Balige, Pelitanusantara.com | Sesuai informasi yang didapat dari Cabang Dinas Pendidikan Balige Provinsi Sumatra Utara bahwa situasi pendidikan bagi siswa/siswi tidak terlalu mengkhawatirkan, dan masih bisa menyesuaikan dengan kurikulum dikategorikan masih standar.
Menurut Kepala seksi Sekolah Menengah Atas (SMA) Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Utara,Safron Simanjuntak, bahwa selama situasi pandemi ,pembelajaran sistem daring, diketahui prestasi pelajar tingkat SLTA masih sama seperti sebelumnya dengan belajar tatap muka.
“Sesuai amatan kita prestasi di tingkat SLTA masih standar. Saat belajar tatap muka SMA yang berprestasi adalah, SMA DEL yang terletak di Kota Laguboti dan SMA NEG 2 di Kota Balige, di saat pandemi belajar dengan daring tetap juga SMA yang sama,” katanya kepada MC Toba , Selasa (12/1/2021).
Terkait anak yang bermain game online, lanjut Safron, paket yang diberikan pemerintah sebesar 5 Giga tidak akan mampu untuk melakukan permainan game online.
“Memang kita akui banyak anak SMA yang melakukan permainan game, pelajaran dengan daring dibutuhkan andil dan keseriusan pelajar itu sendiri,” sebut Safron.
Sembilan bulan sudah pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia tidak terkecuali Negara Indonesia, mengakibatkan keterpurukan hampir semua sektor, tidak terkecuali dunia pendidikan yang biasanya dilakukan dengan tatap muka namun kini dilakukan dengan sistim dalam jaringan (daring).
Sistem belajar daring menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, baik dari pihak tenaga pengajar dan orang tua sendiri. Sistem ini berdampak menurunkan kemampuan siswa, apalagi lokasi yang sulit mendapatkan jaringan internet.
Pantauan di lapangan, sejumlah orangtua mengeluhkan jaringan internet yang tidak terjangkau bahkan sama sekali tidak ada di banyak tempat yang ada di Kabupaten Toba sehingga menjadi penghalang bagi anak mereka dalam sistem belajar daring.
Tidak sedikit pula pelajar memanfaatkan proses belajar ini bukan untuk melakukan proses belajar-mengajar, banyaknya waktu luang yang tidak terkontrol sehingga anak tidak belajar tetapi sibuk bermain game online.
Yenti Silaban, salah seorang ibu rumah-tangga Desa Patane I, Kecamatan Porsea mengeluhkan sistem pembelajaran di masa pandemi ini.
Sudah jelas sebagai orangtua kesal dengan pembelajaran ini, dengan pembelajaran tatap muka anak bisa langsung berinteraksi dengan guru, sehabis pulang sekolah tinggal menanyakan materi pelajaran pada malam hari.
“Sedangkan sistem daring bagaimana mengontrol anak dengan kesibukan kita sebagai orangtua yang setiap harinya bekerja di sawah, belum lagi kita tidak mengerti dengan aplikasi android,” katanya menerangkan.
Dirinya berharap agar pandemi cepat berlalu dan berharap agar pemerintah melalui dinas pendidikan memecahkan masalah ini, untuk peningkatan pendidikan generasi anak bangsa. (PN)
