MELUKAI HATI ALLAH DEMI SEBUAH PENCAPAIAN

  • Bagikan

 

Pelitanusantara.com | Suara Kebenaran Injil Hari Ini | 2 Raja-raja 10:27-29, “Mereka merobohkan tugu berhala Baal itu, merobohkan juga rumah Baal, dan mem-buatnya menjadi jamban; begitulah sampai hari ini. Demikianlah Yehu memunahkan Baal dari Israel. Hanya, Yehu tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula, yakni dosa penyembahan anak-anak lembu emas yang di Betel dan yang di Dan.

MELUKAI HATI ALLAH DEMI SEBUAH PENCAPAIAN

Pemanggilan Yehu kepada seluruh nabi Baal dalam rangka untuk menghadiri upacara penyembahan Baal secara besar-besaran adalah upaya untuk menghabisi semua nabi-nabi Baal yang ada. Mengapa penyembah Baal yang setia itu tidak curiga akan rencana Yehu?

Nampaknya sebagai ajudan Ahab, Yehu juga menjadi penyembah Baal bersama-sama keluarga kerajaan. Sebagai seorang manusia yang dapat secara sigap mem-peralat agama untuk mencapai tujuannya, dulu mungkin memperlihatkan sebagai seorang penyembah Baal yang setia. Namun pelenyapan para nabi penyembah Baal serta penghancuran penyembahan dan kuil Baal sebetulnya bukan merupakan bukti bahwa Yehu mempunyai komitmen pribadi kepada Allah.

Ini terbukti ketika tujuan pribadinya sudah tercapai, semangat yang menggebu-gebu untuk Allah pudar. Reformasi agama yang sudah ia mulai dengan penghancuran kuil Baal tidak terus berlanjut. Malah ia sendiri kini mempromosikan penyembahan dewa asing yang pernah dimulai oleh Yerobeam sebagai agama negara dan hanya berkon-sentrasi kepada pemerintahannya saja.

Raja Yehu sudah memperalat Allah untuk ia mendapatkan serta mengokohkan takhta-nya. Padahal ia menjadi raja karena Allah memilih dia. Dan sekarang setelah semua yang diharapkan telah ia dapatkan, maka Yehu mengesampingkan Allah atau dengan kata lain ‘memperistirahatkan’ Allah.

Saudaraku, bentuk kejahatan yang sangat luar biasa pernah terjadi, yaitu Yehu menjadikan Tuhan sebagai alat pencapaian kehendak. Setelah semua tercapai, maka pada saat yang sama ia menolak kehadiran Allah dalam hidupnya.  Bagaimana dengan kita? Setelah semua yang kita harapkan dari semua yang kita kerjakan itu berhasil?Apakah kita tetap setia kepada Allah dan mau menjadikan Allah sebagai nafas hidupnya? Artinya, tanpa Tuhan tiada. Pst.harts

  • Bagikan