Salatiga – Sebuah uraian yang cukup berat tetapi disampaikan dengan penuh kecintaan oleh Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat dalam paparan ilmiahnya saat pengukuhan dirinya sebagai guru besar di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW) Kamis, 27 Februari 2025 yang baru lalu di Gedung Balairung UKSW.
Bagi Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat kelahiran Salatiga, 27 Februari 1968 ini tahun 2025 ini adalah tahun yang unik, sehingga disebutnya sebagai tahun yang mengagumkan secara matematika.
“Tahun ini merupakan tahun yang sangat istimewa secara matematika yaitu tahun 2025 yaitu tahun bilangan kuadrat, yaitu 45×45 ditulis 45 kuadrat = 2025, dikatakan bilangan kuadrat sempurna dari 45; 2025 perkalian dari 2 bilangan kuadrat yaitu 92 × 52 = 2025; jumlahan dari 3 bilangan kuadrat yaitu
kuadrat dari 40, 20, dan 5 yang ditulis 402 + 202 + 52=2025; Tahun dari bilangan kuadrat setelah tahun 1936 (44×44) ; Jumlahan pangkat 3 dari bilangan asli 1 hingga 9, yang ditulis secara matematika yaitu 13 + 23 + 33 + 43 + 53 + 63 + 73 + 83 + 93 = 2025. Juga, 2025 adalah tahun bilangan kuadrat yang mungkin yang terakhir kali kita alami, karena setelah itu adalah tahun 2116 (46×46) yang berarti 91 tahun kedepan. Bukan kebetulan juga, bahwa 27 Februari 2025 ini saya genap 57 tahun,” demikian urai Prof. Hanna.
“Saya merujuk apa arti angka 57 secara biblical? Dari internet tertulis demikian: ‘The number 57 symbolizes grace and spiritual completion, merging the meanings of the numbers 5 (grace) and 7 (perfection) within biblical contexts’. Angka tersebut muncul dalam peristiwa alkitab yang signifikan, seperti kepercayaan Daud kepada Tuhan dalam Mazmur 57, tahun 957 (Sebelum Masehi) selesainya pembangunan bait Allah oleh Salomo, dan tahun 57 (Masehi) tahun awal pelayanan Rasul Paulus atau masa theology Kristen dimulai. Dalam numerologi, 57 menandakan perlindungan, pertumbuhan pribadi, dan transformasi, menggabungkan petualangan (5) dengan introspeksi (7) untuk pendekatan holistik terhadap keputusan hidup,” terang Prof. Hanna terkait angka usianya yang ke-57 tahun 2025 ini.
Kemudian bagaimana dengan angka 27? 27 menurut Prof Hanna adalah 3³, sebuah “kubus sempurna”, yang cukup langka. Hanya ada 10 kubus sempurna dari 1 hingga 1.000. Satu-satunya faktor primanya adalah 3. Angka ini adalah 3 × 3 × 3. Tapi, tahukah Anda angka lain yang memiliki faktor 3? 666. Jika 27 dijumlahkan digitnya, 2 + 7 = 9. Sekarang, 9 adalah 3²! 3 × 3. Jadi, 9 juga hanya bisa dibagi oleh 3. Tahukah Anda bagaimana menuliskan 27 dalam basis tiga (ternary)? 1000₃.
Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat yang bersuamikan Dr. Suryasatriya Trihandaru,S.Si, MSc.nat kemudian mengaitkannya dengan alkitab. Apa arti 27 secara biblical? 27 menyatakan menurut Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat menyebut banyaknya kitab dalam Perjanjian Baru, diantaranya : ada 27 kitab dalam perjanjian baru, menjelaskan kesempurnaan dan kelengkapan, 27=3 x 3 x 3 (3 kali trinitas, tiga Tritunggal, tiga Patriark. “Ada tiga orang yang mengunjungi Abraham dan Sarah, tiga Maria, tiga langit (atmosfer langsung, luar angkasa, dan tempat Allah), tiga anak Nuh di dalam bahtera, tiga bagian dalam Perjanjian Lama (Hukum, Nabi, dan Tulisan), tiga bagian dalam Perjanjian Baru (Injil, Surat- Surat, dan Wahyu), serta tiga bagian dalam Alkitab Katolik (Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Apokrifa),” demikian Prof Hanna menyampaikan pendapatnya.
Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Emas Murni, Eksplorasi Matematika untuk Aplikasi Sains oleh Minoritas Unggul yang Berkepribadian Kristiani”, Prof. Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat yang adalah dosen prodi S1 matematika sejak 1994-2020 dan menjadi dosen Magister Sains Data di FSM sejak 2020 hingga sekarang mengangkat eksplorasi matematika dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karenanya matematika diekplorasi sebagai ilmu terapan ke berbagai bidang termasuk konsep-konsep. Eksplorasi antara lain dilakukan untuk merumuskan visi misi UKSW. UKSW yang menurutnya memiliki visi yang memuat 5 variabel S, yaitu :
S₁: Universitas Scientiarum (berbasis ilmu pengetahuan). S₂: Magistrorum et Scholarum (pendidik dan pembelajar). S₃: Leadership atau kepemimpinan.
S₄: Radar (semangat hidup).
S₅: Melayani (servant leadership).
Rumusan visi dirangkum dalam sebuah ekspresi matematis oleh Prof Hanna sebagai
V = 𝑓(𝑆1, 𝑆2, 𝑆3, 𝑆4, 𝑆5)
Selain itu matematika juga digunakan untuk analisa data pada PCA untuk menganalisis efek pemberian pakan dan mineral pada produksi susu sapi yang memberikan bukti bahwa hijauan adalah factor dominan pertumbuhan sapi. Saat itu, isu sapi glonggongan sedang merebak.
Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat yang memiliki anak semata wayang Yos Sebastian Denggan Satriaputra ini, di tahun 2009 membahas penggunaan matriks Hessian untuk pemilihan data. Dalam tahun yang sama, H. A. Parhusip memodelkan investasi total dan efisiensinya di daerah Sidomukti. Studi ini menggunakan berbagai teknik statistik untuk mengevaluasi dan memprediksi efisiensi investasi (8). Pada tahun yang sama pula, efisiensi pemilihan harga saham juga dapat dimodelkan dengan fungsi kuadratik (27). Dengan teknik yang sama, PCA digunakan untuk mengidentifikasi sektor dominan di bursa saham, yaitu sektor properti dan perdagangan (28). PCA membantu menyederhanakan data yang kompleks menjadi beberapa komponen utama yang menjelaskan sebagian besar variabilitas dalam data (6).
Pengukuhan Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat sebagai guru besar dilakukan oleh Senat UKSW. Bersama Prof. Dr. Hanna Arini Parhusip, M.Sc-nat dikukuhkan sebagai guru besar juga Prof. Dr. Maria Rio Rita, S.E., M.Si.dengan pidato ilmiahnya: Keuangan Kewirausahaan: Dari Kesenjangan Pendanaan Menuju Tumbuh Kembangnya UMKM secara organik (Entrepreneurial Finance: From Financing Gaps to Organis MSME Growth), Prof. Dr. Albert Kristian Novi Adhi Nugraha, S.E., M.M.dengan pidato ilmiahnya: Kala Cinta dan Benci Berbenturan: Dari Citra Negara Asal ke Pengambilan Keputusan Konsumen, Ph.D, Prof. Dr. Christina Maya Indah S., S.H., M.Hum., dengan pidato ilmiahnya: Refleksi Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Hukum Pidana: Antara Wacana Gender dan keadilan yang BerkeTuhanan dan Prof. Dr. Darmawan Utomo, M.Eng., Ph.D. dengan pidato ilmiahnya: Demokratisasi AI: Deteksi Anomali pada Sistem Berbasis Sensor menggunakan Deep Learning.
Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si.,Ak. selaku Rektor UKSW dalam sambutannya Berharap supaya para guru besar tetap menjadi lokomotif yg berdampak lahirnya karya dan penelitian yang diintegrasi dalam pengajaran. Selain itu Rektor UKSW mengharapkan supaya guru besar produktif sebagaimana keterpanggilan UKSW, untuk bisa membantu menyelesaikan persoalan bangsa.
Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si.,Ak. Juga mengingatkan bahwa UKSW mendukung pemerintahan Prabowo. Oleh karenanya ia berpesan supaya bijak dalam berpendapat.
“Jangan memilih diksi provokatif tetapi pilihlah diksi yang produktif,” demikian Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si.,Ak. menandaskan.
Oleh: Suyito Basuki
