Tak Kenal Lelah Pantang Menyerah Menjadi Lillah: P3K Bersumpah

Kefaspelita
IMG 20220331 WA0323

TRENGGALEK – Untaian kata yang paling indah dengan ucapan Syukur dipersembahkan oleh 370 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK) di Pendopo Manggala Praja, Kabupaten Trenggalek, Kamis 31/3/2022.

Sebanyak 370 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK) guru formasi tahun 2021 diambil sumpah dan pelantikan oleh Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhamad Natanegara. Pengambilan sumpah dan pelantikan PPPK guru itu dilakukan secara hybrid di 3 tempat. Satu Pendopo Manggala Praja Nugraha secara tatap muka dan Gedung Bawarasa serta Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek, secara daring.

Raut wajah bahagia terpancar dari ratusan Abdi negara yang berprofesi sebagai seorang pendidik yang hari ini telah disumpah dan dilantik, diantaranya adalah Yudiarto Pria usia 53 tahun guru SDN 1 Siki, Kecamatan Dongko.

Dengan begitu ramah, santun dan terus melempar senyum Yudiarto kepada awak media memaparkan,  dirinya mengabdi mulai tahun 2003 hingga sekarang tahun 2022 suka duka telah kami jadikan kebiasaan sehingga tetap bersemangat.

“Alhamdulillah lelah kami hari ini telah terbayarkan dengan diangkat dan disumpah menjadi ASN dengan system perjanjian kontrak,” ungkapnya.

Pria yang rambutnya beruban itu juga menjelaskan, “dalam kurun waktu sekian tahun kami mengabdi tentu dari sisi pendapatan tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk beli bensin kadang ya kebingungan, namun dengan semangat dan mengabdi secara Lillah, masih bisa mendapatkan dari rezeki yang lain,” tuturnya.

“Bercocok tanamlah yang menjadi andalan saya usai mengajar,” canda Guru beranak satu itu.

Beda halnya dengan wanita muda yang juga Guru dari Kecamatan Kampak yang engan disebutkan namanya, Ia menuturkan mengajar adalah bagian dari hidup saya, karena dengan kami mengajar InsyaAlloh ilmu yang bertahun-tahun kami dapatkan bermanfaat.

“Prinsip Ilmu jika tidak kami kembangkan, laksana menam pohon tetapi tidak berbuah,” canda guru muda itu.

Saat ditanya suka dukanya menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) Ia mengatakan, “sukanya kami bisa memberikan yang kami punya terhadap anak-anak dalam ilmu yang maanfaat, dukanya saat ada tawaran pekerjaan lain tapi tidak seiring dengan profesi,” jelasnya.

Menyikapi soal pendapatan gaji jadi GTT, Ia tidak mensoalkan soal gaji, karena sang suami sangat mensupport, “jangan berpikir apa yang kamu dapat, tapi berprinsiplah kamu bisa memberi apa, itu yang selalu disarankan suami,” ucapnya.

Saat ditanya soal kerjaan sampingan usai dilantik, dengan sedikit manja Ia menjawab ya adasih kegiatan lain kami buka Bimbingan Belajar dengan teman.

“Kenapa saya pilih buka Bimbel, menurutku kerjaan itu selain bisa menambah pendapatan, yang tidak kalah pentingnya saya bisa membantu orang lain, karena Bimbel kami juga memberikan kesempatan terhadap keluarga yang kurang beruntung untuk belajar dengan Nol Rupiah,” tandasnya.

Dan Alhamdulillah dari Lillah yang kami berikan terbalaskan hari ini, walau butuh perjuangan.
(mj/pelitanusantara.com)