papua, kami merancang suatu program untuk tahun depan terkait peace building dan trauma healing,” demikian jelas Pdt. Paulus Hartono, M.Min. memberi tambahan.
Anang Sumanto (46) seorang pendeta jemaat, peserta kegiatan ini mengatakan bahwa pelatihan trauma healing ini sangat diperlukan oleh para hamba Tuhan dalam melakukan tugasnya.
“Pelatihan trauma healing sangat diperlukan bagi hamba-hamba Tuhan, baik yang melayani di gereja, sekolah, rumah sakit ataupun di manapun. Sebab ini melengkapi hamba Tuhan dengan sentuhan pastoral sehingga dapat memulihkan secara spiritual, batin, jiwa bahkan badani,” demikian Anang Sumanto yang menggembalakan jemaat GKMI Yogyakarta Cabang Pundong Bantul.
Titik Suparti salah seorang peserta yang lain merasa bersyukur dapat mengikuti pelatihan ini. Karena melalui pelatihan trauma healing ini, setidaknya ia bisa lebih mengenali dirinya sendiri dengan lebih baik.
“Saya bersyukur bisa mengikuti acara ini, karena ada hal hal sederhana yang luput dari pengetahuan saya yakni saya semakin bisa mengenali diri saya sendiri, yang semula saya merasa selama ini baik- baik saja, hanya merasa pernah stres karena persoalan tantangan di pelayanan, namun ternyata pernah memasuki ranah depresi dengan gejala diare tiap hari, ketakutan setiap hari, namun sungguh ajaib karya Tuhan, dalam situasi yang nampak tak ada harapan, Tuhan membuka jalan. Dari pelajaran trauma healing ini bisa dipakai untuk bekal melayani jemaat di kala umat sedang dalam persoalan hidup hingga stres, depresi dan trauma,” demikian jelas Titik Suparti yang menggembalakan di GKI Nusukan Bajem Mojosongo Surakarta ini.
Oleh: Suyito Basuki
