Vaksin dan Antikristus

Palicardo
IMG 20210224

Banten, pelitanusantara.com, (21/02/21). Pemerintah Indonesia akan memberikan vaksin Covid-19 secara gratis bagi seluruh masyarakat. Namun, di tengah upaya pemerintah untuk memberikan vaksin, malah muncul isu di kalangan umat Kristen, yaitu adanya microchips 666 yang akan ditanamkan ke tubuh manusia melalui vaksin Covid-19 ini.

Seorang penyanyi dan pencipta lagu rap asal Amerika Serikat Kanye West, diberitakan di media Forbes Magazine, menyatakan bahwa vaksin untuk COVID-19 adalah tanda akhir zaman yang akan membuat orang tidak bisa masuk surga. “Ada banyak dari anak-anak kita yang divaksinasi dan menjadi lumpuh.. Jadi ketika mereka mengatakan bahwa kita akan mengatasi COVID-19 dengan vaksin, aku jadi sangat waspada”, ungkap Kanye West, yang dilansir oleh www.jawaban.com.

Tidak sedikit jemaat, khususnya yang tidak mendalami teologi, bingung dan ragu untuk divaksin. Bahkan ada juga dari kalangan hamba Tuhan yang tidak mau divaksi dengan alasan serupa. Untuk itu, pelitanusantara.com melakukan wawancara tertulis dengan narasumber Prof. Dr. dr. James Tangkudung, Sportmed., M.Pd., dan Pd. Dr. Junit Sihombing terkait vaksin dan antikristus.

Dari perspektif Specialis of Sports Medicine, Prof. Dr. dr. James Tangkudung, Sportmed., M.Pd., (22/02/21) menjelaskan bahwa microchips tidak mungkin masuk dalam tubuh manusia. “Tidak mungkin microchips masuk ke dalam tubuh manusia. Apakah itu ke dalam kulit, darah atau yang lainnya”.

Dijelaskan juga bahwa tubuh akan menolak atau alergi jika masuk benda asing dalam tubuh. “Kan ada reaksi, tolakan atau alergi dari tubuh. Misalnya seperti makanan. Ada orang yang makan ikan teri, gatal-gatal. Makan gula, juga gatal-gatal. Ada yang makan kangkung, kerupuk, dan lain-lain, alergi. Setiap manusia, reaksinya selalu beda-beda dan bisa membawa sampai pada kematian. Dokter, biasanya selalu bertanya, apakah alergi antibiotik, penisilin dan lain-lainnya”, tukasnya.

Lebih lanjut dipaparkan, bahwa divaksi atau tidak, harus melihat kondisi tubuh yang hendak divaksi. Apakah ada alerginya atau tidak. Untuk penerapan vaksin kepada manusia saja perlu ada uji coba berulang agar layak digunakan. Menurut Prof. James Tangkudung, “Untuk penerapan vaksin (red.), mesti ada uji coba dulu sampai empat kali yang dimulai dari binatang. Berlanjut kepada manusia yang diujicobakan sampai 3 kali. Setelah itu, baru bebas memilih mau divaksi atau tidak”, tutupnya.

Pembimas Kristen Banten, Dr. Junit Sihombing, memberi arahan dan himbawan terkait vaksinasi ini (23/02/21). “Pemerintah saat ini sedang berjuang menekan tingginya kenaikan angka pandemi covid-19 di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Vaksin adalah salah satu cara untuk menekan angka kenaikan Covid-19 di Indonesia. Walaupun, sampai saat ini ketersediaan vaksin masih terbatas, karena prosesnya yang panjang”, jelasnya.

Sebagai pembimas kantor wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten, Dr. Junit Sihombing, menghimbau agar masyarakat mendukung upaya pemerintah untuk vaksinasi ini. “Saya mengimbau umat Kristen yang ada di Provinsi Banten untuk mendukung suksesnya vaksinasi secara nasional maupun dalam lingkup Provinsi Banten, agar bangsa Indonesia, paling tidak dapat menekan tingginya laju penularan Covid-19”, imbaunya.

Terkait isu microchip 666 sebagai antikristus yang dimasukan dalam vaksin, penyandang gelar doktor dibidang teologi ini, menyampaikan agar masyarakat tidak mudah percaya dengan berita-berita hoaks. “Saya mengimbau umat Kristen tidak mudah percaya dengan berita-berita hoaks, yang mengganggu program pemerintah untuk menyukseskan program vaksinasi ini. Apalagi vaksin dikaitkan dengan microchip 666 sebagai antikristus”, jelasnya.

Umat Kristen yang ada di Banten, lanjutnya, perlu membuka logika berpikir dengan kacamata iman Kristen. “Pada kesempatan ini mari umat Kristen yang ada di Banten, kita membuka logika berpikir kita dengan kacamata iman Kristen, bukan dengan berita-berita hoaks yang tidak jelas serta tidak dapat dipertanggungjawabkan secara teologis”, imbuhnya.

Vaksin dikaitkan dengan antikristus adalah hal yang tidak mungkin. “Bagaimana mungkin vaksin dikaitkan dengan microchip 666 antikristus. Saya berpikir, mungkin orang-orang yang menyebarkan hoaks ini justru antikristus”, jelasnya.

Dr. Junit Sihombing, terus mengimbau agar umat Kristen tidak perlu takut dengan vaksi. “Pada kesempatan ini, saya berharap umat Kristen yang ada di Banten, jangan takut untuk divaksin, supaya setidaknya bisa menekan tingginya penularan Covid-19 di lingkungan kita. Tuhan menginginkan cara berpikir kita, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Artinya, sebagai orang percaya, mari kita cerdik dalam menilai sesuatu termasuk pemberitaan tentang vaksin ini, supaya apa kita tidak terjerumus dalam dangkalnya pemikiran kita secara teologis”, terangnya.

Umat Kristen tidak perlu takut divaksi dan perlu menyukseskan vaksinasi ini sebagai wujud kepedulian kita bagi bangsa yang sedang dilanda pandemi covid-19 ini. “Pesan saya sebagai pembimas Kristen, mari umat Kristen yang ada di Banten, jika kita peduli dengan bangsa Indonesia agar terbebas dari Covid-19. Mari kita menyukseskan program vaksinasi ini secara bersama. Dimulai dari diri kita terlebih dahulu untuk bisa meyakinkan yang lainnya. Tuhan beserta kita”, tutupnya. (APM/Pelitanusantara.com)