Widiyastuti, Cicit KH Ahmad Dahlan : Betapa Berharganya Merawat Sejarah Kita Sendiri.

IMG 20221115 WA0029

YOGYAKARTA – Museum Muhammadiyah kini telah berdiri megah dilingkungan Kampus Utama Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dengan bangunan empat lantai.

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hj. Widiyastuti, SS, M.Hum., menerangkan bahwa, kami bersyukur karena sejak dimulainya rencana pembangunan Museum Muhammadiyah pada Muktamar ke-47 di Makassar kini terwujud pada Muktamar ke-48,tahun 2022.

Proses penyusunan Museum Muhammadiyah yang berada di Kampus Utama Universitas Ahmad Dahlan, Jl Jenderal Ahmad Yani, Ringroad Selatan, Kragilan, Kalurahan Tamanan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, belum sepenuhnya selesai, baru dua dari empat lantai bangunan yang direncanakan, ujar Widiyastuti.

Dua lantai yang terisi tersebut terbagi menjadi beberapa ruang pamer, empat di antaranya difungsikan menjadi ruang pamer utama, masing-masing ruang pameran tampil dengan ciri khas dan substansi cerita yang beragam dan juga mungkin belum bisa merepresentasikan seluruh cerita perjalanan persyarikatan Muhammadiyah, diharapkan instalasi museum yang sudah tersusun ini menyadarkan kita betapa berharganya merawat sejarah kita sendiri.

Dengan demikian, ada lebih banyak orang mau turut berkontribusi untuk museum, ada banyak pihak yang sudah terlibat dalam pembentukan Museum Muhammadiyah, ada yang berperan dalam konstruksi, sebagai pengarah ahli, penyumbang artefak, ahli museumologi, peneliti sejarah, seniman dan pengarah artistik pameran, edukator museum dan masih banyak lagi bentuk-bentuk peran lainnya, kata Widiyastuti.

Jadi, pekerjaan membangun museum ini bukanlah perkara cepat dan mewah, tapi lebih penting lagi adalah substansinya yang bisa menjadi sarana pembelajaran dan pengikat persatuan warga persyarikatan Muhammadiyah secara khusus maupun bangsa Indonesia, tuturnya.

Bagi Widiyastuti, keberadaan Museum Muhammadiyah begitu penting, sebab organisasi masyarakat yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu visioner dan dinamikanya begitu tinggi sehingga jejak dan bukti sangat mungkin hilang, dilupakan, diabaikan, atau diganti, kata Widiyastuti, cicit KH Ahmad Dahlan, di Kampus Universitas Admad Dahlan, Yogyakarta, Senin (14/11/2022).

Menurutnya, lima tahun bersama merangkai sebuah cerita untuk Museum Muhammadiyah, ada duka tapi kayaknya lebih banyak sukanya.

Tiga kali menyiapkan soft launching, namun gagal dengan berbagai macam alasan, banyak cerita dibalik kemegahannya, sebuah keikhlasan berbalut profesi yang tidak biasa, pungkasnya.(Ome)