Jakarta-Pelitanusantara.com-Beberapa minggu belakangan isu tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat hari raya Natal kepada umat Kristiani di Indonesia menjadi polemik yang yang hangat di kalangan masyarakat. Polemik tersebut sebenarnya sudah berlangsung sekian lama dan terus menjadi perbincangan yang hangat ketika menjelang perayaan Natal.
Hal tersebut menjadi polemik karena sebagian kelompok melarang dan sebagian lainnya juga memperbolehkan. Kelompok yang satu menganggap bahwa pendapatnya yang paling benar dan yang lainnya salah, begitupun sebaliknya.
Menanggapi hal tersebut, Ali Mochtar Ngabalin selaku tenaga ahli Kantor Staf Presiden Republik Indonesia dalam cuitannya di twitter pada hari Jumat (17/12/2021) menyatakan bahwa perbedaan merupakan kehendak Tuhan, tetapi kasihNya pasti menyatukan kita dalam kemanusiaan.
“Siapa” yg tahu akan dirinya maka pasti dia tahu cara mendekatkan diri pd Tuhan-nya. saya mengucapkan SELAMAT NATAL 2021 utk sdr”ku yg merayakannya. Tuhan PASTI Maha Dahsyat, kehendakNya membuat kita berbeda, tapi kasihNya pasti menyatukan kita dlm KEMANUSIAAN,” ujar pria kelahiran Fakfak,Papua.
Berdasarkan cuitan tersebut, mantan Anggota DPR RI 2004-2009 termasuk kelompok yang memperbolehkan untuk mengucapkan selamat hari raya Natal kepada umat Kristiani.
Tidak hanya itu, pada hari Sabtu (25/12/2021) dalam postingannya di twitter, Ketua DPP Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia memposting sebuah foto yang memperlihatkan sedang bersama para biarawati yang disertai dengan ucapan selamat Natal dan juga sebuah ajakan untuk menjaga dan merawat Kebhinnekaan untuk masa depan generasi Bangsa dan Negara.
“Selamat Natal utk semua keluargaku yang merayakannya “hanyalah kebersamaan dlm persaudaraan RUH&cintah kasih Tuhan YME, membuat kemanusiaan kita sgt bermartabat” tugas mulia kita adalah menjaga&merawat KEBHINNEKAAN utk masa depan generasi, Bangsa dan Negara.#IndonesiaSelaluHebat”, ujar pria kelahiran 25 Desember 1969 dalam twitternya @AliNgabalinNew, Sabtu 25 Desember 2021.
Dari pernyataannya tersebut dapat dipahami bahwa putra asli Papua ini tidak sama sekali setuju dengan pandangan beberapa kelompok tertentu terkait dengan larangan mengucapkan selamat hari raya Natal bagi umat Kristiani khususnya di Indonesia. (A. L. Malo)













