TAK MATI-MATI DIBUNUH BERKALI-KALI

Pelitanusantara.com | “MENURUT Ben Anderson, tidak ada pengaruh lebih besar yang membentuk bangsa ini selain yang diberikan buku, koran, majalah, dan bacaan cetak lainnya. Itu artinya Pers atau jurnalisme yang termuat dalam media cetak turut berperan membentuk bangsa ini.

Begitu besarnya pengaruh pers, Pemerintah Orde Lama dan Orde Baru memberangus sejumlah media cetak kritis. Menurut catatan Edward C Smith, sepanjang 1952 sampai 1965, pemerintah Orde Lama melakukan 561 kali tindakan ancaman pers. Pemerintah Orde Baru memberedel tiga Media cetak terkemuka pada 1994. Di kedua Orde, politiklah yang mengancam kelangsungan pers dan jurnalisme.

Di era reformasi yang lebih demokratis salah satu media yang diberedel Orde Baru, yakni majalah Tempo, terbit kembali. Regulasi negara berupa Undang-undang Pers malah mendorong lahirnya banyak media, baik media cetak maupun elektronik.

Pada suatu masa, peran membentuk bangsa diambil alih Televisi. Sering diasumsikan Metro TV’ bertanggung jawab? Atas terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden pada pemilu Presiden 2004. Jurnalisme televisi turut berperan membentuk bangsa ini. Belanja iklan televisi calon presiden SBY dan wakil presiden yang sangat besar kiranya ikut berkontribusi pada kemenangan’pasangan tersebut pada pilpres 2009. Jika melihat fenomena itu, mungkin Anderson mengatakan tidak ada pengaruh lebih besar yang membentuk bangsa ini selain yang diberikan media televisi.

Dewasa ini, saat kita memperingati Hari Pers Nasional 2021 kemarin 9 Februari. Peran membentuk bangsa kiranya dilakoni media.

Kicauan Selebritas, Sherina Munaf di Twitter-nya yang diikuti 7,9 juta orang sukses mengajak anak-anak muda memilih Jokowi sebagai Presiden pada pilpres 2014. Donald Trump terpilih sebagai presiden AS pada 2016 tidak terlepas dari peran media sosial. Mahabenar warganet dengan segala unggahan mereka. Andai menyaksikan gejala ini, Anderson barang kali berkata tidak ada pengaruh lebih besar yang membentuk suatu bangsa selain media sosial.

Kita pun beramai-ramai menggunakan jasa buzzer, para pendukung. Negara, partai politik, tokoh politik, kalangan oposan, perusahaan, rela membayar mahal untuk memanfaatkan keahlian para pendengung memainkan jemari mereka di media sosial.

Medium is massage, kata Marshall Mcluhan. Bagi media konvensional, fakta ialah raja. Untuk media daring, kontenlah rajanya. Buat Media Sosial, algoritme ialah segalanya. Fakta ialah Kebenaran, sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi. Konten tidak harus yang sungguh-sungguh terjadi, tetapi yang sungguh menarik bagi audiensi. Dengan algoritme kita bisa mengatur media sosial dengan pesan sungguhan, disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, untuk mencapai tujuan.

Pers dan jurnalisme dalam ancaman kematian gara-gara Media Sosial. Philip Meyer memprediksi koran terbit terakhir pada 2043. George Brock mengatakan ancaman kematian jurnalisme media cetak datang dari fenomena from ink to link. Banyak surat kabar di Indonesia maupun mancanegara berhenti terbit. Sebagian benar-benar berhenti terbit, sebagian lain beralih from ink to link.

Akan tetapi, misinformasi, disinformasi, hoaks, atau kebohongan serta ujaran kebencian, di media sosial membelah suatu bangsa. Masyarakat Indonesia terbelah antara Kecebong dan Kampret atau Kadal gurun alias Kadrun. Majalah Time edisi 1–8 Februari 2021 melaporkan keluarga-keluarga di Amerika terbelah selama empat tahun Trump berkuasa. Alih-alih membentuk bangsa, media sosial justru membelahnya.

Pada titik inilah, jurnalisme tetap bekerja jurnalisme mesti tetap menyampaikan kebenaran. Brock merekomendasi empat tugas pokok jurnalisme di era digital ini, Pertama, disiplin memverifikasi, kedua, membuat audiensi memahami peristiwa melalui reportase, analisis, komentar, dan opini, ketiga, turun kelapangan menjadi saksi peristiwa dan sejarah, ketiga perbanyak investasi.

Selain secara jurnalistik, media cetak juga dibunuh secara ekonomi. Pelakunya ialah Google dan Facebook.

  Google dan Facebook seenaknya mengambil berita-berita media tanpa membayar, sedangkan media harus membayar biaya produksi berita. Google dan Facebook, plus Amozon, memonopoli belanja iklan. Ini jelas tidak adil.

Demi keadilan dan kelangsungan jurnalisme Australia memaksa Google dan Facebook membayar media-media Australia atas konten-koten yang mereka ambil.

Perancis memaksakan hal serupa kepada Google dan Facebook. Dewan pers bersama media-media nasional di Indonesia sedang merancang regulasi serupa di Australia dan Perancis. Pemerintah Indonesia semestinya mendukung Dewan Pers dan Media.

Pers kita berlali-kali dibunuh, baik secara politik, jurnalisme, maupun ekonomi. Secara politik, pers dibunuh Pemerintah Orde Baru dan Orde Lama.

Secara jurnalisme, pers di bunuh media sosial. Secara ekonomi, pers dibunuh Google dan Facebook. Akan tetapi, jurnalisme tak mati-mati. Pers tak mati-mati meski dibunuh berkali-kali bila terus menjalankan jurnalisme yang benar, terus menuntut keadilan ekonomi, dan Negara’ menyokongnya secara politik melalui regulasi.

P. Sirait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *